Dosen Fisioterapi UMM Tegaskan Exercise Bukan Sekadar Aktivitas Fisik

Dimas Sondang Irawan, Ph.D(PT), dosen Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kembali menegaskan pentingnya pemahaman ilmiah dalam praktik exercise di tengah masyarakat. Dimas, sapaan akrabnya, menjadi pemateri utama dalam Webinar Nasional bertema “Move to Heal: Exercise as Therapy for the Body and Mind” yang diselenggarakan dalam rangkaian ATHENA VI 2026 dan diikuti mahasiswa fisioterapi serta peserta umum. Dalam paparannya berjudul Exercise, Injury Prevention, and Movement for Better Health and Quality of Life, Dimas menyoroti kekeliruan umum di masyarakat yang kerap menyamakan physical activity dengan exercise. Menurutnya, dua istilah tersebut memiliki perbedaan konseptual dan fisiologis yang jelas. “Exercise dan physical activity itu berbeda. Banyak orang menganggap lari atau olahraga yang sedang tren sebagai exercise, padahal jika tidak memiliki dosis yang terukur dan tidak dirancang secara sistematis, itu baru sebatas physical activity,” tegasnya. Sebagai akademisi dengan kepakaran di bidang Biomechanics and Sport, Dimas menjelaskan bahwa exercise harus memenuhi prinsip FITT (Frequency, Intensity, Time, Type). Tanpa pengaturan dosis yang tepat, tubuh tidak akan mengalami adaptasi fisiologis yang optimal. Sebaliknya, dosis berlebihan tanpa kontrol justru meningkatkan risiko cedera. Ia memaparkan bahwa exercise yang terstruktur akan memicu respons sistemik pada tubuh. Pada sistem muskuloskeletal terjadi peningkatan rekrutmen motor unit, hipertrofi otot, stabilitas sendi, serta kontrol postural yang lebih baik. Dari sisi kardiovaskular dan respirasi, exercise meningkatkan kapasitas pompa jantung, ventilasi paru, dan ambang kelelahan. Sementara secara neurohormonal, pelepasan endorfin, serotonin, dan dopamin berperan dalam stabilitas emosi serta peningkatan fungsi kognitif. Dimas juga menggarisbawahi tantangan kesehatan modern akibat dominasi gaya hidup digital. Fenomena sitting disease, tech-neck, kurang tidur, dan stres kronis menyebabkan penurunan kapasitas fisik fungsional. “Banyak orang merasa lelah padahal aktivitas fisiknya rendah. Ini tanda bahwa kapasitas tubuhnya menurun. Pola hidup sedentari dan paparan digital berlebihan menjadi faktor utama,” jelasnya. Ia menilai fenomena FOMO olahraga sebenarnya merupakan momentum positif karena menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk bergerak. Namun, tanpa edukasi berbasis sains, tren tersebut berisiko menimbulkan miskonsepsi. “FOMO itu bagus sebagai pemicu. Tetapi kita perlu edukasi masif bahwa exercise harus evidence-based dan memiliki dosimetri yang jelas. Ini menjadi PR besar kita sebagai tenaga kesehatan, khususnya fisioterapis,” ujarnya. Melalui forum ilmiah ini, Dimas menegaskan bahwa exercise bukan sekadar aktivitas fisik spontan, melainkan intervensi terapeutik yang murah, aman, dan berbasis bukti. Ia juga menekankan peran strategis fisioterapis dalam aspek promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Preklinik Jadi Langkah Awal Mahasiswa Fisioterapi UMM Untuk Kenalkan Profesionalitas Profesi

Sebanyak 110 mahasiswa angkatan 2023 Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti kegiatan preklinik yang berlangsung selama satu bulan di berbagai wahana praktik yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Program ini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran mahasiswa sebelum memasuki tahap pendidikan profesi fisioterapi. Preklinik merupakan program yang dirancang untuk mempersiapkan mahasiswa dalam menjalani praktik klinik secara nyata. Kegiatan ini diselenggarakan melalui kolaborasi antara program studi dengan berbagai wahana praktik seperti rumah sakit, klinik, maupun institusi layanan kesehatan lainnya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diperkenalkan sejak dini dengan suasana klinis (clinical atmosphere) sehingga mampu membangun kesiapan diri sebelum menjalani praktik klinik secara penuh pada jenjang profesi. Program preklinik juga bertujuan menjembatani mahasiswa dari pembelajaran akademik menuju praktik profesional. Dalam kegiatan ini mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai lingkungan kerja fisioterapi, sistem pelayanan kesehatan, serta interaksi dengan tenaga kesehatan di lapangan. Paparan awal terhadap dunia klinis tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa dalam menghadapi proses praktik klinik di masa mendatang. Selain memberikan gambaran suasana klinis, program preklinik juga menjadi sarana pengembangan berbagai keterampilan penting bagi calon fisioterapis. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai alur pelayanan fisioterapi, tetapi juga mengembangkan soft skills seperti kemampuan komunikasi, keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah, kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja, serta kemampuan bekerja dalam tim. PIC kegiatan preklinik, Arys Hasta Baruna, S.Ft., M.Kes., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi program studi dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan dunia profesional fisioterapi. “Program preklinik ini dirancang untuk memberikan pengalaman awal kepada mahasiswa tentang suasana dan sistem kerja di layanan kesehatan. Harapannya mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki gambaran nyata mengenai praktik fisioterapi di lapangan sehingga lebih siap ketika memasuki pendidikan profesi,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa perkembangan layanan kesehatan saat ini menuntut fisioterapis untuk memiliki kompetensi yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga mampu mengimplementasikan pengetahuan dalam praktik nyata secara profesional. Melalui kegiatan preklinik ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami dinamika pelayanan fisioterapi secara langsung sekaligus meningkatkan kesiapan akademik, mental, dan profesional sebelum melanjutkan ke tahap pendidikan profesi fisioterapi. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Mahasiswa Fisioterapi UMM Bekali Orang Tua dengan Literasi Pyramid of Learning Untuk Mendukung Tumbuh Kembang Anak

Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan peran promotif dan preventif dalam bidang fisioterapi pediatri berbasis komunitas melalui kegiatan edukasi kepada pendamping dan orang tua pasien. Edukasi ini mengangkat tiga topik penting dalam tumbuh kembang anak, yakni pengenalan duduk W (W-sitting) dan cara mengatasinya, pembatasan durasi layar (screen time) serta peningkatan aktivitas fisik, dan pemahaman konsep Pyramid of Learning sebagai fondasi perkembangan anak. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa Nur Maghfiroh Mulkam, Nurmaliana Yori Syahrani, Nazwa Restyara, Aviv Fahri Mardani, Ilma Shabhati Ibrahim, dan Louis Fauliaka Fitria. Kegiatan ini dilakukan di Marvel Kids Terapi Anak Surabaya di bawah pengawasan Perseptorship Nurul Aini Rahmawati, S.Ft., Ftr., M.Biomed serta Pembimbing Wahana Praktik Ardita Ramadhaningrum, SST., Ftr., selaku Co-Founder dan Fisioterapis Pediatri Rumah Terapi dan Belajar Marvel Kids. Dalam sesi pertama, mahasiswa menjelaskan mengenai kebiasaan duduk W yang kerap ditemukan pada anak usia dini. Posisi duduk dengan kedua lutut menekuk ke dalam dan kaki terbuka ke samping ini memang memberikan stabilitas instan. Namun, hal ini dapat mengurangi aktivasi otot inti dan kontrol postural. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kebiasaan ini berpotensi memengaruhi keseimbangan otot panggul, pola jalan, serta perkembangan koordinasi gerak. Orang tua diedukasi untuk melakukan koreksi secara persuasif dengan mengarahkan anak pada posisi duduk alternatif seperti bersila, long sitting, atau side sitting, serta memberikan latihan penguatan otot inti secara bertahap. Topik kedua menyoroti pentingnya mengurangi durasi layar dan meningkatkan aktivitas fisik anak. Paparan screen time berlebihan tidak hanya berdampak pada kesehatan mata dan pola tidur, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan motorik, bahasa, serta regulasi atensi. Mahasiswa menekankan pentingnya aktivitas fisik yang merangsang sistem vestibular dan proprioseptif melalui permainan aktif seperti melompat, merangkak, berlari, dan aktivitas luar ruang. Orang tua didorong untuk membangun rutinitas harian yang seimbang antara penggunaan teknologi dan stimulasi gerak. Selain itu, mahasiswa juga memperkenalkan konsep Pyramid of Learning, yaitu model hierarki perkembangan yang menempatkan sistem sensorik, taktil, vestibular, dan proprioseptif sebagai fondasi sebelum keterampilan akademik dan kognitif berkembang optimal. Dijelaskan bahwa kesiapan belajar tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membaca atau berhitung, melainkan juga oleh kematangan regulasi sensorimotor. Dengan fondasi sensorik yang kuat, anak akan lebih mudah mengembangkan fokus, koordinasi, serta kontrol perilaku. Pembimbing Wahana Praktik, Ardita Ramadhaningrum, SST., Ftr., menegaskan bahwa edukasi kepada orang tua merupakan komponen krusial dalam keberhasilan intervensi fisioterapi anak. “Terapi tidak berhenti di ruang praktik. Ketika orang tua memahami prinsip postur, aktivitas fisik, dan perkembangan sensorik, stimulasi dapat dilanjutkan secara konsisten di rumah. Inilah yang membuat hasil terapi menjadi lebih optimal dan berkelanjutan,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengasah kompetensi klinis, tetapi juga memperkuat peran fisioterapi sebagai profesi yang berkontribusi dalam peningkatan literasi kesehatan keluarga. Pendekatan edukatif yang komprehensif ini diharapkan mampu mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, sehat, dan sesuai tahapan perkembangannya. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Fisioterapi UMM Gelar Edukasi Kebugaran Fisik Dan PMB Pada Siswa/i SMA LAB UM

Program Studi S1 Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan edukasi kebugaran dan pemeriksaan fisik bagi siswa-siswi SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang (SMA LAB UM). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian sosialisasi peran profesi fisioterapis di Indonesia sekaligus agenda Promosi dan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tahun ajaran 2026/2027. Kegiatan ini melibatkan Tim PMB Program Studi dan mahasiswa Fisioterapi UMM yang memberikan materi mengenai pentingnya menjaga kebugaran fisik di tengah aktivitas akademik yang padat, khususnya bagi siswa kelas akhir yang tengah mempersiapkan kelulusan dan seleksi masuk perguruan tinggi. Edukasi tidak hanya disampaikan secara teoritis, tetapi juga melalui pemeriksaan fisik sederhana untuk mengenalkan aspek dasar asesmen dalam fisioterapi. Materi yang diberikan mencakup konsep kebugaran jasmani, pentingnya postur tubuh yang baik, pencegahan cedera, serta pemahaman awal mengenai peran fisioterapis dalam sistem pelayanan kesehatan. Melalui pendekatan ini, siswa memperoleh gambaran nyata bahwa fisioterapi tidak hanya berkaitan dengan rehabilitasi cedera, tetapi juga berperan dalam promotif dan preventif kesehatan. Person in Charge (PIC) PMB Program Studi Fisioterapi UMM, Nikmatur Rosidah, S.Ft., M.Sc., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memperluas pemahaman siswa mengenai profesi fisioterapi yang masih belum dikenal secara luas di masyarakat. “Kami ingin konsep dasar fisioterapi dan profesi ini lebih dikenal di lingkungan siswa di Indonesia. Masih banyak masyarakat yang belum memahami secara utuh prospek kerja dan peran fisioterapi dalam ilmu kesehatan. Melalui kegiatan ini, kami berharap siswa mendapatkan wawasan baru sekaligus mengenal peluang karier di bidang fisioterapi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sosialisasi ini tidak semata-mata bertujuan mengenalkan program studi, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi akademik dalam meningkatkan literasi kesehatan di kalangan pelajar. Dengan pemahaman yang baik mengenai kebugaran dan fungsi gerak tubuh, siswa diharapkan lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan sejak usia remaja. Melalui kegiatan ini, Program Studi S1 Fisioterapi UMM menegaskan komitmennya dalam mengedukasi masyarakat sekaligus memperkenalkan profesi fisioterapis sebagai bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan nasional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Adaptif di Era Digital, Fisioterapi UMM Optimalkan Sistem Tata Kelola Berbasis Teknologi

Program Studi Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti kegiatan Penguatan Tata Kelola Penggunaan Sarana Prasarana Kelas Berbasis Digital yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM pada Jumat, 20 Februari 2026 di Ruang ICMI. Kegiatan ini diikuti oleh tenaga kependidikan dan laboran sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas tata kelola administrasi berbasis teknologi. Mengusung tema “Memanfaatkan Peran Teknologi di Era Digitalisasi dalam Meningkatkan Pelayanan”, kegiatan tersebut menghadirkan Christian Sri Kusuma Aditya, S.Kom., M.Kom., sebagai narasumber dan Fitri Kurniawati sebagai moderator. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada optimalisasi sistem kerja digital guna meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan akuntabilitas pelayanan akademik. Pelatihan ini berfokus pada peserta untuk mendapatkan penguatan terkait optimalisasi Microsoft Office, termasuk teknik otomasi dokumen untuk mempercepat proses administrasi. Implementasi Autocrat juga diperkenalkan sebagai solusi dalam menghasilkan dokumen secara otomatis berbasis data, sehingga mampu meminimalkan kesalahan manual dan meningkatkan konsistensi output administrasi. Selain itu, dibahas pula penguatan sistem digitalisasi untuk mendukung implementasi one-day service (ODS) dalam pelayanan akademik. Seluruh aktivitas tenaga kependidikan dan laboran diarahkan agar terdokumentasi secara digital, sehingga setiap proses kerja memiliki rekam jejak yang jelas dan terintegrasi. Peserta juga memperoleh pembekalan mengenai pembuatan aplikasi sederhana sesuai kebutuhan unit kerja, teknik mail merge (merger email), serta standarisasi format dokumen dari tingkat program studi hingga universitas. Standarisasi ini menjadi langkah strategis dalam menjaga keseragaman tata kelola administrasi dan mendukung sistem pelaporan yang lebih tertib. Melalui partisipasi dalam kegiatan ini, Program Studi Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM memperkuat komitmennya untuk beradaptasi dengan sistem kerja berbasis digital, sekaligus meningkatkan kualitas layanan akademik yang profesional, responsif, dan terdokumentasi dengan baik. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Fisioterapi UMM dan Perum Jasa Tirta I Perkuat Bulan K3 Nasional Melalui Pemeriksaan Kesehatan Terpadu

Dalam rangka Bulan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Nasional, Perum Jasa Tirta I berkomitmen untuk membangun budaya K3 yang berkelanjutan. Mengusung tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif”, perusahaan terus mendorong penerapan K3 sebagai fondasi utama dalam setiap aktivitas kerja demi menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif. Sebagai implementasi konkret dari komitmen tersebut, Perum Jasa Tirta I menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan terpadu bagi seluruh karyawan melalui kolaborasi dengan Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan mencakup pemeriksaan tanda-tanda vital, pengecekan gula darah, kolesterol, asam urat, hingga pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) untuk memantau kondisi jantung karyawan. Selain itu, dilakukan pula pemeriksaan fisik yang berfokus pada kesehatan work-related musculoskeletal disorders (WRMDS), postur kerja, serta identifikasi risiko gangguan akibat aktivitas fisik berulang, baik pada pekerjaan administratif maupun lapangan. Mahasiswa Program Studi Fisioterapi UMM yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Hilda Nevia Arsyanti dan Selvera Pranata. Keduanya berperan aktif dalam proses skrining dan asesmen fisik di bawah pengawasan tim medis perusahaan serta dosen pembimbing dari Program Studi Fisioterapi UMM, Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si. Kegiatan ini turut melibatkan dr. Donny Septian Wibisono sebagai dokter penanggung jawab dan Novira Dinda Dhearisma, S.Tr.Kep sebagai perawat pendamping. Pemeriksaan dilaksanakan di sejumlah titik operasional Perum Jasa Tirta I di Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk wilayah Sungai Bengawan Solo, Bendungan Colo, Bendungan Wonogiri, serta kantor perusahaan di Bojonegoro. dr. Donny Septian Wibisono menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan berkala merupakan bagian strategis dalam sistem manajemen K3. “Deteksi dini adalah langkah preventif yang sangat penting untuk mencegah risiko penyakit kronis maupun gangguan akibat kerja. Dengan pemantauan rutin, kondisi kesehatan karyawan dapat terkontrol dan intervensi bisa dilakukan lebih cepat serta tepat sasaran,” ujarnya. Sementara itu, Bayu Prastowo menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini memberikan nilai akademik sekaligus kontribusi nyata bagi industri. “Kolaborasi ini memperkuat kompetensi mahasiswa dalam asesmen kesehatan kerja dan ergonomi. Fisioterapis memiliki peran penting dalam menjaga fungsi gerak, mencegah cedera kerja, dan mendukung produktivitas tenaga kerja secara berkelanjutan,” jelasnya. Antusiasme karyawan terlihat dari tingginya partisipasi sejak pagi hingga akhir kegiatan. Selain pemeriksaan, tim juga memberikan edukasi mengenai manajemen kelelahan, prinsip ergonomi, serta pencegahan gangguan muskuloskeletal. Melalui sinergi ini, Perum Jasa Tirta I menegaskan bahwa K3 adalah tanggung jawab bersama. Pulang dengan sehat dan selamat merupakan tujuan utama setiap aktivitas kerja. Kolaborasi antara dunia industri dan institusi pendidikan ini diharapkan menjadi model penguatan budaya K3 yang profesional, andal, dan kolaboratif secara berkelanjutan. Penulis Hilda Nevia Arsyanti dan Editor Bayu Prastowo
Reformulasi UKOM Nasional Tahun 2026, Fisioterapi UMM Pastikan Mahasiswa Siap Melalui Try Out Nasional

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Angkatan Ke-11, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Try Out Nasional berbasis Computer Based Test (CBT) sebagai persiapan menghadapi Uji Kompetensi Nasional Fisioterapi yang juga dilaksanakan dengan sistem CBT. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi akademik untuk membiasakan mahasiswa dengan atmosfer ujian berbasis komputer sebelum mengikuti ujian resmi tingkat nasional. Pelaksanaan Try Out Nasional tersebut tidak hanya bertujuan sebagai simulasi teknis, tetapi juga sebagai parameter untuk mengukur kesiapan akademik mahasiswa. Melalui evaluasi ini, program studi dapat memetakan sejauh mana penguasaan kompetensi pengetahuan fisioterapi mahasiswa profesi sebelum menghadapi Uji Kompetensi Nasional. Tahun ini, terdapat sejumlah perubahan signifikan dalam sistem Uji Kompetensi Nasional. Jika sebelumnya penyelenggaraan berada di bawah Kolegium Fisioterapi Indonesia, kini mekanisme ujian berada di bawah koordinasi Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Selain perubahan otoritas penyelenggara, jumlah soal juga mengalami penyesuaian dari 180 soal menjadi 120 soal. Tampilan antarmuka (interface) CBT yang digunakan pun mengalami pembaruan dibandingkan periode sebelumnya. Kegiatan Try Out Nasional di UMM dilaksanakan di bawah pengawasan Ftr. Dominggus Ruku Yudit Pramono, SST.Ft., M.Kes selaku Pengawas Pusat Tim Ad-Hoc/Unsur Institusi Pendidikan, guna memastikan proses berjalan sesuai standar dan prosedur yang ditetapkan. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menyampaikan bahwa penyelenggaraan Try Out Nasional ini merupakan bentuk komitmen institusi dalam menjaga mutu lulusan serta memastikan kesiapan mahasiswa secara akademik dan mental. “Try out nasional ini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran profesi. Kami ingin mahasiswa tidak hanya siap secara materi, tetapi juga terbiasa dengan sistem dan dinamika ujian berbasis CBT di tingkat nasional,” ujarnya. Sementara itu, PIC Uji Kompetensi Nasional, Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si., menegaskan bahwa perubahan sistem yang terjadi justru menjadi momentum bagi institusi untuk beradaptasi secara cepat. “Kami berkomitmen untuk responsif terhadap perubahan regulasi dan sistem. Adaptasi ini penting agar mahasiswa tetap mendapatkan pembekalan sesuai standar terbaru. Ke depan, tantangan kami adalah mengembangkan sistem Try Out Internal berdasarkan Try Out Nasional agar lebih terintegrasi dan menciptakan atmosfer yang serupa,” jelasnya. Melalui pelaksanaan Try Out Nasional CBT ini, Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM berharap mahasiswa dapat menghadapi Uji Kompetensi Nasional dengan lebih percaya diri, terukur, dan siap memenuhi standar kompetensi fisioterapis yang ditetapkan secara nasional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Mahasiswa Fisioterapi UMM Perkuat Advokasi Kesehatan di Sekolah Legislatif Nasional 2026

Mahasiswa Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut ambil bagian dalam Sekolah Legislatif Nasional 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Jakarta pada 11–13 Februari 2026. Kegiatan bertema “Membangun Legislator Mahasiswa yang Kritis, Progresif, dan Berintegritas” ini berlangsung di Auditorium UMJ serta Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi DKI Jakarta – Nusantara V DPR/MPR Senayan. Forum nasional ini menghadirkan pemateri dari unsur pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta, anggota DPRD Provinsi Banten, pengamat politik nasional, serta pimpinan universitas. Peserta berasal dari lembaga intra UMJ, jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) seluruh Indonesia, serta kampus PTMA wilayah Jabodetabek. Bagi Danang Wasis Medika Putra sebagai mahasiswa Fisioterapi UMM, kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi politik, tetapi ruang strategis untuk memperkuat kapasitas advokasi kebijakan, khususnya di bidang kesehatan. Ia menilai bahwa keterlibatan mahasiswa kesehatan dalam ruang legislatif kampus maupun nasional merupakan bentuk tanggung jawab sosial untuk memastikan kebijakan yang dihasilkan berpihak pada kepentingan masyarakat. “Mahasiswa kesehatan dengan terlibat dalam kegiatan politik seperti ini tidak berarti meninggalkan keilmuan fisioterapinya. Justru melalui jalur inilah setidaknya dapat memperjuangkan kebijakan yang mendukung sistem layanan kesehatan yang lebih baik,” ungkap Medika. Selama tiga hari, peserta dibekali pemahaman mengenai fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran, sekaligus pelatihan advokasi kebijakan dan penguatan tata kelola organisasi mahasiswa yang demokratis serta transparan. Kegiatan ini juga membuka jejaring nasional antarmahasiswa PTMA untuk membangun kolaborasi lintas kampus. Partisipasi mahasiswa Fisioterapi UMM dalam Sekolah Legislatif Nasional 2026 diharapkan menjadi langkah konkret dalam membentuk calon legislator mahasiswa yang tidak hanya kritis dan progresif, tetapi juga berintegritas serta mampu membawa perspektif kesehatan dalam setiap proses pengambilan kebijakan. Penulis dan Editor Danang Wasis Medika Putra
Fisioterapi UMM Tegaskan Komitmen International Atmosphere Dalam RAKER FIKES 2026

Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah melaksanakan Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026 setelah sebelumnya menggelar Pra-Rapat Kerja pada 4 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi momentum strategis dalam merumuskan arah kebijakan dan program kerja FIKES UMM ke depan, Rabu (11/2/2026). Raker 2026 mengusung tema “Transformasi, Kolaborasi, Integrasi Keilmuan Menuju FIKES yang Berdampak.” Tema tersebut menegaskan komitmen FIKES UMM untuk terus beradaptasi dan memperkuat peran fakultas dalam menjawab tantangan global, khususnya di bidang pendidikan dan pengembangan ilmu kesehatan. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menekankan arah kebijakan pengelolaan sumber daya manusia (SDM), keuangan, dan sarana prasarana yang berorientasi pada peningkatan World University Ranking (WUR). Ia menyampaikan bahwa periode 2026–2028 merupakan fase penting dalam mencapai target internasionalisasi universitas. Menurutnya, internasionalisasi tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian akreditasi internasional, tetapi harus diawali dengan pembangunan ekosistem dan rekognisi internasional yang kuat sebagai fondasi kesiapan institusi. Sebagai contoh implementasi, Program Studi Fisioterapi dinilai telah memulai langkah strategis melalui pemeliharaan atmosfer internasionalisasi berbasis kolaborasi akademik berkelanjutan. Beberapa agenda yang rutin dilaksanakan meliputi student exchange ke Mahidol University dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, pelaksanaan visiting professor, serta kehadiran guest lecturer dari perguruan tinggi mitra luar negeri. Ketua Program Studi Fisioterapi sekaligus mewakili Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Dimas Sondang Irwan, Ph.D(PT), dalam paparannya menegaskan komitmen penguatan internasionalisasi dan pengembangan keilmuan fisioterapi berbasis peningkatan kapasitas SDM. Ia menyampaikan bahwa internasionalisasi bukan sekadar program mobilitas, tetapi strategi sistematis untuk meningkatkan kualitas akademik, penelitian, dan kompetensi lulusan agar memiliki daya saing global. Menurutnya, pengembangan jejaring internasional, kolaborasi riset, peningkatan publikasi bereputasi, serta penguatan kompetensi dosen dan mahasiswa menjadi prioritas dalam roadmap pengembangan Program Studi Fisioterapi ke depan. Langkah tersebut sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam mendukung visi internasionalisasi universitas secara menyeluruh. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
Sumpah Fisioterapi Muda Tandai Kesiapan Mahasiswa Profesi UMM Melakukan Pendidikan Praktik Klinis

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan prosesi pelafalan Sumpah Fisioterapi Muda bagi mahasiswa Angkatan ke-13 Tahun 2026 di Auditorium GKB 5. Prosesi ini diikuti oleh 86 mahasiswa yang sekaligus berakhirnya rangkaian matrikulasi dan menjadi penanda awal mahasiswa memasuki wahana praktik klinik. Upacara sumpah tersebut bukan hanya bagian dari tradisi akademik, melainkan momentum peneguhan tanggung jawab moral dan profesional calon fisioterapi muda. Dalam prosesi yang berlangsung khidmat, mahasiswa melafalkan sembilan butir komitmen yang berlandaskan etika profesi dan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan. Sumpah ini menegaskan mahasiswa menyatakan kesadaran bahwa kesempatan menempuh pendidikan profesi di wahana praktik merupakan bentuk pengabdian dan tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka juga berkomitmen untuk mematuhi standar praktik serta kode etik fisioterapis Indonesia, sekaligus melaksanakan kewajiban kepada masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama, suku, politik, maupun status sosial. Komitmen tersebut diperkuat dengan janji menjalankan tugas secara terhormat, menjaga martabat profesi, serta mengutamakan keselamatan dan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Mahasiswa juga menyatakan kesiapan menjaga kerahasiaan pasien, menghargai masyarakat sebagai sumber pembelajaran, serta menjunjung tinggi sikap profesional terhadap sesama sejawat. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menegaskan bahwa sumpah profesi merupakan fondasi integritas sebelum mahasiswa menjalani praktik klinik. “Sumpah ini menjadi pengingat bahwa kompetensi teknis harus berjalan bersama komitmen etika. Profesionalisme fisioterapis diukur tidak hanya dari keterampilan klinis, tetapi juga dari tanggung jawab moral terhadap pasien dan masyarakat,” ujarnya. Prosesi pelafalan sumpah turut disaksikan oleh Sekretaris Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Zidni Imanurrohmah Lubis, S.Ft., Ftr., M.Biomed., bersama PIC Uji Kompetensi Nasional. Kehadiran unsur pimpinan program studi ini menegaskan legitimasi akademik sekaligus pengawasan institusional terhadap kesiapan mahasiswa memasuki fase praktik. Sehingga diharapkan mahasiswa Angkatan ke-13 siap menjalankan praktik profesi dengan menjunjung tinggi standar keilmuan, etika, dan keselamatan pasien. Prosesi ini sekaligus mempertegas komitmen UMM dalam mencetak fisioterapis yang kompeten, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan kesehatan yang bermutu. Penulis dan Editor Bayu Prastowo