Fisioterapi UMM Siap Memenuhi Kebutuhan Formasi Fisioterapi di Layanan Primer Indonesia

Pimpinan Program Studi, Fakultas, dan Universitas dalam Kegiatan Lokakarya Kurikulum

Program Studi S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Lokakarya Kurikulum sebagai bagian dari upaya pembaruan dan penguatan arah pendidikan fisioterapi yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan kebijakan nasional. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan pemangku kepentingan lintas sektor. Lokakarya ini dihadiri oleh berbagai unsur, mulai dari akademisi, organisasi profesi, kolegium, alumni, pengguna lulusan, institusi fisioterapi lainnya, hingga mitra wahana praktik. Sejumlah tokoh yang hadir di antaranya dosen dan pakar fisioterapi, perwakilan Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI), Kolegium Fisioterapi Indonesia, Asosiasi Perguruan Tinggi Fisioterapi Indonesia (APTIFI), pimpinan universitas, pimpinan fakultas, serta Dinas Kesehatan Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Dalam diskusi tersebut, pihak IFI menekankan pentingnya kolaborasi lintas kementerian dalam pengembangan kurikulum fisioterapi. Menurutnya, kerja sama tidak hanya terbatas pada sektor kesehatan, tetapi juga perlu diperluas ke sektor sosial. Fokus layanan fisioterapi ke depan diharapkan tidak hanya berhenti pada aspek fungsional, melainkan juga menyentuh produktivitas dan pemberdayaan masyarakat. Hal ini sudah diinisiasi dan audiensi oleh pihak IFI, sehingga kedepannya fisioterapi UMM juga dapat turut andil dalam kolaborasi ini. Terlepas dari ini semua, kebutuhan fisioterapis di Indonesia masih sangat besar. Ia menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan sekitar 10.000 fisioterapis untuk menjawab tantangan layanan kesehatan ke depan. Oleh karena itu, orientasi fisioterapi akan semakin diarahkan pada pendekatan berbasis komunitas. Hal serupa juga disampaikan oleh Isnaini Herawati, Ftr., M.Sc., Ph.D selaku Sekertaris APTIFI yang menekankan pentingnya memberi “warna” khas pada kurikulum fisioterapi UMM. Identitas tersebut, menurutnya, dapat ditunjukkan melalui penamaan mata kuliah, dokumen pendukung kurikulum, maupun pendekatan pembelajaran yang mencerminkan karakter UMM. Selain itu, ia menilai kearifan lokal perlu diangkat, misalnya dengan mengunggulkan komunitas tertentu malang sebagai basis pembelajaran dan pengabdian. Keterlibatan fisioterapi UMM di lingkup komunitas disambut hangat oleh perwakilan Dinas Kesehatan Kota Batu, yang menyampaikan bahwa pihaknya memiliki komunitas dan desa binaan untuk pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM). Ia membuka peluang kolaborasi dengan institusi pendidikan fisioterapi, baik melalui penguatan peran kader puskesmas maupun optimalisasi peran fisioterapi di tengah masyarakat. “Peran fisioterapi di masyarakat perlu lebih dimunculkan dan diperluas,” ujarnya. Sementara itu, Prof. Dr. Mohammad Syaifuddin, M.M. dari Lembaga Inovasi Pembelajaran (LIP) UMM menilai bahwa fisioterapi berbasis komunitas memiliki cakupan yang sangat luas. Oleh karena itu, pengembangannya perlu diselaraskan dengan regulasi pemerintahan yang berlaku. Ia mengingatkan pentingnya penjabaran bahan kajian secara jelas untuk menghindari tumpang tindih kompetensi, meskipun penamaan mata kuliah dapat berbeda. Melalui lokakarya ini, Program Studi Fisioterapi UMM menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kurikulum yang kontekstual, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus memperkuat posisi fisioterapi sebagai profesi strategis dalam sistem kesehatan nasional dan pembangunan berbasis komunitas. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Wujudkan Fisioterapis Berintegritas, Fisioterapi UMM Gelar Lokakarya Visi dan Misi

Pimpinan Program Studi, Fakultas, dan Universitas dalam Kegiatan Lokakarya Visi dan Misi

Program Studi S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Lokakarya Visi dan Misi sebagai bagian dari upaya penguatan arah pengembangan akademik dan profesionalisme lulusan. Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FTR. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini jangan menjadi agenda rutin seremonial semata, melainkan komitmen moral dan profesional yang harus dipegang teguh dalam menciptakan lulusan fisioterapi yang berintegritas. Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Ikatan Fisioterapi Indonesia juga menyoroti tingginya peluang kerja bagi fisioterapis, khususnya di layanan kesehatan primer seperti puskesmas. Menurutnya, kebutuhan fisioterapis di tingkat pelayanan dasar semakin meningkat seiring dengan berkembangnya pendekatan promotif dan preventif dalam sistem kesehatan nasional. Namun demikian, ia juga mengungkapkan fenomena unik di lapangan, di mana sejumlah rumah sakit justru mengalami kesulitan dalam merekrut tenaga fisioterapis. Kondisi ini, tidak lepas dari semakin kuatnya kemandirian profesi fisioterapis dalam menciptakan lapangan kerja secara mandiri, baik melalui praktik mandiri, layanan home care, maupun berbagai inovasi layanan berbasis komunitas. “Visi-misi berbasis komunitas harus jelas sasarannya. Kita ingin mahasiswa dan lulusan memahami betul konteks masyarakat yang dilayani, apakah itu komunitas lansia, pekerja, atlet, atau masyarakat di layanan primer. Dari situ, intervensi fisioterapi bisa lebih tepat, berdampak, dan berkelanjutan,” ujarnya. Penguatan visi dan misi berbasis komunitas sektoral ini juga menjadi landasan dalam pengembangan kurikulum, kegiatan praktik lapangan, hingga pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, lulusan fisioterapi UMM diharapkan tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dan kemampuan adaptif dalam menjawab kebutuhan riil masyarakat di berbagai sektor. Sementara itu, Wakil Rektor UMM dalam sambutannya menegaskan bahwa UMM memiliki landasan nilai dalam membentuk perilaku lulusan melalui prinsip IIMAN, yakni Ikhlas, Ihsan, Maiyah, dan Amanah. Nilai tersebut diharapkan menjadi pedoman utama bagi para lulusan, khususnya mereka yang baru saja mengucapkan sumpah profesi. “Ikhlas dimaknai sebagai ketulusan dalam menjalankan profesi, Ihsan berarti melakukan setiap pekerjaan dengan dasar kebaikan, Maiyah merupakan kesadaran bahwa setiap langkah yang diambil berada dalam kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, dan Amanah adalah tanggung jawab untuk menjalankan profesi sesuai sumpah yang telah diucapkan,” ujarnya. Ia berharap para alumni Fisioterapi UMM mampu mengemban amanah profesi secara profesional, beretika, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. Melalui lokakarya visi dan misi ini, UMM menegaskan komitmennya untuk terus menghasilkan fisioterapis yang tidak hanya kompeten secara akademik dan klinis, tetapi juga memiliki integritas moral dan nilai-nilai keislaman yang kuat. Penulis Nikmatur Rosidah dan Editor Bayu Prastowo