Program Studi S1 Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring internasional melalui program student exchange mobility bersama Faculty of Physical Therapy, Mahidol University, Thailand. Pada tahun ini, Fisioterapi UMM menerima mahasiswa internasional asal Thailand, Siwat Matro, yang akan menjalani program pertukaran mahasiswa selama tiga minggu, mulai 16 Mei hingga 7 Juni 2026.

Mahasiswa Student Exchange Bersama Mahasiswa Profesi Fisioterapis dan Clinical Instructor di Puskesmas Pandanwangi, Kota Malang
Mahasiswa Student Exchange Bersama Mahasiswa Profesi Fisioterapis dan Clinical Instructor di Puskesmas Pandanwangi, Kota Malang

Selama berada di UMM, Siwat Matro akan mengikuti berbagai kegiatan akademik dan praktik lapangan bersama mahasiswa Fisioterapi UMM. Kegiatan tersebut meliputi perkuliahan, diskusi akademik, praktik klinik di puskesmas, hingga cultural exchange untuk mengenal budaya Indonesia dan kehidupan mahasiswa di Kota Malang.

Kaprodi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., menyampaikan bahwa program student exchange bersama Mahidol University merupakan bagian dari penguatan kerja sama internasional yang telah berjalan secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

“Program student exchange bersama Mahidol University menjadi agenda tahunan yang terus kami kembangkan sebagai bentuk penguatan kolaborasi internasional. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman akademik dan klinis bagi mahasiswa internasional, tetapi juga memperkaya wawasan global mahasiswa Fisioterapi UMM,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kerja sama antara Fisioterapi UMM dan Mahidol University telah berlangsung selama tiga tahun terakhir. Tahun 2026 ini juga menjadi batch ke-5 penerimaan mahasiswa Mahidol University di lingkungan Fisioterapi UMM melalui program mobility exchange.

Dalam program tersebut, Siwat dijadwalkan mengikuti clinical practice bersama mahasiswa profesi fisioterapis UMM di sejumlah puskesmas wilayah Malang Raya. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa internasional dapat mempelajari pendekatan pelayanan fisioterapi berbasis komunitas yang diterapkan di Indonesia, khususnya pada layanan kesehatan primer.

Menurut Dimas, keberadaan mahasiswa internasional di lingkungan kampus menjadi ruang pembelajaran yang sangat positif bagi mahasiswa maupun dosen. Interaksi lintas budaya dan perbedaan sistem pelayanan kesehatan dinilai mampu meningkatkan kemampuan komunikasi, adaptasi, serta kompetensi global mahasiswa fisioterapi.

“Kami berharap mahasiswa dapat belajar memahami praktik fisioterapi dari perspektif internasional. Tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga bagaimana membangun kolaborasi, komunikasi lintas budaya, dan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat yang menjadi fokus kegiatan praktik di puskesmas,” tambahnya.

Selain kegiatan akademik dan clinical practice, program exchange ini juga menjadi sarana cultural exchange antara mahasiswa Indonesia dan Thailand. Berbagai aktivitas bersama dirancang untuk memperkenalkan budaya lokal, kehidupan masyarakat, serta lingkungan pendidikan di Kota Malang kepada mahasiswa internasional.

Melalui program ini, Fisioterapi UMM terus memperkuat langkah internasionalisasi pendidikan tinggi sekaligus membangun jejaring global dalam bidang fisioterapi dan kesehatan masyarakat. Program student exchange diharapkan menjadi ruang pertukaran ilmu, pengalaman, dan budaya yang memberikan manfaat bagi kedua institusi serta mempererat hubungan kerja sama antara UMM dan Mahidol University.

Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah