Bangkit Pascapandemi, Sport Physio UMM Siap Mengawal Event Olahraga di Lingkungan Kampus

Jatimsatunews.com: Mahasiswa Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan kiprahnya di bidang olahraga melalui komunitas Sport Physio yang berada di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMATERA). Setelah sempat vakum akibat pandemi COVID-19, komunitas ini kini aktif kembali dengan berbagai inovasi dan kontribusi nyata di lapangan, Rabu (22-04-2026). Sport Physio merupakan komunitas berbasis fisioterapi olahraga yang tidak hanya berfokus pada penguatan keilmuan, tetapi juga pada aspek kemanusiaan, kegawatdaruratan, serta penanganan cedera di berbagai cabang olahraga. Reaktivasi komunitas ini ditandai dengan keterlibatannya dalam mendukung kegiatan Dekan Cup Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM, khususnya pada cabang olahraga sepak bola. Dalam ajang tersebut, tim Sport Physio UMM dipercaya untuk melakukan pendampingan fisioterapi di lapangan , memastikan kesiapan atlet, serta memberikan penanganan awal apabila terjadi cedera selama pertandingan berlangsung. Ketua komunitas, Muhamad Abdilah Ibdaul Hakiki, mengungkapkan bahwa sebelum terjun ke lapangan, tim telah melakukan berbagai persiapan matang, baik dari sisi keilmuan maupun teknis. “Kami melakukan pembekalan materi dasar sport physiotherapy sebelum turun ke lapangan. Selain itu, kami juga menyiapkan peralatan, termasuk perbaikan tandu dan pengadaan alat medis, serta membangun kesiapan mental tim,” ujarnya. Ia menambahkan, keterlibatan dalam Dekan Cup menjadi momentum penting untuk menguji kesiapan mahasiswa dalam menghadapi situasi nyata di lapangan. “Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar, dan ini menjadi pengalaman berharga bagi kami untuk memahami peran fisioterapis secara langsung dalam event olahraga,” tambahnya. Pembina Sport Physio UMM, Arys Hasta Baruna, S.Ft., M.Kes, turut mengapresiasi kebangkitan komunitas ini. Ia menegaskan bahwa ke depan, penguatan kompetensi praktis akan terus dilakukan agar mahasiswa mampu berkontribusi lebih luas. “Ke depan, kami akan terus melakukan upgrade keilmuan praktis agar mahasiswa dapat terlibat dalam berbagai cabang olahraga, baik di tingkat internal maupun eksternal,” ungkapnya. Ia juga menekankan bahwa komunitas Sport Physio diharapkan menjadi wadah pembelajaran aplikatif bagi mahasiswa S1 Fisioterapi. Melalui pengalaman langsung di lapangan, mahasiswa akan lebih siap menghadapi tahapan preklinik hingga pendidikan profesi. “Pengalaman ini penting untuk membangun clinical reasoning, mengelola coping stress, serta memahami peran fisioterapis dalam situasi nyata, khususnya dalam penanganan cedera olahraga di lapangan,” jelasnya. Kembalinya aktivitas Sport Physio UMM menjadi sinyal positif bagi penguatan kompetensi mahasiswa di bidang fisioterapi olahraga. Tidak hanya sebagai ruang belajar, komunitas ini juga menjadi jembatan antara teori akademik dan praktik profesional, sekaligus memperkuat peran fisioterapis dalam mendukung prestasi olahraga. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Ikuti Posyandu ILP, Perkuat Layanan Kesehatan Berbasis Komunitas di Malang

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Angkatan Ke-13, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah menjalani stase fisioterapi komunitas di wilayah Malang Raya turut ambil bagian dalam kegiatan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) di Dusun Blendongan, Desa Sidoluhur, Kabupaten Malang, Rabu (22-04-2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi layanan kesehatan berbasis masyarakat yang menekankan pendekatan promotif dan preventif. Posyandu ILP hadir sebagai inovasi pelayanan kesehatan yang tidak hanya menyasar balita, tetapi juga mencakup seluruh siklus kehidupan, mulai dari ibu hamil, anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Posyandu ILP menyediakan berbagai layanan terpadu, seperti pemeriksaan kesehatan dasar, pemantauan status gizi, deteksi dini penyakit, hingga edukasi kesehatan. Kehadiran mahasiswa fisioterapi dalam kegiatan ini memperkuat aspek edukasi dan intervensi berbasis fungsi gerak pada kelompok rentan seperti lansia dan anak. Pada kelompok lanjut usia, layanan difokuskan pada upaya mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat, mandiri, dan produktif. Edukasi yang diberikan mencakup pentingnya aktivitas fisik rutin, pemenuhan gizi seimbang, menjaga kebersihan diri, serta keterlibatan sosial sebagai bagian dari kesehatan holistik. Sementara itu, pada kelompok bayi dan balita, perhatian utama diarahkan pada fase pertumbuhan dan perkembangan yang sangat krusial. Mahasiswa turut mendukung pemantauan tumbuh kembang melalui pengukuran antropometri seperti berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala, serta memberikan edukasi kepada orang tua terkait pola asuh, stimulasi perkembangan, dan pentingnya nutrisi. Posyandu ILP menyediakan layanan pemantauan kesehatan kehamilan, edukasi nutrisi, serta persiapan persalinan dan perawatan bayi. Hal ini bertujuan untuk memastikan kondisi ibu dan janin tetap optimal serta menekan risiko komplikasi selama kehamilan. Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengasah kompetensi klinis, tetapi juga memahami dinamika pelayanan kesehatan berbasis komunitas. Posyandu sebagai upaya kesehatan berbasis masyarakat yang mengedepankan prinsip dari, oleh, dan untuk masyarakat menjadi ruang strategis dalam meningkatkan literasi kesehatan dan kemandirian masyarakat. Kegiatan ini berlangsung di bawah supervisi Clinical Educator Puskesmas Lawang, Nadya Setyarini Farizka, A.Md.Kep, yang memastikan seluruh proses pelayanan berjalan sesuai standar serta memberikan pengalaman belajar yang komprehensif bagi mahasiswa. Melalui sinergi antara tenaga kesehatan, mahasiswa, dan masyarakat, Posyandu ILP diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran fisioterapi dalam sistem pelayanan kesehatan primer. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Dorong Layanan Inklusif Lewat Posyandu Disabilitas

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan ke-13 saat ini tengah menjalani stase Fisioterapi Komunitas dan Geriatri di sejumlah puskesmas di wilayah Malang Raya. Salah satu titik praktik yang menjadi sorotan adalah keterlibatan mahasiswa dalam layanan Posyandu Disabilitas di Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Senin (20/04/2026). Program Posyandu Disabilitas di wilayah ini dikenal sebagai salah satu layanan kesehatan inklusif yang telah berjalan sejak 2019, dengan pusat kegiatan di Desa Bedali dan dukungan dari Puskesmas Lawang. Posyandu ini menghadirkan pendekatan terpadu melalui model 7 meja pelayanan, mulai dari pendaftaran, pengukuran, pencatatan, konsultasi dan komunikasi informasi edukasi (KIE), pelayanan kesehatan, terapi, hingga pemberdayaan masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa fisioterapi UMM berperan aktif dalam memberikan edukasi sekaligus layanan berbasis kebutuhan masyarakat disabilitas. Mereka turut memperkenalkan konsep fisioterapi inklusi, yang menekankan akses layanan kesehatan yang setara bagi penyandang disabilitas. Hal ini merupakan sebuah aspek yang dinilai masih terbatas di tingkat posyandu maupun puskesmas. Layanan yang diberikan tidak hanya berfokus pada intervensi fisik, tetapi juga pendekatan multidisiplin. Fisioterapi diberikan kepada penyandang tuna daksa, sementara terapi wicara menyasar individu dengan hambatan pendengaran dan komunikasi. Selain itu, terdapat layanan konseling untuk membantu penyelesaian persoalan disabilitas serta edukasi parenting bagi orang tua dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus. Kehadiran mahasiswa dalam program ini sekaligus menjadi upaya bridging antara konsep akademik dengan praktik nyata di masyarakat. Posyandu sebagai layanan kesehatan berbasis komunitas yang mengedepankan prinsip dari, oleh, dan untuk masyarakat menjadi ruang strategis dalam memperkuat literasi kesehatan inklusif. Seluruh rangkaian kegiatan ini dilaksanakan di bawah pendampingan Clinical Educator Nadya Setyarini Farizka, A.Md.Kep serta supervisi Perseptorship Bayu Prastowo, Ftr., M.Si. Pendampingan ini memastikan bahwa intervensi yang dilakukan mahasiswa tetap berbasis evidensi serta sesuai dengan standar praktik fisioterapi komunitas. Melalui keterlibatan langsung di Posyandu Disabilitas, mahasiswa tidak hanya mengasah kompetensi klinis, tetapi juga memperkuat sensitivitas sosial terhadap isu disabilitas. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mendorong pengembangan layanan fisioterapi yang lebih inklusif di tingkat layanan primer, sekaligus memperluas peran fisioterapis dalam sistem kesehatan masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Pertahankan Kualitas Pendidikan, Prodi Profesi Fisioterapis UMM Lakukan Audit Mutu Internal

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan Audit Mutu Internal (AMI) sebagai bagian dari upaya menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Kegiatan ini diselenggarakan pada periode 17 April 2026 di Ruang Sidang GKB 5, dengan pelaksanaan audit oleh tim Badan Penjaminan Mutu Internal (BPMI) UMM. Audit ini dipimpin oleh auditor, Dr. Erna Yayuk, S.Pd., M.Pd., yang melakukan peninjauan menyeluruh terhadap berbagai aspek penyelenggaraan program studi, mulai dari tata kelola akademik, implementasi kurikulum, hingga sistem penjaminan mutu berkelanjutan. Proses audit menjadi instrumen penting dalam memastikan bahwa seluruh standar pendidikan berjalan sesuai dengan ketentuan dan terus mengalami peningkatan kualitas. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menyampaikan bahwa audit mutu internal bukan sekadar proses evaluasi administratif, melainkan bagian dari strategi penguatan institusi dalam mempertahankan capaian akreditasi unggul. “Kegiatan ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan sistem. Kami berkomitmen untuk terus menjaga kualitas pendidikan, baik dari sisi akademik maupun layanan kepada mahasiswa,” ujarnya. Hal senada juga disampaikan Sekretaris Program Studi, Zidni Imanurrohmah Lubis, S.Ft., Ftr., M.Biomed., yang menekankan pentingnya sinergi seluruh elemen dalam mendukung keberhasilan audit mutu. Menurutnya, keberlanjutan mutu tidak hanya bergantung pada dokumen, tetapi juga implementasi nyata dalam proses pembelajaran dan praktik klinik. Audit mutu internal ini merupakan bagian dari siklus penjaminan mutu berkelanjutan yang diterapkan di lingkungan UMM. Melalui kegiatan ini, program studi tidak hanya melakukan evaluasi capaian, tetapi juga menyusun rencana tindak lanjut sebagai langkah strategis dalam menghadapi dinamika pendidikan tinggi, termasuk tuntutan kompetensi lulusan di bidang fisioterapi. Dengan terlaksananya audit ini, Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM menegaskan komitmennya untuk terus menjaga standar kualitas pendidikan serta memperkuat posisinya sebagai program studi dengan akreditasi unggul yang adaptif terhadap perkembangan saat ini. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Perkuat Kerja Sama, Fisioterapi UMM Dorong Ekspansi Riset dan Pengabdian Antara Institusi Pendidikan dan Klinis

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama RSUD Sumberglagah menggelar kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) kerja sama pada Rabu, 15 April 2026. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk meninjau keberlangsungan kolaborasi yang telah berjalan sejak 2023 sekaligus merumuskan arah pengembangan kerja sama ke depan. Kerja sama antara kedua institusi yang berlaku hingga 2027 ini selama ini berfokus pada pengiriman mahasiswa praktik klinik profesi fisioterapis dengan jumlah rata-rata 4 hingga 6 mahasiswa setiap bulan. Mahasiswa menjalani praktik di beberapa stase, termasuk neurologi sentral dan perifer, integumen di bawah supervisi clinical educator yang telah ditunjuk. Dalam evaluasi tersebut, berbagai aspek teknis turut dibahas, mulai dari sistem orientasi mahasiswa sebelum praktik, mekanisme administratif, hingga rencana penyesuaian perjanjian kerja sama melalui adendum. Salah satu poin penting yang mengemuka adalah perlunya penguatan implementasi kerja sama yang tidak hanya terbatas pada bidang pendidikan, tetapi juga mencakup penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dekan FIKES UMM, Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS, menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan kerja sama yang telah terjalin sekaligus memperluas dampaknya. “Kerja sama ini perlu terus dijaga dan dikembangkan. Tidak hanya dalam pengiriman mahasiswa praktik, tetapi juga perlu diimplementasikan dalam bentuk lain seperti penelitian dan pengabdian, sehingga manfaatnya semakin luas bagi kedua belah pihak,” ujarnya. Selain itu, Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapi UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis, turut mendorong penguatan kolaborasi dalam pengembangan sumber daya manusia, khususnya bagi tenaga kesehatan di RSUD Sumberglagah. “Kami membuka peluang bagi pegawai rumah sakit untuk melanjutkan studi ke jenjang profesi fisioterapi di UMM sebagai bagian dari penguatan kompetensi dan peningkatan kualitas layanan,” ungkapnya. Hasil monitoring dan evaluasi ini juga menghasilkan sejumlah rencana tindak lanjut, termasuk penyusunan naskah adendum kerja sama yang akan menyesuaikan dengan kebutuhan dan dinamika regulasi terkini. Selain itu, penguatan sistem orientasi mahasiswa juga menjadi perhatian untuk meningkatkan kesiapan mahasiswa sebelum memasuki wahana praktik. Kegiatan ini menegaskan komitmen bersama dalam membangun kolaborasi yang berkelanjutan, tidak hanya dalam pendidikan klinik, tetapi juga dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas layanan kesehatan. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Fisioterapi UMM Jalin Kerjasama Internasional dengan University of Florence Italia

Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring internasional melalui inisiasi kerja sama dengan University of Florence, Italia. Langkah strategis ini dibahas dalam pertemuan daring yang menghadirkan sejumlah tokoh penting dari kedua institusi serta perwakilan diplomatik Indonesia di Italia. Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Jacopo Cappucio selaku Konsul Kehormatan RI di Firenze, Nicolo Persiani sebagai Profesor sekaligus Koordinator Kerja Sama Internasional dan Kemitraan Akademik, serta Mateo Pacci yang mewakili Departemen Fisioterapi University of Florence. Dari pihak UMM, hadir Priyo Iswanto, Asisten Khusus Rektor Bidang Kerja Sama Internasional sekaligus mantan Duta Besar RI untuk Kolombia periode 2017–2021, bersama tim International Relations Office dan perwakilan Departemen Fisioterapi UMM. Dalam kesempatan tersebut, Nikmatur Rosidah mempresentasikan berbagai program international mobility yang telah dijalankan oleh Fisioterapi UMM bersama mitra institusi sebelumnya. Ia juga memaparkan kurikulum yang sedang berjalan, termasuk peluang mata kuliah yang dapat diambil oleh mahasiswa dalam skema pertukaran internasional. Paparan tersebut mendapatkan respons positif dari pihak University of Florence yang menilai adanya potensi besar untuk kolaborasi akademik, khususnya dalam bidang mobilitas mahasiswa dan penguatan kapasitas keilmuan fisioterapi. Dukungan terhadap inisiasi kerja sama ini juga disampaikan oleh Dimas Sondang Irawan. Ia menegaskan kesiapan institusi dalam menyambut kolaborasi internasional tersebut. “Kami sangat mendukung kerja sama baru ini agar bisa terealisasi dan menambah atmosfer internasional di lingkungan UMM. Selain itu, fisioterapi juga sudah memiliki SDM yang capable untuk menerima mahasiswa internasional,” ujarnya. Perwakilan University of Florence bahkan menyampaikan harapan agar kerja sama ini dapat segera direalisasikan, mengingat besarnya manfaat yang dapat diperoleh kedua belah pihak, baik dari sisi akademik, penelitian, maupun pengalaman internasional bagi mahasiswa dan dosen. Inisiasi kerja sama ini menjadi bukti nyata komitmen Fisioterapi UMM dalam mendukung visi universitas untuk meningkatkan rekognisi internasional. Langkah ini juga menjadi pijakan penting sebelum melangkah lebih jauh menuju akreditasi internasional, sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai institusi pendidikan tinggi yang adaptif dan berdaya saing global. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
Perkuat Kompetensi, Dosen Fisioterapi UMM Dalami Metode DNS di Taiwan

PWMU.CO – Upaya penguatan keilmuan fisioterapi terus dilakukan oleh Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya melalui pendalaman metode Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS), yang kini menjadi salah satu pendekatan penting dalam praktik fisioterapi modern. Dosen fisioterapi UMM, Rakhmad Rosadi, menjadi satu-satunya dosen dari Indonesia yang mengikuti pelatihan “DNS in Neurological Patients” di Taichung, Taiwan. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengembangan kompetensi internasional di bidang fisioterapi. Pelatihan tersebut menekankan pemahaman mendalam terkait kontrol postural, stabilisasi inti, serta integrasi sistem neuromuskular dalam gerakan fungsional. DNS sendiri merupakan pendekatan terapi yang dikembangkan berdasarkan prinsip perkembangan motorik sejak masa bayi. Metode ini membantu tubuh kembali ke pola gerak ideal guna meningkatkan efisiensi gerakan sekaligus mencegah risiko cedera. Pelatihan DNS terdiri dari beberapa tahapan, mulai dari level dasar hingga lanjutan. Setiap level dirancang untuk memperdalam kemampuan analisis gerak serta intervensi klinis, khususnya bagi pasien dengan gangguan neurologi maupun performa gerak. Rakhmad menyampaikan bahwa pendekatan DNS memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia, terutama dalam meningkatkan kualitas layanan fisioterapi. “Pendekatan ini sangat relevan untuk meningkatkan kualitas intervensi klinis, baik pada kasus neurologi maupun muskuloskeletal. Ke depan, kami ingin mengembangkan keilmuan ini secara lebih luas di lingkungan akademik,” jelasnya. Sementara itu, Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, menilai bahwa penguasaan metode spesifik seperti DNS akan memperkuat posisi fisioterapi UMM dalam pengembangan keilmuannya di Indonesia. Ia menegaskan bahwa peningkatan kompetensi dosen harus dilakukan secara berkelanjutan guna menjawab tantangan perkembangan ilmu kesehatan yang semakin dinamis. Penulis Nikmatur Rosidah dan Editor Bayu Prastowo
Matahari Homecare Hadirkan Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan bagi Masyarakat

Upaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat terus dilakukan melalui berbagai inovasi pelayanan. Salah satunya melalui Matahari Homecare, layanan kesehatan berbasis kunjungan rumah yang hadir untuk membantu masyarakat, terutama mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan. Matahari Homecare merupakan layanan perawatan kesehatan di rumah yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan, atau memulihkan kondisi kesehatan pasien serta memaksimalkan tingkat kemandirian pasien di lingkungan tempat tinggalnya. Layanan ini menjadi bagian dari rangkaian pelayanan kesehatan yang komprehensif bagi individu maupun keluarga yang membutuhkan perawatan jangka panjang di rumah. Program Matahari Homecare ini merupakan bentuk kolaborasi antara Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kolaborasi lintas fakultas ini menjadi wujud sinergi akademik dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang tidak hanya berbasis keilmuan, tetapi juga memiliki dampak langsung bagi masyarakat. Matahari Homecare juga menjalin kerja sama dengan Rumah Zakat untuk menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi. Kolaborasi ini memungkinkan pasien yang kurang mampu tetap memperoleh layanan kesehatan yang layak tanpa harus terbebani biaya yang besar. Salah satu layanan yang diberikan dalam program ini adalah fisioterapi, khususnya bagi pasien yang membutuhkan rehabilitasi fisik seperti pasien pascastroke, gangguan mobilitas, maupun kondisi lain yang memerlukan terapi berkelanjutan. Layanan fisioterapi dilakukan langsung di rumah pasien sehingga proses rehabilitasi dapat berlangsung lebih nyaman dan berkesinambungan. PIC Matahari Homecare, Rakhmad Rosadi, SST.Ft., Ftr., M.Sc.PT., Ph.D.(PT), menjelaskan bahwa program ini hadir sebagai bentuk komitmen untuk memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat. “Melalui Matahari Homecare, kami berupaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Tidak semua pasien memiliki kemampuan untuk datang langsung ke fasilitas kesehatan, baik karena keterbatasan mobilitas, kondisi penyakit, maupun faktor ekonomi. Dengan pelayanan di rumah, pasien tetap bisa mendapatkan layanan kesehatan secara optimal,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kerja sama dengan Rumah Zakat menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan. “Kolaborasi ini memungkinkan kami memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat yang kurang mampu. Matahari Homecare tidak hanya bergerak dalam layanan kesehatan, tetapi juga membawa misi kemanusiaan untuk membantu masyarakat mendapatkan perawatan yang layak,” tambahnya. Melalui pendekatan pelayanan kesehatan berbasis rumah yang humanis dan komprehensif, Matahari Homecare diharapkan mampu menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau. Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga pada nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial terhadap masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Cegah Gangguan Gerak Sejak Dini, Mahasiswa Fisioterapi UMM Skrining Flat Foot di SMP Kota Malang

Mahasiswa Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan dan skrining kondisi kaki pada siswa sekolah menengah pertama (SMP). Kegiatan ini dilakukan bersama SMP Negeri 13 Kota Malang dengan fokus pada deteksi dini kondisi flat foot serta upaya pengendaliannya melalui latihan fisioterapi. Mahasiswa fisioterapi UMM, Azhar Ramadhan Sarita dan Hendra Irza Fahrezi, melakukan pemaparan mengenai peran profesi fisioterapis dalam menjaga kesehatan sistem gerak tubuh, khususnya pada anak usia sekolah. Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya menjaga kesehatan kaki sebagai penopang aktivitas sehari-hari. Selain penyampaian materi, kegiatan juga diisi dengan skrining kondisi flat foot pada siswa. Pemeriksaan dilakukan pada 50 siswa kelas VIII untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya kelainan lengkung kaki yang dapat memengaruhi postur tubuh dan aktivitas fisik mereka. Flat foot atau kaki datar merupakan kondisi ketika lengkungan alami pada telapak kaki tidak terbentuk dengan baik, sehingga hampir seluruh telapak kaki menyentuh permukaan saat berdiri atau berjalan. Kondisi ini cukup sering ditemukan pada anak dan remaja usia sekolah. Pada usia SMP, flat foot dapat terjadi karena beberapa faktor seperti kelemahan otot-otot penyangga lengkung kaki, kelenturan ligamen yang berlebihan, kebiasaan aktivitas tertentu, penggunaan alas kaki yang kurang mendukung, hingga faktor pertumbuhan dan berat badan. Apabila tidak dikendalikan sejak dini, kondisi ini berpotensi memengaruhi postur tubuh, pola berjalan, serta keseimbangan. Dalam jangka panjang, flat foot juga dapat menimbulkan keluhan seperti nyeri pada kaki, pergelangan kaki, lutut, hingga punggung bawah akibat distribusi beban tubuh yang tidak optimal. Selain melakukan skrining, para mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai cara mengendalikan dan mencegah kondisi flat foot melalui latihan sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri. Latihan yang diperkenalkan meliputi strengthening exercise untuk memperkuat otot-otot penyangga lengkung kaki serta proprioceptive training untuk meningkatkan keseimbangan dan kontrol gerak kaki. Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph.D.(PT), menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi pembelajaran mahasiswa sekaligus sarana edukasi kesehatan bagi siswa di lingkungan sekolah. “Ini merupakan bagian dari implementasi pembelajaran mahasiswa fisioterapi sekaligus bentuk edukasi dini kepada siswa mengenai pentingnya menjaga kesehatan sistem gerak. Melalui skrining dan latihan sederhana ini, diharapkan siswa dapat lebih memahami kondisi tubuhnya serta mengetahui langkah pencegahan sejak dini,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan secara langsung di lingkungan sekolah sekaligus memperkenalkan peran profesi fisioterapis dalam upaya menjaga kesehatan sistem gerak sejak usia dini. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Fisioterapi UMM Gelar Buka Bersama dan Tracer Study Guna Pererat Silaturahmi Ikatan Alumni

Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan buka bersama yang dirangkaikan dengan pelaksanaan tracer study alumni pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan perwakilan alumni dari berbagai angkatan, mulai dari angkatan pertama tahun 2013 hingga alumni terbaru atau fresh graduate angkatan 2022. Acara ini menjadi momentum untuk mempererat kembali hubungan antara institusi dan para alumni yang kini telah berkiprah di berbagai bidang pelayanan kesehatan. Dalam sambutannya, Kepala Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menyampaikan rasa bahagianya dapat kembali bertemu dengan para alumni, khususnya mereka yang berada di wilayah sekitar Kota Malang seperti Surabaya, Sidoarjo, dan daerah sekitarnya. Ia menuturkan bahwa tracer study merupakan agenda penting bagi program studi untuk mengetahui perkembangan karier alumni sekaligus sebagai bahan evaluasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan fisioterapi di UMM. Kegiatan tracer study Fisioterapi UMM telah dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di luar Pulau Jawa seperti Kalimantan dan Nusa Tenggara Barat. Pelaksanaannya sering kali disinergikan dengan agenda lain yang diselenggarakan oleh program studi, seperti kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Tahun ini, momentum bulan Ramadan dimanfaatkan untuk melaksanakan tracer study yang dikemas dalam suasana kebersamaan melalui kegiatan buka puasa bersama. Selain menjadi ajang temu alumni, kegiatan ini juga diisi dengan tausiyah yang disampaikan oleh Bapak Faqih Ruhyanuddin, S.Kep., M.Kep., Sp.KMB. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga dan mempererat tali silaturahmi serta menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama, terutama di bulan suci Ramadan. Pesan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh peserta bahwa hubungan antara almamater dan alumni bukan hanya sebatas akademik, tetapi juga sebagai keluarga besar yang saling mendukung dan menguatkan. Melalui kegiatan ini, Fisioterapi UMM berharap dapat terus memperkuat jejaring alumni sekaligus memperoleh masukan berharga dari para lulusan yang telah terjun langsung di dunia kerja. Dengan demikian, program studi dapat terus beradaptasi dan meningkatkan mutu pendidikan guna menghasilkan fisioterapis yang kompeten dan berdaya saing. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah