Matrikulasi Profesi Fisioterapis UMM Tekankan Clinical Reasoning dan Movement System

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan matrikulasi bagi mahasiswa Angkatan ke-13. Kegiatan ini menghadirkan Wahyu Kurniawan, Ftr., fisioterapis profesional yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI), sebagai pemateri utama, Senin (9/2/2026). Matrikulasi kali ini bertajuk assessment to decision, Wahyu Kurniawan, Ftr., menekankan bahwa fisioterapis merupakan human movement system expert yang memiliki kewenangan diagnosis berbasis sistem gerak. Ia menjelaskan bahwa landasan keilmuan fisioterapi mencakup pathoanatomy, pathokinesiology, dan kinesiopathology sebagai dasar memahami gangguan fungsi gerak pasien. Menurutnya, analisis gangguan gerak harus ditinjau dari empat komponen utama, yakni motion, force, motor control, dan energy. Motion berkaitan dengan kemampuan gerak pasif sendi atau jaringan, force dengan kapasitas otot dan struktur pendukung menghasilkan stabilitas dan pergerakan, motor control dengan kemampuan merencanakan serta mengoordinasikan gerakan secara efektif, dan energy dengan kapasitas mempertahankan aktivitas secara berkelanjutan. Keempat komponen tersebut menjadi dasar dalam membangun hipotesis klinis sebelum menentukan intervensi. Ia juga menjelaskan pentingnya movement examination yang sistematis melalui observasi aktivitas fungsional seperti sit to stand, walking, reaching, dan manipulating. Parameter pengamatan mencakup control, amount, speed, symmetry, dan symptoms (CASS), yang kemudian dikonfirmasi melalui tes dan pengukuran seperti goniometer, Manual Muscle Testing (MMT), Berg Balance Scale (BBS), dan 6 Minute Walk Test (6MWT). Pemeriksaan dilakukan untuk mengonfirmasi atau menolak hipotesis klinis serta mendukung penetapan diagnosis dan prognosis. Selain itu, ia juga turut mengingatkan agar mahasiswa menghindari tunnel view dalam pengambilan keputusan klinis. Seorang fisioterapis, ujarnya, minimal harus memiliki tiga hipotesis sebelum menetapkan diagnosis, dengan mempertimbangkan faktor patologi, movement system, functional neuroplasticity, serta faktor personal dan lingkungan pasien. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menyampaikan bahwa kegiatan matrikulasi ini menjadi tahap awal pembentukan pola pikir klinis mahasiswa profesi. Ia menegaskan bahwa penguatan clinical reasoning dan keterampilan praktik harus berjalan beriringan agar lulusan mampu mengambil keputusan klinis secara tepat dan berbasis evidensi. “Kami ingin mahasiswa memahami bahwa setiap intervensi harus didasarkan pada analisis sistem gerak yang komprehensif. Kompetensi tersebut menjadi identitas fisioterapis profesional,” ujarnya. Melalui matrikulasi ini, Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM menegaskan komitmennya dalam mencetak fisioterapis yang kompeten, analitis, dan sesuai standar profesi nasional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo  

Sumpah Fisioterapi Muda, Komitmen Awal Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Menjaga Marwah Profesi

Prosesi Angkat Sumpah Fisioterapi Muda Oleh Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis

Rangkaian kegiatan matrikulasi mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis ditutup dengan pelaksanaan Sumpah Fisioterapis Muda pada Senin, 9 Februari 2026, bertempat di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5. Kegiatan ini secara umum dikenal sebagai capping day, sebagaimana istilah yang umum digunakan dalam pendidikan profesi keperawatan. Sumpah Fisioterapis Muda merupakan prosesi yang wajib diikuti mahasiswa sebelum terjun ke berbagai wahana praktik profesi. Sebanyak 86 mahasiswa secara resmi disumpah dan diharapkan dapat menyelesaikan pendidikan profesi dengan baik serta menjadi fisioterapis profesional yang kompeten. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis, dalam sambutannya menyampaikan bahwa naskah sumpah mengandung komitmen moral dan profesional yang harus dipegang teguh oleh mahasiswa selama menjalani pendidikan profesi. “Naskah sumpah ini bukan sekadar seremonial, tetapi komitmen yang harus dijaga bersama, baik dalam menjaga marwah profesi fisioterapi, keselamatan pasien, hubungan dengan rekan sejawat, maupun nama baik institusi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pendidikan profesi fisioterapis merupakan simulasi dari kondisi kerja nyata di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, hingga praktik mandiri. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan mampu beradaptasi dengan baik dengan bekal kompetensi dan pembekalan yang telah diberikan oleh kampus. Prosesi sumpah tersebut disaksikan langsung oleh Sekretaris Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Zidni Imanurrohmah Lubis, S.Ft., Ftr., M.Biomed. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan naskah Sumpah Fisioterapis Muda oleh seluruh mahasiswa yang disumpah. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Lulus 3,5 Tahun, Mahasiswa Fisioterapi UMM Siap Menjawab Kebutuhan Fisioterapi di Indonesia

Foto Bersama Pimpinan Universitas, Fakultas Ilmu Kesehatan, dan Program Studi Fisioterapi

Program Studi S1 Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatatkan capaian akademik dengan meluluskan 64 mahasiswa tepat waktu dengan masa studi 3,5 tahun. Para lulusan tersebut dikukuhkan dalam Yudisium Periode I Fakultas Ilmu Kesehatan yang digelar di Auditorium GKB 5 UMM, Sabtu (07/02/2026). Seluruh lulusan S1 Fisioterapi UMM ini selanjutnya akan melanjutkan pendidikan ke jenjang Pendidikan Profesi Fisioterapis sebagai tahapan untuk menjadi fisioterapis profesional. Yudisium dibuka secara resmi oleh Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS. Dalam sambutannya, menyampaikan rasa bangga atas capaian mahasiswa yang mampu menyelesaikan studi lebih cepat dari masa studi reguler. “Saya mengapresiasi perjuangan mahasiswa yang mampu lulus dalam 3,5 tahun. Capaian ini tentu tidak terlepas dari dukungan orang tua dan keluarga. Jangan pernah lupa untuk berterima kasih kepada mereka,” ungkapnya. Dalam kesempatan tersebut, Dekan FIKES juga mengajak seluruh peserta yudisium untuk menguatkan semangat kebersamaan melalui jargon FIKES UMM, “Healthy Mind, Healthy Life, Healthy Spiritual. We Love UMM”, serta memotivasi mahasiswa agar siap melanjutkan pendidikan profesi sesuai dengan departemen masing-masing. “Yudisium ini bukan akhir, tetapi awal dari perjalanan profesional sebagai calon tenaga kesehatan,” tegasnya. Kegiatan yudisium juga dihadiri oleh Wakil Rektor III UMM Bidang Kemahasiswaan, Dr. Nur Subeki, S.T., M.T. Ia menekankan pentingnya kebanggaan sebagai lulusan UMM sekaligus tanggung jawab menjaga nama baik almamater. “Mahasiswa yang lulus tepat waktu, yakni 3,5 hingga 4 tahun, telah menunjukkan tanggung jawab atas amanah akademik yang diberikan universitas,” ujarnya. Dr. Nur Subeki mengaitkan peran lulusan FIKES dengan nilai Muhammadiyah sebagai Islam berkemajuan, serta peran tenaga kesehatan sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah ayat 30. Nilai tersebut tercermin melalui layanan yang berorientasi pada pemulihan fungsi gerak, peningkatan kualitas hidup, serta pendampingan pasien secara komprehensif dengan penuh tanggung jawab kemanusiaan. Dengan berlandaskan nilai al-islam kemuhammadiyahan dan kemanusiaan, diharapkan dapat menjawab kebutuhan layanan fisioterapi yang semakin kompleks di masyarakat. Penulis Holista Mila Yuniar dan Editor Bayu Prastowo  

Integrasi Character Building Dalam Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Guna Bentuk Jiwa Profesionalitas

Sebanyak 86 mahasiswa baru Program Pendidikan Profesi Fisioterapis Angkatan ke-13 Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti kegiatan Character Building yang diselenggarakan di Stadion UMM, Sabtu (7/2/2026). Mahasiswa ini berasal dari beragam latar belakang institusi pendidikan, antara lain alumni S1 Fisioterapi UMM, Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP), Universitas Dhyana Pura, Institut Teknologi Kesehatan dan Sains (ITKES) Wiyata Husada Samarinda (WHS), serta sejumlah perguruan tinggi lainnya. Keberagaman ini menjadi potensi sekaligus tantangan dalam pembentukan karakter dan kesiapan profesional mahasiswa profesi fisioterapis. Kegiatan Character Building ini difokuskan pada refleksi dan penguatan soft skills yang esensial bagi fisioterapis profesional. Beberapa poin refleksi utama yang disampaikan meliputi pentingnya manajemen diri, kemampuan komunikasi yang efektif, kerja sama tim, serta kesadaran untuk tidak bersikap menyalahkan diri sendiri dalam proses belajar dan praktik klinik. Mahasiswa juga diajak memahami bahwa praktik profesi fisioterapis di lapangan. Oleh karena itu, kemampuan self-control menjadi krusial, termasuk kesadaran bahwa tidak semua anggota tim harus selalu berada dalam kondisi emosional yang sama. Dalam sebuah tim, diperlukan peran yang saling melengkapi, termasuk individu yang mampu menjadi penenang dan penyeimbang dinamika kelompok. Keterampilan mendengarkan ditekankan sebagai pilar utama dalam komunikasi kesehatan. Mahasiswa dilatih untuk fokus, rapi, dan sistematis dalam mengerjakan tugas, sekaligus memahami perbedaan pendekatan logika dan perasaan yang kerap muncul dalam kerja tim, baik antarindividu maupun lintas profesi. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen program studi dalam membangun fondasi karakter mahasiswa sebelum terjun ke wahana praktik. “Kegiatan Character Building ini merupakan upaya kami untuk membangun kesiapan mental, emosional, dan sosial mahasiswa profesi fisioterapis. Kompetensi klinis saja tidak cukup, tetapi harus diimbangi dengan karakter yang kuat, kemampuan berkomunikasi, serta kerja sama tim yang baik agar mahasiswa siap menghadapi kompleksitas layanan fisioterapi di masyarakat,” ungkapnya. Kegiatan ini didampingi langsung oleh tim dari Pusat Layanan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, yang berperan dalam memfasilitasi proses refleksi, diskusi, dan penguatan aspek psikologis mahasiswa. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa profesi fisioterapis UMM memiliki kesiapan baik secara akademik, klinis, maupun karakter sebagai calon fisioterapis profesional. Penulis Holista Mila Yuniar dan Editor Bayu Prastowo

Pendampingan Hingga Simulasi UKOMNAS, Strategi Fisioterapi UMM Luluskan Fisioterapis Kompeten

Peserta Melakukan Try Out Internal Berbasis CBT

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Angkatan ke-11 Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan serangkaian persiapan intensif menghadapi Uji Kompetensi Nasional (UKOMNAS) berbasis Computer Based Test (CBT). Persiapan tersebut dirancang untuk memastikan kesiapan akademik sekaligus kesiapan mental mahasiswa sebelum menghadapi ujian nasional penentu kelulusan profesi. Tahapan persiapan dilakukan melalui kegiatan karantina bedah soal UKOM yang melibatkan seluruh departemen fisioterapi. Dalam kegiatan ini, mahasiswa dibimbing langsung oleh dosen pakar sesuai bidang keilmuan masing-masing, dengan fokus pada pendalaman analisis soal serta pemetaan kompetensi yang diujikan dalam UKOMNAS. Setelah tahap karantina, program studi melanjutkan persiapan melalui beberapa kali pelaksanaan Try Out Internal. Seluruh rangkaian Try Out tersebut diselenggarakan dengan mengacu pada standar Kolegium Fisioterapi Indonesia (KFI). Tidak hanya dari sisi konten soal, sistem ujian yang digunakan juga dirancang menyerupai UKOM-CBT nasional, mulai dari jumlah soal, durasi waktu, hingga tampilan antarmuka (interface) dan mekanisme sistem yang merupakan duplikasi dari sistem CBT KFI. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menilai bahwa tantangan terbesar mahasiswa dalam menghadapi UKOMNAS tidak hanya terletak pada bobot analisis soal, tetapi juga pada kemampuan beradaptasi dengan sistem dan atmosfer ujian. “Tantangan mahasiswa bukan semata-mata pada tingkat kesulitan soal UKOM, tetapi bagaimana mereka terbiasa dengan sistem dan suasana ujian yang sesungguhnya,” ujarnya. Menurutnya, pembiasaan terhadap sistem CBT yang menyerupai kondisi riil UKOMNAS diharapkan mampu membantu mahasiswa mengendalikan faktor psikologis saat ujian berlangsung. Dengan demikian, mahasiswa dapat lebih tenang, fokus, dan nyaman ketika mengerjakan 180 soal yang harus diselesaikan dalam waktu terbatas. Hal tersebut diperkuat oleh Koordinator UKOM Profesi Fisioterapis UMM, Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si. Ia menegaskan bahwa pendampingan mahasiswa dilakukan secara komprehensif, mulai dari pendalaman materi, simulasi ujian, hingga penyediaan sistem dan mekanisme UKOM yang mendekati kondisi nyata. “Pendampingan hingga pada pembuatan sistem UKOM dengan atmosfer riil merupakan bentuk komitmen kami untuk mendampingi mahasiswa sampai mereka dinyatakan kompeten oleh kolegium,” tandasnya. Melalui persiapan berlapis ini, Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM berharap tingkat kelulusan UKOMNAS dapat terus dipertahankan secara optimal. Lebih dari itu, pendekatan ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga mutu lulusan fisioterapis yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga siap secara mental dan profesional menghadapi tuntutan dunia kerja. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Penguatan Kerja Sama Malaysia Jadi Langkah Awal UMM Gagas Magister Fisioterapi

Rakhmad Rosadi Bersama Pimpinan UITM Malaysia

TABLOIDMATAHATI.COM: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan komitmennya dalam pengembangan pendidikan tinggi bidang kesehatan. Salah satu langkah strategis tersebut ditandai dengan gagasan pembukaan Program Studi Magister Fisioterapi yang direncanakan mulai dibuka pada tahun depan. Gagasan ini digagas oleh Rakhmad Rosadi, PhD, dosen Fisioterapi UMM, yang sekaligus melakukan kunjungan akademik ke dua perguruan tinggi ternama di Malaysia, yakni International Islamic University Malaysia (IIUM) dan Universiti Teknologi MARA (UiTM). Kunjungan tersebut bertujuan untuk memperkuat kerja sama sekaligus mempelajari secara langsung tata kelola dan pengembangan program studi fisioterapi di kedua universitas tersebut. Dalam kunjungannya ke IIUM, Rakhmad Rosadi disambut langsung oleh Dekan Kulliyyah of Allied Health Sciences IIUM, Prof. Dr. Ahmad Aidil Arafat Bin Dzulkarnain, serta Ketua Program Studi Fisioterapi IIUM, Dr. Munayati Binti Munajar. Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk berdiskusi mengenai kurikulum, sistem pembelajaran, riset kolaboratif, serta pengembangan sumber daya manusia di bidang fisioterapi. “Kerja sama antara Fisioterapi UMM dengan IIUM dan UiTM sebenarnya sudah terjalin sejak lama. Kunjungan ini menjadi langkah awal yang lebih konkret sebagai bentuk komitmen kami dalam mempersiapkan pendirian Program Studi Magister Fisioterapi di UMM,” ujar Rakhmad Rosadi. Ia menjelaskan bahwa IIUM dan UiTM memiliki pengalaman panjang dalam penyelenggaraan pendidikan fisioterapi pada jenjang magister. Oleh karena itu, UMM ingin belajar dan mengadopsi praktik terbaik, baik dari sisi kurikulum, sistem pembelajaran, riset, maupun pengembangan sumber daya manusia. Rencana pendirian Magister Fisioterapi UMM ini juga didukung oleh kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dinilai memadai. Saat ini, Program Studi Fisioterapi UMM telah memiliki sejumlah dosen bergelar doktor dan dalam waktu dekat akan menyambut empat dosen internal yang segera menyelesaikan studi dan meraih gelar PhD. “Dari sisi SDM, kami optimistis. Kualifikasi dosen, pengalaman akademik, serta jejaring internasional yang dimiliki menjadi modal kuat untuk membuka program magister yang berkualitas dan berdaya saing global,” tambahnya. Ke depan, pendirian Program Studi Magister Fisioterapi di UMM diharapkan tidak hanya memperkuat posisi UMM sebagai salah satu pusat unggulan pendidikan fisioterapi di Indonesia, tetapi juga membuka peluang kolaborasi riset dan pertukaran akademik yang lebih luas dengan universitas mitra di tingkat internasional. Langkah ini sekaligus menegaskan arah UMM dalam mengembangkan pendidikan tinggi yang adaptif terhadap kebutuhan global, khususnya dalam bidang kesehatan dan rehabilitasi. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah

UMM Jalin Kolaborasi Internasional dengan IIUM dan UiTM Malaysia untuk Pengembangan Magister Fisioterapi

Rakhmad Rosadi Bersama Pimpinan IIUM

JurnalPost.com: Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat jejaring internasional dengan menjalin dan melanjutkan kerja sama strategis bersama International Islamic University Malaysia (IIUM) dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia. Kolaborasi yang telah terjalin sejak lama ini menjadi langkah awal sekaligus bentuk komitmen bersama dalam mempersiapkan pendirian Program Studi Magister Fisioterapi yang direncanakan dibuka pada tahun depan. Kerja sama antara Fisioterapi UMM dengan IIUM dan UiTM mencakup berbagai bidang, mulai dari pengembangan akademik, riset kolaboratif, pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga penguatan kurikulum berbasis internasional. Hubungan yang berkesinambungan ini dinilai menjadi fondasi kuat dalam meningkatkan kualitas pendidikan fisioterapi di tingkat regional Asia Tenggara. Ketua Program Studi Fisioterapi UMM Dimas Sondang Irawan, PhD menyampaikan bahwa kolaborasi internasional tersebut bukan sekadar kerja sama formal, melainkan kemitraan akademik yang saling menguatkan. “Hubungan yang sudah terbangun lama dengan IIUM dan UiTM menjadi modal penting bagi kami untuk melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu pendirian Program Studi Magister Fisioterapi,” ujarnya. Melalui kerja sama ini, Fisioterapi UMM berkomitmen mengadopsi praktik terbaik (best practices) dari mitra internasional, khususnya dalam pengembangan kurikulum magister yang adaptif terhadap kebutuhan global, berbasis evidence-based practice, serta relevan dengan tantangan kesehatan masyarakat modern. Sementara itu, pihak IIUM dan UiTM menyambut baik rencana pengembangan Magister Fisioterapi UMM. Keduanya menilai UMM memiliki potensi besar sebagai pusat pengembangan fisioterapi di Indonesia, didukung oleh sumber daya akademik, pengalaman riset, serta rekam jejak kerja sama internasional yang konsisten. Rencana pendirian Program Studi Magister Fisioterapi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas akademik dosen dan lulusan, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan keilmuan fisioterapi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ke depan, UMM menargetkan program magister ini menjadi ruang kolaborasi lintas negara dalam riset, inovasi layanan fisioterapi, dan penguatan peran fisioterapis di masyarakat. Dengan langkah strategis ini, Universitas Muhammadiyah Malang menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang berorientasi global, progresif, dan berkomitmen pada pengembangan pendidikan kesehatan yang berkualitas. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah

Tahun Ajaran Baru, Fisioterapi UMM Berkomitmen Menata Pendidikan Fisioterapi Berdaya Saing Internasional

Foto Bersama Dosen dan Tenaga Pendidik di Lingkungan FIKES UMM

Program Studi S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berpartisipasi dalam kegiatan Pra-Rapat Kerja FIKES yang digelar di Auditorium Kampus II UMM. Kegiatan ini menjadi momentum bagi program studi untuk memaparkan rencana strategis menghadapi tahun ajaran 2026/2027, sekaligus menyelaraskan arah kebijakan universitas dengan kebijakan pemerintah di sektor pendidikan dan kesehatan. Pra-rapat kerja tersebut dihadiri oleh Rektor UMM, Prof Nazaruddin Malik. Dalam sambutannya, Prof Nazaruddin menekankan pentingnya konektivitas program kerja dari tingkat program studi hingga universitas agar seluruh agenda pengembangan dapat berjalan selaras dan terukur. Ia juga menyoroti pentingnya transparansi dan keterbukaan informasi di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), di mana setiap kegiatan akademik diharapkan dapat terdokumentasi dan terpublikasi secara optimal. Meski demikian, Prof. Dr. Nazaruddin, SE., M.Si menegaskan bahwa setiap program studi tetap perlu memiliki database center internal yang  dapat diakses sewaktu-waktu sebagai bagian dari sistem monitoring dan evaluasi institusi. Menurutnya, publikasi harus diimbangi dengan pengelolaan data yang rapi dan akurat guna memperkuat tata kelola perguruan tinggi. Dalam kesempatan tersebut, Prof Nazaruddin juga memaparkan sejumlah capaian dan tantangan yang dihadapi beberapa program studi di lingkungan FIKES. Ia memberikan juga apresiasi kepada Program Studi Fisioterapi atas berbagai prestasi yang telah diraih. Apresiasi tersebut mencakup capaian prestasi dosen di tingkat nasional, status akreditasi unggul, tingkat kelulusan Uji Kompetensi Nasional yang mencapai 98 hingga 100 persen, serta berbagai kegiatan yang berdampak langsung bagi masyarakat di tingkat nasional maupun internasional. Publikasi atas capaian tersebut dinilai sebagai bentuk akuntabilitas dan komitmen fakultas terhadap mutu akademik dan tata kelola institusi. Sementara itu, rencana kegiatan Program Studi S1 Fisioterapi dipaparkan oleh Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph.D. Ia menjelaskan bahwa fokus pengembangan program studi ke depan akan diarahkan pada penguatan sumber daya manusia melalui berbagai aktivitas berskala nasional maupun internasional. Strategi ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan mahasiswa, khususnya dalam menghadapi wahana praktik serta tantangan dunia kerja. Dimas Sondang Irawan menegaskan bahwa arah pengembangan tersebut selaras dengan arahan Prof Nazaruddin, terkait pentingnya membangun kualitas dari hulu. Ia mengutip arahan Prof Nazaruddin yang mengibaratkan pengelolaan program studi seperti menjual sebuah produk. Program studi tidak boleh hanya menampilkan citra yang baik dari luar tanpa didukung kualitas yang sesungguhnya. “Kualitas itu dibangun dari sumber daya manusia terlebih dahulu, sehingga mampu menghasilkan produk pendidikan yang bukan hanya baik dari kemasan, tetapi juga bagus dari seluruh aspek,” ujarnya. Selain pengembangan SDM, Program Studi S1 Fisioterapi UMM juga menargetkan peningkatan kualitas pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Upaya tersebut dibarengi dengan strategi perluasan jejaring kerja sama serta penguatan reputasi Program Studi Fisioterapi UMM di tingkat nasional dan internasional. Penulis Nikmatur Rosidah dan Editor Bayu Prastowo

Fisioterapi UMM Siap Memenuhi Kebutuhan Formasi Fisioterapi di Layanan Primer Indonesia

Pimpinan Program Studi, Fakultas, dan Universitas dalam Kegiatan Lokakarya Kurikulum

Program Studi S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Lokakarya Kurikulum sebagai bagian dari upaya pembaruan dan penguatan arah pendidikan fisioterapi yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan kebijakan nasional. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan pemangku kepentingan lintas sektor. Lokakarya ini dihadiri oleh berbagai unsur, mulai dari akademisi, organisasi profesi, kolegium, alumni, pengguna lulusan, institusi fisioterapi lainnya, hingga mitra wahana praktik. Sejumlah tokoh yang hadir di antaranya dosen dan pakar fisioterapi, perwakilan Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI), Kolegium Fisioterapi Indonesia, Asosiasi Perguruan Tinggi Fisioterapi Indonesia (APTIFI), pimpinan universitas, pimpinan fakultas, serta Dinas Kesehatan Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Dalam diskusi tersebut, pihak IFI menekankan pentingnya kolaborasi lintas kementerian dalam pengembangan kurikulum fisioterapi. Menurutnya, kerja sama tidak hanya terbatas pada sektor kesehatan, tetapi juga perlu diperluas ke sektor sosial. Fokus layanan fisioterapi ke depan diharapkan tidak hanya berhenti pada aspek fungsional, melainkan juga menyentuh produktivitas dan pemberdayaan masyarakat. Hal ini sudah diinisiasi dan audiensi oleh pihak IFI, sehingga kedepannya fisioterapi UMM juga dapat turut andil dalam kolaborasi ini. Terlepas dari ini semua, kebutuhan fisioterapis di Indonesia masih sangat besar. Ia menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan sekitar 10.000 fisioterapis untuk menjawab tantangan layanan kesehatan ke depan. Oleh karena itu, orientasi fisioterapi akan semakin diarahkan pada pendekatan berbasis komunitas. Hal serupa juga disampaikan oleh Isnaini Herawati, Ftr., M.Sc., Ph.D selaku Sekertaris APTIFI yang menekankan pentingnya memberi “warna” khas pada kurikulum fisioterapi UMM. Identitas tersebut, menurutnya, dapat ditunjukkan melalui penamaan mata kuliah, dokumen pendukung kurikulum, maupun pendekatan pembelajaran yang mencerminkan karakter UMM. Selain itu, ia menilai kearifan lokal perlu diangkat, misalnya dengan mengunggulkan komunitas tertentu malang sebagai basis pembelajaran dan pengabdian. Keterlibatan fisioterapi UMM di lingkup komunitas disambut hangat oleh perwakilan Dinas Kesehatan Kota Batu, yang menyampaikan bahwa pihaknya memiliki komunitas dan desa binaan untuk pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM). Ia membuka peluang kolaborasi dengan institusi pendidikan fisioterapi, baik melalui penguatan peran kader puskesmas maupun optimalisasi peran fisioterapi di tengah masyarakat. “Peran fisioterapi di masyarakat perlu lebih dimunculkan dan diperluas,” ujarnya. Sementara itu, Prof. Dr. Mohammad Syaifuddin, M.M. dari Lembaga Inovasi Pembelajaran (LIP) UMM menilai bahwa fisioterapi berbasis komunitas memiliki cakupan yang sangat luas. Oleh karena itu, pengembangannya perlu diselaraskan dengan regulasi pemerintahan yang berlaku. Ia mengingatkan pentingnya penjabaran bahan kajian secara jelas untuk menghindari tumpang tindih kompetensi, meskipun penamaan mata kuliah dapat berbeda. Melalui lokakarya ini, Program Studi Fisioterapi UMM menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kurikulum yang kontekstual, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus memperkuat posisi fisioterapi sebagai profesi strategis dalam sistem kesehatan nasional dan pembangunan berbasis komunitas. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Wujudkan Fisioterapis Berintegritas, Fisioterapi UMM Gelar Lokakarya Visi dan Misi

Pimpinan Program Studi, Fakultas, dan Universitas dalam Kegiatan Lokakarya Visi dan Misi

Program Studi S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Lokakarya Visi dan Misi sebagai bagian dari upaya penguatan arah pengembangan akademik dan profesionalisme lulusan. Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FTR. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini jangan menjadi agenda rutin seremonial semata, melainkan komitmen moral dan profesional yang harus dipegang teguh dalam menciptakan lulusan fisioterapi yang berintegritas. Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Ikatan Fisioterapi Indonesia juga menyoroti tingginya peluang kerja bagi fisioterapis, khususnya di layanan kesehatan primer seperti puskesmas. Menurutnya, kebutuhan fisioterapis di tingkat pelayanan dasar semakin meningkat seiring dengan berkembangnya pendekatan promotif dan preventif dalam sistem kesehatan nasional. Namun demikian, ia juga mengungkapkan fenomena unik di lapangan, di mana sejumlah rumah sakit justru mengalami kesulitan dalam merekrut tenaga fisioterapis. Kondisi ini, tidak lepas dari semakin kuatnya kemandirian profesi fisioterapis dalam menciptakan lapangan kerja secara mandiri, baik melalui praktik mandiri, layanan home care, maupun berbagai inovasi layanan berbasis komunitas. “Visi-misi berbasis komunitas harus jelas sasarannya. Kita ingin mahasiswa dan lulusan memahami betul konteks masyarakat yang dilayani, apakah itu komunitas lansia, pekerja, atlet, atau masyarakat di layanan primer. Dari situ, intervensi fisioterapi bisa lebih tepat, berdampak, dan berkelanjutan,” ujarnya. Penguatan visi dan misi berbasis komunitas sektoral ini juga menjadi landasan dalam pengembangan kurikulum, kegiatan praktik lapangan, hingga pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, lulusan fisioterapi UMM diharapkan tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dan kemampuan adaptif dalam menjawab kebutuhan riil masyarakat di berbagai sektor. Sementara itu, Wakil Rektor UMM dalam sambutannya menegaskan bahwa UMM memiliki landasan nilai dalam membentuk perilaku lulusan melalui prinsip IIMAN, yakni Ikhlas, Ihsan, Maiyah, dan Amanah. Nilai tersebut diharapkan menjadi pedoman utama bagi para lulusan, khususnya mereka yang baru saja mengucapkan sumpah profesi. “Ikhlas dimaknai sebagai ketulusan dalam menjalankan profesi, Ihsan berarti melakukan setiap pekerjaan dengan dasar kebaikan, Maiyah merupakan kesadaran bahwa setiap langkah yang diambil berada dalam kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, dan Amanah adalah tanggung jawab untuk menjalankan profesi sesuai sumpah yang telah diucapkan,” ujarnya. Ia berharap para alumni Fisioterapi UMM mampu mengemban amanah profesi secara profesional, beretika, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. Melalui lokakarya visi dan misi ini, UMM menegaskan komitmennya untuk terus menghasilkan fisioterapis yang tidak hanya kompeten secara akademik dan klinis, tetapi juga memiliki integritas moral dan nilai-nilai keislaman yang kuat. Penulis Nikmatur Rosidah dan Editor Bayu Prastowo