Lulus UKOMNAS 100%, Bukti Mutu Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM Unggul

Sebanyak 141 mahasiswa Program Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dinyatakan kompeten 100 persen dalam Uji Kompetensi Nasional (UKOMNAS) yang dilaksanakan pada 11 Desember 2025. Kelulusan 100% ini tertuang dalam Surat Keputusan Kolegium Fisioterapi Nomor 006/SK/KFt/XII/2025. Capaian ini mencerminkan konsistensi kualitas pembinaan akademik dan klinik yang diterapkan secara berkelanjutan. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari berbagai strategi pendampingan, di antaranya kajian soal terstruktur di setiap departemen, karantina bedah soal uji kompetensi, serta pelaksanaan try out internal sebagai bentuk pembiasaan mahasiswa dalam menghadapi standar Uji Kompetensi Nasional (UKOMNAS). Selain penguatan aspek kognitif melalui Computer Based Test (CBT), mahasiswa juga dibekali kesiapan keterampilan klinis melalui simulasi Objective Structured Clinical Examination (OSCE). UKOMNAS sendiri diselenggarakan oleh Kolegium Fisioterapi dan terdiri atas dua komponen utama, yakni CBT untuk mengukur penalaran klinis serta OSCE untuk menilai kompetensi praktik profesional fisioterapis. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis, menyampaikan bahwa keberhasilan ini juga didukung oleh kesiapan sistem pendidikan dan sarana prasarana yang dimiliki institusi. Saat ini, Program Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM membuka penerimaan mahasiswa di Gelombang Ganjil dan Gelombang Genap, sebagai bentuk komitmen dalam memperluas akses pendidikan profesi dengan tetap menjaga mutu. Pembukaan dua gelombang tersebut ditunjang oleh fasilitas CBT yang memadai, dengan ketersediaan lebih dari 200 unit perangkat komputer terstandar, serta dua stasiun OSCE yang dirancang sesuai dengan ketentuan nasional. Selain itu, pelaksanaan CBT dan OSCE didukung oleh penguji yang telah tersertifikasi oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Fisioterapi Indonesia (APTIFI), sehingga menjamin objektivitas, validitas, dan akuntabilitas proses penilaian kompetensi mahasiswa. “Alhamdulillah, seluruh rangkaian pendampingan dan pelaksanaan uji kompetensi dapat diikuti secara tertib oleh mahasiswa. Ke depan, pembiasaan melalui model soal berbasis vignette dan praktik berbasis OSCE akan terus kami perkuat,” ujar Safun Rahmanto. Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut tidak hanya diterapkan di level profesi, tetapi telah diintegrasikan sejak jenjang Sarjana (S1). Bahkan, ujian semester di tingkat S1 telah menggunakan pendekatan vignette dan praktik berbasis OSCE sebagai bagian dari kesinambungan kurikulum. “Kolaborasi sistem S1 dan profesi ini bertujuan memastikan capaian kompetensi mahasiswa secara bertahap dan berkelanjutan,” jelasnya. Menurut Safun, pendidikan di bidang kesehatan, khususnya fisioterapi, memiliki standar yang ketat karena berkaitan langsung dengan kualitas layanan dan keselamatan pasien. Oleh sebab itu, institusi berkewajiban melakukan pendampingan maksimal agar lulusan benar-benar siap dan kompeten sebagai fisioterapis profesional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo