Belajar Langsung dari Fisioterapi Arema FC, Mahasiswa Fisioterapi UMM Antusias Ikuti Program Alumni Mengajar

Reta Arroyan Ketika Memberikan Materi Fisioterapi Muskuloskeletal

Program Studi S1 Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan kegiatan Alumni Mengajar sebagai bagian dari penguatan pembelajaran berbasis praktik dan pengalaman lapangan. Kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu di mata kuliah Muskuloskeletal yang bertempat di Laboratorium Muskuloskeletal UMM. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah tersebut, Sabtu (20/12/2025). Pada kegiatan Alumni Mengajar kali ini, Prodi S1 Fisioterapi UMM menghadirkan Reta Arroyan, S.Ft., Ftr, seorang fisioterapis profesional yang saat ini berkarier sebagai fisioterapis tim Arema FC. Klub sepak bola yang berlaga di Liga 1 Indonesia (BRI Super League 2025/2026). Di tengah kesibukannya mendampingi Arema FC dalam kompetisi nasional, Reta meluangkan waktu untuk berbagi ilmu, pengalaman klinis, serta dinamika kerja fisioterapis di tim olahraga profesional. Reta, sapaan akrabnya mampu menghidupkan suasana perkuliahan dengan interaksi aktif bersama mahasiswa. Antusiasme mahasiswa terlihat dari riuhnya diskusi dan berbagai pertanyaan seputar peran fisioterapi dalam tim sepak bola profesional, khususnya terkait penanganan cedera dan pengambilan keputusan klinis di lapangan. Reta memaparkan berbagai metode terkini dalam penanganan cedera pasca-operatif pada regio knee, yang sering dialami atlet profesional. Ia juga menjelaskan beberapa mekanisme cedera knee yang umum terjadi pada olahraga sepak bola, serta mengajak mahasiswa untuk mempraktikkan pemeriksaan awal guna mendeteksi permasalahan pada sendi lutut secara sistematis. Tak hanya fokus pada aspek teknis, Reta menekankan pentingnya sikap profesional fisioterapis di dalam tim. Ia berpesan agar fisioterapis tidak terhanyut dalam euforia pertandingan. Menurutnya, peran fisioterapis menuntut fokus penuh untuk mengamati performa setiap pemain, sehingga mampu mengenali tanda-tanda awal kelelahan maupun mekanisme cedera yang berpotensi terjadi di lapangan. “Dasar anatomi, pemeriksaan spesifik, pemeriksaan penunjang, serta analisis biomekanik merupakan keterampilan dasar yang wajib dikuasai bagi fisioterapis yang ingin bergabung di tim profesional,” ujarnya di hadapan mahasiswa. Reta juga membagikan realitas dunia kerja fisioterapi olahraga profesional. Ia menjelaskan bahwa di bangku kuliah, mahasiswa mempelajari proses penyembuhan secara ideal dengan rentang waktu empat hingga enam bulan. Namun, di lingkungan tim profesional, fisioterapis sering dituntut untuk menyusun program pemulihan secepat mungkin, dengan tetap mempertimbangkan prinsip keamanan dan meminimalkan risiko cedera jangka panjang. Pengalaman lapangan tersebut menjadi pembelajaran berharga bagi mahasiswa bahwa kompetensi fisioterapis tidak hanya dibentuk di ruang kelas, tetapi juga melalui pembelajaran berkelanjutan di lapangan. Dunia profesional menuntut adaptasi, pengambilan keputusan cepat, serta kemampuan klinis yang terus diasah. Dimas Sondang Irawan, Ph.D selaku Ketua Program Studi S1 Fisioterapi mengungapkan bahwa kegiatan Alumni Mengajar ini diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa, menjembatani teori dan praktik, serta memotivasi calon fisioterapis untuk terus mengembangkan kompetensi profesionalnya. Kehadiran alumni yang telah berkiprah di level nasional menjadi bukti bahwa lulusan Fisioterapi UMM memiliki peluang dan daya saing untuk berkontribusi di dunia olahraga profesional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo