Mahasiswa Profesi Fisioterapis Berikan Dukungan Medis pada Ribuan Pelari di Solo Run Fest 2025

Gelaran SOLO RUN FEST 2025 yang digelar di Stadion Manahan Solo menjadi panggung kolaborasi antara olahraga, pelayanan kesehatan, dan edukasi. Selain menyediakan fasilitas olahraga massa, event ini juga diwarnai dengan kehadiran mahasiswa Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang bertugas sebagai tim medis lapangan, menangani cedera ringan, keluhan otot, dan pemulihan pascaberaktivitas bagi peserta, Solo (28/09/2025). Keterlibatan mahasiswa ini berlangsung saat mereka sedang menjalani praktik di RSO Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta, dan menjadi salah satu upaya menerapkan teori ke dalam aksi nyata di tengah keramaian. Selain untuk membantu peserta, kegiatan tersebut juga dimaksudkan sebagai media pembelajaran klinis, pengabdian masyarakat, dan penguatan kompetensi bagi calon fisioterapis profesional. Acara semakin meriah dengan kehadiran Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang tidak hanya hadir sebagai tamu kehormatan, tetapi juga ikut berlari bersama peserta kategori 5K. Menurut laporan resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Gubernur Luthfi hadir bersama kurang lebih 6.000 peserta dalam event ini. Ia memberikan aba-aba pelepasan start untuk kategori 5K, dan kemudian berjalan di antara para pelari, menyapa peserta maupun warga di sepanjang rute lari yang melintasi jalan-jalan kota Solo seperti Adi Sucipto, Dr. Moewardi, Slamet Riyadi, Prof. Dr. Supomo, dan berakhir di Taman Balekambang. Dalam sambutannya, Gubernur Luthfi mendorong penyelenggaraan event olahraga yang dikaitkan dengan sport tourism untuk meningkatkan daya tarik daerah serta potensi ekonomi lokal melalui kunjungan peserta dan wisatawan. Para mahasiswa fisioterapi yang bertugas mengakui bahwa berhadapan langsung dengan kondisi nyata dan memperkaya pengalaman klinis mereka. Selain aspek teknis, mereka juga belajar mengelola komunikasi dengan peserta di lapangan, memastikan protokol keselamatan, serta koordinasi dengan tim medis lain ketika dibutuhkan. Namun, tantangan juga muncul, terutama dalam hal menata lokasi pelayanan medis, manajemen alat dan material kedaruratan olahraga, serta koordinasi arus peserta agar tidak terjadi penumpukan di titik layanan. Keberhasilan pelaksanaan ini tak lepas dari kerjasama antar berbagai pihak seperti panitia event, pemerintah daerah, instansi medis, dan institusi pendidikan. Acara ini menyiratkan pesan kuat bahwa event olahraga besar tidak hanya soal lomba atau hiburan, tetapi juga kesempatan untuk menempatkan fungsi pelayanan kesehatan dan peran fisioterapis dalam masyarakat. Di tengah hiruk-pikuk ribuan pelari dan geliat olahraga kota, mahasiswa fisioterapi UMM membuktikan bahwa persiapan profesional dimulai dari lapangan nyata. Penulis dan Editor Bayu Prastowo