Mahasiswa Student Exchange Mahidol University Eksplorasi Ekosistem dan Regulasi Praktik Fisioterapi Indonesia

Owner Rehab-In Malang Dwi Agung Prasetyo, S.Ft., Ftr., M.Biomed, Siwat Matro, dan Kattiya Promkhandee

Mahasiswa dari Department of Physical Therapy, Mahidol University, Thailand, yang tengah mengikuti Program International Student Exchange di Program Studi S1 Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kembali mendapatkan pengalaman pembelajaran lapangan melalui kunjungan akademik ke Rehab-In Malang, salah satu wahana mitra Fisioterapi UMM yang bergerak di bidang praktik fisioterapi mandiri. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Fisioterapi UMM untuk memperkenalkan berbagai model layanan fisioterapi di Indonesia, termasuk pengembangan praktik mandiri yang saat ini semakin berkembang sebagai salah satu bentuk pelayanan kesehatan profesional. Kunjungan tersebut diikuti oleh mahasiswa S1 Fisioterapi UMM serta mahasiswa Master of Physical Therapy dari Mahidol University, yakni Siwat Matro dan Kattiya Promkhandee yang sedang menjalani program mobility exchange di UMM. Mereka disambut langsung oleh Owner Rehab-In Malang, Agung Dwi Prasetyo, S.Ft., Ftr., M.Biomed. Dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif, para peserta memperoleh berbagai informasi mengenai perjalanan pendirian praktik fisioterapi mandiri, sistem regulasi profesi fisioterapi di Indonesia, strategi pengelolaan layanan kesehatan, hingga tantangan dan peluang pengembangan praktik fisioterapi di era modern. Mahasiswa internasional tampak antusias mengikuti sesi tanya jawab yang membahas perbedaan sistem pelayanan fisioterapi antara Indonesia dan Thailand. Siwat Matro dan Kattiya Promkhandee turut aktif berdiskusi serta mengajukan berbagai pertanyaan terkait mekanisme perizinan praktik, model bisnis layanan fisioterapi, pengelolaan sumber daya manusia, hingga strategi membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan fisioterapi mandiri. Agung Dwi Prasetyo menjelaskan bahwa keberhasilan praktik mandiri tidak hanya ditentukan oleh kompetensi klinis seorang fisioterapis, tetapi juga oleh kemampuan manajerial, komunikasi, serta pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat. “Seorang fisioterapis saat ini tidak hanya dituntut mampu memberikan pelayanan klinis yang baik, tetapi juga harus memahami aspek manajemen, pengembangan layanan, dan inovasi agar praktik yang dijalankan dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., menyampaikan bahwa kunjungan ke wahana mitra merupakan bagian penting dari program student exchange karena memberikan gambaran nyata tentang praktik fisioterapi di Indonesia. “Kami ingin mahasiswa internasional maupun mahasiswa UMM memperoleh pengalaman langsung mengenai berbagai model pelayanan fisioterapi yang berkembang di Indonesia. Melalui kunjungan ini, mereka dapat memahami aspek klinis, regulasi, hingga kewirausahaan dalam profesi fisioterapi,” jelasnya. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan perspektif antarnegara yang dapat memperkaya wawasan mahasiswa dalam menghadapi tantangan profesi fisioterapi di tingkat global, tegasnya. Melalui program International Student Exchange ini, Fisioterapi UMM terus berkomitmen untuk memperkuat internasionalisasi pendidikan sekaligus memperkenalkan praktik baik pelayanan fisioterapi Indonesia kepada mahasiswa dari berbagai negara. Kunjungan ke Rehab-In Malang menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang memberikan pengalaman akademik, profesional, dan budaya secara langsung kepada para peserta program pertukaran mahasiswa, termasuk Siwat Matro dan Kattiya Promkhandee dari Mahidol University. Penulis dan Editor Bayu Prastowo