Program Physiotherapy Education and Cultural Exchange (PEACE) ke-3 sukses diselenggarakan pada 15–16 Februari 2025. Mengusung tema “Post-Operative Rehabilitation for Tendon and Ligament in the Lower Extremity”, kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi internasional antara mahasiswa fisioterapi dari Indonesia, Jepang, dan Taiwan.

PEACE 3 merupakan inisiatif dari Asia Physical Therapy Student Association (APTSA) Indonesia dan diselenggarakan bersama Indonesia Physiotherapy Student Association (IPSA) sebagai tuan rumah. Dalam pelaksanaannya, IPSA bekerja sama dengan Japan Physical Therapy Student Association (JPTSA) serta I-Shou University Physical Therapy Student Association (ISUPTSA) dari Taiwan.

“Kegiatan PEACE tahun ini sangat spesial karena berkolaborasi dengan dua negara sekaligus. Ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya melibatkan satu negara,” ujar Erick Gilbert Christian Bunga, Head Chief Committee PEACE 3. Ia menambahkan bahwa kolaborasi tiga negara ini memperluas wawasan, jaringan, serta pemahaman budaya peserta secara signifikan.

Peserta PACE Tahun 2025
Peserta PACE Tahun 2025

Dua mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang, Dia Rafidya Tamimi dan Nurul Intan Fadhilah, turut berkontribusi sebagai bagian dari panitia pelaksana dalam kegiatan ini.

Rangkaian acara dimulai pada 15 Februari 2025 dengan sesi PT Class, yang menghadirkan tiga narasumber dari masing-masing negara. Mereka adalah Aufa Miftah Firdausy, S.Ft., Ftr., M.Sc (Indonesia), Dr. Chih-Chun Lin, PT, PhD (Taiwan), dan Dr. Kazuna Ichikawa, MSc, PT, PhD (Jepang). Para pemateri menyampaikan materi terkait rehabilitasi pasca-operasi tendon dan ligamen ekstremitas bawah dari perspektif akademik dan praktik klinis di negara masing-masing.

Pada hari kedua, peserta mengikuti sesi Case Study yang dirancang untuk mendorong diskusi dan kolaborasi. Peserta dibagi dalam kelompok lintas negara untuk membahas dan mempresentasikan solusi dari kasus klinis yang telah disiapkan oleh panitia.

Kegiatan ini mendapat respons positif dari para peserta. “PEACE 3 sangat bermanfaat karena memberikan banyak ilmu baru. Diskusi dengan teman-teman internasional jelas meningkatkan kemampuan public speaking dan kepercayaan diri saya,” ujar Haruto, peserta asal Jepang.

PEACE 3 menjadi bukti nyata pentingnya kolaborasi internasional dalam pendidikan fisioterapi. Selain memperkaya wawasan teknis, kegiatan ini juga memperkuat pemahaman lintas budaya dan memperluas perspektif global mahasiswa dalam menghadapi tantangan dunia kesehatan masa depan.

Penulis Dia Rafidya Tamimi