Departemen Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat pengembangan kompetensi fisioterapis melalui kerja sama internasional bersama The International Physical Therapy Academic (IPTA) dalam penyelenggaraan Dry Needling Certification Program.
Program sertifikasi tersebut berlangsung pada 8–12 April 2026 di Lantai 4 GKB 5 UMM dan diikuti secara terbatas oleh 30 peserta fisioterapis dari berbagai daerah di Indonesia. Pembatasan jumlah peserta dilakukan untuk memastikan efektivitas pembelajaran, khususnya pada sesi praktik klinis dan hands-on training.

IPTA sendiri merupakan lembaga pelatihan internasional yang berdiri sejak 2019 dan telah memiliki akreditasi dari International Board of Dry Needling serta terdaftar sebagai Approved CPD Provider by CPD Group UK. Kolaborasi ini menjadi salah satu langkah strategis UMM dalam menghadirkan pelatihan fisioterapi berbasis standar internasional di Indonesia.
Program sertifikasi ini memuat berbagai materi komprehensif terkait pendekatan dry needling, mulai dari Dry Needling Theory and Application, Practical Hands-On, Safety Protocol, Ethical Guideline, hingga Clinical Evidence dalam praktik fisioterapi modern.
Peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga dibekali kemampuan praktik klinis secara langsung dengan pendekatan berbasis evidence-based practice. Di akhir pelatihan, peserta yang dinyatakan kompeten akan memperoleh gelar nonformal CDNP (Certified Dry Needling Practitioner).
Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph.D, menjelaskan bahwa penguatan sertifikasi kompetensi internasional menjadi salah satu kebutuhan penting dalam perkembangan profesi fisioterapi saat ini.
“Dunia fisioterapi berkembang sangat cepat. Saat ini kompetensi tambahan berbasis sertifikasi profesional menjadi nilai lebih bagi fisioterapis, khususnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan daya saing global,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa dry needling hanya menjadi salah satu bagian dari pengembangan kompetensi profesional fisioterapis ke depan. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan sertifikasi profesional nantinya akan berkembang pada berbagai pendekatan terapi lain di luar penanganan muskuloskeletal.
“Ke depan sertifikasi profesional kemungkinan tidak hanya berfokus pada pendekatan muskuloskeletal melalui dry needling, tetapi juga berkembang pada berbagai bidang fisioterapi lain sesuai kebutuhan layanan kesehatan modern,” tambahnya.
Melalui program ini, Fisioterapi UMM berharap mampu menjadi salah satu pusat pengembangan kompetensi fisioterapi berbasis internasional di Indonesia, sekaligus membuka akses bagi fisioterapis untuk memperoleh pelatihan profesional yang terstandar global tanpa harus mengikuti pelatihan di luar negeri.
Penulis dan Editor Bayu Prastowo