Standarkan Kompetensi Alumni dan Non-Alumni, Profesi Fisioterapis UMM Gelar Matrikulasi

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kegiatan matrikulasi bagi mahasiswa baru Angkatan ke-13. Kegiatan ini menjadi tahap awal pembekalan keilmuan terapan secara praktis sebelum mahasiswa menjalani praktik profesi di berbagai wahana layanan kesehatan di Indonesia. Matrikulasi dirancang sebagai penguatan kompetensi berbasis praktik yang dibimbing langsung oleh para pakar fisioterapi dari berbagai bidang. Pembekalan mencakup seluruh ranah kompetensi fisioterapi, mulai dari Fisioterapi Pediatri, Neuromuskular Perifer–Sentral, Olahraga, Kardiopulmonal-Vaskuler, Integumen, Geriatri, Ergonomi dan Kesehatan Keselamatan Kerja (K3), Kesehatan Wanita, Muskuloskeletal, hingga Fisioterapi Komunitas. Selain kompetensi utama, mahasiswa juga mendapatkan pengayaan keilmuan lain seperti Basic Dry Needling, Introduction Bobath New Concept, Electrophysical Agent, Character Building, Basic Life Support (BLS), Layanan Fisioterapi Islami, Komunikasi Kesehatan, Promosi Kesehatan, serta Clinical Reasoning. Salah satu sesi dalam matrikulasi ini adalah Fisioterapi Muskuloskeletal yang didampingi langsung oleh Noor Sadhono, SST.Ft., Ftr., M.Si dan Prihatoro Larasati, SST.Ft., Ftr., M.Si, fisioterapis dari RS Ortopedi dr. Soeharso Surakarta. Dalam paparannya, Noor Sadhono menekankan bahwa anatomi dan biomekanik merupakan bekal keilmuan seumur hidup bagi seorang fisioterapis. “Seorang profesi harus mampu menjelaskan modalitas yang digunakan, asal-usul keluhan pasien, serta menganalisisnya secara komprehensif. Di situlah letak perbedaan fisioterapis profesional, bukan sekadar memasang alat,” tegasnya. Ia juga menjelaskan pentingnya penerapan Evidence Based Practice (EBP) yang bertumpu pada tiga pilar utama, yakni nilai pasien (patient values), pengalaman klinis (clinical experience), dan bukti ilmiah terbaik (best available evidence). “Clinical reasoning, critical thinking, dan evidence-based practice adalah kunci utama. Gunakan pendekatan IF–THEN, pahami karakteristik patologi, serta kenali red flag dan yellow flag pada pasien,” tambahnya. Sementara itu, Prihatoro Larasati menekankan pentingnya dimensi kemanusiaan dalam praktik fisioterapi. Menurutnya, pasien bukan hanya objek terapi, melainkan sumber pembelajaran yang harus dihargai. “Pasien membawa pengalaman hidup. Kita harus menghargai, berempati, dan berterima kasih kepada mereka. Anamnesis harus dilakukan dengan bahasa yang tidak menyakiti, agar pasien merasa nyaman dan terbuka,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa proses assessment harus dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek gerak, pola keluhan, psikologis, sosial, hingga patologi. Edukasi yang diberikan pun harus kontekstual, rasional, dan dapat dimodifikasi sesuai kondisi pasien. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis, menyampaikan bahwa matrikulasi merupakan bentuk komitmen program studi dalam mempersiapkan mahasiswa secara maksimal sebelum terjun ke wahana praktik. “Kami memberikan pembekalan secara komprhensif. Matrikulasi ini juga berfungsi sebagai apersepsi karena mahasiswa kami berasal dari alumni maupun non-alumni. Kami ingin seluruh calon fisioterapis mendapatkan fondasi yang setara dan kuat dari para pakar,” jelasnya. Safun Rahmanto juga menambahkan, tantangan kebutuhan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks menuntut fisioterapis untuk tidak hanya berfokus pada layanan kuratif dan rehabilitatif, tetapi juga mampu berperan di ranah promotif dan preventif, khususnya melalui pendekatan berbasis komunitas. “Fisioterapi harus hadir lebih luas di masyarakat. Inilah yang kami siapkan sejak awal melalui matrikulasi,” pungkasnya. Penulis Holista Mila Yuniar dan Editor Bayu Prastowo