Dimas Sondang Irawan, Ph.D(PT), dosen Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kembali menegaskan pentingnya pemahaman ilmiah dalam praktik exercise di tengah masyarakat. Dimas, sapaan akrabnya, menjadi pemateri utama dalam Webinar Nasional bertema “Move to Heal: Exercise as Therapy for the Body and Mind” yang diselenggarakan dalam rangkaian ATHENA VI 2026 dan diikuti mahasiswa fisioterapi serta peserta umum.

Dimas Sondang Irawan SST.Ft., M.Fis., Ph.D(PT) Selaku Pemateri Seminar

Dalam paparannya berjudul Exercise, Injury Prevention, and Movement for Better Health and Quality of Life, Dimas menyoroti kekeliruan umum di masyarakat yang kerap menyamakan physical activity dengan exercise. Menurutnya, dua istilah tersebut memiliki perbedaan konseptual dan fisiologis yang jelas.

“Exercise dan physical activity itu berbeda. Banyak orang menganggap lari atau olahraga yang sedang tren sebagai exercise, padahal jika tidak memiliki dosis yang terukur dan tidak dirancang secara sistematis, itu baru sebatas physical activity,” tegasnya.

Sebagai akademisi dengan kepakaran di bidang Biomechanics and Sport, Dimas menjelaskan bahwa exercise harus memenuhi prinsip FITT (Frequency, Intensity, Time, Type). Tanpa pengaturan dosis yang tepat, tubuh tidak akan mengalami adaptasi fisiologis yang optimal. Sebaliknya, dosis berlebihan tanpa kontrol justru meningkatkan risiko cedera.

Ia memaparkan bahwa exercise yang terstruktur akan memicu respons sistemik pada tubuh. Pada sistem muskuloskeletal terjadi peningkatan rekrutmen motor unit, hipertrofi otot, stabilitas sendi, serta kontrol postural yang lebih baik. Dari sisi kardiovaskular dan respirasi, exercise meningkatkan kapasitas pompa jantung, ventilasi paru, dan ambang kelelahan. Sementara secara neurohormonal, pelepasan endorfin, serotonin, dan dopamin berperan dalam stabilitas emosi serta peningkatan fungsi kognitif.

Dimas juga menggarisbawahi tantangan kesehatan modern akibat dominasi gaya hidup digital. Fenomena sitting disease, tech-neck, kurang tidur, dan stres kronis menyebabkan penurunan kapasitas fisik fungsional.

“Banyak orang merasa lelah padahal aktivitas fisiknya rendah. Ini tanda bahwa kapasitas tubuhnya menurun. Pola hidup sedentari dan paparan digital berlebihan menjadi faktor utama,” jelasnya.

Ia menilai fenomena FOMO olahraga sebenarnya merupakan momentum positif karena menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk bergerak. Namun, tanpa edukasi berbasis sains, tren tersebut berisiko menimbulkan miskonsepsi.

“FOMO itu bagus sebagai pemicu. Tetapi kita perlu edukasi masif bahwa exercise harus evidence-based dan memiliki dosimetri yang jelas. Ini menjadi PR besar kita sebagai tenaga kesehatan, khususnya fisioterapis,” ujarnya.

Melalui forum ilmiah ini, Dimas menegaskan bahwa exercise bukan sekadar aktivitas fisik spontan, melainkan intervensi terapeutik yang murah, aman, dan berbasis bukti. Ia juga menekankan peran strategis fisioterapis dalam aspek promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.

Penulis dan Editor Bayu Prastowo