Fisioterapi UMM Hadirkan President Sudanese Physiotherapy Association dalam International Guest Lecturer

Foto Bersama Pimpinan Universitas, Fakultas, Program Studi dan Pemateri

Program Studi S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat jejaring internasional melalui penyelenggaraan International Guest Lecturer yang digelar di Auditorium GKB 5 pada Rabu (13/5/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi sekaligus praktisi fisioterapi internasional, Dr. Ahmed Habeeb Alsiddig Mohamed dari Department of Physiotherapy, Al Neelain University, Sudan. Selain aktif sebagai dosen, Dr. Ahmed saat ini juga menjabat sebagai Dean of Physiotherapy Al Neelain University serta President of the Sudanese Physiotherapy Association. Kegiatan ini di hardiri oleh Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), apt. Sendi Lia Yunita, S.Farm., M.Sc. Kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa atmosfer internasional yang terus dibangun di UMM menjadi modal penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi persaingan global. “Patut kita syukuri bahwa UMM memiliki atmosfer internasional yang kuat. Fisioterapi juga merupakan profesi dengan standar kompetensi yang relatif seragam di berbagai negara, sehingga keilmuan dan praktiknya dapat diaplikasikan secara global. Ini yang menjadikan fisioterapi memiliki posisi yang sangat strategis,” ungkapnya. Menurut Muhamad Salis Yuniardi, penguatan kerja sama internasional bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi langkah konkret dalam memperluas akses mahasiswa dan dosen terhadap pengalaman akademik lintas negara. Dalam sesi diskusi akademik, Muhamad Salis Yuniardi bersama Dr. Ahmed juga membahas sejumlah peluang pengembangan kerja sama antara UMM dan Al Neelain University. Beberapa komitmen yang dibangun mencakup penguatan student mobility, pertukaran tenaga pengajar, hingga peluang joint research di bidang fisioterapi dan kesehatan. Dr. Ahmed menyampaikan bahwa pihaknya sangat terbuka untuk menjalin kolaborasi akademik secara lebih luas bersama Fisioterapi UMM. “Kami siap menerima berbagai aktivitas mahasiswa, baik dari UMM ke Al Neelain University maupun sebaliknya. Selain itu, peluang pertukaran dosen dan penelitian bersama juga sangat memungkinkan untuk dikembangkan ke depan,” ujarnya. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya internasionalisasi yang terus didorong oleh Fisioterapi UMM, khususnya dalam memperkuat kualitas pendidikan berbasis global serta membuka peluang kolaborasi akademik lintas negara. Melalui forum internasional seperti ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan keilmuan global, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai tantangan dan perkembangan fisioterapi di berbagai negara. Hal tersebut diharapkan mampu membentuk lulusan yang adaptif, kompetitif, dan siap bersaing dalam ekosistem kesehatan internasional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Fisioterapi UMM Gandeng IPTA Gelar Dry Needling Certification Bertaraf Internasional

Praktik CDNP Bersama Instruktur IPTA

Departemen Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat pengembangan kompetensi fisioterapis melalui kerja sama internasional bersama The International Physical Therapy Academic (IPTA) dalam penyelenggaraan Dry Needling Certification Program. Program sertifikasi tersebut berlangsung pada 8–12 April 2026 di Lantai 4 GKB 5 UMM dan diikuti secara terbatas oleh 30 peserta fisioterapis dari berbagai daerah di Indonesia. Pembatasan jumlah peserta dilakukan untuk memastikan efektivitas pembelajaran, khususnya pada sesi praktik klinis dan hands-on training. IPTA sendiri merupakan lembaga pelatihan internasional yang berdiri sejak 2019 dan telah memiliki akreditasi dari International Board of Dry Needling serta terdaftar sebagai Approved CPD Provider by CPD Group UK. Kolaborasi ini menjadi salah satu langkah strategis UMM dalam menghadirkan pelatihan fisioterapi berbasis standar internasional di Indonesia. Program sertifikasi ini memuat berbagai materi komprehensif terkait pendekatan dry needling, mulai dari Dry Needling Theory and Application, Practical Hands-On, Safety Protocol, Ethical Guideline, hingga Clinical Evidence dalam praktik fisioterapi modern. Peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga dibekali kemampuan praktik klinis secara langsung dengan pendekatan berbasis evidence-based practice. Di akhir pelatihan, peserta yang dinyatakan kompeten akan memperoleh gelar nonformal CDNP (Certified Dry Needling Practitioner). Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph.D, menjelaskan bahwa penguatan sertifikasi kompetensi internasional menjadi salah satu kebutuhan penting dalam perkembangan profesi fisioterapi saat ini. “Dunia fisioterapi berkembang sangat cepat. Saat ini kompetensi tambahan berbasis sertifikasi profesional menjadi nilai lebih bagi fisioterapis, khususnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan daya saing global,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa dry needling hanya menjadi salah satu bagian dari pengembangan kompetensi profesional fisioterapis ke depan. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan sertifikasi profesional nantinya akan berkembang pada berbagai pendekatan terapi lain di luar penanganan muskuloskeletal. “Ke depan sertifikasi profesional kemungkinan tidak hanya berfokus pada pendekatan muskuloskeletal melalui dry needling, tetapi juga berkembang pada berbagai bidang fisioterapi lain sesuai kebutuhan layanan kesehatan modern,” tambahnya. Melalui program ini, Fisioterapi UMM berharap mampu menjadi salah satu pusat pengembangan kompetensi fisioterapi berbasis internasional di Indonesia, sekaligus membuka akses bagi fisioterapis untuk memperoleh pelatihan profesional yang terstandar global tanpa harus mengikuti pelatihan di luar negeri. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Fisioterapi UMM Tunjukkan Rentetan Peluang Karir Fisioterapi di Hadapan Siswa SMK 4 Pancasila Jember

Sesi Foto Bersama FIKES UMM Dengan SMK 4 Pancasila Ambulu Jember

Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan kampus dari siswa/siswi SMK 4 Pancasila Ambulu Jember dalam rangka campus visit yang dilaksanakan di lingkungan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM. Kegiatan ini menjadi momentum pengenalan dunia perkuliahan sekaligus membuka wawasan siswa terkait peluang studi lanjutan di bidang kesehatan, Sabtu (9/5/2026). Kegiatan dibuka dengan sambutan hangat dari Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D.,  yang menyampaikan apresiasi dan rasa senangnya dapat menerima kunjungan para siswa dari Jember. Dalam sambutannya, beliau berharap kegiatan campus visit ini dapat memberikan gambaran nyata mengenai lingkungan akademik dan peluang pengembangan diri di UMM. Sementara itu, Kepala SMK 4 Pancasila Ambulu Jember, Johan Budi Respati, S.Pd turut menyampaikan rasa bahagianya atas sambutan yang diberikan oleh pihak UMM. Ia mengungkapkan bahwa kunjungan ini menjadi pengalaman pertama dalam kurun waktu 10 tahun sekolahnya melaksanakan kunjungan kampus ke perguruan tinggi. “Kami sangat senang diterima dengan baik di UMM. Harapannya, kunjungan ini tidak hanya membuka horizon siswa untuk melanjutkan studi ke UMM, tetapi juga menjadi awal terjalinnya kerja sama yang baik dengan FIKES UMM,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut, Program Studi Fisioterapi UMM turut ambil bagian dengan memberikan pemaparan mengenai profil program studi kepada para siswa. Meski SMK 4 Pancasila Ambulu memiliki dua jurusan utama yakni Keperawatan dan Farmasi, hal tersebut tidak menutup kemungkinan bagi para siswa untuk melanjutkan pendidikan di bidang fisioterapi. Pemaparan profil Prodi Fisioterapi disampaikan oleh Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si yang mengenalkan berbagai keunggulan program studi, peluang karier lulusan, hingga kiprah alumni Fisioterapi UMM di tingkat nasional maupun internasional. Antusiasme siswa terlihat tinggi saat mendengar cerita keberhasilan alumni Fisioterapi UMM asal Jember. Salah satunya adalah Dian Erfianto yang kini sukses membuka layanan fisioterapi “Jember Fisio” di Kota Jember. Selain itu, terdapat pula Yosika Septi yang saat ini berkarier sebagai researcher di Taipei, Taiwan. Kisah para alumni tersebut menjadi inspirasi tersendiri bagi para siswa bahwa lulusan fisioterapi memiliki peluang karier yang luas, baik sebagai praktisi kesehatan, entrepreneur, maupun peneliti di tingkat internasional. Melalui kegiatan ini, Fisioterapi UMM berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk berkontribusi di bidang kesehatan melalui profesi fisioterapi. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah

Fisioterapi UMM Dorong Pendekatan Biopsikososial dalam Layanan Rehabilitasi Sosial Dinsos Jatim

Koordinasi Dinas Sosial Jawa Timur, Profesi Fisioterapis UMM dan PIC COE Sosiologi

Program Pendidikan Profesi Fisioterapis bersama Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tengah menyiapkan kolaborasi lintas disiplin dalam mendukung program rehabilitasi sosial milik Dinas Sosial Jawa Timur melalui layanan “Omah Therapi-Ku” di Balai Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Sidoarjo. Program tersebut menjadi bagian dari penguatan layanan rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat yang diusung Dinas Sosial Jawa Timur pada 2026. Salah satu fokus utamanya ialah menghadirkan layanan terapi gratis berbasis pendekatan sosial dan kesehatan bagi masyarakat rentan. Layanan “Omah Therapi-Ku” sendiri dijadwalkan akan diresmikan pada 19 Mei 2026. Kolaborasi ini mengintegrasikan pendekatan fisioterapi dengan pendekatan sosial dalam proses rehabilitasi masyarakat. Tidak hanya berorientasi pada pemulihan fungsi fisik, program tersebut juga menempatkan aspek sosial sebagai bagian penting dalam proses pemulihan kualitas hidup masyarakat. Dalam koordinasi bersama jajaran Balai PMKS Sidoarjo, Wakil Kepala Dinas Sosial sekaligus perwakilan balai, Whiwhin Sri Wahyuningrum, S.Sos., menyampaikan apresiasinya terhadap sinergi yang dibangun bersama UMM. “Kami sangat berterima kasih atas silaturahmi yang terjalin antara universitas dengan Dinas Sosial. Hubungan ini memberikan dampak baik bagi masyarakat dan kami sangat senang dapat menjadi laboratorium terapan bagi Fisioterapi maupun Sosiologi. Ini merupakan langkah awal sehingga ke depan kami masih banyak belajar bersama tim fisioterapi, termasuk dalam pengembangan sarana dan prasarana layanan,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapi UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menegaskan bahwa keterlibatan fisioterapi dalam program sosial menjadi bentuk nyata dukungan kampus terhadap program pemerintah sekaligus penguatan pendidikan berbasis komunitas. “Kami siap mendukung program pemerintah. Ke depan, beberapa stase fisioterapi yang relevan akan kami tempatkan di Dinas Sosial sebagai upaya pemenuhan wahana praktik sekaligus memberikan gambaran kepada mahasiswa dan masyarakat bahwa fisioterapi mampu bersinergi dengan berbagai disiplin ilmu, termasuk sosiologi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa fisioterapi modern tidak hanya berorientasi pada aspek biologis dan fisik semata, tetapi juga mengedepankan pendekatan biopsikososial dalam proses intervensi. “Fisioterapi memiliki pendekatan berbasis biopsikososial. Artinya, aspek sosial menjadi salah satu parameter penting dalam menentukan keberhasilan intervensi fisioterapi,” tambahnya. Koordinasi lintas sektor tersebut diinisiasi oleh Kepala Laboratorium Sosiologi UMM, Ahmad Arrozy, M.Sos., yang juga menjadi penanggung jawab Centre of Excellence (CoE) Sosiologi bertema Professional Manager Berparadigma Sosiologis. Menurutnya, kolaborasi antara bidang kesehatan dan sosial menjadi kebutuhan penting dalam menjawab kompleksitas persoalan kesejahteraan masyarakat saat ini. Melalui program ini, UMM tidak hanya memperkuat peran perguruan tinggi dalam bidang pendidikan dan penelitian, tetapi juga mempertegas kontribusi nyata kampus dalam mendukung pembangunan kesehatan berbasis pemberdayaan sosial di masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Tak Sekadar Seremoni, Sumpah Profesi Fisioterapis UMM Tarik Perhatian Industri Kesehatan

Perwakilan Bio One Center di Kegiatan Sumpah Profesi Fisioterapis Angkatan Ke-XI Universitas Muhammadiyah Malang

Prosesi Sumpah Profesi Fisioterapis Angkatan ke-XI Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), tidak hanya menjadi momentum sakral bagi para lulusan, tetapi juga menarik perhatian berbagai instansi layanan kesehatan dan industri kesehatan nasional. Kegiatan yang berlangsung di Grand Mercure Malang Mirama pada Rabu (6/5/2026) tersebut turut dihadiri langsung oleh perwakilan dari Bio Healing Center sebagai bentuk ketertarikan industri terhadap kualitas lulusan fisioterapi UMM. Kehadiran berbagai mitra layanan kesehatan dalam prosesi sumpah profesi menjadi sinyal positif bahwa lulusan fisioterapi UMM semakin diperhitungkan di dunia kerja. Tidak hanya rumah sakit dan klinik, sektor industri kesehatan dan olahraga kini juga mulai membuka peluang yang lebih luas bagi profesi fisioterapis. Dalam beberapa tahun terakhir, lulusan Fisioterapi UMM dikenal memiliki daya saing yang baik dengan tren lulusan yang cepat terserap di dunia kerja. Penguatan kompetensi klinis, pengalaman praktik di berbagai wahana layanan kesehatan, hingga keterlibatan mahasiswa dalam penelitian dan pengabdian masyarakat menjadi faktor yang memperkuat kualitas lulusan. Momentum sumpah profesi ini sekaligus menjadi ruang bertemunya institusi pendidikan dengan dunia industri kesehatan. Selain sebagai seremoni akademik, kegiatan ini juga membuka peluang jejaring kerja sama, rekrutmen lulusan, hingga pengembangan kompetensi fisioterapi berbasis kebutuhan industri dan masyarakat. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menyampaikan bahwa keterlibatan berbagai instansi dalam prosesi sumpah profesi menunjukkan meningkatnya kepercayaan terhadap lulusan fisioterapi UMM. “Kehadiran berbagai mitra layanan kesehatan dan industri menjadi bukti bahwa lulusan fisioterapi UMM memiliki kualitas dan potensi yang dibutuhkan di dunia kerja. Ini juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan kompetensi lulusan,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, Profesi Fisioterapis UMM kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak fisioterapis profesional yang adaptif, kompetitif, serta mampu menjawab kebutuhan layanan kesehatan modern yang terus berkembang. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Lulusan Terbaik Profesi Fisioterapis UMM Langsung Direkrut Klub Profesional Futsal

Mahasiswa Terbaik Pendidikan Profesi Fisioterapis Angkatan XI Universitas Muhammadiyah Malang

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar prosesi Sumpah Profesi Fisioterapis Angkatan Ke-XI. Bertempat di Grand Mercure Malang Mirama, sebanyak 47 fisioterapis baru resmi disumpah dalam acara yang berlangsung khidmat, Rabu (6/5/2026). Sumpah profesi ini menjadi penegasan konsistensi Fisioterapi UMM dalam mencetak tenaga kesehatan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap terjun dan terserap di dunia kerja. Dalam beberapa tahun terakhir, lulusan Fisioterapi UMM dikenal memiliki daya saing tinggi dan cepat memperoleh peluang karier di berbagai sektor layanan kesehatan maupun olahraga profesional. Salah satu sosok yang menjadi perhatian dalam prosesi kali ini adalah Bagus Prasetyo Pamungkas, yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4.0. Tidak hanya mencatatkan prestasi akademik yang impresif, Bagus juga aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan diri sejak jenjang sarjana hingga profesi. Menariknya, tidak lama setelah dinyatakan lulus, Bagus langsung mendapatkan kesempatan berkarier sebagai fisioterapis di klub Maestro FC Solo yang berkompetisi di Professional Futsal League 2 Indonesia. Capaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa lulusan fisioterapi UMM mampu bersaing dan dipercaya di level profesional, termasuk pada bidang sport physiotherapy yang kini semakin berkembang di Indonesia. Selama menempuh pendidikan, Bagus dikenal aktif dalam kegiatan akademik maupun kemahasiswaan. Ia pernah memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), aktif dalam kegiatan berbasis komunitas, serta produktif menghasilkan publikasi ilmiah pada jurnal terindeks SINTA dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Pada jenjang profesi, ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat berbasis komunitas yang memperkuat kompetensi klinis dan sosialnya sebagai calon fisioterapis profesional. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, menyampaikan bahwa tren positif lulusan yang langsung terserap di dunia kerja terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. “Alhamdulillah, ini merupakan sumpah profesi yang ke-XI, dan hingga saat ini tren lulusan yang langsung bekerja tidak pernah terputus. Ini menjadi indikator bahwa lulusan Fisioterapi UMM memang dibutuhkan dan dipercaya oleh dunia kerja,” ujarnya. Menurutnya, keberhasilan lulusan tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik, tetapi juga kesiapan menghadapi dunia praktik, kemampuan komunikasi profesional, serta pengalaman klinis dan komunitas yang diperoleh selama pendidikan. Keberhasilan Bagus menjadi representasi nyata dari sistem pendidikan yang diterapkan di Fisioterapi UMM, yaitu mengintegrasikan keunggulan akademik, praktik klinis, penelitian, serta kontribusi nyata kepada masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai mampu menghasilkan lulusan yang adaptif, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan dunia kesehatan modern. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah

Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Angkatan Ke-XI Berikan Sumbangsih Karya Tulis Ilmiah dan Hak Kekayaan Intelektual

Prosesi Angkat Sumpah Oleh Dekan FIKES UMM dan Disaksikan Oleh Ketua IFI Cab. Kab. Malang

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar prosesi angkat sumpah bagi mahasiswa profesi fisioterapis Angkatan ke-XI. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat di Grand Mercure Malang Mirama pada Rabu (6/5/2026). Prosesi sumpah secara resmi dikukuhkan oleh Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp. FRS., serta disaksikan langsung oleh Ketua Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) Cabang Kabupaten Malang, Tugiyo, SST.Ft. Sebanyak 47 mahasiswa profesi fisioterapis mengikuti prosesi tersebut setelah menyelesaikan seluruh tahapan pendidikan profesi dan dinyatakan memenuhi kompetensi sebagai tenaga kesehatan fisioterapi profesional. Tidak hanya menunjukkan capaian akademik, lulusan profesi tahun ini juga mencatat kontribusi ilmiah yang cukup signifikan. Selama proses pendidikan, para mahasiswa berhasil menghasilkan 46 publikasi pada jurnal nasional serta 33 karya ilmiah inovatif yang tercatat dalam Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Capaian tersebut menjadi indikator penguatan budaya akademik dan riset di lingkungan pendidikan profesi fisioterapi UMM. Dalam sambutannya, Tugiyo menyampaikan apresiasi terhadap komitmen Fisioterapi UMM dalam menjaga kualitas pendidikan dan pengembangan keilmuan fisioterapi di tengah dinamika layanan kesehatan yang berkembang sangat cepat. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Fisioterapi UMM yang terus berkomitmen memberikan penyegaran keilmuan di tengah perkembangan dunia kesehatan yang sangat dinamis saat ini. Ini menjadi modal penting bagi lulusan untuk mampu bersaing dan beradaptasi di dunia kerja,” ujarnya. Ia juga berpesan agar para fisioterapis baru tidak berhenti pada capaian akademik semata, tetapi terus mengembangkan kompetensi dan karier profesional secara berkelanjutan. “Kami berharap lulusan tidak hanya berkembang pada level institusional, tetapi juga memiliki keberanian untuk mandiri, termasuk melalui pengembangan praktik fisioterapi mandiri sebagai bagian dari kontribusi profesi kepada masyarakat,” tambahnya. Prosesi sumpah profesi menjadi tahapan penting dalam perjalanan seorang fisioterapis, karena menandai perubahan status dari mahasiswa menjadi tenaga kesehatan profesional yang memiliki tanggung jawab etik, moral, dan kompetensi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Profesi Fisioterapis UMM Resmi Kukuhkan 47 Fisioterapis Baru Yang Tersertifikasi Nasional

Pelaporan Akademik Pendidikan Profesi Fisioterapis oleh Ketua Program Studi Fisioterapis, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan capaian membanggakan. Sebanyak 47 fisioterapis baru resmi mengucapkan sumpah profesi dalam prosesi yang berlangsung khidmat di Grand Mercure Malang Mirama, Rabu (6/5/2026). Prosesi sumpah profesi tersebut turut dihadiri Wakil Rektor I UMM, jajaran dekanat Fakultas Ilmu Kesehatan, serta para pembimbing lahan praktik (clinical instructor) dari berbagai rumah sakit dan puskesmas yang selama ini menjadi mitra pendidikan profesi fisioterapi UMM. Sumpah profesi menjadi penanda resmi perubahan status lulusan dari mahasiswa menjadi tenaga kesehatan profesional yang siap mengabdi kepada masyarakat. Sebelumnya, para lulusan telah menjalani pendidikan profesi selama dua semester dengan praktik klinik intensif di berbagai fasilitas layanan kesehatan, mulai dari rumah sakit, puskesmas, hingga layanan berbasis komunitas. Dalam laporan akademik yang disampaikan pada prosesi tersebut, capaian lulusan tahun ini menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sebanyak 98 persen peserta dinyatakan lulus Uji Kompetensi (UKOM), termasuk pada komponen CBT dan OSCE. Selain itu, para lulusan juga menghasilkan berbagai luaran akademik berupa publikasi jurnal ilmiah dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), yang memperkuat posisi lulusan sebagai fisioterapis berbasis evidence-based practice. Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih para lulusan. Menurutnya, kualitas lulusan fisioterapi UMM terus menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. “Capaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh civitas akademika, termasuk mahasiswa, dosen, serta para pembimbing klinik di lahan praktik. Tingkat kelulusan yang tinggi pada uji kompetensi menjadi indikator bahwa lulusan kita memiliki kompetensi yang baik dan siap bersaing di dunia kerja,” ujarnya. Ia juga menyoroti meningkatnya kebutuhan tenaga fisioterapi di berbagai sektor layanan kesehatan. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang besar bagi para lulusan untuk segera terserap di dunia kerja. “Kebutuhan fisioterapis di rumah sakit, klinik, hingga layanan kesehatan komunitas terus meningkat. Ini menjadi peluang besar bagi lulusan untuk langsung bekerja dan berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tambahnya. Tidak hanya berfokus pada kelulusan akademik, pendidikan profesi fisioterapi UMM juga menekankan pembentukan karakter profesional, kemampuan komunikasi klinis, serta penguatan clinical reasoning sebagai bekal menghadapi tantangan pelayanan kesehatan modern. Dengan disumpahnya 47 fisioterapis baru ini, UMM kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak tenaga kesehatan profesional yang unggul, adaptif, beretika, dan siap menghadapi tantangan global di bidang fisioterapi. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah

Dosen Fisioterapi UMM Ikuti Dialog Strategis Guna Menyambut Transformasi Pendidikan Tinggi

Suasana Dialog Pimpinan Dekanat dan Rektorat

Program Studi S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti kegiatan Dialog Pimpinan antara Fakultas Ilmu Kesehatan dengan pimpinan universitas yang berlangsung di lingkungan UMM. Dialog tersebut menjadi ruang strategis dalam membahas arah pengembangan perguruan tinggi, penguatan daya saing program studi, hingga transformasi pendidikan kesehatan menghadapi tantangan global, Senin (4/5/2026). Dalam pemaparannya, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menegaskan bahwa dunia pendidikan tinggi saat ini tengah menghadapi perubahan besar yang menuntut perguruan tinggi untuk terus bertransformasi secara dinamis. Menurutnya, perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menjadi penyelenggara pendidikan, tetapi harus mampu menjadi pusat solusi yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa perubahan lanskap pendidikan tinggi saat ini dipengaruhi oleh ketatnya kompetisi antar perguruan tinggi, meningkatnya ekspektasi industri terhadap lulusan, serta kebutuhan mahasiswa terhadap pengalaman belajar yang lebih aplikatif dan relevan dengan dunia kerja. Karena itu, UMM mendorong seluruh program studi untuk memperkuat pendekatan Outcome Based Education (OBE), Problem Based Learning (PBL), hingga penguatan Center of Excellence (CoE) sebagai bagian dari transformasi pendidikan modern. Dalam konteks Program Studi Fisioterapi, arah pengembangan tersebut dinilai sangat relevan dengan kebutuhan dunia kesehatan saat ini. Penguatan kompetensi klinis, internasionalisasi kurikulum, sertifikasi kompetensi, hingga keterlibatan mahasiswa dalam praktik berbasis industri kesehatan menjadi fokus penting yang terus dikembangkan oleh Fisioterapi UMM. Rektor juga menyoroti bahwa perguruan tinggi swasta saat ini telah berada pada posisi yang semakin kompetitif dan mandiri. Menurutnya, kualitas perguruan tinggi tidak lagi ditentukan oleh status negeri atau swasta, tetapi oleh kemampuan institusi dalam menghasilkan lulusan unggul, inovasi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Perguruan tinggi swasta hari ini lahir dalam kondisi yang mandiri dan kompetitif. Karena itu, kita harus percaya diri bahwa kualitas yang kita miliki mampu bersaing dengan perguruan tinggi lain,” ungkapnya. Selain membahas transformasi pendidikan tinggi, dialog ini juga menjadi upaya memperkuat kedekatan antara pimpinan universitas dengan warga fakultas. Forum tersebut dimanfaatkan untuk mendiskusikan berbagai tantangan aktual di dunia perguruan tinggi, termasuk penyesuaian indikator pendidikan tinggi terkini, dinamika akreditasi, penguatan reputasi internasional, hingga strategi peningkatan daya tarik mahasiswa baru. Melalui dialog tersebut, Program Studi Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM menegaskan komitmennya untuk terus beradaptasi dengan perkembangan global melalui penguatan kualitas akademik, internasionalisasi, riset, serta kolaborasi dengan dunia industri dan layanan kesehatan. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Mahasiswa Fisioterapi UMM Raih Medali Emas di Kejuaraan Pencak Silat IPSI Kota Malang 2026

St. Salsabila Mahasiswa Fisioterapi Gen 25 Peraih Medali Emas Cabang Seni Tunggal Dewasa Putri

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mahasiswa Program Studi Fisioterapi UMM Gen 25, St. Salsabila, berhasil meraih Medali Emas pada kategori Seni Tunggal Dewasa Putri dalam ajang Kejuaraan Pencak Silat IPSI Kota Malang 2026 yang berlangsung di GOR Ken Arok, Minggu (3/5/2026). Kejuaraan tersebut berlangsung meriah dengan diikuti oleh berbagai kontingen dari sejumlah daerah di Jawa Timur. Ajang ini berfokus pada pembinaan atlet muda, peningkatan sportivitas, serta persiapan atlet menuju kompetisi bergengsi seperti O2SN, POPDA, PORPROV, hingga POPNAS. Ketua Pelaksana, Muhammad Santosa, S.H., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam menjaring bibit atlet potensial untuk dipersiapkan pada berbagai kompetisi tingkat regional maupun nasional. “Kegiatan ini merupakan upaya mencari bibit atlet muda pencak silat guna diproyeksikan ke ajang-ajang besar seperti Porprov dan kejuaraan lainnya,” ujarnya. Keberhasilan St. Salsabila menjadi bukti bahwa mahasiswa fisioterapi tidak hanya mampu berkembang dalam bidang akademik, tetapi juga mampu menunjukkan prestasi di bidang olahraga dan seni bela diri. Raihan medali emas tersebut sekaligus memperlihatkan semangat disiplin, konsistensi latihan, serta kemampuan menjaga performa fisik dan mental di tengah aktivitas perkuliahan. Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., memberikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, mahasiswa perlu terus didorong untuk berkembang secara menyeluruh, baik dalam aspek akademik maupun non-akademik. “Mahasiswa harus terus berkembang, tidak hanya dalam potensi akademik tetapi juga non-akademik. Kegiatan seperti ini menjadi wadah positif dalam membentuk karakter, sportivitas, disiplin, dan mental kompetitif mahasiswa ke depan,” ungkapnya. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan potensi diri melalui berbagai bidang yang diminati. Selain sebagai ajang pencapaian prestasi, keterlibatan mahasiswa dalam kompetisi olahraga juga dinilai mampu membangun karakter tangguh, kerja keras, serta keseimbangan antara akademik dan pengembangan diri. Penulis dan Editor Bayu Prastowo