Dalam upaya memperkuat kualitas lulusan dan menjamin standar kompetensi fisioterapis di Indonesia, Asosiasi Perguruan Tinggi Fisioterapi Indonesia (APTIFI) menyelenggarakan Workshop Item Development dan Item Review Soal Uji Kompetensi (UKOM). Kegiatan ini menjadi forum strategis bagi akademisi untuk menyusun dan menelaah butir soal uji kompetensi yang valid, reliabel, serta selaras dengan kebutuhan praktik profesional, Sabtu (25/04/2026).

Kegiatan Workshop Item Dev UKOM Fisioterapi Secara Daring

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut ambil bagian dengan mendelegasikan dosen dari berbagai bidang keahlian, meliputi fisioterapi muskuloskeletal, neuromuskular, pediatri, geriatri, olahraga, kardiovaskular-respirasi, hingga integumen. Keterlibatan ini menjadi wujud kontribusi aktif UMM dalam pengembangan sistem uji kompetensi fisioterapi nasional.

Workshop ini berfokus pada penyusunan dan evaluasi soal Computer-Based Test (CBT) serta Objective Structured Clinical Examination (OSCE), dua komponen utama dalam pelaksanaan UKOM. Melalui proses item development dan item review, para peserta diharapkan mampu menghasilkan soal yang tidak hanya mengukur aspek kognitif, tetapi juga keterampilan klinis dan clinical reasoning mahasiswa.

Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis, menegaskan bahwa keterlibatan dosen dalam forum nasional seperti ini memiliki dampak strategis bagi peningkatan mutu pendidikan.

“Partisipasi dosen dalam pengembangan soal UKOM bukan hanya sebagai bentuk kontribusi institusi, tetapi juga menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa proses evaluasi kompetensi benar-benar mencerminkan kebutuhan praktik klinis yang aktual. Dengan demikian, lulusan yang dihasilkan tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga memiliki clinical reasoning yang kuat dan adaptif terhadap dinamika pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Pelaksanaan Uji Kompetensi Fisioterapi sendiri merupakan langkah strategis dalam menjamin bahwa lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar profesi. Selain itu, UKOM juga berperan penting dalam menjaga mutu layanan fisioterapi, sekaligus menjadi salah satu indikator dalam pemenuhan akreditasi program studi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Secara regulatif, penyelenggaraan UKOM berlandaskan berbagai kebijakan nasional, di antaranya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Pendidikan Tinggi, Undang-Undang Tenaga Kesehatan, serta regulasi terbaru terkait standar operasional uji kompetensi nasional yang melibatkan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan Tinggi. Kegiatan ini juga sejalan dengan arahan Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) dan Kolegium Fisioterapi Indonesia dalam menjaga standar profesi fisioterapi secara nasional.

Melalui keterlibatan dalam workshop ini, dosen fisioterapi UMM tidak hanya berperan sebagai peserta, tetapi juga sebagai kontributor dalam membangun sistem evaluasi kompetensi yang lebih terstruktur dan berkualitas. Partisipasi ini diharapkan dapat berdampak langsung pada peningkatan mutu lulusan, sehingga mampu memberikan layanan fisioterapi yang aman, efektif, dan berbasis evidensi di tengah masyarakat.

Penulis dan Editor Bayu Prastowo