Strategi Terintegrasi Pemutakhiran Data dalam Meningkatkan Skor Sinta Fisioterapi UMM

Lembaga Pengembangan Publikasi Ilmiah (LPPI), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berikan pendampingan pemutakhiran data pada Sinta yang dilaksanakan di Aula Kampus I UMM pada Senin, 17 Maret 2024. Kegiatan ini didampingi langsung oleh Yusmine Yulianto Pradita, SKom dari Tim Teknologi Informasi dari LPPI dan Wakil Dekan III, Rakhmad Rosadi, Ph.D. Selain itu, kegiatan ini di hadiri oleh seluruh Dosen dan Tenaga Pendidik Program Studi S1 Fisioterapi serta Program Studi Profesi Fisioterapis. Dalam sambutannya, Ketua Program Studi, Dimas Sondang Irawan, Ph.D menyampaikan bahwa tingkat statistik Sinta merupakan parameter penting untuk menilai produktivitas sebuah program studi dalam memenuhi Tridarma Perguruan Tinggi. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dan pendampingan langsung untuk pemutakhiran masing-masing akun sinta Dosen. Terlihat sebelum pemutakhiran skoring Sinta Program Studi Fisioterapi berada jauh dari kata memuaskan. Namun, setelah pemutakhiran terdapat peningkatan skoring dengan berada pada posisi ketiga dari seluruh Program Studi Fisioterapi di Indonesia. Peningkatan ini dikarenakan adanya sinkronisasi seluruh akun dari Garuda, Google Scholar, Scopus dan Web of Science. Selain itu banyak para Dosen yang telah memiliki karya Buku, HKI dan Paten, akan tetapi belum diperbaharui pada Sinta. Hal inilah yang menyebabkan skoring pada Program Studi juga rendah. Peningkatan skoring akan terus dilanjutkan melalui berbagai program kegiatan baik secara nasional ataupun internasional. Bentuk nyata kegiatan peningkatan ini setiap tahunnya dapat dilihat secara rill pada grafik latest number of article, research, community sevices, IPRs, Book dan metrics pada Sinta Fisioterapi UMM. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Fisioterapi UMM-UPT RSBN Malang Realisasikan CoE Fisioterapi Inklusi

Guna menciptakan program Center of Excellence (CoE) dalam pengembangan kemampuan mahasiswa, Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan penguatan bersama Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Sosial Bina Netra (UPT RSBN) Malang. Selain itu program CoE merupakan bentuk implementasi program Kampus Merdeka. Program CoE ini berfokus pada Fisioterapi Inklusi. Ketua Program Studi, Dimas Sondang Irawan, Ph.D dalam paparannya menyampaikan bahwa seorang fisioterapis harus mampu memberikan layanan kesehatan diseluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Namun, temuan dilapangan banyak menunjukkan adanya diskriminasi layanan tersebut bagi penyandang tunanetra, tunawicara, tunadaksa, tunarungu dan tunagrahita, Malang (6/3/2024). Kemandirian aksesibilitas layanan kesehatan bagi penyandang disabilitas masih belum optimal. Dalam pelayanannya, tenaga kesehatan membutuhkan pendamping pasien untuk menjalankan proses asuhan atau tatalaksana. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berkomunikasi dan pelayanan pada pasien disabilitas menjadi kelemahan di sistem layanan kesehatan saat ini. Serangkaian kegiatan CoE diawali dengan Training of Trainers (ToT) dan observasi. Dalam ToT menjelaskan metode pembelajaran, kompetensi keilmuan dan keahlian, sertifikasi serta menejemen risiko praktik. Komponen tersebut menjadi parameter utama dalam program CoE, yang di sampaikan oleh Ali Multazam, Physio MSc. Program ini mendapatkan apresiasi dari Kepala UPT RSBN Malang, Firdaus Sulistijawan S.Sos MPSSp. “Kami sebagai Penerima Manfaat (PM) berharap program ini kedepannya mampu memberikan peningkatan soft skill dan kemandirian penyandang disabilitas di tengah masyarakat. Selain itu, program ini juga menjadi media transfer knowledge. Dengan adanya Program Studi Fisioterapi, nantinya mampu menjadi kolaborator dalam pengembangan silabus dan sertifikasi pelatihan,” ungkapnya. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Mahasiswa Fisioterapi UMM Torehkan Medali di PORNIKES JATIM 2024

Pekan Olahraga Seni dan Kesehatan (PORNIKES) Se-Jawa Timur telah sukses digelar, Sabtu-Minggu (2-3/3/2024). Pekan tersebut merupakan agenda tahunan antar Perguruan Tinggi Kesehatan yang tahun ini digelar di Universitas dr. Soebandi, Jember. PORNIKES merupakan ajang kegiatan perlombaan pada cabang olahraga dan seni bagi kampus dengan program studi kesehatan di wilayah Jawa Timur. Hingga saat ini terdapat 45 institusi dan 24 program studi kesehatan dari vokasi ataupun strata-1. Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang (FIKes UMM) menjadi salah satu peserta PORNIKES yang berhasil menorehkan medali pada beberapa cabang olahraga dan seni. Keberhasilan tersebut ditunjukkan dengan perolehan juara 3 tenis meja pada kategori tunggal putra, putri dan ganda campuran, juara 3 futsal, juara 3 catur. Kemudian juara 2 pada english presentation skill dan harapan 3 pada cabang olahraga seni. Dan yang paling membanggakan yaitu perolehan juara 1 pada e-sport. Kontingen PORNIKES FIKes UMM merupakan mahasiswa dari program studi ilmu keperawatan, D3 keperawatan, farmasi dan fisioterapi. Keberhasilan ini didukung dengan pembinaan melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Lembaga Semi Otonom (LSO) pada tingkat fakultas serta kerja keras tim kontingen. Unit dan lembaga tersebut menjadi tempat untuk terus mengasah kemampuan secara bersama-sama bagi para kontingen. Selain hal itu, Wakil Dekan 3 FIKes UMM, Rakhmad Rosadi SSTFt MSc PhD, menambahkan bahwa kesuksesan para kontingen didukung oleh kerja keras dengan penuh juang baik selama persiapan atau dalam kompetisi. Secara penuh FIKes memberikan motivasi, apresiasi dan dukungannya kepada para kontingen untuk terus berprestasi pada bidang olahraga dan seni, tutupnya. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
PFAI dan Departemen Pediatri Fisioterapi UMM Lakukan Standarisasi Laboratorium

Ketua Perkumpulan Fisioterapi Anak Indonesia (PFAI), dr. Yohanes Purwanto, Ftr, S.Psi lakukan kunjungan ke Kampus I Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kunjungan tersebut disambut hangat oleh Ketua Departemen Fisioterapi Pediatri, Atika Yulianti, SST.Ft., Ftr., M.Fis, Sabtu, (13/01/2024). Kunjungan ini merupakan upaya tindak lanjut dari diskusi mengenai standarisasi laboratorium pediatri di beberapa kegiatan dan juga pengembangan laboratorium fisioterapi UMM terstandar International Organization for Standardization (ISO: 17025.2017), ungkap Atika Yulianti. Selain itu, dr. Yohanes juga menyampaikan bahwa laboratorium pediatri yang ada di Program Studi S1 Fisioterapi dan Profesi Fisioterapis UMM sudah memenuhi kebutuhan pembelajaran. Parameter untuk menentukan standarisasi laboratorium pediatri di Indonesia memang masih belum tersedia. Sehingga salah satu upaya yang PFAI lakukan adalah mengadopsi sistem laboratorium pediatri dari luar negeri. Beliau juga sharing bagaimana research laboratory setting di National Taipei University (NTU), Taiwan, tempat beliau mengenyam pendidikan doktoralnya. Laboratorium fisioterapi pendiatri perlu dilakukan pengembangan kompetensi neonatal care, pediatric care, dan sensory laboratory setup. Pengembangan inilah yang merupakan kompetensi pembeda antara tingkat diploma dan sarjana dan atau profesi. Laboratorium pediatri memiliki konsep yang lebih sederhana apabila dibandingkan dengan laboratorium lainnya. Namun, pada penatalaksanaannya membutuhkan kemampuan analisis yang tinggi. Disamping itu laboratorium pediatri juga harus mampu memberikan simulasi ataupun situasi nyata seperti pada layanan kesehatan secara umum. Diakhir kujungannya, dr. Yohanes mengatakan bersedia untuk melakukan pengembangan laboratorium pediatri bersama fisioterapi UMM. Pengembangan ini diharapkan menjadi penghubung antara kondisi di layanan kesehatan dengan proses pembelajaran. Sehingga capaian pembelajaran (CPL) berjalan dengan optimal sesuai dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Penulis dan Editor Bayu Prastowo