Mahasiswa Fisioterapi UMM Bekali Orang Tua dengan Literasi Pyramid of Learning Untuk Mendukung Tumbuh Kembang Anak

Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan peran promotif dan preventif dalam bidang fisioterapi pediatri berbasis komunitas melalui kegiatan edukasi kepada pendamping dan orang tua pasien. Edukasi ini mengangkat tiga topik penting dalam tumbuh kembang anak, yakni pengenalan duduk W (W-sitting) dan cara mengatasinya, pembatasan durasi layar (screen time) serta peningkatan aktivitas fisik, dan pemahaman konsep Pyramid of Learning sebagai fondasi perkembangan anak. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa Nur Maghfiroh Mulkam, Nurmaliana Yori Syahrani, Nazwa Restyara, Aviv Fahri Mardani, Ilma Shabhati Ibrahim, dan Louis Fauliaka Fitria. Kegiatan ini dilakukan di Marvel Kids Terapi Anak Surabaya di bawah pengawasan Perseptorship Nurul Aini Rahmawati, S.Ft., Ftr., M.Biomed serta Pembimbing Wahana Praktik Ardita Ramadhaningrum, SST., Ftr., selaku Co-Founder dan Fisioterapis Pediatri Rumah Terapi dan Belajar Marvel Kids. Dalam sesi pertama, mahasiswa menjelaskan mengenai kebiasaan duduk W yang kerap ditemukan pada anak usia dini. Posisi duduk dengan kedua lutut menekuk ke dalam dan kaki terbuka ke samping ini memang memberikan stabilitas instan. Namun, hal ini dapat mengurangi aktivasi otot inti dan kontrol postural. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kebiasaan ini berpotensi memengaruhi keseimbangan otot panggul, pola jalan, serta perkembangan koordinasi gerak. Orang tua diedukasi untuk melakukan koreksi secara persuasif dengan mengarahkan anak pada posisi duduk alternatif seperti bersila, long sitting, atau side sitting, serta memberikan latihan penguatan otot inti secara bertahap. Topik kedua menyoroti pentingnya mengurangi durasi layar dan meningkatkan aktivitas fisik anak. Paparan screen time berlebihan tidak hanya berdampak pada kesehatan mata dan pola tidur, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan motorik, bahasa, serta regulasi atensi. Mahasiswa menekankan pentingnya aktivitas fisik yang merangsang sistem vestibular dan proprioseptif melalui permainan aktif seperti melompat, merangkak, berlari, dan aktivitas luar ruang. Orang tua didorong untuk membangun rutinitas harian yang seimbang antara penggunaan teknologi dan stimulasi gerak. Selain itu, mahasiswa juga memperkenalkan konsep Pyramid of Learning, yaitu model hierarki perkembangan yang menempatkan sistem sensorik, taktil, vestibular, dan proprioseptif sebagai fondasi sebelum keterampilan akademik dan kognitif berkembang optimal. Dijelaskan bahwa kesiapan belajar tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membaca atau berhitung, melainkan juga oleh kematangan regulasi sensorimotor. Dengan fondasi sensorik yang kuat, anak akan lebih mudah mengembangkan fokus, koordinasi, serta kontrol perilaku. Pembimbing Wahana Praktik, Ardita Ramadhaningrum, SST., Ftr., menegaskan bahwa edukasi kepada orang tua merupakan komponen krusial dalam keberhasilan intervensi fisioterapi anak. “Terapi tidak berhenti di ruang praktik. Ketika orang tua memahami prinsip postur, aktivitas fisik, dan perkembangan sensorik, stimulasi dapat dilanjutkan secara konsisten di rumah. Inilah yang membuat hasil terapi menjadi lebih optimal dan berkelanjutan,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengasah kompetensi klinis, tetapi juga memperkuat peran fisioterapi sebagai profesi yang berkontribusi dalam peningkatan literasi kesehatan keluarga. Pendekatan edukatif yang komprehensif ini diharapkan mampu mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, sehat, dan sesuai tahapan perkembangannya. Penulis dan Editor Bayu Prastowo