Perkuat Kompetensi Internasional, Fisioterapi UMM Kirimkan Dosennya Pelatihan DNS ke Turki

Foto Kegiatan Pelatihan DNS, di Turki

PWMU.CO: Program Studi Fisioterapi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengupayakan untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM) pada tingkat Internasional. Penguatan ini bertujuan untuk menyongsong kebutuhan dan perubahan tren kesehatan baik secara nasional ataupun global. Komitmen ini dibuktikan dengan diberangkatkannya salah satu dosen Fisioterapi, Rakhmad Rosadi, SST.Ft., M.Sc.Pt., Ph.D(PT). Melalui sambungan telefon, Rakhmad Rosadi mengungkapkan kegiatan ini merupakan Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS) Skill Course on Scoliosis. Sertifikasi ini dilaksanakan oleh Rehabilitation Prague School pada 27-28 Januari di Istanbul Turki, Minggu (28/01/2024). Instruktur sertifikasi DNS ini adalah Katerina Jezkova, MPt dan Martina Jeskova, MPt yang berasal dari Rehabilitation Prague School. Sekolah ini merupakan pusat pengembangan prinsip-prinsip kontrol motorik, postural, gerakan, pola berjalan dan rehabilitasi saraf yang dikemukakan oleh Karel Lewit dan Vladimir Janda. Hingga prinsip DNS yang saat ini secara protokol klinis mampu memulihkan dan menstabilkan fungsi gerak, jelasnya. Penguatan ini selaras dengan program pemerintah untuk mengendalikan angka kejadian skoliosis di Indonesia. Menurut data yang dilansir oleh Kementrian Kesehatan, prevalensi kejadian skoliosis mencapai 2.93%. Sedangkan di Dunia pertahunnya terus mengalami peningkatan mencapai 12%. Skoliosis yang terjadi di Indonesia tergolong dalam kategori skoliosis idiopatik. Ironisnya kejadian ini ditemukan pada rentang usia remaja yang merupakan generasi emas bangsa. Selain itu remaja dengan jenis kelamin perempuan dibandingkan dengan laki-laki.  Skoliosis sendiri merupakan kondisi kelainan postur tulang belakang yang pada umumnya membentuk pola huruf C ataupun S. Fenomena skoliosis tersebut dikelompokkan menjadi empat kategori berdasarkan usia. Kategori pertama,  Infantile Idiopathic yang terjadi sejak lahir sampai usia 20 tahun. Kategori kedua, Juvenile Idiopathic Scoliosis yang terjadi pada rentang usia 3 hingga 9 tahun. Kemudian kategori ketiga, Adolescent Idiopathic Scoliosis yang terjadi pada usia 10 sampai 17 tahun.  Sedangkan yang terakhir adalah kategori Adult Idiopathic Scoliosis yang terjadi diatas usia 18 tahun. Faktor lain yang berpotensi meningkatkan prevalensi skoliosis adalah masa pubertas, indeks masa tubuh, dan perilaku aktivitas sehari-hari. Meningkatnya angka penggunaan gawai pada anak sekolah tanpa disertai posisi yang ergonomis menjadi sumbangsih terhadap angka kejadian skoliosis di Indonesia. Upaya promotif dan preventif terus dilakukan oleh Program Studi Fisioterapi UMM melalui berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Deteksi dini dapat dilakukan melalui pengukuran skoliometer dan pemeriksaan spesifik fisioterapi. Namun, upaya kuratif dan rehabilitatif tetap dilakukan untuk mengambalikan fungsi gerak penderita skoliosis, salah satunya melalui penguatan ini, tukas Rakhmad Rosadi diakhir sambungan telfonnya. Penulis dan Editor Bayu Prastowo