Fisioterapi UMM Gaungkan Layanan Kesehatan Komunitas ke Dunia Internasional

Foto Bersama Bersama Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan di Kampus II Universitas Muhammadiyah Malang

Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar program pertukaran mahasiswa internasional bekerja sama dengan Mahidol University, Thailand. Program ini telah memasuki pelaksanaan dan berlangsung selama satu bulan di Malang. Program pertukaran pelajar ini menjadi wujud nyata komitmen kedua institusi dalam menyiapkan lulusan fisioterapi yang unggul dan memiliki kompetensi pelayanan berbasis komunitas internasional. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dari Mahidol University mendapatkan pengalaman akademik dan klinis langsung di Indonesia melalui Program Studi Fisioterapi UMM. Rangkaian kegiatan yang dijalankan dalam program ini meliputi pembelajaran klinis di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan perkuliahan di kelas internasional bersama para dosen dari Program Studi Fisioterapi UMM. Pemilihan Puskesmas sebagai lokasi praktik bukan tanpa alasan. Perbedaan pendekatan layanan kesehatan komunitas antara Indonesia dan Thailand menjadi poin pembelajaran penting bagi mahasiswa internasional untuk memahami beragam model intervensi fisioterapi di tingkat masyarakat. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, S.Kep., M.Kep., secara langsung menyambut kedatangan mahasiswa asing tersebut. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kerja sama ini telah terjalin sejak beberapa tahun terakhir dan diharapkan terus berkembang.  “Program ini menjadi bentuk kontribusi Fisioterapi UMM dalam memberikan referensi global terkait peran dan fungsi fisioterapi di komunitas. Harapannya, ini bisa menjadi model pembelajaran lintas negara yang saling menguatkan,” jelasnya. Senada dengan hal tersebut, Direktur International Relations Office (IRO) UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP., menambahkan bahwa program ini merupakan bagian dari strategi internasionalisasi kampus yang konsisten dijalankan UMM.  “Kegiatan pertukaran ini adalah salah satu aktualisasi dari program internasionalisasi kampus. Selain memberikan pengalaman lintas budaya bagi mahasiswa asing, kegiatan ini juga memperluas jejaring akademik global UMM. Kami berharap ke depannya kerja sama seperti ini bisa diperluas tidak hanya di kawasan Asia Tenggara, tetapi juga menjangkau mitra di Eropa dan wilayah lainnya,” ungkapnya. Sebagai bagian dari penguatan mutu pendidikan tinggi, kegiatan seperti ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing lulusan UMM di level global, sekaligus memperkenalkan keunggulan layanan kesehatan berbasis komunitas di Indonesia kepada dunia internasional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

PEACE 3: Ajang Pembelajaran Global dan Penguatan Soft Skill Mahasiswa Fisioterapi UMM

Peserta PACE Tahun 2025

Program Physiotherapy Education and Cultural Exchange (PEACE) ke-3 sukses diselenggarakan pada 15–16 Februari 2025. Mengusung tema “Post-Operative Rehabilitation for Tendon and Ligament in the Lower Extremity”, kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi internasional antara mahasiswa fisioterapi dari Indonesia, Jepang, dan Taiwan. PEACE 3 merupakan inisiatif dari Asia Physical Therapy Student Association (APTSA) Indonesia dan diselenggarakan bersama Indonesia Physiotherapy Student Association (IPSA) sebagai tuan rumah. Dalam pelaksanaannya, IPSA bekerja sama dengan Japan Physical Therapy Student Association (JPTSA) serta I-Shou University Physical Therapy Student Association (ISUPTSA) dari Taiwan. “Kegiatan PEACE tahun ini sangat spesial karena berkolaborasi dengan dua negara sekaligus. Ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya melibatkan satu negara,” ujar Erick Gilbert Christian Bunga, Head Chief Committee PEACE 3. Ia menambahkan bahwa kolaborasi tiga negara ini memperluas wawasan, jaringan, serta pemahaman budaya peserta secara signifikan. Dua mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang, Dia Rafidya Tamimi dan Nurul Intan Fadhilah, turut berkontribusi sebagai bagian dari panitia pelaksana dalam kegiatan ini. Rangkaian acara dimulai pada 15 Februari 2025 dengan sesi PT Class, yang menghadirkan tiga narasumber dari masing-masing negara. Mereka adalah Aufa Miftah Firdausy, S.Ft., Ftr., M.Sc (Indonesia), Dr. Chih-Chun Lin, PT, PhD (Taiwan), dan Dr. Kazuna Ichikawa, MSc, PT, PhD (Jepang). Para pemateri menyampaikan materi terkait rehabilitasi pasca-operasi tendon dan ligamen ekstremitas bawah dari perspektif akademik dan praktik klinis di negara masing-masing. Pada hari kedua, peserta mengikuti sesi Case Study yang dirancang untuk mendorong diskusi dan kolaborasi. Peserta dibagi dalam kelompok lintas negara untuk membahas dan mempresentasikan solusi dari kasus klinis yang telah disiapkan oleh panitia. Kegiatan ini mendapat respons positif dari para peserta. “PEACE 3 sangat bermanfaat karena memberikan banyak ilmu baru. Diskusi dengan teman-teman internasional jelas meningkatkan kemampuan public speaking dan kepercayaan diri saya,” ujar Haruto, peserta asal Jepang. PEACE 3 menjadi bukti nyata pentingnya kolaborasi internasional dalam pendidikan fisioterapi. Selain memperkaya wawasan teknis, kegiatan ini juga memperkuat pemahaman lintas budaya dan memperluas perspektif global mahasiswa dalam menghadapi tantangan dunia kesehatan masa depan. Penulis Dia Rafidya Tamimi

PEACE 3 Tumbuhkan Kompetensi Global Mahasiswa Fisioterapi Lewat Pertukaran Ilmu dan Budaya

Pemaparan Budaya Indonesia Kepada Peserta PACE

Program Physiotherapy Education and Cultural Exchange (PEACE) edisi ketiga sukses digelar pada 15–16 Februari 2025. Kegiatan bertaraf internasional ini mengusung tema “Post-Operative Rehabilitation for Tendon and Ligament in the Lower Extremity” dan mempertemukan mahasiswa fisioterapi dari Indonesia, Jepang, dan Taiwan dalam sebuah kolaborasi lintas negara yang penuh makna. PEACE 3 merupakan hasil inisiasi Asia Physical Therapy Student Association (APTSA) Indonesia yang kemudian diwujudkan bersama Indonesia Physiotherapy Student Association (IPSA) sebagai tuan rumah. Dalam penyelenggaraannya, APTSA Indonesia memainkan peran strategis sebagai penghubung antarorganisasi mahasiswa fisioterapi Asia, menjalin kerja sama dengan Japan Physical Therapy Student Association (JPTSA) dan I-Shou University Physical Therapy Student Association (ISUPTSA) dari Taiwan. Menariknya, tahun ini PEACE bertransformasi menjadi lebih besar. “Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang hanya melibatkan satu negara, PEACE 3 menghadirkan kolaborasi dari dua negara sekaligus. Ini menjadi pengalaman yang jauh lebih kaya dan beragam,” ujar Erick Gilbert Christian Bunga selaku ketua panitia. Indonesia diwakili oleh dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Dia Rafidya Tamimi dan Nurul Intan Fadhilah, yang berperan sebagai bagian dari tim panitia internasional. Kontribusi mereka menambah kuat posisi Indonesia sebagai motor penggerak kolaborasi mahasiswa fisioterapi di Asia. Agenda PEACE 3 terbagi dalam beberapa sesi utama. Salah satunya adalah Education Sharing Session (ESS), yang menjadi ruang berbagi pengetahuan seputar sistem pendidikan fisioterapi dari ketiga negara. Sesi ini menghadirkan narasumber terpilih seperti Syi’ar Aprilla Tanazza, S.Kes., Ftr dari Indonesia, Kentaro Nagata dari Jepang, dan Ka-Yuen Hau, PT, MPT dari Taiwan. Selain itu, para peserta juga diajak mengikuti kegiatan cultural games yang memperkenalkan budaya masing-masing negara melalui permainan yang interaktif dan menyenangkan. Aktivitas ini menjadi ajang saling mengenal, mempererat hubungan, dan menumbuhkan semangat toleransi antarbudaya. PEACE 3 mendapat apresiasi positif dari peserta. Melody, nama panggilan dari Syuan Ting Wang asal Taiwan, mengungkapkan kesannya, “Saya sangat senang bisa ikut serta. Banyak informasi menarik tentang pendidikan fisioterapi dari negara lain dan juga tentang beasiswa.” Lebih dari sekadar ajang ilmiah, PEACE 3 menjadi ruang tumbuh bersama bagi mahasiswa fisioterapi di Asia. Tak hanya memperluas wawasan akademik, kegiatan ini juga memperkaya pengalaman budaya dan memperkuat jaringan profesional lintas negara. Ini sebuah langkah kecil menuju kolaborasi global yang lebih besar di masa depan. Penulis Dia Rafidya Tamimi