Jatimsatunews.com: Mahasiswa Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan kiprahnya di bidang olahraga melalui komunitas Sport Physio yang berada di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMATERA). Setelah sempat vakum akibat pandemi COVID-19, komunitas ini kini aktif kembali dengan berbagai inovasi dan kontribusi nyata di lapangan, Rabu (22-04-2026).

Tim Sport Physio Ketika Mengawal Dekan Cup FPP
Tim Sport Physio Ketika Mengawal Dekan Cup FPP

Sport Physio merupakan komunitas berbasis fisioterapi olahraga yang tidak hanya berfokus pada penguatan keilmuan, tetapi juga pada aspek kemanusiaan, kegawatdaruratan, serta penanganan cedera di berbagai cabang olahraga. Reaktivasi komunitas ini ditandai dengan keterlibatannya dalam mendukung kegiatan Dekan Cup Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM, khususnya pada cabang olahraga sepak bola.

Dalam ajang tersebut, tim Sport Physio UMM dipercaya untuk melakukan pendampingan fisioterapi di lapangan , memastikan kesiapan atlet, serta memberikan penanganan awal apabila terjadi cedera selama pertandingan berlangsung.

Ketua komunitas, Muhamad Abdilah Ibdaul Hakiki, mengungkapkan bahwa sebelum terjun ke lapangan, tim telah melakukan berbagai persiapan matang, baik dari sisi keilmuan maupun teknis.

“Kami melakukan pembekalan materi dasar sport physiotherapy sebelum turun ke lapangan. Selain itu, kami juga menyiapkan peralatan, termasuk perbaikan tandu dan pengadaan alat medis, serta membangun kesiapan mental tim,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterlibatan dalam Dekan Cup menjadi momentum penting untuk menguji kesiapan mahasiswa dalam menghadapi situasi nyata di lapangan.

“Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar, dan ini menjadi pengalaman berharga bagi kami untuk memahami peran fisioterapis secara langsung dalam event olahraga,” tambahnya.

Pembina Sport Physio UMM, Arys Hasta Baruna, S.Ft., M.Kes, turut mengapresiasi kebangkitan komunitas ini. Ia menegaskan bahwa ke depan, penguatan kompetensi praktis akan terus dilakukan agar mahasiswa mampu berkontribusi lebih luas.

“Ke depan, kami akan terus melakukan upgrade keilmuan praktis agar mahasiswa dapat terlibat dalam berbagai cabang olahraga, baik di tingkat internal maupun eksternal,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa komunitas Sport Physio diharapkan menjadi wadah pembelajaran aplikatif bagi mahasiswa S1 Fisioterapi. Melalui pengalaman langsung di lapangan, mahasiswa akan lebih siap menghadapi tahapan preklinik hingga pendidikan profesi.

“Pengalaman ini penting untuk membangun clinical reasoning, mengelola coping stress, serta memahami peran fisioterapis dalam situasi nyata, khususnya dalam penanganan cedera olahraga di lapangan,” jelasnya.

Kembalinya aktivitas Sport Physio UMM menjadi sinyal positif bagi penguatan kompetensi mahasiswa di bidang fisioterapi olahraga. Tidak hanya sebagai ruang belajar, komunitas ini juga menjadi jembatan antara teori akademik dan praktik profesional, sekaligus memperkuat peran fisioterapis dalam mendukung prestasi olahraga.

Penulis dan Editor Bayu Prastowo