Alumni Fisioterapi UMM Sukses Mengawal Timnas Basket Putri Raih Perunggu SEA Games 2025

JATIMSATUNEWS: Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Muhammad Nanda Risydianto, S.Kes., M.Or merupakan alumni Program Studi Fisioterapi UMM angkatan 2015, turut berperan dalam keberhasilan Tim Nasional (Timnas) Basket Putri Indonesia meraih medali perunggu pada ajang SEA Games 2025 di Thailand. Sejak tahun 2021, Nanda sapaan akrabnya telah berkiprah menjadi sebagai fisioterapis Timnas Basket Putri Indonesia. Dedikasi dan profesionalismenya kembali membuahkan hasil pada SEA Games 2025, ketika Timnas Basket Putri Indonesia berhasil menumbangkan Malaysia dengan skor 62–55 dalam laga penentuan perebutan medali perunggu yang berlangsung pada Jumat (19/12/2025). Kemenangan tersebut memastikan Indonesia naik podium dan tidak terlepas dari peran tim fisioterapis, yang bertugas menjaga kondisi fisik atlet tetap optimal sepanjang turnamen. Dalam olahraga prestasi, kesiapan fisik, pencegahan cedera, serta pemulihan yang tepat menjadi faktor krusial dalam menunjang performa atlet di lapangan. Sebagai fisioterapis Timnas Basket Putri, Nanda mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam pekerjaannya adalah memahami karakter, kebutuhan, dan kondisi fisik masing-masing atlet. Penanganan atlet perempuan, menurutnya, memerlukan kepekaan yang lebih tinggi, terutama terkait faktor fisiologis seperti siklus bulanan yang dapat memengaruhi kebugaran, performa, hingga risiko cedera. Pengalaman Nanda di level nasional dan internasional didukung oleh latar belakang pendidikan formal dan non-formal yang kuat. Selain menyelesaikan pendidikan fisioterapi dan magister olahraga, ia juga memiliki sejumlah sertifikasi profesional, di antaranya AIFO, CDNP, dan COMT, yang sangat relevan dengan perannya saat ini. Ahli Ilmu Faal Olahraga (AIFO) berperan penting dalam memahami respons fisiologis tubuh atlet terhadap latihan dan pertandingan, sehingga membantu menyusun strategi pemulihan dan pencegahan kelelahan. Kemudian Certified Dry Needling Practitioner (CDNP) dapat memperkuat kompetensi Nanda dalam menangani gangguan neuromuskuloskeletal melalui teknik dry needling. Metode ini digunakan untuk mengatasi nyeri miofasial, trigger point, spasme otot, serta mempercepat pemulihan fungsi otot pada atlet basket yang menjalani beban latihan dan pertandingan tinggi. Sementara itu, Certified Orthopaedic Manual Therapist (COMT) memperkuat kompetensi Nanda dalam penanganan gangguan muskuloskeletal menggunakan pendekatan terapi manual. Sebelum bergabung dengan Timnas Basket Putri Indonesia, Nanda juga telah memiliki pengalaman luas di dunia olahraga nasional. Ia pernah mendampingi Prapon Futsal Jawa Timur tahun 2019 serta menjadi fisioterapis tim Basket Putri Fever Surabaya sejak tahun 2021 hingga sekarang, di samping berbagai pengalaman profesional lainnya. Kiprah Muhammad Nanda Risydianto menjadi bukti nyata bahwa lulusan Fisioterapi UMM mampu berkontribusi di level nasional hingga internasional. Prestasi ini sekaligus mengharumkan nama almamater dan menunjukkan peran strategis fisioterapis dalam mendukung olahraga prestasi Indonesia. Penulis Nikmatur Rosidah dan Editor Bayu Prastowo
Belajar Langsung dari Fisioterapi Arema FC, Mahasiswa Fisioterapi UMM Antusias Ikuti Program Alumni Mengajar

Program Studi S1 Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan kegiatan Alumni Mengajar sebagai bagian dari penguatan pembelajaran berbasis praktik dan pengalaman lapangan. Kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu di mata kuliah Muskuloskeletal yang bertempat di Laboratorium Muskuloskeletal UMM. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah tersebut, Sabtu (20/12/2025). Pada kegiatan Alumni Mengajar kali ini, Prodi S1 Fisioterapi UMM menghadirkan Reta Arroyan, S.Ft., Ftr, seorang fisioterapis profesional yang saat ini berkarier sebagai fisioterapis tim Arema FC. Klub sepak bola yang berlaga di Liga 1 Indonesia (BRI Super League 2025/2026). Di tengah kesibukannya mendampingi Arema FC dalam kompetisi nasional, Reta meluangkan waktu untuk berbagi ilmu, pengalaman klinis, serta dinamika kerja fisioterapis di tim olahraga profesional. Reta, sapaan akrabnya mampu menghidupkan suasana perkuliahan dengan interaksi aktif bersama mahasiswa. Antusiasme mahasiswa terlihat dari riuhnya diskusi dan berbagai pertanyaan seputar peran fisioterapi dalam tim sepak bola profesional, khususnya terkait penanganan cedera dan pengambilan keputusan klinis di lapangan. Reta memaparkan berbagai metode terkini dalam penanganan cedera pasca-operatif pada regio knee, yang sering dialami atlet profesional. Ia juga menjelaskan beberapa mekanisme cedera knee yang umum terjadi pada olahraga sepak bola, serta mengajak mahasiswa untuk mempraktikkan pemeriksaan awal guna mendeteksi permasalahan pada sendi lutut secara sistematis. Tak hanya fokus pada aspek teknis, Reta menekankan pentingnya sikap profesional fisioterapis di dalam tim. Ia berpesan agar fisioterapis tidak terhanyut dalam euforia pertandingan. Menurutnya, peran fisioterapis menuntut fokus penuh untuk mengamati performa setiap pemain, sehingga mampu mengenali tanda-tanda awal kelelahan maupun mekanisme cedera yang berpotensi terjadi di lapangan. “Dasar anatomi, pemeriksaan spesifik, pemeriksaan penunjang, serta analisis biomekanik merupakan keterampilan dasar yang wajib dikuasai bagi fisioterapis yang ingin bergabung di tim profesional,” ujarnya di hadapan mahasiswa. Reta juga membagikan realitas dunia kerja fisioterapi olahraga profesional. Ia menjelaskan bahwa di bangku kuliah, mahasiswa mempelajari proses penyembuhan secara ideal dengan rentang waktu empat hingga enam bulan. Namun, di lingkungan tim profesional, fisioterapis sering dituntut untuk menyusun program pemulihan secepat mungkin, dengan tetap mempertimbangkan prinsip keamanan dan meminimalkan risiko cedera jangka panjang. Pengalaman lapangan tersebut menjadi pembelajaran berharga bagi mahasiswa bahwa kompetensi fisioterapis tidak hanya dibentuk di ruang kelas, tetapi juga melalui pembelajaran berkelanjutan di lapangan. Dunia profesional menuntut adaptasi, pengambilan keputusan cepat, serta kemampuan klinis yang terus diasah. Dimas Sondang Irawan, Ph.D selaku Ketua Program Studi S1 Fisioterapi mengungapkan bahwa kegiatan Alumni Mengajar ini diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa, menjembatani teori dan praktik, serta memotivasi calon fisioterapis untuk terus mengembangkan kompetensi profesionalnya. Kehadiran alumni yang telah berkiprah di level nasional menjadi bukti bahwa lulusan Fisioterapi UMM memiliki peluang dan daya saing untuk berkontribusi di dunia olahraga profesional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Lulus UKOMNAS 100%, Bukti Mutu Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM Unggul

Sebanyak 141 mahasiswa Program Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dinyatakan kompeten 100 persen dalam Uji Kompetensi Nasional (UKOMNAS) yang dilaksanakan pada 11 Desember 2025. Kelulusan 100% ini tertuang dalam Surat Keputusan Kolegium Fisioterapi Nomor 006/SK/KFt/XII/2025. Capaian ini mencerminkan konsistensi kualitas pembinaan akademik dan klinik yang diterapkan secara berkelanjutan. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari berbagai strategi pendampingan, di antaranya kajian soal terstruktur di setiap departemen, karantina bedah soal uji kompetensi, serta pelaksanaan try out internal sebagai bentuk pembiasaan mahasiswa dalam menghadapi standar Uji Kompetensi Nasional (UKOMNAS). Selain penguatan aspek kognitif melalui Computer Based Test (CBT), mahasiswa juga dibekali kesiapan keterampilan klinis melalui simulasi Objective Structured Clinical Examination (OSCE). UKOMNAS sendiri diselenggarakan oleh Kolegium Fisioterapi dan terdiri atas dua komponen utama, yakni CBT untuk mengukur penalaran klinis serta OSCE untuk menilai kompetensi praktik profesional fisioterapis. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis, menyampaikan bahwa keberhasilan ini juga didukung oleh kesiapan sistem pendidikan dan sarana prasarana yang dimiliki institusi. Saat ini, Program Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM membuka penerimaan mahasiswa di Gelombang Ganjil dan Gelombang Genap, sebagai bentuk komitmen dalam memperluas akses pendidikan profesi dengan tetap menjaga mutu. Pembukaan dua gelombang tersebut ditunjang oleh fasilitas CBT yang memadai, dengan ketersediaan lebih dari 200 unit perangkat komputer terstandar, serta dua stasiun OSCE yang dirancang sesuai dengan ketentuan nasional. Selain itu, pelaksanaan CBT dan OSCE didukung oleh penguji yang telah tersertifikasi oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Fisioterapi Indonesia (APTIFI), sehingga menjamin objektivitas, validitas, dan akuntabilitas proses penilaian kompetensi mahasiswa. “Alhamdulillah, seluruh rangkaian pendampingan dan pelaksanaan uji kompetensi dapat diikuti secara tertib oleh mahasiswa. Ke depan, pembiasaan melalui model soal berbasis vignette dan praktik berbasis OSCE akan terus kami perkuat,” ujar Safun Rahmanto. Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut tidak hanya diterapkan di level profesi, tetapi telah diintegrasikan sejak jenjang Sarjana (S1). Bahkan, ujian semester di tingkat S1 telah menggunakan pendekatan vignette dan praktik berbasis OSCE sebagai bagian dari kesinambungan kurikulum. “Kolaborasi sistem S1 dan profesi ini bertujuan memastikan capaian kompetensi mahasiswa secara bertahap dan berkelanjutan,” jelasnya. Menurut Safun, pendidikan di bidang kesehatan, khususnya fisioterapi, memiliki standar yang ketat karena berkaitan langsung dengan kualitas layanan dan keselamatan pasien. Oleh sebab itu, institusi berkewajiban melakukan pendampingan maksimal agar lulusan benar-benar siap dan kompeten sebagai fisioterapis profesional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Bangga! Lulusan Fisioterapi UMM Kawal Timnas Futsal Indonesia di SEA Games Thailand 2025

Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan kualitas akademiknya melalui kiprah para lulusannya yang berperan di tingkat nasional. Fortunella Levyana, alumni S1 Fisioterapi UMM tahun 2024, resmi dipercaya sebagai Official Fisioterapis Tim Nasional Futsal Putra Senior Indonesia. Penunjukan tersebut dilakukan menjelang perhelatan SEA Games 2025 di Thailand, di mana Timnas Futsal Indonesia tengah berjuang meraih prestasi terbaik. Keterlibatan Nella dalam ajang multievent terbesar Asia Tenggara tersebut menjadi indikator bahwa kompetensi lulusan Fisioterapi UMM telah memenuhi standar profesional yang dibutuhkan industri olahraga elite. Sejak bergabung, Nella mengemban tanggung jawab penting, mulai dari manajemen pencegahan cedera, asesmen kondisi fisik pemain, hingga penanganan pemulihan cepat (rapid recovery) yang sangat menentukan stabilitas performa tim selama turnamen berlangsung. Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D, memberikan apresiasi atas pencapaian ini. Ia menilai penugasan tersebut sebagai bukti bahwa kurikulum yang disusun di Fisioterapi UMM berhasil menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten, adaptif, dan siap bekerja dalam lingkungan olahraga bertekanan tinggi. Menurutnya, mahasiswa fisioterapi UMM dibekali instrumen keilmuan dan keterampilan praktik profesional melalui kelas sertifikasi, pelatihan metode terapi, serta pembelajaran klinis komprehensif. Peran fisioterapis dalam dunia olahraga tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan menjaga kondisi prima atlet sepanjang kompetisi. Dalam tim nasional, fisioterapis berfungsi memastikan kesiapan fisik atlet melalui pendekatan evidence-based practice, meliputi pencegahan cedera otot, monitoring kelelahan, terapi manual, modalitas elektroterapi, hingga program rehabilitasi fungsional. Keberadaan fisioterapis pada tim nasional bukan hanya untuk penanganan cedera, tetapi juga untuk mempertahankan konsistensi performa pemain agar mampu bersaing pada level tertinggi di setiap pertandingan. Penulis Nikmatur Rosidah dan Editor Bayu Prastowo
Dian Erfianto, Alumni Fisioterapi UMM Mengawal Skuad Timnas Futsal Putra U-19

Prestasi membanggakan kembali diraih alumni Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dian Erfianto seorang alumni Program Studi Fisioterapi UMM tahun 2013 sekaligus lulusan Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM tahun 2021, resmi ditunjuk sebagai Official Fisioterapis Tim Nasional Futsal Indonesia Putera U-19. Pada penugasan perdananya, Dian langsung dipercaya mendampingi skuad Garuda Muda dalam ajang Asean U-19 Boys’ Futsal Championship 2025 yang akan berlangsung di Nonthaburi, Thailand, pada 21 sampai 29 Desember 2025 mendatang, Senin (8/12/2025). Bergabungnya Dian menjadi bagian dari tim medis Timnas Futsal Indonesia bukan tanpa alasan. Kiprahnya selama bertahun-tahun di dunia fisioterapi olahraga telah menunjukkan kualitas dan konsistensinya. Sebelum meraih kesempatan di tingkat tim nasional, Dian telah malang melintang bersama sejumlah klub sepak bola profesional Indonesia, seperti Barito Putera, Persipura Jayapura, hingga PSIM Yogyakarta. Pengalaman panjang tersebut menjadi modal penting dalam menangani atlet dengan tuntutan performa tinggi serta kebutuhan pemulihan yang cepat dan tepat. Dian mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam tim futsal nasional merupakan langkah baru sekaligus tantangan yang menarik dalam kariernya. Ia menilai futsal memiliki karakter permainan yang jauh lebih cepat, kontak antar pemain cukup tinggi, dan menuntut perubahan arah yang intens, sehingga pendekatan fisioterapinya juga harus lebih spesifik dibanding sepak bola lapangan. Menurutnya, hal tersebut membuka peluang untuk memperdalam kompetensinya sekaligus memberikan kontribusi signifikan bagi performa tim. Apresiasi juga datang dari Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis. Ia menegaskan bahwa capaian Dian merupakan buah dari perjalanan panjang serta etos belajar yang kuat sejak masa kuliah. Safun mengingat betul bagaimana Dian, sapaan akrabnya, telah aktif terlibat di berbagai ajang olahraga sejak menjadi mahasiswa. Aktivitas pembelajaran yang dilalui tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga membutuhkan praktik nyata di lapangan untuk mempertajam keterampilan. Safun menegaskan bahwa UMM selalu membuka ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri di luar kampus, termasuk dalam bidang olahraga profesional. Selain menjadi pencapaian pribadi, penugasan ini juga menegaskan betapa strategisnya peran fisioterapis dalam dunia olahraga. Intensitas permainan yang tinggi, ritme cepat, dan kontak fisik yang kerap terjadi menjadikan risiko cedera lebih besar. Dalam dinamika tersebut, fisioterapis memegang peran kunci dalam menjaga kesiapan fisik para pemain. Fisioterapis bertanggung jawab memastikan kondisi kebugaran terjaga, menangani cedera akut yang muncul saat latihan maupun pertandingan, serta memulihkan kondisi pemain agar tetap berada pada level performa optimal. Tidak hanya itu, fisioterapis juga berkolaborasi erat dengan pelatih dan komponen lainnya untuk menyesuaikan beban latihan, melakukan evaluasi fungsional, serta mengantisipasi potensi cedera melalui program pencegahan yang komprehensif. Dengan pengalaman dan rekam jejak yang dimilikinya, kehadiran Dian di Timnas Futsal U-19 diharapkan mampu memperkuat kesiapan fisik skuad garuda muda Indonesia dalam menghadapi persaingan di kancah Internasional. Penunjukan ini tidak hanya membanggakan UMM sebagai institusi, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa kompetensi lulusan fisioterapi UMM telah diakui dan dipercaya pada level nasional. Penulis Nikmatur Rosidah dan Editor Bayu Prastowo
Fisioterapi UMM Dorong Budaya Gerak Sehat di Penutupan HKN Ke-61 Malang

Riuh suara semangat pagi pelari diakhir pekan terdengar jelas di Bess Resort & Waterpark, Lawang. Ribuan peserta memadati area start untuk mengikuti Puskesmas Lawang Running Fest 5K 2025, sebuah perlombaan lari lintas alam yang untuk pertama kalinya diselenggarakan oleh Puskesmas di Kabupaten Malang. Tepat pukul 06.00 WIB, kegiatan resmi dimulai dengan pelepasan peserta oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, drg. Wiyanto Wijoyo, bersama Kepala Puskesmas Lawang, dr. Kusuma Hati, Minggu (7/12/2025). Ajang ini menjadi puncak dari rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61, yang menekankan pentingnya aktivitas fisik sebagai bagian dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Sebanyak 1.100 peserta mengikuti kompetisi ini, terdiri atas 500 pelari umum dan 600 kader kesehatan, dengan total hadiah sebesar Rp 10 juta. Kadinkes Kabupaten Malang menyampaikan apresiasi tinggi terhadap antusiasme peserta, khususnya kalangan remaja dari tingkat SMP dan SMA yang mendominasi kelompok terdepan. Ia menilai kegiatan ini memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai agenda rutin Puskesmas. “Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Saya berharap kegiatan ini dapat digelar setiap tahun dan dapat direplikasi oleh Puskesmas lain di Kabupaten Malang sebagai bagian dari penguatan budaya hidup sehat,” ujar Wiyanto. Selain menjadi wadah promosi kesehatan bagi masyarakat umum, kegiatan ini juga memberikan penghargaan kepada para kader kesehatan yang selama ini berperan sebagai mitra Puskesmas dalam pelayanan promotif, preventif, dan kuratif di tingkat komunitas. Pada penyelenggaraan tahun ini menggandeng tim Fisioterapi dari Mahasiswa Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai salah satu elemen pendukung utama dalam pelayanan kesehatan peserta. Tim ini bertugas menyediakan layanan fisioterapi, termasuk pemeriksaan pra-lari, penanganan cedera ringan, hingga edukasi terkait pencegahan cedera olahraga. Kehadiran tim fisioterapi UMM mendapat perhatian positif karena mampu memperkuat aspek keselamatan dan kenyamanan peserta selama kegiatan berlangsung. Ketua Program Studi Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini merupakan bagian penting dari proses pembelajaran profesional. “Praktik lapangan seperti ini tidak hanya memperkuat kompetensi klinis, tetapi juga menunjukkan peran fisioterapi di tengah masyarakat. Profesi ini memiliki tanggung jawab sosial untuk hadir di tengah masyarakat, memberikan edukasi, pencegahan cedera olahraga, hingga dukungan kegawatdaruratan pada berbagai kegiatan publik,” tandasnya. Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan institusi pendidikan, Puskesmas Lawang Running Fest 5K 2025 diharapkan menjadi model implementasi GERMAS yang lebih aplikatif dan dekat dengan masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Bangun Kesiapan Klinis, Fisioterapi UMM Terjunkan Mahasiswa ke Wahana Praktik di Jawa Timur

Program Studi S1 Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mulai melaksanakan pembelajaran preklinik bagi mahasiswa semester enam. Kegiatan yang berlangsung selama Januari hingga Februari 2026 ini dirancang untuk memperkuat kesiapan mahasiswa sebelum memasuki praktik klinik pada Program Profesi Fisioterapis kedepannya, Kamis (4/12/2025). Pembelajaran preklinik dilaksanakan melalui skema bed side teaching secara langsung di berbagai wahana praktik, mulai dari praktik mandiri fisioterapi, klinik, hingga rumah sakit yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Model ini diterapkan sebagai respons terhadap tuntutan kompetensi tenaga fisioterapi yang semakin tinggi, baik di skala nasional maupun internasional. Sebagai bagian dari rangkaian preklinik, mahasiswa mengikuti kegiatan pretest untuk mengukur tingkat kesiapan awal serta memastikan pemahaman fundamental sebelum terjun ke lapangan. Pretest ini juga berfungsi sebagai pembekalan untuk memetakan kemampuan mahasiswa, sehingga proses pembelajaran di wahana praktik dapat berlangsung lebih terarah dan efektif. Program ini menjadi bagian dari upaya UMM menghasilkan lulusan fisioterapi yang unggul, profesional, serta mampu mengintegrasikan pengetahuan dengan praktik nyata secara tepat, berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, metodologi, dan etika profesi. Person in Charge (PIC) Preklinik, Arys Hasta Baruna, S.Ft., M.Kes., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tahap penting sebelum mahasiswa memasuki dunia praktik klinis yang sesungguhnya. “Preklinik memberikan gambaran nyata tentang suasana layanan klinis, membantu membangun kepercayaan diri, dan memastikan mahasiswa benar-benar siap melalui evaluasi pretest. Dengan bekal ini mereka akan lebih siap ketika memasuki praktik profesi,” ujarnya. Selain pemahaman klinis, program ini juga menargetkan penguatan soft skills mahasiswa. Kompetensi yang dikembangkan meliputi keterampilan komunikasi, kemampuan berpikir kritis serta pemecahan masalah, adaptasi terhadap lingkungan kerja, kerja sama tim, hingga penyusunan laporan kasus berdasarkan kondisi pasien di lapangan. UMM memandang penyelenggaraan preklinik sebagai langkah strategis menghadapi kebutuhan dan tantangan dunia fisioterapi yang berkembang pesat. Oleh karena itu, kegiatan ini mengombinasikan aktivitas di wahana layanan fisioterapi seperti rumah sakit, puskesmas, dan komunitas, dengan pembelajaran yang berlangsung di kampus. Dengan pelaksanaan preklinik dan evaluasi kesiapan secara komprehensif ini, Program Studi S1 Fisioterapi UMM menegaskan komitmennya dalam mencetak tenaga fisioterapi yang kompeten, adaptif, dan siap bersaing di dunia kerja. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Alumni Fisioterapis UMM Menjadi Tim Fisioterapi di Dewa United Basketball

Dunia fisioterapi olahraga Tanah Air kembali kedatangan sosok muda yang tengah naik daun. Fauzan Algifari, alumni S1 Fisioterapi dan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang, resmi bergabung sebagai fisioterapis Dewa United Basketball sejak 24 Oktober 2025. Langkah ini menambah daftar panjang perannya dalam berbagai panggung olahraga nasional. Pria yang akrab disapa Algi itu bukan nama baru dalam ekosistem sport performance Indonesia. Pada tahun 2023, ia dipercaya sebagai Fisioterapis Tim Nasional Bola Voli Indonesia, sebuah posisi penting yang membawanya menangani atlet dengan intensitas latihan dan kompetisi bertaraf tinggi. Setahun setelahnya, pada 2024, ia kembali mendapat amanah di level elite sebagai fisioterapis Pelatnas Voli Indonesia U-20, tempat ia mendampingi para atlet muda menghadapi kompetisi global. Rekam jejak Algi kian menguat ketika pada 2025, ia turut mengawal Tim Nasional Bola Voli Indonesia U-21 berlaga di ajang internasional yang diselenggarakan oleh Fédération Internationale de Volleyball (FIVB). Ajang level dunia yang membutuhkan standar layanan fisioterapi dengan ketepatan klinis, manajemen cedera komprehensif, dan penguasaan evidence-based practice. Dengan portofolio tersebut, bergabungnya Algi ke Dewa United menjadi langkah strategis bagi klub yang tengah bersiap menghadapi ketatnya kompetisi Indonesian Basketball League (IBL) 2026. Menurutnya, komitmen utama yang ia bawa adalah membangun sistem pencegahan cedera yang lebih kuat, meningkatkan performa atlet berbasis data medis, serta mengintegrasikan sport rehabilitation dan sport performance agar risiko cedera dapat ditekan serendah mungkin. “Saya melihat Dewa United memiliki visi untuk membangun fondasi performa yang berkelanjutan. Dengan pengalaman di tim nasional dan kompetisi internasional, saya berkomitmen memberikan dukungan menyeluruh agar para atlet dapat tampil konsisten, sehat, dan siap bertanding di level tertinggi,” ujarnya. Dewa United sendiri merupakan klub multikategori yang berdiri sejak 2020, menaungi tiga cabang olahraga sepak bola, bola basket, dan e-sports. Meski memiliki pencapaian besar, termasuk gelar juara IBL 2025, berita ini menegaskan bahwa penguatan di bidang fisioterapi merupakan pilar kunci yang tidak dapat dipisahkan dari ambisi klub. Berbekal jam terbang yang luas, mulai dari tim nasional hingga pelatnas kelompok usia, Algi menyatakan keyakinannya untuk membawa pendekatan fisioterapi yang lebih modern, terukur, dan berbasis teknologi. “Dengan pengalaman yang ada, saya optimistis mampu mendampingi Dewa United mempertahankan performa terbaiknya, sekaligus membantu para atlet mencapai potensi maksimal mereka,” tambahnya. Kehadiran fisioterapis muda dengan integritas dan pengalaman internasional seperti Algi menjadi bukti bahwa perkembangan fisioterapi olahraga Indonesia semakin matang. Tidak hanya fokus pada penanganan cedera, fisioterapis kini menjadi bagian strategis dalam strategi kompetisi sebuah klub, menentukan kesiapan fisik, usia performa, hingga durabilitas atlet sepanjang musim. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Pemberitahuan Biaya UKOM CBT dan OSCE TUK UMM Tahun 2025

Program Studi Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang menyampaikan informasi terkait pelaksanaan Uji Kompetensi (UKOM) Fisioterapis Tahun 2025 yang akan diselenggarakan di Tempat Uji Kompetensi (TUK) Universitas Muhammadiyah Malang. UKOM tahun ini diikuti oleh peserta non-mahasiswa UMM dengan dua metode ujian, yaitu Computer Based Test (CBT) dan Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Pelaksanaan dan ketentuan biaya UKOM CBT dengan pelaksanaan 6 Desember 2025 melalui langsung Kolegium Fisioterapi Indonesia. Sedangkan OSCE pada pelaksanaan 9 Desember 2025 dengan biaya Rp 1.000.000 melalui Rekening BNI 1688633002 a.n. Prodi Profesi Fisioterapis. Peserta diwajibkan melakukan pembayaran sesuai ketentuan dan mengirimkan bukti transfer kepada panitia melalui nomor 0821-9938-5848 (Zidni) paling lambat 3 Desember 2025. Informasi ini disampaikan agar peserta dapat mempersiapkan diri dengan baik sesuai jadwal dan prosedur yang telah ditetapkan. Atas perhatian dan kerja samanya, kami mengucapkan terima kasih.
Mahasiswa Profesi Fisioterapi UMM Raih Penilaian Praktik Terbaik di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang

Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih penilaian praktik kerja lapangan terbaik dari RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang. Penilaian tersebut diberikan setelah mahasiswa menjalani praktik mulai 5 Oktober hingga 29 November 2025, dengan hasil evaluasi menunjukkan nilai rata-rata 82,6 atau kategori baik. Laporan resmi rumah sakit mencatat bahwa mahasiswa UMM dinilai unggul dalam aspek attitude, disiplin kerja, inisiatif, kreativitas, serta penguasaan prinsip 5R dan 5S yang menjadi standar dasar manajemen mutu di fasilitas kesehatan. Prinsip 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), dan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) dianggap sebagai fondasi penting dalam menjaga efektivitas kerja, kerapian lingkungan pelayanan, serta konsistensi penerapan SOP di area klinis. Dalam praktik sehari-hari, mahasiswa menunjukkan kemampuan memilah dan menata peralatan kerja, menjaga kebersihan ruang tindakan, mempertahankan standar kerja yang telah ditetapkan, serta menerapkan disiplin yang berkelanjutan tanpa pengawasan langsung. Kemampuan ini menjadi salah satu indikator penting yang berkontribusi terhadap capaian nilai tertinggi. Koordinator Pendidikan RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat, dr. Triwahyu Nur Kasiani, Sp.KJ, menyampaikan bahwa mahasiswa UMM menunjukkan integritas, kemampuan klinis, dan kepekaan profesional yang sesuai dengan standar layanan kesehatan jiwa. Menurutnya, kualitas praktik mahasiswa sangat dipengaruhi oleh kemampuan melakukan tindakan sesuai bidang kompetensi. Mahasiswa yang menempatkan diri secara tepat mampu memaksimalkan peluang belajar, melakukan observasi yang mendalam, aktif bertanya kepada pembimbing, serta menyelesaikan tugas lapangan dengan penuh tanggung jawab. Selain itu, keberhasilan mahasiswa UMM juga dipengaruhi oleh kemampuan menjalin hubungan profesional dengan staf medis dan pasien. Pendekatan empatik, komunikasi yang baik, serta keterampilan menjaga batasan profesional menjadi aspek penting yang dinilai positif oleh rumah sakit. Mahasiswa yang proaktif menawarkan bantuan, memberikan ide konstruktif, dan berkontribusi secara nyata dalam alur pelayanan kesehatan jiwa dinilai memiliki kesiapan yang lebih matang untuk memasuki dunia kerja. Capaian ini memperkuat reputasi Program Studi Profesi Fisioterapis UMM sebagai institusi yang mampu menghasilkan tenaga kesehatan berkompeten dan adaptif terhadap dinamika pelayanan kesehatan mental di Indonesia. Kolaborasi berkelanjutan antara Profesi Fisioterapis UMM dan RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat diharapkan terus mencetak mahasiswa yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga unggul dalam etika, budaya kerja, dan kualitas pelayanan. Penulis dan Editor Bayu Prastowo