Dosen Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si., tengah mengikuti pelatihan Applied Approach (AA) yang berlangsung pada 19–26 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan penguatan kompetensi pedagogik dosen di lingkungan pendidikan tinggi.
Pelatihan AA tersebut membahas berbagai materi strategis yang berkaitan dengan pengembangan sistem pembelajaran modern di perguruan tinggi. Beberapa topik yang dibahas meliputi Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan Tinggi, Manajemen Mutu Terpadu, Evaluasi Proses Pembelajaran, Pengembangan Pembelajaran Aktif dan Inovatif, hingga Penerapan Literasi dalam Pembelajaran.
Selain itu, peserta juga mendapatkan penguatan terkait Pembelajaran Berbasis Laboratorium, Pembelajaran Berbasis Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Asesmen Alternatif, serta Pemanfaatan Manajemen Referensi dalam Pengembangan Sumber Belajar dan Penulisan Karya Ilmiah. Pelatihan ini turut membahas Rekonstruksi Perencanaan Pembelajaran, peningkatan kualitas pembelajaran melalui lesson study, hingga rekonstruksi metode pembelajaran berbasis student-centered learning.
Kegiatan ini menjadi langkah penting bagi dosen fisioterapi dalam menyesuaikan sistem pembelajaran dengan tantangan pendidikan kesehatan modern yang semakin dinamis. Terlebih, pendidikan fisioterapi tidak hanya menuntut penguasaan teori, tetapi juga kemampuan integrasi praktik klinis, clinical reasoning, dan pendekatan berbasis evidence-based practice.
Dalam keterangannya, Bayu Prastowo menyampaikan bahwa transformasi pendidikan tinggi menuntut dosen untuk tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aktif, reflektif, dan aplikatif bagi mahasiswa.

“Mahasiswa kesehatan saat ini membutuhkan metode pembelajaran yang lebih kontekstual dan berbasis kasus. Karena itu, dosen juga harus terus meningkatkan kapasitas pedagogiknya agar proses pembelajaran lebih efektif serta relevan dengan kebutuhan praktik klinis modern,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pembelajaran fisioterapi saat ini harus mampu mengintegrasikan aspek akademik, praktik laboratorium, hingga pendekatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu ekosistem pembelajaran yang berkesinambungan.
Pelatihan Applied Approach turut mendorong dosen untuk mengembangkan inovasi pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu, tetapi juga pada pembentukan kemampuan berpikir kritis, komunikasi profesional, kolaborasi interprofesional, serta penguatan etika akademik mahasiswa.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen institusi untuk menjaga mutu pendidikan dan meningkatkan kualitas lulusan. Melalui peningkatan kapasitas dosen secara berkelanjutan, diharapkan proses pembelajaran di lingkungan S1 Fisioterapi UMM semakin mampu menghasilkan tenaga fisioterapis yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global di bidang kesehatan.
Penulis dan Editor Bayu Prastowo