Lulus 3,5 Tahun, Mahasiswa Fisioterapi UMM Siap Menjawab Kebutuhan Fisioterapi di Indonesia

Foto Bersama Pimpinan Universitas, Fakultas Ilmu Kesehatan, dan Program Studi Fisioterapi

Program Studi S1 Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatatkan capaian akademik dengan meluluskan 64 mahasiswa tepat waktu dengan masa studi 3,5 tahun. Para lulusan tersebut dikukuhkan dalam Yudisium Periode I Fakultas Ilmu Kesehatan yang digelar di Auditorium GKB 5 UMM, Sabtu (07/02/2026). Seluruh lulusan S1 Fisioterapi UMM ini selanjutnya akan melanjutkan pendidikan ke jenjang Pendidikan Profesi Fisioterapis sebagai tahapan untuk menjadi fisioterapis profesional. Yudisium dibuka secara resmi oleh Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS. Dalam sambutannya, menyampaikan rasa bangga atas capaian mahasiswa yang mampu menyelesaikan studi lebih cepat dari masa studi reguler. “Saya mengapresiasi perjuangan mahasiswa yang mampu lulus dalam 3,5 tahun. Capaian ini tentu tidak terlepas dari dukungan orang tua dan keluarga. Jangan pernah lupa untuk berterima kasih kepada mereka,” ungkapnya. Dalam kesempatan tersebut, Dekan FIKES juga mengajak seluruh peserta yudisium untuk menguatkan semangat kebersamaan melalui jargon FIKES UMM, “Healthy Mind, Healthy Life, Healthy Spiritual. We Love UMM”, serta memotivasi mahasiswa agar siap melanjutkan pendidikan profesi sesuai dengan departemen masing-masing. “Yudisium ini bukan akhir, tetapi awal dari perjalanan profesional sebagai calon tenaga kesehatan,” tegasnya. Kegiatan yudisium juga dihadiri oleh Wakil Rektor III UMM Bidang Kemahasiswaan, Dr. Nur Subeki, S.T., M.T. Ia menekankan pentingnya kebanggaan sebagai lulusan UMM sekaligus tanggung jawab menjaga nama baik almamater. “Mahasiswa yang lulus tepat waktu, yakni 3,5 hingga 4 tahun, telah menunjukkan tanggung jawab atas amanah akademik yang diberikan universitas,” ujarnya. Dr. Nur Subeki mengaitkan peran lulusan FIKES dengan nilai Muhammadiyah sebagai Islam berkemajuan, serta peran tenaga kesehatan sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah ayat 30. Nilai tersebut tercermin melalui layanan yang berorientasi pada pemulihan fungsi gerak, peningkatan kualitas hidup, serta pendampingan pasien secara komprehensif dengan penuh tanggung jawab kemanusiaan. Dengan berlandaskan nilai al-islam kemuhammadiyahan dan kemanusiaan, diharapkan dapat menjawab kebutuhan layanan fisioterapi yang semakin kompleks di masyarakat. Penulis Holista Mila Yuniar dan Editor Bayu Prastowo  

Integrasi Character Building Dalam Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Guna Bentuk Jiwa Profesionalitas

Sebanyak 86 mahasiswa baru Program Pendidikan Profesi Fisioterapis Angkatan ke-13 Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti kegiatan Character Building yang diselenggarakan di Stadion UMM, Sabtu (7/2/2026). Mahasiswa ini berasal dari beragam latar belakang institusi pendidikan, antara lain alumni S1 Fisioterapi UMM, Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP), Universitas Dhyana Pura, Institut Teknologi Kesehatan dan Sains (ITKES) Wiyata Husada Samarinda (WHS), serta sejumlah perguruan tinggi lainnya. Keberagaman ini menjadi potensi sekaligus tantangan dalam pembentukan karakter dan kesiapan profesional mahasiswa profesi fisioterapis. Kegiatan Character Building ini difokuskan pada refleksi dan penguatan soft skills yang esensial bagi fisioterapis profesional. Beberapa poin refleksi utama yang disampaikan meliputi pentingnya manajemen diri, kemampuan komunikasi yang efektif, kerja sama tim, serta kesadaran untuk tidak bersikap menyalahkan diri sendiri dalam proses belajar dan praktik klinik. Mahasiswa juga diajak memahami bahwa praktik profesi fisioterapis di lapangan. Oleh karena itu, kemampuan self-control menjadi krusial, termasuk kesadaran bahwa tidak semua anggota tim harus selalu berada dalam kondisi emosional yang sama. Dalam sebuah tim, diperlukan peran yang saling melengkapi, termasuk individu yang mampu menjadi penenang dan penyeimbang dinamika kelompok. Keterampilan mendengarkan ditekankan sebagai pilar utama dalam komunikasi kesehatan. Mahasiswa dilatih untuk fokus, rapi, dan sistematis dalam mengerjakan tugas, sekaligus memahami perbedaan pendekatan logika dan perasaan yang kerap muncul dalam kerja tim, baik antarindividu maupun lintas profesi. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen program studi dalam membangun fondasi karakter mahasiswa sebelum terjun ke wahana praktik. “Kegiatan Character Building ini merupakan upaya kami untuk membangun kesiapan mental, emosional, dan sosial mahasiswa profesi fisioterapis. Kompetensi klinis saja tidak cukup, tetapi harus diimbangi dengan karakter yang kuat, kemampuan berkomunikasi, serta kerja sama tim yang baik agar mahasiswa siap menghadapi kompleksitas layanan fisioterapi di masyarakat,” ungkapnya. Kegiatan ini didampingi langsung oleh tim dari Pusat Layanan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, yang berperan dalam memfasilitasi proses refleksi, diskusi, dan penguatan aspek psikologis mahasiswa. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa profesi fisioterapis UMM memiliki kesiapan baik secara akademik, klinis, maupun karakter sebagai calon fisioterapis profesional. Penulis Holista Mila Yuniar dan Editor Bayu Prastowo

Pendampingan Hingga Simulasi UKOMNAS, Strategi Fisioterapi UMM Luluskan Fisioterapis Kompeten

Peserta Melakukan Try Out Internal Berbasis CBT

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Angkatan ke-11 Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan serangkaian persiapan intensif menghadapi Uji Kompetensi Nasional (UKOMNAS) berbasis Computer Based Test (CBT). Persiapan tersebut dirancang untuk memastikan kesiapan akademik sekaligus kesiapan mental mahasiswa sebelum menghadapi ujian nasional penentu kelulusan profesi. Tahapan persiapan dilakukan melalui kegiatan karantina bedah soal UKOM yang melibatkan seluruh departemen fisioterapi. Dalam kegiatan ini, mahasiswa dibimbing langsung oleh dosen pakar sesuai bidang keilmuan masing-masing, dengan fokus pada pendalaman analisis soal serta pemetaan kompetensi yang diujikan dalam UKOMNAS. Setelah tahap karantina, program studi melanjutkan persiapan melalui beberapa kali pelaksanaan Try Out Internal. Seluruh rangkaian Try Out tersebut diselenggarakan dengan mengacu pada standar Kolegium Fisioterapi Indonesia (KFI). Tidak hanya dari sisi konten soal, sistem ujian yang digunakan juga dirancang menyerupai UKOM-CBT nasional, mulai dari jumlah soal, durasi waktu, hingga tampilan antarmuka (interface) dan mekanisme sistem yang merupakan duplikasi dari sistem CBT KFI. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menilai bahwa tantangan terbesar mahasiswa dalam menghadapi UKOMNAS tidak hanya terletak pada bobot analisis soal, tetapi juga pada kemampuan beradaptasi dengan sistem dan atmosfer ujian. “Tantangan mahasiswa bukan semata-mata pada tingkat kesulitan soal UKOM, tetapi bagaimana mereka terbiasa dengan sistem dan suasana ujian yang sesungguhnya,” ujarnya. Menurutnya, pembiasaan terhadap sistem CBT yang menyerupai kondisi riil UKOMNAS diharapkan mampu membantu mahasiswa mengendalikan faktor psikologis saat ujian berlangsung. Dengan demikian, mahasiswa dapat lebih tenang, fokus, dan nyaman ketika mengerjakan 180 soal yang harus diselesaikan dalam waktu terbatas. Hal tersebut diperkuat oleh Koordinator UKOM Profesi Fisioterapis UMM, Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si. Ia menegaskan bahwa pendampingan mahasiswa dilakukan secara komprehensif, mulai dari pendalaman materi, simulasi ujian, hingga penyediaan sistem dan mekanisme UKOM yang mendekati kondisi nyata. “Pendampingan hingga pada pembuatan sistem UKOM dengan atmosfer riil merupakan bentuk komitmen kami untuk mendampingi mahasiswa sampai mereka dinyatakan kompeten oleh kolegium,” tandasnya. Melalui persiapan berlapis ini, Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM berharap tingkat kelulusan UKOMNAS dapat terus dipertahankan secara optimal. Lebih dari itu, pendekatan ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga mutu lulusan fisioterapis yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga siap secara mental dan profesional menghadapi tuntutan dunia kerja. Penulis dan Editor Bayu Prastowo