Bukan Sekadar Lari, Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Jadi Garda Terdepan di Napak Tilas Festival Magetan 2025

Mahasiswa Profesi Fisioterapis bersama Ikatan Fisioterapi Indonesia Cabang Magetan dan Clinical Educator

Semarak Hari Jadi Kabupaten Magetan ke-350 semakin terasa dengan suksesnya gelaran Napak Tilas Running Festival (NTRF) 2025 yang digelar pada Sabtu (18/10/2025). Acara yang diinisiasi oleh Komunitas Playon Magetan ini berhasil menarik lebih dari 500 pelari dari berbagai daerah untuk mengikuti lomba lari kategori 5 kilometer (5K). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mengangkat potensi olahraga dan pariwisata Magetan melalui semangat kebersamaan dan sportivitas. Ajang ini secara resmi diberangkatkan oleh Wakil Bupati Magetan, Kang Suyat, dari depan Pendapa Surya Graha Magetan. Para pelari menempuh rute sejauh 5 kilometer yang melintasi ruas-ruas utama kota, termasuk Jalan Kemasan, Imam Bonjol, Teuku Umar, Patimura, Monginsidi, Hasanudin, Timor, dan A. Yani, sebelum kembali ke titik finis di Pendapa Surya Graha. Di sepanjang rute, peserta disuguhi panorama kota yang berpadu dengan nuansa sejarah Magetan, menciptakan pengalaman berlari yang tidak hanya menantang secara fisik, tetapi juga menggugah rasa cinta terhadap daerah. Di tengah riuhnya pelari, pemandangan menarik terlihat di garis finis. Tim berseragam dari Ikatan Fisioterapis Indonesia (IFI) Cabang Magetan yang terdiri dari fisioterapis profesional serta mahasiswa Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampak sibuk memberikan layanan medis. Mereka menjadi garda terdepan dalam penanganan cedera dan pemulihan, memastikan seluruh peserta berada dalam kondisi aman dan bugar selama kegiatan berlangsung. Sejak pagi, tim IFI telah menyiapkan layanan pre-run stretching dan taping untuk mencegah cedera, serta area post-race recovery berupa sport massage dan ice bath yang ramai dikunjungi para pelari seusai lomba. “Kami tidak hanya standby untuk menangani cedera, tapi juga membawa misi edukasi dan pencegahan. Di Hari Jadi Magetan ke-350 ini, kami ingin menunjukkan bahwa kesehatan adalah pilar utama pembangunan. Fisioterapi hadir untuk memastikan masyarakat tetap aktif, bugar, dan produktif,” ujar M. Sufi Cahya Mahabatullah, salah satu pengurus IFI Magetan, di posko utama acara. Kolaborasi antara praktisi dan mahasiswa fisioterapi ini menjadi bukti nyata sinergi antara dunia akademik dan profesional dalam mendukung event berskala daerah. Dengan semangat kolaboratif antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat, NTRF 2025 bukan sekadar lomba lari, melainkan momentum yang menegaskan komitmen Magetan untuk menjadi destinasi sport tourism unggulan di Jawa Timur. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Kupas Tuntas Gangguan Leher dan Lengan, Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Belajar Langsung dari Pakarnya!

Foto bersama Mahasiswa, Clinical Educator dan Pemateri

Mahasiswa Pendidikan Profesi Fisioterapis, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah menjalani praktik klinis di RSO Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta turut berpartisipasi dalam workshop bertema “Physiotherapy Approaches for Neck and Arm Disorders” yang disampaikan oleh Ari Sudarsono, SST., Ftr., M.Fis. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam rangka peningkatan kompetensi klinis mahasiswa serta upaya memperkuat sinergi antara institusi pendidikan dan layanan kesehatan. Workshop tersebut berlangsung selama dua hari, pada Sabtu hingga Minggu, 11–12 Oktober 2025, bertempat di Ruang Gymnasium Fisioterapi lantai 2 Gedung Yandu RSO Soeharso Surakarta. Acara ini diikuti oleh sekitar 40 peserta, terdiri atas praktisi fisioterapi dari lingkungan rumah sakit dan mahasiswa profesi fisioterapi dari berbagai universitas, termasuk dari UMM. Suasana pelatihan berlangsung interaktif, di mana peserta aktif berdiskusi, berlatih, dan bertukar pengalaman dalam menangani berbagai kasus klinis. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam menangani gangguan pada leher dan ekstremitas atas, mulai dari proses asesmen, identifikasi masalah, hingga pemberian intervensi fisioterapi yang efektif. Selama dua hari pelaksanaan, peserta memperoleh pembelajaran mendalam melalui perpaduan antara sesi teori dan praktik. Materi yang diberikan meliputi berbagai pendekatan fisioterapi pada area leher, bahu, dan tangan, termasuk praktik langsung penanganan kasus yang disimulasikan di bawah bimbingan narasumber berpengalaman. Menurut penyelenggara, workshop ini tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga mendorong peserta untuk berpikir kritis dalam merancang intervensi fisioterapi berbasis bukti (evidence-based practice). Harapannya peserta mampu mengintegrasikan teori yang dipelajari dengan keterampilan fisioterapi di lapangan. Pendekatan seperti ini penting untuk memastikan pasien mendapatkan hasil terapi yang optimal. Melalui kegiatan ini, mahasiswa profesi fisioterapi UMM memperoleh kesempatan berharga untuk mengasah kemampuan klinis secara langsung di lingkungan rumah sakit rujukan nasional. Workshop ini juga menjadi media untuk mempererat kolaborasi antara dunia akademik dan profesional, serta menegaskan komitmen UMM dalam menyiapkan lulusan fisioterapis yang kompeten, adaptif, dan berdaya saing tinggi di dunia kerja. Penulis Najah Fadiya Humaira dan Editor Bayu Prastowo

Senam Sentul, Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Dampingi Lansia Tingkatkan Mobilitas Aktivitas Sehari-Hari

Empat mahasiswa Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan,  Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah menjalani praktik profesi di RSO Prof. Dr. Soeharso Surakarta ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan rutin Senam Sentul (Sendi dan Tulang). Kegiatan ini dipandu langsung oleh Clinical Educator Prihantoro Larasati Mustiko, SST.FT., Ftr., M.Si yang berlangsung di Jl. Apel, Kecamatan Lawean, Kota Surakarta dan diikuti oleh puluhan peserta lanjut usia yang antusias menjaga kesehatan tulang dan persendian mereka, Sabtu, (4/10/2025). Keempat mahasiswa, yakni Najah Fadiya Humaira, Nabila Randy Dhiyanisa, Diva Amanda Oliviyan, dan Agashi Al’Ainaa Almardyah, turut mendampingi peserta senam dengan memberikan arahan gerakan yang aman, efektif, dan sesuai dengan kondisi fisik lansia. Program ini bertujuan meningkatkan kebugaran, menjaga mobilitas tubuh, serta mencegah risiko cedera melalui latihan sederhana namun terstruktur. Tidak hanya terlibat dalam sesi senam, para mahasiswa profesi fisioterapis UMM juga menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat sekitar. Layanan tersebut mencakup pemeriksaan tekanan darah dan pengukuran saturasi oksigen. Upaya ini menjadi wujud nyata pengabdian sekaligus edukasi kesehatan, khususnya dalam mendorong kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini terhadap faktor risiko penyakit. Prihantoro Larasati Mustiko menuturkan, keberadaan mahasiswa profesi fisioterapis di kegiatan Senam Sentul memberikan nilai tambah, karena selain mendampingi gerakan, mereka juga dapat memberikan pengetahuan dasar mengenai pentingnya aktivitas fisik dan pemantauan kesehatan. “Keterlibatan mahasiswa membuat kegiatan ini semakin interaktif dan bermanfaat, baik bagi para lansia maupun masyarakat umum,” ujarnya. Kegiatan Senam Sentul sendiri merupakan agenda rutin yang digagas untuk membangun budaya hidup sehat bagi lansia. Dengan kolaborasi antara klinisi, mahasiswa, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat peran fisioterapi dalam menjaga kualitas hidup, terutama di kelompok usia lanjut. Penulis Najah Fadiya Humaira dan Editor Bayu Prastowo

Open Recruitment PSC 2025

PSC Informasi Lomba

Apa itu PSC ? Physiotherapy Student Club(PSC) adalah wadah pengembangan diri mahasiswa Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang yang berfokus pada peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan profesionalisme di bidang fisioterapi. PSC berperan sebagai komunitas pembelajaran dan pengabdian yang mendorong mahasiswa untuk aktif berkontribusi dalam kegiatan akademik, sosial, dan pengembangan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. Proses Seleksi Proses seleksi Physiotherapy Student Community (PSC) 2025 terdiri dari beberapa tahapan: Tahap I – Pendaftaran: 24–28 Oktober 2025Peserta melakukan pendaftaran dan mengumpulkan berkas administrasi sesuai ketentuan Tahap II – Wawancara: 31 Oktober – 1 November 2025Peserta yang lolos administrasi akan mengikuti wawancara untuk menilai motivasi, komitmen, dan kesiapan berorganisasi. Tahap Akhir – Pengumuman Hasil Seleksi: 2 November 2025Peserta yang dinyatakan lolos akan bergabung sebagai anggota PSC 2025. Ketentuan dan Persyaratan Mahasiswa aktif Program Studi S1 Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2024–2025. Memiliki keinginan belajar dan rasa ingin tahu yang tinggi. Berkomitmen, bertanggung jawab, dan aktif dalam kegiatan akademik maupun organisasi. Siap berproses secara individual maupun dalam tim. Sehat jasmani dan rohani. Bersedia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan PSC selama periode kepengurusan 2025. Mengumpulkan berkas pendaftaran lengkap yang terdiri dari: Scan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), Pas foto 3×4, Sertifikat lomba atau organisasi selama SMA (jika ada), Membuat Essay, poster, atau leaflet, Bukti unggah twibbon Open Recruitment PSC 2025 di media sosial. Informasi Seluruh informasi pendaftaran dan link pengumpulan berkas dapat diakses melalui tautan berikut:

Mahasiswa Profesi Fisioterapis Berikan Dukungan Medis pada Ribuan Pelari di Solo Run Fest 2025

Gelaran SOLO RUN FEST 2025 yang digelar di Stadion Manahan Solo menjadi panggung kolaborasi antara olahraga, pelayanan kesehatan, dan edukasi. Selain menyediakan fasilitas olahraga massa, event ini juga diwarnai dengan kehadiran mahasiswa Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang bertugas sebagai tim medis lapangan, menangani cedera ringan, keluhan otot, dan pemulihan pascaberaktivitas bagi peserta, Solo (28/09/2025). Keterlibatan mahasiswa ini berlangsung saat mereka sedang menjalani praktik di RSO Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta, dan menjadi salah satu upaya menerapkan teori ke dalam aksi nyata di tengah keramaian. Selain untuk membantu peserta, kegiatan tersebut juga dimaksudkan sebagai media pembelajaran klinis, pengabdian masyarakat, dan penguatan kompetensi bagi calon fisioterapis profesional. Acara semakin meriah dengan kehadiran Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang tidak hanya hadir sebagai tamu kehormatan, tetapi juga ikut berlari bersama peserta kategori 5K. Menurut laporan resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Gubernur Luthfi hadir bersama kurang lebih 6.000 peserta dalam event ini. Ia memberikan aba-aba pelepasan start untuk kategori 5K, dan kemudian berjalan di antara para pelari, menyapa peserta maupun warga di sepanjang rute lari yang melintasi jalan-jalan kota Solo seperti Adi Sucipto, Dr. Moewardi, Slamet Riyadi, Prof. Dr. Supomo, dan berakhir di Taman Balekambang. Dalam sambutannya, Gubernur Luthfi mendorong penyelenggaraan event olahraga yang dikaitkan dengan sport tourism untuk meningkatkan daya tarik daerah serta potensi ekonomi lokal melalui kunjungan peserta dan wisatawan. Para mahasiswa fisioterapi yang bertugas mengakui bahwa berhadapan langsung dengan kondisi nyata dan memperkaya pengalaman klinis mereka. Selain aspek teknis, mereka juga belajar mengelola komunikasi dengan peserta di lapangan, memastikan protokol keselamatan, serta koordinasi dengan tim medis lain ketika dibutuhkan. Namun, tantangan juga muncul, terutama dalam hal menata lokasi pelayanan medis, manajemen alat dan material kedaruratan olahraga, serta koordinasi arus peserta agar tidak terjadi penumpukan di titik layanan. Keberhasilan pelaksanaan ini tak lepas dari kerjasama antar berbagai pihak seperti panitia event, pemerintah daerah, instansi medis, dan institusi pendidikan. Acara ini menyiratkan pesan kuat bahwa event olahraga besar tidak hanya soal lomba atau hiburan, tetapi juga kesempatan untuk menempatkan fungsi pelayanan kesehatan dan peran fisioterapis dalam masyarakat. Di tengah hiruk-pikuk ribuan pelari dan geliat olahraga kota, mahasiswa fisioterapi UMM membuktikan bahwa persiapan profesional dimulai dari lapangan nyata. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Fisioterapi UMM Berikan Layanan Fisioterapi Gratis Untuk Meningkatkan Kemandirian Lansia

JurnalPost.com: Dalam rangka memperingati Hari Fisioterapi Dunia (World Physical Therapy Day) yang jatuh setiap bulan September, Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menggelar Seminar Nasional dan Layanan Fisioterapi Gratis. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 20 September 2025, di Pendopo Malowopati, Bojonegoro. Dengan mengusung tema “Optimalisasi Peran Fisioterapi Berbasis Pemberdayaan Masyarakat untuk Mewujudkan Masyarakat dan Lansia Sehat Mandiri,” acara ini dibuka oleh Bupati Bojonegoro, H. Setyo Wahono. Bupati Bojonegoro dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini. “Keluhan orang tua itu sudah bukan kira-kira lagi, misalnya sakit pinggang atau boyok’en. Kesehatan adalah investasi terbesar, dan kegiatan ini merupakan kali pertama layanan fisioterapi gratis digelar Pemkab Bojonegoro,” ujarnya. Kegiatan ini terbagi menjadi dua rangkaian utama. Pertama, Seminar Nasional yang membahas peran fisioterapi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan pemberdayaan lansia. Kedua, Pelayanan Fisioterapi Gratis berupa pemeriksaan fungsi gerak tubuh, skrining gangguan gerak, penanganan gangguan fungsional, serta edukasi perawatan mandiri. Dari sekitar 170 peserta yang hadir, mayoritas mengeluhkan nyeri pada leher, punggung, serta kaki, yang umumnya dialami akibat aktivitas sehari-hari maupun proses penuaan. Tim fisioterapis dari UMM memberikan terapi modalitas modern, latihan peregangan, hingga edukasi gerakan sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah. Tim fisioterapis juga memberikan terapi manual pada peserta. Keluhan nyeri leher, punggung, dan kaki yang dialami para lansia disebabkan oleh beberapa mekanisme. Seiring bertambahnya usia, terjadi proses degenerasi pada sendi, otot, dan tulang belakang yang membuat jaringan tubuh menjadi lebih kaku dan rentan menimbulkan nyeri. Aktivitas sehari-hari yang dilakukan berulang tanpa disertai peregangan juga dapat menimbulkan ketegangan otot. Selain itu, postur tubuh yang kurang baik saat duduk, berdiri, maupun berjalan dalam jangka waktu lama memperberat beban pada tulang belakang. Inilah yang membuat banyaknya keluhan pada lansia. Ketua Program Studi Fisioterapi UMM menjelaskan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi sarana pengabdian masyarakat. “Kami berharap fisioterapi semakin dikenal dan dimanfaatkan, khususnya bagi lansia, agar mereka tetap sehat dan mandiri,” jelasnya. Penulis Bayu Prastowo

Hari Fisioterapi Dunia, UMM Gelar Pemeriksaan Kesehatan pada Lansia di Bojonegoro

LiputanSulbar: Dalam rangka memperingati Hari Fisioterapi Dunia (World Physical Therapy Day) yang jatuh setiap bulan September, Program Studi Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat undangan kehormatan dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Acara ini digelar pada Sabtu, 20 September 2025 di Pendopo Malowopati, Bojonegoro, dengan mengusung tema “Mewujudkan Masyarakat Lansia Sehat dan Mandiri.” Kegiatan berlangsung meriah dengan dua agenda utama, yaitu seminar kesehatan dan layanan fisioterapi gratis. Masyarakat yang hadir mendapat kesempatan untuk melakukan pemeriksaan fungsi gerak tubuh, deteksi dini gangguan gerak, edukasi pola hidup aktif, hingga terapi langsung untuk berbagai keluhan seperti nyeri lutut, nyeri punggung, pegal linu, hingga kelemahan otot. Bupati Bojonegoro, H. Setyo Wahono, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi kepada fisioterapis yang berkontribusi meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan, terutama bagi kalangan lanjut usia. “Keluhan orang tua itu sudah bukan kira-kira lagi, misalnya seperti boyok’en (sakit pinggang). Kesehatan menjadi investasi terbesar saat ini. Buktinya, seberapa banyak harta atau seberapa tinggi jabatan yang kita miliki, ketika sakit semuanya menjadi tidak berharga lagi,” tegasnya. Seminar dan layanan fisioterapi gratis tersebut dihadiri berbagai lapisan masyarakat Bojonegoro. Beberapa organisasi juga turut berpartisipasi, di antaranya Persatuan Olahraga Tradisional Indonesia (PORTINA), Gabungan Organisasi Wanita (GOW), serta komunitas senam lansia seperti Senam Tera Indonesia. Secara keseluruhan, kegiatan ini diikuti lebih dari 170 peserta. Menariknya, Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua Pembina Posyandu Kabupaten Bojonegoro, Dr. Hj. Sri Budi Cantika Yuli Wahono atau yang akrab disapa Bu Cantika Wahono, juga turut merasakan manfaat layanan fisioterapi gratis. “Aktivitas saya cukup padat, kadang membuat pergelangan kaki dan telapak kaki kiri terasa nyeri. Alhamdulillah, dengan adanya layanan fisioterapi ini saya bisa mendapat penanganan langsung,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, Fisioterapi UMM berharap semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya menjaga fungsi gerak tubuh sejak dini, sehingga lansia dapat tetap sehat, mandiri, dan produktif. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro pun menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program kesehatan berbasis masyarakat yang berkelanjutan. Penulis Bayu Prastowo

Momentum Hari Fisioterapi Dunia, Prodi Fisioterapi UMM-Pemkab Bojonegoro Baksos Layanan Fisioterapi Gratis

TABLOIDMATAHATI.COM: Program Studi Fisioterapi dan Profesi Fisioterapis, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menggelar seminar nasional dan layanan fisioterapi gratis dalam rangka memperingati Hari Fisioterapi Sedunia yang diperingati setiap bulan September. Kegiatan ini dilaksanakan 20 September 2025. Momentum Hari Fisioterapi Dunia, Prodi Fisioterapi UMM-Pemkab Bojonegoro Baksos Layanan Fisioterapi Gratis 1 Pelayanan pemeriksaan dan intervensi fisioterapi kepada masyarakat Bojonegoro. Rangkaian pelaksanaan dijelaskan Ketua Program Studi Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, bertepatan momentum Hari Fisioterapi Sedunia antara Prodi Fisioterapi UMM dan Pemkab Bojonegoro menggelar bakti sosial (baksos) yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Bojonegoro, mengusung tema Meningkatkan Kesadaran dan Pengetahuan Masyarakat Bojonegoro tentang Pentingnya Penuaan Sehat melalui Pendekatan Fisioterapi. Menurut Safun, selain baksos juga menggelar seminar menghadirkan tiga pakar fisioterapi UMM sebagai narasumbernya. Yakni Nungki Marlian Yuliadarwati, yang menekankan peran fisioterapi dalam menjaga kualitas hidup lansia dengan cara mempertahankan mobilitas dan mencegah penurunan fungsi tubuh. Momentum Hari Fisioterapi Dunia, Prodi Fisioterapi UMM-Pemkab Bojonegoro Baksos Layanan Fisioterapi Gratis 2 Pelayanan pemeriksaan dan intervensi fisioterapi kepada masyarakat Bojonegoro. Kemudian Sri Sunaringsih Ika Wardojo membahas strategi pemberdayaan lansia agar tetap mandiri, produktif, dan terintegrasi dalam komunitas sosial. Serta Dimas Sondang Irawan memaparkan pentingnya praktik fisioterapi berbasis riset ilmiah yang dapat meningkatkan mutu layanan kepada pasien lansia di Bojonegoro. Menariknya, tandas Safun, selain seminar tim Prodi Fisioterapi UMM juga menggelar baksos pelayanan pemeriksaan fisioterapi gratis di halaman pendopo yang berlangsung dari pukul 07.00 hingga 12.00 WIB. Pemeriksaan ini menjadi penting karena banyak masyarakat, khususnya lansia, yang kerap mengalami keluhan nyeri leher, punggung, maupun kaki akibat proses penuaan, aktivitas harian, atau postur tubuh yang kurang tepat. Momentum Hari Fisioterapi Dunia, Prodi Fisioterapi UMM-Pemkab Bojonegoro Baksos Layanan Fisioterapi Gratis 3 Bersama dengan bapak Bupati Bojonegoro dan pimpinan Dekan 3 FIKES, Prodi S1 dan Profesi Fisioterapis. Namun, sebagian besar dari mereka belum mendapatkan akses layanan fisioterapi secara memadai, baik karena keterbatasan biaya maupun minimnya pengetahuan tentang peran fisioterapi dalam menjaga kesehatan. Dengan adanya pemeriksaan gratis ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan penanganan awal dan terapi sederhana, tetapi juga edukasi mengenai cara menjaga kesehatan otot dan sendi secara mandiri di rumah. “Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta mendorong pengembangan profesi fisioterapi di Indonesia,” ujar Safun Rahmanto. Safun menambahkan, saat kegiatan berlangsung mendapat sambutan antusias dari peserta terlihat dari banyaknya warga yang hadir dan memanfaatkan kesempatan ini. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro pun menyambut baik inisiatif tersebut, bahkan berencana menjadikannya agenda tahunan. Kegiatan ini menjadi wujud nyata sinergi antara akademisi dan pemerintah daerah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sekaligus memperkenalkan fisioterapi sebagai bagian penting dari layanan kesehatan preventif dan rehabilitatif. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Pemkab Bojonegoro Gandeng Prodi Fisioterapi UMM Gelar Seminar Nasional dan Layanan Kesehatan Gratis untuk Lansia

blokBojonegoro.com: Dalam rangka memperingati Hari Fisioterapi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 8 September, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berkolaborasi dengan Program Studi S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Seminar Nasional dan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat, khususnya para lansia. Selaras dengan tema utama Hari Fisioterapi Dunia 2025 “Healthy Aging” kegiatan ini mengusung tema “Optimalisasi Peran Fisioterapi dan Pemberdayaan Masyarakat Mewujudkan Masyarakat Sehat dan Mandiri” bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan fisik secara mandiri di usia lanjut. Acara yang berlangsung meriah ini menghadirkan para ahli fisioterapi dari UMM sebagai narasumber dalam seminar nasional, serta menyediakan pelayanan fisioterapi langsung di lokasi kegiatan. Warga Bojonegoro, terutama lansia dan keluarganya, tampak antusias memanfaatkan layanan pemeriksaan dan intervensi fisioterapi yang diberikan secara cuma-cuma oleh para fisioterapis profesional dan mahasiswa fisioterapi UMM. Bupati Bojonegoro, H. Setyo Wahono, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Prodi Fisioterapi UMM atas dedikasi dan kontribusinya dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat khususnya lansia. “Seminar ini bisa menambah ilmu untuk lebih menjaga diri dan memperbaiki pola hidup, karena kesehatan adalah investasi terbesar. Memiliki kekayaan atau jabatan apapun, kalau tidak sehat nilainya menjadi nol. Apa yang kita punya tidak pernah ada artinya kalau kita sendiri tidak sehat,” tegas Bupati. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada UMM yang telah melakukan berbagai pemeriksaan, intervensi, dan edukasi kesehatan guna mendukung hidup yang lebih baik. “Selamat Hari Fisioterapi Sedunia, semoga memberikan manfaat lebih dalam menjaga dan mengantisipasi kondisi kesehatan keluarga kita,” tambahnya. Sementara itu, Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, Rahmad Rosadi, mengungkapkan rasa terima kasih kepada Pemkab Bojonegoro atas sambutan dan kerjasamanya. Ia menjelaskan bahwa pihaknya membawa 10 fisioterapis handal serta 15 mahasiswa Prodi Fisioterapi untuk terjun langsung dalam pelayanan kepada masyarakat. “Ini adalah bentuk pengabdian nyata dari dunia akademik kepada masyarakat luas, serta menjadi pengalaman belajar langsung bagi mahasiswa kami,” jelasnya. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah dan institusi pendidikan tinggi untuk bersama-sama meningkatkan taraf kesehatan masyarakat. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan untuk menjangkau lebih banyak daerah dan memberikan manfaat yang lebih luas, khususnya bagi lansia yang menjadi kelompok rentan dalam aspek kesehatan. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Workshop Fisioterapi Hadirkan Strategi Publikasi Ilmiah Berbasis Bukti dan Teknologi AI

Ahmad Fauzi, S.Pd., M.Pd Sebagai Pemateri (AI Enthusiast)

Dalam upaya mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah, Program Studi Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis menggelar Workshop Penulisan Fisioterapi bertajuk “Transforming Research into Global Publication: AI Tools, Literature Synthesis, and Publishing Strategies”. Kegiatan ini berlangsung hari ini dengan diikuti oleh seluruh dosen dan staf Program Studi Fisioterapi serta Pendidikan Profesi Fisioterapis, Selasa (5/8/2025). Workshop ini menghadirkan tiga narasumber kompeten yang memberikan panduan strategis dalam menulis dan menerbitkan artikel ilmiah, terutama untuk menembus jurnal bereputasi nasional dan internasional. Pembicara pertama menyampaikan materi mengenai Artificial Intelligence (AI) : Memanfaatkan Kecerdasan Buatan untuk Riset Akademik yang Lebih Cerdas dan Cepat mengulas bagaimana pemanfaatan teknologi AI dapat mempercepat dan mempermudah proses penulisan serta analisis data dalam penelitian fisioterapi. Sesi dilanjutkan oleh Ali Roziqin, M.PA., yang membawakan topik tentang Systematic Literature Review: Building Strong Foundations for Evicence Based Research. Ia menjelaskan langkah-langkah penting dalam menyusun telaah pustaka sistematis yang menjadi fondasi utama dalam penelitian berbasis bukti (evidence-based research). Menutup sesi, dosen internal Program Studi Fisioterapi, Sri Sunaringsih Ika Wardojo, PhD, berbagi strategi efektif dalam memilih jurnal, menyusun naskah ilmiah, hingga proses submit dan revisi di jurnal internasional bereputasi. Ketua program studi, Dimas Sondang Irawan, PhD menyatakan bahwa workshop ini merupakan bagian dari komitmen institusi dalam membangun budaya riset yang kuat di kalangan dosen. “Luaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya jumlah publikasi dosen, baik di jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi,” ujarnya. Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari para peserta, yang mengaku memperoleh banyak wawasan dan motivasi untuk lebih aktif menulis dan mempublikasikan hasil penelitiannya. Dengan terselenggaranya workshop ini, Program Studi Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapisberharap dapat terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan memperkuat posisi Indonesia dalam kancah publikasi ilmiah global, khususnya di bidang fisioterapi. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah