Sport Physio UMM Kawal Ribuan Atlet di UMM Open Karate Championship 2026

Ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia memadati Dome UMM dalam gelaran nasional UMM Open Karate Championship 2026 yang diselenggarakan oleh Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (2/5/2026). Kejuaraan ini mempertandingkan berbagai kategori, mulai dari kata perorangan, kumite, hingga kata beregu dengan peserta dari berbagai kelompok usia, mulai dari tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga kategori umum. Di balik semaraknya pelaksanaan event nasional tersebut, terdapat peran penting tim kesehatan yang turut memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan lancar. Salah satu tim yang terlibat aktif adalah tim kesehatan Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang yang berkolaborasi bersama komunitas Sport Physio UMM dalam penanganan medis dan cedera selama pertandingan berlangsung. Kolaborasi ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dan tim Sport Physio UMM, terutama dalam menghadapi berbagai kondisi cedera olahraga secara langsung di lapangan. Penanganan yang dilakukan mencakup cedera benturan, luka terbuka, hingga kasus patah tulang yang membutuhkan respons cepat dan koordinasi lintas profesi kesehatan. Kolaborasi langsung antara dokter, perawat, serta tenaga kesehatan lainnya dari RS UMM dengan fisioterapi dari Sport Physio membuat situasi tersebut menjadi ruang pembelajaran nyata mengenai penanganan kegawatdaruratan olahraga sekaligus memperkuat pemahaman klinis mahasiswa di lapangan. “Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi mahasiswa. Ketika menghadapi banyak kasus cedera, mahasiswa belajar langsung bersama dokter dan tenaga medis lainnya. Ada banyak hal di luar ranah yang sebelumnya belum mahasiswa pahami, tetapi di sinilah mahasiswa dibimbing, diarahkan, sekaligus belajar mengenai kerja sama tim dalam penanganan cedera olahraga,” ungkap Arys Hasta Baruna selaku Pembina Sport Physio UMM. Selama kejuaraan berlangsung, berbagai penanganan berhasil dilakukan dengan baik dan seluruh proses berjalan lancar. Keberhasilan tersebut dinilai tidak lepas dari kekompakan tim serta koordinasi yang solid antar tenaga kesehatan di lapangan. Keterlibatan Sport Physio UMM dalam event berskala nasional ini juga menjadi bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa fisioterapi, khususnya dalam bidang sport physiotherapy dan emergency response di arena olahraga. Selain memahami aspek teori, mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung mengenai bagaimana fisioterapis bekerja secara cepat, tepat, dan kolaboratif dalam mendukung performa dan keselamatan atlet. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Mahasiswa Fisioterapi UMM Borong Gelar di Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026

Mahasiswa Program Studi S1 Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026 yang berlangsung di Dome UMM, Jumat (2/5/2026). Dalam kejuaraan tersebut, mahasiswa Fisioterapi UMM berhasil memborong sejumlah gelar dari berbagai kategori kumite yang dipertandingkan. Prestasi gemilang diraih oleh Baihaqi Rahmatiga Soesanto, mahasiswa Gen 2022, yang sukses mendominasi beberapa kategori pertandingan. Ia berhasil meraih Juara 1 Kumite +84 Kg Mahasiswa Putera dan Juara 1 Kumite Beregu Mahasiswa Putera. Tidak hanya itu, Baihaqi juga berhasil menempati posisi Juara 2 pada kategori Kumite +84 Kg Senior Putera. Capaian tersebut menjadi bukti konsistensi, disiplin, serta semangat kompetitif mahasiswa fisioterapi dalam mengembangkan potensi diri di luar bidang akademik. Tak kalah membanggakan, mahasiswa Gen 2025, Setiawan Zuhdi Eriadmoko, turut mengharumkan nama program studi melalui sejumlah raihan prestasi. Ia berhasil menyabet Juara 1 Kumite Beregu Putera, sekaligus meraih Juara 2 pada kategori Kumite -67 Kg Mahasiswa Putera dan Kumite -67 Kg U-21 Putera. Keikutsertaan mahasiswa fisioterapi dalam ajang olahraga kompetitif seperti karate dinilai memiliki keterkaitan yang kuat dengan bidang keilmuan fisioterapi, terutama dalam aspek pemahaman gerak manusia, performa fisik, pencegahan cedera, hingga sport science. Selain menjadi ruang pengembangan minat dan bakat, kompetisi olahraga juga menjadi media pembentukan karakter, disiplin, mental kompetitif, serta kemampuan coping stress mahasiswa. Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D, menyampaikan apresiasi atas capaian para mahasiswa tersebut. Menurutnya, mahasiswa perlu terus didorong untuk berkembang secara seimbang, baik dalam aspek akademik maupun non-akademik. “Mahasiswa harus terus berkembang tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam potensi diri lainnya. Prestasi seperti ini menjadi bukti bahwa mahasiswa fisioterapi mampu bersaing, memiliki karakter disiplin, serta mental kompetitif yang baik. Program studi tentu akan terus mendukung pengembangan minat dan bakat mahasiswa agar dapat terus berprestasi di berbagai bidang,” ujarnya. Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus aktif mengembangkan potensi diri sekaligus membawa nama baik Program Studi S1 Fisioterapi dan UMM di tingkat regional maupun nasional. Prestasi ini sekaligus mempertegas komitmen Fisioterapi UMM dalam mendukung pengembangan mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif, kompetitif, dan berkarakter di berbagai bidang. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Perkuat Peran Promotif-Preventif di Kegiatan PKG Puskesmas Lawang

Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah menjalani stase komunitas di Puskesmas Lawang, Kabupaten Malang, berpartisipasi dalam kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) yang diselenggarakan oleh Puskesmas Lawang. Kegiatan ini berlangsung di Poltekkes Kemenkes Malang Kampus Lawang, Rabu (29/04/2026). Kegiatan ini menyasar mahasiswa dan dosen sebagai bagian dari upaya deteksi dini kondisi kesehatan pada kelompok usia produktif. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pengukuran tekanan darah, tinggi badan, berat badan, serta skrining postural dan potensi gangguan kesehatan yang umum terjadi pada remaja hingga pekerja kantoran. Dalam kegiatan ini, mahasiswa fisioterapi tidak hanya berperan dalam pelaksanaan pemeriksaan dasar, tetapi juga menjalankan fungsi promotif dan preventif melalui skrining postural. Pemeriksaan ini bertujuan mengidentifikasi risiko gangguan muskuloskeletal seperti forward head posture, nyeri punggung bawah, hingga ketidakseimbangan otot akibat pola aktivitas sedentari. Mahasiswa juga memberikan edukasi terkait ergonomi, aktivitas fisik, serta pola hidup sehat yang relevan dengan keseharian peserta. Pendekatan ini menjadi penting mengingat meningkatnya keluhan muskuloskeletal pada usia produktif yang dipicu oleh kebiasaan duduk lama dan penggunaan perangkat digital secara berlebihan. Kegiatan ini didampingi langsung oleh Clinical Educator Nadya Setyarini Farizka, A.Md.Kep, yang memastikan pelaksanaan pemeriksaan berjalan sesuai standar sekaligus menjadi sarana pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa. Peran fisioterapi dalam kegiatan PKG seperti ini menjadi semakin strategis, tidak hanya dalam aspek rehabilitatif, tetapi juga pada deteksi dini, pencegahan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Melalui skrining sederhana yang sistematis, potensi gangguan dapat diidentifikasi lebih awal sebelum berkembang menjadi kondisi kronis. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini juga mencerminkan implementasi community-based physiotherapy, di mana mahasiswa dilatih untuk memahami kondisi riil masyarakat, melakukan asesmen cepat, serta memberikan intervensi edukatif yang aplikatif. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Mahasiswa Fisioterapi UMM Raih Prestasi Internasional di GCE 2026, Malaysia

Mahasiswa Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tania Momtaza, berhasil mengharumkan nama institusi dalam ajang The Global and Cultural Exposure (GCE) 2026 yang berlangsung pada 15 hingga 18 April 2026 di Penang, Malaysia. Kegiatan ini merupakan program internasional yang diinisiasi oleh Pusat Prestasi Mahasiswa PTMA yang mengombinasikan pertukaran budaya dengan kompetisi lintas negara. Program tersebut diikuti oleh mahasiswa terpilih dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, Tania menjadi salah satu delegasi UMM yang bergabung bersama peserta dari berbagai PTMA. Selama pelaksanaan program, peserta mengikuti rangkaian agenda strategis, mulai dari pertukaran budaya, diskusi internasional, hingga kompetisi yang mengasah kreativitas, komunikasi, serta kemampuan akademik dan nonakademik. Salah satu agenda utama berlangsung di Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) yang menjadi tuan rumah kegiatan akademik dan interaksi lintas budaya. Momentum ini dimanfaatkan peserta untuk memahami dinamika pendidikan global sekaligus memperluas jejaring internasional. Dalam ajang tersebut, Tania Momtaza berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Runner-up 2 pada Content Creation Making Competition. Melalui karyanya bertema “Perempuan Berani Bermimpi”, ia mengangkat narasi tentang keberanian perempuan dalam mengejar cita-cita dan melampaui berbagai batasan sosial. Tak hanya itu, Tania juga meraih Runner-up 1 pada Talent Show Contest melalui penampilan puisi bertema perempuan. Penampilannya dinilai mampu menyampaikan pesan yang kuat, emosional, serta merepresentasikan nilai keberanian, keteguhan, dan inspirasi perempuan di era modern. Capaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Fisioterapi UMM tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional melalui kreativitas dan ekspresi seni. Prestasi yang diraih diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk berani tampil dan berprestasi di kancah global. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
Tak Hanya Unggul, Fisioterapi UMM Jadi Rujukan Benchmarking Pendidikan Fisioterapi Nasional

Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan pendidikan fisioterapi di Indonesia melalui penerimaan kunjungan benchmarking dari STIKep PPNI Jawa Barat. Kunjungan ini menjadi momentum strategis untuk berbagi praktik baik sekaligus memperluas jejaring kolaborasi antar institusi pendidikan kesehatan, Selasa (28/04/2026). Kepercayaan yang diberikan oleh STIKep PPNI Jawa Barat merupakan bentuk apresiasi yang luar biasa. Hal tersebut bukan karena tanpa alasan, tentunya karena predikat akreditasi unggul, prestasi mahasiswa di berbagai ajang, serta tingkat serapan lulusan di dunia kerja menjadi indikator bahwa sistem pendidikan yang dibangun telah berjalan optimal dan berkelanjutan. Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menegaskan bahwa kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengalaman, tetapi juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. “Kami menyambut baik kunjungan ini sebagai bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan tenaga kesehatan. UMM sangat terbuka untuk kolaborasi dalam berbagai bidang, baik akademik maupun non-akademik,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., menekankan bahwa pengembangan program studi tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan ekosistem yang mendukung keberhasilan mahasiswa dan alumni. “Keberhasilan program studi tidak hanya diukur dari capaian akreditasi, tetapi juga dari dampak nyata lulusan di masyarakat. Karena itu, kami terus menghadirkan pendidikan yang relevan, adaptif, dan berorientasi global,” jelasnya. Sebagai bagian dari kegiatan, Prodi Fisioterapi UMM juga menampilkan profil alumni sebagai representasi nyata dari kualitas pendidikan yang diberikan. Keberhasilan alumni di berbagai sektor menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang diterapkan mampu menghasilkan fisioterapis yang kompeten dan siap bersaing di dunia kerja. Kunjungan ini dipandang sebagai langkah awal untuk membangun sinergi jangka panjang antar institusi. Tidak hanya berbagi pengalaman, kedua pihak juga membuka peluang kerja sama dalam pengembangan kurikulum, penelitian kolaboratif, hingga program pertukaran akademik. Melalui kegiatan ini, Prodi Fisioterapi UMM berharap dapat terus berkontribusi dalam penguatan pendidikan fisioterapi di Indonesia. Semangat kolaborasi dan pertukaran praktik baik diharapkan mampu mendorong lahirnya program studi fisioterapi yang berkualitas serta berdampak luas bagi masyarakat. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
Mahasiswa Fisioterapi UMM Wakili Indonesia dalam Global and Cultural Exposure di Malaysia

Mahasiswa Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tania Momtaza, mencatatkan prestasi membanggakan dengan terpilih sebagai delegasi dalam kegiatan The Global and Cultural Exposure (GCE) yang diselenggarakan pada 15–18 April 2026 di Penang, Malaysia. Program internasional ini merupakan inisiatif dari Pusat Prestasi Mahasiswa PTMA yang menghadirkan mahasiswa terbaik dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang pengembangan kapasitas mahasiswa melalui kombinasi pertukaran budaya, penguatan jejaring global, serta kompetisi akademik dan nonakademik di tingkat internasional. Selama empat hari pelaksanaan, para delegasi mengikuti berbagai agenda strategis yang mencakup eksplorasi budaya lintas negara, diskusi akademik, hingga kompetisi yang menuntut kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan adaptasi dalam lingkungan global. Kegiatan ini menjadi ajang bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif serta meningkatkan kesiapan menghadapi tantangan internasional. Salah satu rangkaian utama kegiatan berlangsung di Universiti Muhammadiyah Malaysia, yang menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan sesi akademik dan pertukaran wawasan. Melalui interaksi langsung dengan mahasiswa dan lingkungan akademik internasional, peserta memperoleh pengalaman nyata terkait sistem pendidikan global serta dinamika pembelajaran lintas budaya. Keikutsertaan Tania Momtaza mencerminkan komitmen Program Studi Fisioterapi UMM dalam mendorong mahasiswa untuk berpartisipasi aktif di tingkat internasional. Tidak hanya sebagai representasi institusi, partisipasi ini juga menjadi bagian dari strategi penguatan kompetensi mahasiswa dalam menghadapi era globalisasi. Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., menegaskan bahwa mobilitas internasional merupakan salah satu fokus pengembangan program studi. “Kami secara konsisten memberikan kesempatan mobilisasi internasional, baik kepada mahasiswa maupun dosen. Hal ini penting agar mereka dapat mengakses perkembangan ilmu terbaru, membangun jejaring global, serta meningkatkan daya saing di tingkat internasional. Kesempatan ini tentu harus dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya. Melalui keterlibatan dalam program Global and Cultural Exposure, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga mampu mengembangkan wawasan global, sensitivitas budaya, serta kapasitas kepemimpinan. Dengan demikian, lulusan UMM diharapkan mampu tampil sebagai agen perubahan yang kompeten sesuai perkembangan global. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
Peran Strategis Fisioterapi UMM dalam Mendukung Performa Pelari di MS Glow For Men Malang Half Marathon 2026

Ajang MS Glow For Men Malang Half Marathon 2026 yang digelar pada 26 April 2026 resmi menjadi salah satu event lari terbesar di Kota Malang. Kegiatan ini diikuti sekitar 7.000 peserta dari berbagai daerah dengan tiga kategori lomba, yakni 21K (half marathon), 10K, dan 5K. Pembukaan acara dilakukan langsung oleh Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Taufik Hidayat. Di balik suksesnya penyelenggaraan event berskala besar ini, pendekatan fisioterapi yang tergabung dalam Tim Sport Science Pocari Sweat menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung performa optimal para peserta. Peran tersebut turut mengedukasi strategi hidrasi dan nutrisi serta pencegahan cedera dalam tiga hari menjelang race. Menariknya, mahasiswa Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Danang Wasis Medika, turut ambil bagian sebagai anggota tim sport science tersebut. Ia menegaskan bahwa fisioterapi memiliki kontribusi signifikan dalam mendukung kesiapan fisik pelari. “Fisioterapi tidak hanya berfokus pada penanganan cedera, tetapi juga pencegahan dan optimalisasi performa. Kami melakukan berbagai intervensi seperti treatment kasus muskuloskeletal spesifik, pemasangan taping, hingga teknik release dan recovery,” ungkap Medika. Setiap peserta mendapatkan kesempatan pemeriksaan singkat selama kurang lebih 10 menit untuk mengidentifikasi potensi risiko cedera. Pemeriksaan tersebut meliputi skrining kondisi peserta, misalnya shin splints, iliotibial band syndrome (ITB syndrome), serta evaluasi biomekanika dasar yang berkaitan dengan aktivitas lari. Tidak hanya itu, tim juga memberikan edukasi terkait postur dan teknik berlari yang tepat guna meminimalkan beban berlebih pada sistem muskuloskeletal. Pendekatan ini dinilai penting mengingat tren olahraga lari yang semakin meningkat di masyarakat, namun belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman tentang prinsip latihan yang benar. Keterlibatan fisioterapi dalam event ini menjadi bukti bahwa dukungan ilmiah dan klinis sangat dibutuhkan dalam olahraga massal. Persiapan yang matang, baik dari sisi teknis penyelenggaraan maupun kesiapan fisik peserta, menjadi kunci utama dalam menciptakan event yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga aman dan berkelanjutan. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Dosen Fisioterapi UMM Berkontribusi dalam Standarisasi Uji Kompetensi Fisioterapi Indonesia

Dalam upaya memperkuat kualitas lulusan dan menjamin standar kompetensi fisioterapis di Indonesia, Asosiasi Perguruan Tinggi Fisioterapi Indonesia (APTIFI) menyelenggarakan Workshop Item Development dan Item Review Soal Uji Kompetensi (UKOM). Kegiatan ini menjadi forum strategis bagi akademisi untuk menyusun dan menelaah butir soal uji kompetensi yang valid, reliabel, serta selaras dengan kebutuhan praktik profesional, Sabtu (25/04/2026). Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut ambil bagian dengan mendelegasikan dosen dari berbagai bidang keahlian, meliputi fisioterapi muskuloskeletal, neuromuskular, pediatri, geriatri, olahraga, kardiovaskular-respirasi, hingga integumen. Keterlibatan ini menjadi wujud kontribusi aktif UMM dalam pengembangan sistem uji kompetensi fisioterapi nasional. Workshop ini berfokus pada penyusunan dan evaluasi soal Computer-Based Test (CBT) serta Objective Structured Clinical Examination (OSCE), dua komponen utama dalam pelaksanaan UKOM. Melalui proses item development dan item review, para peserta diharapkan mampu menghasilkan soal yang tidak hanya mengukur aspek kognitif, tetapi juga keterampilan klinis dan clinical reasoning mahasiswa. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis, menegaskan bahwa keterlibatan dosen dalam forum nasional seperti ini memiliki dampak strategis bagi peningkatan mutu pendidikan. “Partisipasi dosen dalam pengembangan soal UKOM bukan hanya sebagai bentuk kontribusi institusi, tetapi juga menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa proses evaluasi kompetensi benar-benar mencerminkan kebutuhan praktik klinis yang aktual. Dengan demikian, lulusan yang dihasilkan tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga memiliki clinical reasoning yang kuat dan adaptif terhadap dinamika pelayanan kesehatan,” ujarnya. Pelaksanaan Uji Kompetensi Fisioterapi sendiri merupakan langkah strategis dalam menjamin bahwa lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar profesi. Selain itu, UKOM juga berperan penting dalam menjaga mutu layanan fisioterapi, sekaligus menjadi salah satu indikator dalam pemenuhan akreditasi program studi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Secara regulatif, penyelenggaraan UKOM berlandaskan berbagai kebijakan nasional, di antaranya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Pendidikan Tinggi, Undang-Undang Tenaga Kesehatan, serta regulasi terbaru terkait standar operasional uji kompetensi nasional yang melibatkan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan Tinggi. Kegiatan ini juga sejalan dengan arahan Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) dan Kolegium Fisioterapi Indonesia dalam menjaga standar profesi fisioterapi secara nasional. Melalui keterlibatan dalam workshop ini, dosen fisioterapi UMM tidak hanya berperan sebagai peserta, tetapi juga sebagai kontributor dalam membangun sistem evaluasi kompetensi yang lebih terstruktur dan berkualitas. Partisipasi ini diharapkan dapat berdampak langsung pada peningkatan mutu lulusan, sehingga mampu memberikan layanan fisioterapi yang aman, efektif, dan berbasis evidensi di tengah masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Sport Physio UMM dan KSR PMI Bersinergi di UMM Championship Series 2

Kolaborasi lintas organisasi mahasiswa kembali ditunjukkan dalam gelaran Turnamen Sepak Bola UMM Championship Series 2 Antar Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Pulau Jawa yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kota Malang. Ajang ini menjadi momentum awal sinergi antara komunitas Sport Physio dan Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR-PMI) Unit UMM dalam memberikan dukungan medis di lapangan. Keterlibatan kedua tim ini tidak hanya sebatas pengamanan medis selama pertandingan berlangsung, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran kolaboratif dalam penanganan cedera olahraga secara langsung. Berbagai kasus cedera yang terjadi selama pertandingan menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam mengasah keterampilan klinis, komunikasi tim, serta pengambilan keputusan cepat di lapangan. Ketua Sport Physio UMM, Muhamad Abdilah Ibdaul Hakiki, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kapasitas tim. “Kolaborasi dengan tim KSR memberikan banyak pengalaman, baik dari sisi penanganan cedera, penguatan pengetahuan, maupun kerja sama tim. Kami juga melakukan sharing session untuk saling bertukar ilmu sehingga terbentuk satu kesatuan yang solid di lapangan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dinamika pertandingan yang menghadirkan berbagai jenis cedera menjadi tantangan sekaligus sarana pembelajaran nyata. “Seiring berjalannya waktu, kami menghadapi berbagai macam cedera. Alhamdulillah, tim Sport Physio dan KSR dapat bekerja sama dengan baik. Setiap kasus dapat kami tangani dengan optimal, dan yang paling penting adalah kekompakan tim dalam setiap intervensi,” tambahnya. Sinergi ini menunjukkan pentingnya kolaborasi multidisiplin dalam mendukung keselamatan atlet selama kompetisi berlangsung. Perpaduan antara pendekatan kegawatdaruratan dari KSR dan keahlian fisioterapi olahraga dari Sport Physio menjadi model kerja sama yang efektif dalam penanganan cedera di lapangan. Kegiatan ini sekaligus menjadi wadah pembelajaran aplikatif bagi mahasiswa, khususnya dalam menghadapi situasi klinis nyata di lingkungan olahraga kompetitif. Melalui pengalaman ini, mahasiswa diharapkan semakin siap dalam menjalani praktik klinik maupun berkontribusi di dunia fisioterapi olahraga secara profesional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Tak Menunggu Lama, Alumni Fisioterapi UMM Berkiprah di Pro Futsal League (PFL) 2026

Kiprah alumni Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan daya saing di dunia profesional. Bagus Prasetyo Pamungkas, alumni S1 Fisioterapi angkatan 2021 dan Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM angkatan ke-XI, kini meniti karier sebagai fisioterapis di Maestro Solo Futsal Club. Klub futsal ini berbasis di Solo, Boyolali dan bersiap menjalani debut di Pro Futsal League (PFL) 2 pada musim 2026. Maestro Solo FC sendiri merupakan klub yang tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga menjadi wadah pembinaan atlet usia muda di wilayah Eks Karesidenan Surakarta sejak berdiri pada 2026. Dalam perannya, Bagus bertanggung jawab mendampingi para pemain, khususnya dalam aspek kebugaran, pencegahan cedera, serta pemulihan kondisi fisik menjelang kompetisi. Saat ini, Bagus bersama tim tengah menjalani persiapan intensif menghadapi putaran pertama kompetisi. “Saat ini saya tengah mempersiapkan pemain muda untuk menunjukkan performa maksimal, terutama menghadapi pertandingan di bulan ini. Kami sedang menjalani persiapan di Bandung untuk pekan pertama PFL 2 melawan Hamton FC dan Great Grace Surabaya FC pada April 2026 ini,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan bahwa dalam proses persiapan tersebut, tim sempat menghadapi tantangan berupa cedera pada beberapa pemain. Hal ini menuntut peran fisioterapis untuk memastikan kondisi atlet tetap optimal sebelum bertanding. “Kemarin ada beberapa pemain yang mengalami cedera. Saat ini saya fokus memastikan mereka bisa kembali tampil maksimal. Tentunya ini juga membutuhkan sinergi yang baik dengan pelatih fisik dan tim pelatih secara keseluruhan,” tambahnya. Bagus mengaku bersyukur dapat langsung memperoleh kesempatan berkarier di klub profesional tidak lama setelah menyelesaikan pendidikan profesinya. Ia menilai bahwa pengalaman akademik dan praktik yang diperoleh selama kuliah menjadi bekal utama dalam menghadapi dunia kerja. “Saya bersyukur tidak perlu menunggu lama setelah lulus profesi untuk mendapatkan peluang ini. Ilmu yang didapat selama perkuliahan, ditambah pengalaman di berbagai stase praktik, sangat membantu dalam membentuk kesiapan saya di dunia profesional,” ungkapnya. Selain itu, keterlibatannya dalam PhysioSET, sebuah wadah pembinaan minat fisioterapi olahraga, turut berkontribusi dalam mengasah kompetensinya di bidang sports physiotherapy. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapi UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis, menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih alumni. Ia menilai perkembangan alumni saat ini menunjukkan bahwa lulusan fisioterapi UMM mampu beradaptasi dan berkembang di berbagai sektor profesional. “Kami bangga melihat progres para alumni. Apa yang sebelumnya menjadi harapan, kini telah menjadi realitas. Mahasiswa yang dulu kami dampingi kini telah berkembang menjadi rekan sejawat yang profesional dan berdaya saing tinggi,” ujarnya. Kehadiran alumni di level kompetisi profesional seperti Pro Futsal League menjadi bukti bahwa lulusan fisioterapi tidak hanya berperan di layanan kesehatan konvensional, tetapi juga memiliki peluang besar dalam dunia olahraga prestasi. Hal ini sekaligus mempertegas pentingnya penguatan kompetensi berbasis praktik dan pengalaman lapangan dalam pendidikan fisioterapi. Penulis dan Editor Bayu Prastowo