Standarkan Kompetensi Alumni dan Non-Alumni, Profesi Fisioterapis UMM Gelar Matrikulasi

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kegiatan matrikulasi bagi mahasiswa baru Angkatan ke-13. Kegiatan ini menjadi tahap awal pembekalan keilmuan terapan secara praktis sebelum mahasiswa menjalani praktik profesi di berbagai wahana layanan kesehatan di Indonesia. Matrikulasi dirancang sebagai penguatan kompetensi berbasis praktik yang dibimbing langsung oleh para pakar fisioterapi dari berbagai bidang. Pembekalan mencakup seluruh ranah kompetensi fisioterapi, mulai dari Fisioterapi Pediatri, Neuromuskular Perifer–Sentral, Olahraga, Kardiopulmonal-Vaskuler, Integumen, Geriatri, Ergonomi dan Kesehatan Keselamatan Kerja (K3), Kesehatan Wanita, Muskuloskeletal, hingga Fisioterapi Komunitas. Selain kompetensi utama, mahasiswa juga mendapatkan pengayaan keilmuan lain seperti Basic Dry Needling, Introduction Bobath New Concept, Electrophysical Agent, Character Building, Basic Life Support (BLS), Layanan Fisioterapi Islami, Komunikasi Kesehatan, Promosi Kesehatan, serta Clinical Reasoning. Salah satu sesi dalam matrikulasi ini adalah Fisioterapi Muskuloskeletal yang didampingi langsung oleh Noor Sadhono, SST.Ft., Ftr., M.Si dan Prihatoro Larasati, SST.Ft., Ftr., M.Si, fisioterapis dari RS Ortopedi dr. Soeharso Surakarta. Dalam paparannya, Noor Sadhono menekankan bahwa anatomi dan biomekanik merupakan bekal keilmuan seumur hidup bagi seorang fisioterapis. “Seorang profesi harus mampu menjelaskan modalitas yang digunakan, asal-usul keluhan pasien, serta menganalisisnya secara komprehensif. Di situlah letak perbedaan fisioterapis profesional, bukan sekadar memasang alat,” tegasnya. Ia juga menjelaskan pentingnya penerapan Evidence Based Practice (EBP) yang bertumpu pada tiga pilar utama, yakni nilai pasien (patient values), pengalaman klinis (clinical experience), dan bukti ilmiah terbaik (best available evidence). “Clinical reasoning, critical thinking, dan evidence-based practice adalah kunci utama. Gunakan pendekatan IF–THEN, pahami karakteristik patologi, serta kenali red flag dan yellow flag pada pasien,” tambahnya. Sementara itu, Prihatoro Larasati menekankan pentingnya dimensi kemanusiaan dalam praktik fisioterapi. Menurutnya, pasien bukan hanya objek terapi, melainkan sumber pembelajaran yang harus dihargai. “Pasien membawa pengalaman hidup. Kita harus menghargai, berempati, dan berterima kasih kepada mereka. Anamnesis harus dilakukan dengan bahasa yang tidak menyakiti, agar pasien merasa nyaman dan terbuka,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa proses assessment harus dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek gerak, pola keluhan, psikologis, sosial, hingga patologi. Edukasi yang diberikan pun harus kontekstual, rasional, dan dapat dimodifikasi sesuai kondisi pasien. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis, menyampaikan bahwa matrikulasi merupakan bentuk komitmen program studi dalam mempersiapkan mahasiswa secara maksimal sebelum terjun ke wahana praktik. “Kami memberikan pembekalan secara komprhensif. Matrikulasi ini juga berfungsi sebagai apersepsi karena mahasiswa kami berasal dari alumni maupun non-alumni. Kami ingin seluruh calon fisioterapis mendapatkan fondasi yang setara dan kuat dari para pakar,” jelasnya. Safun Rahmanto juga menambahkan, tantangan kebutuhan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks menuntut fisioterapis untuk tidak hanya berfokus pada layanan kuratif dan rehabilitatif, tetapi juga mampu berperan di ranah promotif dan preventif, khususnya melalui pendekatan berbasis komunitas. “Fisioterapi harus hadir lebih luas di masyarakat. Inilah yang kami siapkan sejak awal melalui matrikulasi,” pungkasnya. Penulis Holista Mila Yuniar dan Editor Bayu Prastowo
Prodi Fisioterapi UMM Gelar Lokakarya VMTS dan Kurikulum, Perkuat Kekhususan Fisioterapi Komunitas

TABLOIDMATAHATI.COM: Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Lokakarya Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi (VMTS) serta Kurikulum Program Sarjana (S1) Fisioterapi dan Profesi Fisioterapis sebagai langkah strategis dalam penguatan mutu pendidikan dan relevansi lulusan terhadap kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Lokakarya ini menjadi bagian penting dari pengembangan akademik Prodi Fisioterapi UMM, khususnya dalam menetapkan kekhususan Fisioterapi Komunitas sebagai ciri utama pengembangan program studi ke depan. Melalui pendekatan ini, lulusan diharapkan memiliki kompetensi unggul dalam pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif berbasis komunitas. Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, antara lain Sekretaris Jenderal dan Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Fisioterapis Indonesia (IFI), stakeholder pendidikan dan pelayanan kesehatan, pengguna lulusan, mahasiswa, serta perwakilan Dinas Kesehatan terkait. Kehadiran berbagai unsur ini memberikan ruang diskusi yang konstruktif dan komprehensif dalam penyempurnaan kurikulum. Dalam lokakarya tersebut, Ibu Isnaini, perwakilan dari Asosiasi Pendidikan Fisioterapi Indonesia (APTIFI), hadir sebagai narasumber dan menyampaikan materi strategis terkait pengembangan Kurikulum Fisioterapi yang adaptif, berbasis capaian pembelajaran lulusan, serta selaras dengan standar nasional dan kebutuhan pelayanan kesehatan terkini. Berbagai masukan dan rekomendasi disampaikan oleh para peserta lokakarya, mulai dari penguatan capaian pembelajaran, struktur mata kuliah, hingga strategi implementasi kurikulum agar dapat diterapkan secara optimal kepada mahasiswa. Seluruh masukan tersebut diterima secara terbuka oleh Prodi Fisioterapi UMM sebagai bahan penyempurnaan kurikulum agar menjadi kurikulum yang unggul, aplikatif, dan berkelanjutan. Dalam sesi diskusi khusus terkait penguatan kekhususan Fisioterapi Komunitas, Dinas Kesehatan Kota Batu menyampaikan bahwa pihaknya memiliki desa binaan dan membuka peluang kolaborasi dengan Prodi Fisioterapi UMM. Kerja sama ini diharapkan dapat memberikan manfaat timbal balik, baik bagi pengembangan kompetensi mahasiswa maupun dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan komunitas di wilayah Malang dan Batu. Melalui lokakarya ini, Prodi Fisioterapi UMM menegaskan komitmennya untuk terus melakukan evaluasi dan inovasi kurikulum secara partisipatif, sehingga mampu menghasilkan lulusan fisioterapis yang kompeten, responsif terhadap kebutuhan masyarakat, serta siap berkontribusi nyata dalam pengembangan layanan fisioterapi berbasis komunitas. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
UMM Gelar Sumpah Profesi Fisioterapis Angkatan Ke-10, 141 Lulusan Resmi Sandang Gelar Fisioterapis

JurnalPost.com: Program Studi Profesi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan capaian membanggakan melalui pelaksanaan Sumpah Profesi Fisioterapis Angkatan Ke-10. Sebanyak 141 lulusan profesi secara resmi mengucapkan sumpah dan siap mengabdikan diri sebagai fisioterapis profesional di berbagai layanan kesehatan. Kegiatan sakral ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Wakil Rektor I UMM, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Sekretaris Jenderal PP IFI Pusat, Wakil Sekretaris Jenderal IFI Pusat, serta para Clinical Instructor (CI) dari rumah sakit jejaring. Turut hadir pula perwakilan dari Dinas Kesehatan Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang, sebagai bentuk sinergi antara institusi pendidikan dan pemangku kebijakan kesehatan. Dalam sambutannya, pihak Program Studi Fisioterapi UMM menyampaikan capaian akademik yang sangat membanggakan. Tingkat kelulusan Uji Kompetensi Nasional dan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) mencapai 100 persen kompeten, menegaskan kualitas lulusan yang unggul baik secara pengetahuan, keterampilan klinis, maupun profesionalisme. Tak hanya berprestasi di bidang kompetensi klinik, mahasiswa fisioterapi UMM juga menunjukkan produktivitas akademik yang tinggi. Hingga saat ini, tercatat 183 artikel ilmiah, 43 HKI, dan 1 Book Chapter berhasil dipublikasikan oleh mahasiswa fisioterapi melalui kolaborasi dengan jurnal nasional, sebagai wujud komitmen terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik berbasis bukti (evidence-based practice). Pencapaian ini memperkuat posisi Program Studi Fisioterapi UMM sebagai salah satu institusi pendidikan fisioterapi yang konsisten menghasilkan lulusan berdaya saing tinggi, berintegritas, dan siap menjawab tantangan pelayanan kesehatan modern. Melalui sumpah profesi ini, para lulusan diharapkan mampu mengemban amanah profesi dengan menjunjung tinggi etika, kompetensi, dan nilai kemanusiaan dalam setiap layanan yang diberikan kepada masyarakat. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
141 Lulusan UMM Resmi Disumpah, Prodi Profesi Fisioterapi Catat Kelulusan 100 Persen Kompeten

Mahasiswa.co.id: Program Studi Profesi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan capaian membanggakan melalui pelaksanaan Sumpah Profesi Fisioterapis Angkatan X. Sebanyak 141 lulusan profesi secara resmi mengucapkan sumpah dan siap mengabdikan diri sebagai fisioterapis profesional di berbagai layanan kesehatan. Kegiatan sakral ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Wakil Rektor I UMM, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Sekretaris Jenderal PP IFI Pusat, Wakil Sekretaris Jenderal IFI Pusat, serta para Clinical Instructor (CI) dari rumah sakit jejaring. Turut hadir pula perwakilan dari Dinas Kesehatan Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang, sebagai bentuk sinergi antara institusi pendidikan dan pemangku kebijakan kesehatan. Dalam sambutannya, pihak Program Studi Fisioterapi UMM menyampaikan capaian akademik yang sangat membanggakan. Tingkat kelulusan Uji Kompetensi Nasional dan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) mencapai 100% kompeten, menegaskan kualitas lulusan yang unggul baik secara pengetahuan, keterampilan klinis, maupun profesionalisme. Tak hanya berprestasi di bidang kompetensi klinik, mahasiswa fisioterapi UMM juga menunjukkan produktivitas akademik yang tinggi. Hingga saat ini, tercatat 183 artikel ilmiah, 43 HKI, dan 1 Book Chapter berhasil dipublikasikan oleh mahasiswa fisioterapi melalui kolaborasi dengan jurnal nasional, sebagai wujud komitmen terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik berbasis bukti (evidence-based practice). Pencapaian ini memperkuat posisi Program Studi Fisioterapi UMM sebagai salah satu institusi pendidikan fisioterapi yang konsisten menghasilkan lulusan berdaya saing tinggi, berintegritas, dan siap menjawab tantangan pelayanan kesehatan modern. Melalui sumpah profesi ini, para lulusan diharapkan mampu mengemban amanah profesi dengan menjunjung tinggi etika, kompetensi, dan nilai kemanusiaan dalam setiap layanan yang diberikan kepada masyarakat. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
Komitmen Fisioterapi UMM Dorong Layanan Disabilitas Melalui Webinar Internasional

Program Studi Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan kiprahnya di tingkat global dengan menyelenggarakan Webinar Internasional Physiotherapy diawal tahun 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Empowering Communities through Physiotherapy: Advancing Health, Inclusion, and Sustainability” dan diikuti oleh 500 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi hingga praktisi kesehatan. Webinar internasional tersebut menghadirkan tujuh pembicara dari enam negara, yang masing-masing memiliki kepakaran dan fokus keilmuan berbeda di bidang fisioterapi. Kehadiran para narasumber internasional ini memberikan perspektif global mengenai peran strategis fisioterapi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, mendorong inklusivitas, serta mendukung keberlanjutan sistem layanan kesehatan. Acara secara resmi dibuka oleh Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, apt. Sendi Lia Yunita, S.Farm., M.Sc. Dalam sambutannya, ia menyampaikan harapan agar seminar internasional ini dapat menjadi wadah produktif bagi sivitas akademika dan praktisi untuk berbagi pengetahuan, temuan riset, serta perkembangan terkini dalam praktik klinis fisioterapi. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat jejaring dan kolaborasi antara perguruan tinggi, penyedia layanan kesehatan, dan institusi profesional, baik di tingkat nasional maupun internasional. Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi utama yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Fisioterapi UMM. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya peran fisioterapi dalam pemberdayaan komunitas, khususnya dalam mewujudkan layanan kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan. Pada kesempatan tersebut, ia juga menyoroti bahwa kelompok difabel saat ini telah memperoleh perhatian yang semakin luas, baik dari sisi kebijakan maupun implementasi layanan kesehatan. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa fisioterapis dituntut untuk terus mengembangkan kompetensi dan keunggulan inklusif agar mampu memberikan pelayanan yang setara, bermartabat, dan sesuai dengan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat. Melalui penyelenggaraan Webinar Internasional Physiotherapy 2026 ini, Program Studi Fisioterapi dan Profesi Fisioterapis UMM berharap dapat terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu fisioterapi sekaligus memperkuat peran fisioterapis dalam membangun masyarakat yang lebih sehat, inklusif, dan berkelanjutan. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
Fisioterapi UMM Satukan Pakar Dunia Guna Pengembangan Fisioterapi Komunitas di Indonesia

Program Studi S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan seminar internasional bertajuk Empowering Communities through Physiotherapy: Advancing Health, Inclusion, and Sustainability pada 11 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi forum akademik global yang menegaskan peran strategis fisioterapi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat berbasis komunitas. Seminar internasional tersebut menyoroti transformasi paradigma pelayanan kesehatan dari pendekatan individual menuju pendekatan komunitas, seiring meningkatnya tantangan kesehatan global seperti disabilitas, penuaan populasi, dan penyakit kronis. Melalui forum ini, fisioterapi diposisikan sebagai profesi kunci dalam mendorong layanan kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan. Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Thailand, United Kingdom, Uni Emirat Arab, Malaysia dan Australia. Seminar dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, apt. Sendi Lia Yunita, S.Farm., M.Sc. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa seminar internasional ini merupakan langkah strategis Program Studi Fisioterapi UMM dalam memperkuat kontribusi fisioterapi pada tataran komunitas. “Pendekatan komunitas mampu menjawab tantangan kesehatan saat ini. Program Studi Fisioterapi UMM berkomitmen untuk berperan aktif dalam pengembangan praktik fisioterapi yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya. Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., menambahkan bahwa pergeseran pendekatan pelayanan kesehatan secara global dipicu oleh meningkatnya berbagai kondisi yang mengarah pada disabilitas. Menurutnya, disabilitas tidak hanya dimaknai secara sempit, tetapi mencakup kondisi seperti obesitas hingga keterbatasan fungsional pada kelompok lanjut usia. “Fenomena dunia menunjukkan pergeseran dari pendekatan personal menuju komunitas. Hal ini penting karena tantangan kesehatan saat ini bersifat masif dan kompleks, sehingga membutuhkan intervensi yang sistemik dan berkelanjutan,” jelasnya. Perspektif internasional turut memperkaya diskusi. DR. Siriporn V. Siriphorn dari Rangsit University, Thailand, memaparkan bahwa penanganan Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) dapat dilakukan secara efektif melalui pendekatan komunitas. Ia menekankan pentingnya pemetaan masalah kesehatan di tingkat komunitas serta pemilihan intervensi yang aman, seperti breathing pattern control management dan positioning. Sementara itu, Prof. Keith Hill dari Monash University, Australia, menyoroti peningkatan populasi lansia yang terus terjadi setiap tahun dan diikuti dengan meningkatnya risiko disabilitas, terutama risiko jatuh. Menurutnya, kondisi tersebut dapat dikendalikan melalui pendekatan balance continuum yang dikombinasikan dengan berbagai intervensi fisioterapi di tingkat komunitas. Namun demikian, implementasi fisioterapi komunitas tidak lepas dari tantangan. DR. Munayati Munajar dari International Islamic University Malaysia menekankan bahwa faktor budaya dan gaya hidup masyarakat sering kali menjadi hambatan utama dalam penerapan intervensi komunitas secara optimal. Cakupan fisioterapi komunitas yang luas juga disampaikan oleh dr. Yohanes Purwanto, Ftr., Ph.D., selaku Ketua Perkumpulan Fisioterapi Anak Indonesia (PFAI). Ia menjelaskan bahwa di Indonesia, pendekatan komunitas telah dimulai sejak fase pralahir untuk memastikan dukungan kesehatan yang komprehensif dan berkelanjutan sepanjang siklus kehidupan. Isu kesehatan berbasis komunitas kini menjadi perhatian global, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara seperti United Kingdom dan Uni Emirat Arab. Hal ini menunjukkan bahwa fisioterapi komunitas memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan kesehatan lintas negara. Melalui seminar internasional ini, Program Studi Fisioterapi UMM menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan yang aktif berkontribusi dalam pengembangan ilmu dan praktik fisioterapi berbasis komunitas di tingkat global. Penulis Nikmatur Rosidah dan Editor Bayu Prastowo
Pionir DNS Indonesia, Fisioterapi UMM Awali Tahun Baru 2026 Menuju Panggung Internasional

JatimSatuNews: Tahun 2026 dibuka dengan langkah strategis menuju panggung internasional. Program Studi S1 Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan konsistensinya dalam pengembangan kompetensi yang ditunjukkan melalui kiprah dosennya di level internasional. Rakhmad Rosadi, SST.Ft., Ftr., M.Sc.PT., Ph.D., tercatat sebagai pionir dari Indonesia dalam Course Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS) yang digelar di Istanbul, Turki. Course internasional ini mengangkat tema “Clinical Evaluation of Patients with Scoliosis”, dengan fokus pada pemanfaatan DNS functional tests dalam menilai pasien dengan Adolescent Idiopathic Scoliosis (AIS) serta kondisi postural asimetri. Materi yang diberikan menitikberatkan pada pendekatan klinis berbasis neuromuskular untuk memahami gangguan stabilisasi postural secara komprehensif. Pelatihan ini memberikan gambaran mendalam terkait klasifikasi dan etiologi AIS, skoliosis yang didapat (acquired scoliosis), serta berbagai bentuk asimetri postur pada masa kanak-kanak. Selain itu, course ini juga membahas prinsip sagittal stabilization pada anak-anak, dewasa, hingga atlet, dengan penekanan pada pencapaian postur optimal serta peningkatan performa olahraga pada individu dengan skoliosis. Keikutsertaan Rakhmad Rosadi dalam course DNS ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas sebagai fisioterapis dan akademisi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pengembangan pendidikan di Program Studi Fisioterapi UMM. Ilmu dan pengalaman internasional yang diperoleh diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran, baik pada mata kuliah inti maupun mata kuliah pilihan. Menariknya, Program Studi S1 Fisioterapi UMM memiliki sejumlah mata kuliah pilihan unggulan yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi klinis berbasis kebutuhan praktik profesional, salah satunya adalah Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS). Seluruh mata kuliah pilihan di program studi dibimbing langsung oleh dosen yang telah tersertifikasi, sehingga mahasiswa mendapatkan pembelajaran yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif dan sesuai standar internasional. Mata kuliah pilihan DNS memberikan pemahaman tentang kontrol motorik, stabilisasi postural, serta aplikasi DNS dalam berbagai kasus muskuloskeletal. Dimas Sondang Irawan, Ph.D selaku Ketua Program Studi S1 Fisioterapi mengungkapkan bahwa melalui pengembangan kurikulum berbasis keilmuan mutakhir dan keterlibatan aktif dosen di forum internasional, Program Studi Fisioterapi UMM terus berupaya mencetak lulusan yang kompeten, adaptif, dan berdaya saing global. Keikutsertaan dosen dalam course DNS internasional ini menjadi bukti nyata komitmen fisioterapi UMM dalam menghadirkan pendidikan fisioterapi yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan praktik klinis terkini. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
PSC UMM dan HIMAFISIO UNHAS Perkuat Kualitas Study Club dalam Menyongsong Dinamika Era Generasi Z

Dalam upaya meningkatkan kualitas organisasi dan pengembangan sumber daya mahasiswa (SDM) Physiotherapy Study Club (PSC) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kegiatan Studi Banding bersama Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMAFISIO) Universitas Hasanuddin (UNHAS). Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh 45 peserta yang terdiri atas anggota PSC UMM dan HIMAFISIO UNHAS. Kegiatan ini menjadi studi banding pertama yang diselenggarakan oleh PSC UMM, sekaligus langkah strategis untuk memperluas wawasan dan membangun PSC yang berkualitas. Pemilihan HIMAFISIO UNHAS sebagai mitra studi banding didasarkan pada pertimbangan bahwa organisasi tersebut telah lebih dahulu terbentuk dan berkembang, sehingga dapat memberikan gambaran nyata mengenai pengelolaan PSC yang inovatif dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh gambaran lebih luas mengenai struktur organisasi, sistem kerja, serta program unggulan study club dari universitas lain. Studi banding ini juga menjadi sarana evaluasi dan refleksi bagi PSC UMM dalam merancang inovasi serta pengembangan organisasi ke depan. Selain itu, bertujuan untuk meningkatkan inovasi pengelolaan study club, memahami tata kelola dan mekanisme kerja organisasi sejenis, membangun relasi antarklub, serta menciptakan ruang bertukar ide, masukan, dan ilmu pengetahuan. Selain itu, setiap divisi dalam study club mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan keunggulan masing-masing, sekaligus belajar mengenai tata kerja divisi lain sebagai bahan pengembangan organisasi dan sumber daya manusia. Kegiatan ini memberikan dampak positif berupa penerapan ilmu secara nyata melalui diskusi akademik, peningkatan soft skills seperti komunikasi, kerja tim, dan kemampuan menyampaikan gagasan, serta pemahaman yang lebih mendalam terhadap kebutuhan, tantangan, dan potensi pengembangan study club. Melalui program ini, PSC UMM berharap dapat menciptakan wadah pembelajaran bersama yang berkelanjutan, memperkuat hubungan antarkomunitas akademik, serta mendorong terciptanya kolaborasi lintas universitas. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun sinergi yang solid, menumbuhkan semangat kebersamaan, serta memperkuat budaya akademik yang aktif, inovatif, dan berkelanjutan. Penulis dan Editor Regita Maulida
Mahasiswa Fisioterapis UMM Tunjukkan Perannya Dalam Mengawal 3.000 Peserta Fun Walk HKN 2025

Dalam momentum peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 Tahun 2025, Dinas Kesehatan Kota Malang menyelenggarakan Fun Walk 2025 yang dipusatkan di halaman Balai Kota Malang. Fun Walk ini adalah puncak rangkaian HKN ini diikuti sekitar 3.000 peserta dari berbagai elemen masyarakat dan komunitas kesehatan, Minggu (21/12/2025). Kegiatan ini menggandeng Pendidikan Profesi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung bersama Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) Cabang Kota Malang. Kehadiran fisioterapi tidak sekadar bersifat partisipatif, melainkan menjadi bagian penting dalam pengawalan aktivitas fisik masyarakat secara aman, terukur, dan sebagai pusat pencegahan atau penanganan darurat akibat cedera. Fisioterapi berperan aktif dalam menjaga keamanan dan kualitas aktivitas fisik peserta melalui pemberian peregangan dinamis sebelum kegiatan untuk mempersiapkan otot dan sendi agar siap menghadapi aktivitas berjalan dan berlari sejauh 2,5 hingga 4 km. Setelah kegiatan selesai, peserta didampingi untuk melakukan peregangan statis guna membantu relaksasi otot, menurunkan ketegangan, serta mempercepat pemulihan dan mencegah nyeri otot pasca aktivitas. Selain itu, tim fisioterapi juga siaga memberikan tindakan kegawatdaruratan muskuloskeletal, seperti penanganan kram, kelelahan otot, serta penerapan taping sebagai dukungan stabilitas dan pencegahan cedera. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat secara langsung melepas peserta Fun Walk, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan puncak peringatan HKN 2025 yang kembali digelar setelah sempat vakum. Ia berharap semangat hidup sehat dapat terus ditanamkan kepada masyarakat sejak dini, sejalan dengan tema HKN tahun ini, “Generasi Sehat, Masa Depan Hebat”. Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang saat ini adalah dr. Husnul Muarif, M.M. yang juga turut hadir. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis, menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini menegaskan peran pendidikan profesi fisioterapis pada level komunitas. “Pendidikan profesi fisioterapis tidak hanya berorientasi pada layanan kuratif di rumah sakit atau klinik, tetapi juga menempatkan fisioterapi sebagai garda terdepan dalam mendukung program kesehatan masyarakat. Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi nyata fisioterapi UMM dalam mendukung kebijakan pemerintah sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya aktivitas fisik yang sehat dan aman,” ungkapnya. Melalui keterlibatan aktif dalam peringatan HKN ke-61, Profesi Fisioterapis UMM menegaskan komitmennya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga konsisten hadir memberikan dampak nyata bagi masyarakat, sejalan dengan misi pengembangan kesehatan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Alumni Fisioterapi UMM Sukses Mengawal Timnas Basket Putri Raih Perunggu SEA Games 2025

JATIMSATUNEWS: Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Muhammad Nanda Risydianto, S.Kes., M.Or merupakan alumni Program Studi Fisioterapi UMM angkatan 2015, turut berperan dalam keberhasilan Tim Nasional (Timnas) Basket Putri Indonesia meraih medali perunggu pada ajang SEA Games 2025 di Thailand. Sejak tahun 2021, Nanda sapaan akrabnya telah berkiprah menjadi sebagai fisioterapis Timnas Basket Putri Indonesia. Dedikasi dan profesionalismenya kembali membuahkan hasil pada SEA Games 2025, ketika Timnas Basket Putri Indonesia berhasil menumbangkan Malaysia dengan skor 62–55 dalam laga penentuan perebutan medali perunggu yang berlangsung pada Jumat (19/12/2025). Kemenangan tersebut memastikan Indonesia naik podium dan tidak terlepas dari peran tim fisioterapis, yang bertugas menjaga kondisi fisik atlet tetap optimal sepanjang turnamen. Dalam olahraga prestasi, kesiapan fisik, pencegahan cedera, serta pemulihan yang tepat menjadi faktor krusial dalam menunjang performa atlet di lapangan. Sebagai fisioterapis Timnas Basket Putri, Nanda mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam pekerjaannya adalah memahami karakter, kebutuhan, dan kondisi fisik masing-masing atlet. Penanganan atlet perempuan, menurutnya, memerlukan kepekaan yang lebih tinggi, terutama terkait faktor fisiologis seperti siklus bulanan yang dapat memengaruhi kebugaran, performa, hingga risiko cedera. Pengalaman Nanda di level nasional dan internasional didukung oleh latar belakang pendidikan formal dan non-formal yang kuat. Selain menyelesaikan pendidikan fisioterapi dan magister olahraga, ia juga memiliki sejumlah sertifikasi profesional, di antaranya AIFO, CDNP, dan COMT, yang sangat relevan dengan perannya saat ini. Ahli Ilmu Faal Olahraga (AIFO) berperan penting dalam memahami respons fisiologis tubuh atlet terhadap latihan dan pertandingan, sehingga membantu menyusun strategi pemulihan dan pencegahan kelelahan. Kemudian Certified Dry Needling Practitioner (CDNP) dapat memperkuat kompetensi Nanda dalam menangani gangguan neuromuskuloskeletal melalui teknik dry needling. Metode ini digunakan untuk mengatasi nyeri miofasial, trigger point, spasme otot, serta mempercepat pemulihan fungsi otot pada atlet basket yang menjalani beban latihan dan pertandingan tinggi. Sementara itu, Certified Orthopaedic Manual Therapist (COMT) memperkuat kompetensi Nanda dalam penanganan gangguan muskuloskeletal menggunakan pendekatan terapi manual. Sebelum bergabung dengan Timnas Basket Putri Indonesia, Nanda juga telah memiliki pengalaman luas di dunia olahraga nasional. Ia pernah mendampingi Prapon Futsal Jawa Timur tahun 2019 serta menjadi fisioterapis tim Basket Putri Fever Surabaya sejak tahun 2021 hingga sekarang, di samping berbagai pengalaman profesional lainnya. Kiprah Muhammad Nanda Risydianto menjadi bukti nyata bahwa lulusan Fisioterapi UMM mampu berkontribusi di level nasional hingga internasional. Prestasi ini sekaligus mengharumkan nama almamater dan menunjukkan peran strategis fisioterapis dalam mendukung olahraga prestasi Indonesia. Penulis Nikmatur Rosidah dan Editor Bayu Prastowo