Program Pendidikan Profesi Fisioterapis bersama Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tengah menyiapkan kolaborasi lintas disiplin dalam mendukung program rehabilitasi sosial milik Dinas Sosial Jawa Timur melalui layanan “Omah Therapi-Ku” di Balai Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Sidoarjo.

Program tersebut menjadi bagian dari penguatan layanan rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat yang diusung Dinas Sosial Jawa Timur pada 2026. Salah satu fokus utamanya ialah menghadirkan layanan terapi gratis berbasis pendekatan sosial dan kesehatan bagi masyarakat rentan. Layanan “Omah Therapi-Ku” sendiri dijadwalkan akan diresmikan pada 19 Mei 2026.

Koordinasi Dinas Sosial Jawa Timur, Profesi Fisioterapis UMM dan PIC COE Sosiologi
Koordinasi Dinas Sosial Jawa Timur, Profesi Fisioterapis UMM, dan PIC COE Sosiologi

Kolaborasi ini mengintegrasikan pendekatan fisioterapi dengan pendekatan sosial dalam proses rehabilitasi masyarakat. Tidak hanya berorientasi pada pemulihan fungsi fisik, program tersebut juga menempatkan aspek sosial sebagai bagian penting dalam proses pemulihan kualitas hidup masyarakat.

Dalam koordinasi bersama jajaran Balai PMKS Sidoarjo, Wakil Kepala Dinas Sosial sekaligus perwakilan balai, Whiwhin Sri Wahyuningrum, S.Sos., menyampaikan apresiasinya terhadap sinergi yang dibangun bersama UMM.

“Kami sangat berterima kasih atas silaturahmi yang terjalin antara universitas dengan Dinas Sosial. Hubungan ini memberikan dampak baik bagi masyarakat dan kami sangat senang dapat menjadi laboratorium terapan bagi Fisioterapi maupun Sosiologi. Ini merupakan langkah awal sehingga ke depan kami masih banyak belajar bersama tim fisioterapi, termasuk dalam pengembangan sarana dan prasarana layanan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapi UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menegaskan bahwa keterlibatan fisioterapi dalam program sosial menjadi bentuk nyata dukungan kampus terhadap program pemerintah sekaligus penguatan pendidikan berbasis komunitas.

“Kami siap mendukung program pemerintah. Ke depan, beberapa stase fisioterapi yang relevan akan kami tempatkan di Dinas Sosial sebagai upaya pemenuhan wahana praktik sekaligus memberikan gambaran kepada mahasiswa dan masyarakat bahwa fisioterapi mampu bersinergi dengan berbagai disiplin ilmu, termasuk sosiologi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa fisioterapi modern tidak hanya berorientasi pada aspek biologis dan fisik semata, tetapi juga mengedepankan pendekatan biopsikososial dalam proses intervensi.

“Fisioterapi memiliki pendekatan berbasis biopsikososial. Artinya, aspek sosial menjadi salah satu parameter penting dalam menentukan keberhasilan intervensi fisioterapi,” tambahnya.

Koordinasi lintas sektor tersebut diinisiasi oleh Kepala Laboratorium Sosiologi UMM, Ahmad Arrozy, M.Sos., yang juga menjadi penanggung jawab Centre of Excellence (CoE) Sosiologi bertema Professional Manager Berparadigma Sosiologis. Menurutnya, kolaborasi antara bidang kesehatan dan sosial menjadi kebutuhan penting dalam menjawab kompleksitas persoalan kesejahteraan masyarakat saat ini.

Melalui program ini, UMM tidak hanya memperkuat peran perguruan tinggi dalam bidang pendidikan dan penelitian, tetapi juga mempertegas kontribusi nyata kampus dalam mendukung pembangunan kesehatan berbasis pemberdayaan sosial di masyarakat.

Penulis dan Editor Bayu Prastowo