Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan capaian membanggakan. Sebanyak 47 fisioterapis baru resmi mengucapkan sumpah profesi dalam prosesi yang berlangsung khidmat di Grand Mercure Malang Mirama, Rabu (6/5/2026).

Prosesi sumpah profesi tersebut turut dihadiri Wakil Rektor I UMM, jajaran dekanat Fakultas Ilmu Kesehatan, serta para pembimbing lahan praktik (clinical instructor) dari berbagai rumah sakit dan puskesmas yang selama ini menjadi mitra pendidikan profesi fisioterapi UMM.
Sumpah profesi menjadi penanda resmi perubahan status lulusan dari mahasiswa menjadi tenaga kesehatan profesional yang siap mengabdi kepada masyarakat. Sebelumnya, para lulusan telah menjalani pendidikan profesi selama dua semester dengan praktik klinik intensif di berbagai fasilitas layanan kesehatan, mulai dari rumah sakit, puskesmas, hingga layanan berbasis komunitas.
Dalam laporan akademik yang disampaikan pada prosesi tersebut, capaian lulusan tahun ini menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sebanyak 98 persen peserta dinyatakan lulus Uji Kompetensi (UKOM), termasuk pada komponen CBT dan OSCE. Selain itu, para lulusan juga menghasilkan berbagai luaran akademik berupa publikasi jurnal ilmiah dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), yang memperkuat posisi lulusan sebagai fisioterapis berbasis evidence-based practice.
Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih para lulusan. Menurutnya, kualitas lulusan fisioterapi UMM terus menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun.
“Capaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh civitas akademika, termasuk mahasiswa, dosen, serta para pembimbing klinik di lahan praktik. Tingkat kelulusan yang tinggi pada uji kompetensi menjadi indikator bahwa lulusan kita memiliki kompetensi yang baik dan siap bersaing di dunia kerja,” ujarnya.
Ia juga menyoroti meningkatnya kebutuhan tenaga fisioterapi di berbagai sektor layanan kesehatan. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang besar bagi para lulusan untuk segera terserap di dunia kerja.
“Kebutuhan fisioterapis di rumah sakit, klinik, hingga layanan kesehatan komunitas terus meningkat. Ini menjadi peluang besar bagi lulusan untuk langsung bekerja dan berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tambahnya.
Tidak hanya berfokus pada kelulusan akademik, pendidikan profesi fisioterapi UMM juga menekankan pembentukan karakter profesional, kemampuan komunikasi klinis, serta penguatan clinical reasoning sebagai bekal menghadapi tantangan pelayanan kesehatan modern.
Dengan disumpahnya 47 fisioterapis baru ini, UMM kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak tenaga kesehatan profesional yang unggul, adaptif, beretika, dan siap menghadapi tantangan global di bidang fisioterapi.
Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah