Bergerak Bersama Disabilitas, Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Lakukan POSDILAN di Desa Turirejo

Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut ambil bagian dalam kegiatan Posyandu Disabilitas yang diselenggarakan di Desa Turirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Kegiatan ini merupakan program rutin Puskesmas Lawang dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup penyandang disabilitas di masyarakat. Keterlibatan mahasiswa profesi fisioterapis UMM tersebut menjadi bagian dari implementasi stase komunitas dan geriatri yang saat ini sedang dijalani. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya membantu pelayanan kesehatan, tetapi juga mendampingi peserta secara langsung melalui pendekatan promotif, preventif, hingga edukatif berbasis fisioterapi komunitas. Kegiatan ini berlangsung di bawah pendampingan langsung Clinical Educator Puskesmas Lawang, Nadya Setyarini Farizka, A.Md.Kep., serta dosen pembimbing profesi, Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si. Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan proses pelayanan berjalan optimal sekaligus memberikan pengalaman klinis yang nyata kepada mahasiswa profesi. Rangkaian kegiatan diawali dengan senam bersama yang dipandu oleh mahasiswa fisioterapi UMM. Melalui gerakan-gerakan sederhana dan adaptif, peserta diajak untuk tetap aktif bergerak guna menjaga fleksibilitas, kekuatan otot, keseimbangan, serta kemampuan fungsional tubuh. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme dari para peserta maupun keluarga pendamping. Selain aktivitas fisik bersama, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan berupa pengecekan tekanan darah, pemeriksaan kondisi fisik umum, serta skrining sederhana terkait keluhan gerak dan fungsi tubuh peserta. Pemeriksaan tersebut dilakukan sebagai langkah promotif dan preventif untuk mendeteksi risiko gangguan kesehatan sejak dini. Mahasiswa profesi fisioterapis UMM juga memberikan edukasi mengenai pentingnya aktivitas fisik rutin, latihan sederhana yang dapat dilakukan di rumah, hingga cara menjaga kesehatan dan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari bagi penyandang disabilitas maupun lansia. Edukasi diberikan dengan pendekatan komunikatif agar mudah dipahami oleh peserta dan keluarganya. Tidak hanya itu, kegiatan Posyandu Disabilitas juga dilengkapi dengan layanan konsultasi fisioterapi. Dalam sesi tersebut, peserta dapat menyampaikan berbagai keluhan seperti nyeri sendi dan otot, keterbatasan gerak, gangguan keseimbangan, hingga kesulitan melakukan aktivitas fungsional sehari-hari. Mahasiswa bersama tim pendamping memberikan arahan latihan sederhana serta edukasi penanganan awal sesuai dengan kondisi masing-masing peserta. Kegiatan ini menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa profesi fisioterapis UMM dalam memahami pelayanan kesehatan berbasis komunitas secara holistik. Fisioterapi tidak hanya berfokus pada terapi kuratif, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat, peningkatan kualitas hidup, serta pencegahan komplikasi melalui pendekatan yang aktif dan partisipatif. Melalui kegiatan Posyandu Disabilitas ini, diharapkan upaya peningkatan kesehatan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas dan lansia, dapat terus berjalan secara berkelanjutan serta memperkuat pelayanan kesehatan promotif dan preventif di tingkat masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Dosen Fisioterapi UMM Ikuti Pelatihan Applied Approach untuk Perkuat Inovasi Pembelajaran

Dosen Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si., tengah mengikuti pelatihan Applied Approach (AA) yang berlangsung pada 19–26 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan penguatan kompetensi pedagogik dosen di lingkungan pendidikan tinggi. Pelatihan AA tersebut membahas berbagai materi strategis yang berkaitan dengan pengembangan sistem pembelajaran modern di perguruan tinggi. Beberapa topik yang dibahas meliputi Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan Tinggi, Manajemen Mutu Terpadu, Evaluasi Proses Pembelajaran, Pengembangan Pembelajaran Aktif dan Inovatif, hingga Penerapan Literasi dalam Pembelajaran. Selain itu, peserta juga mendapatkan penguatan terkait Pembelajaran Berbasis Laboratorium, Pembelajaran Berbasis Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Asesmen Alternatif, serta Pemanfaatan Manajemen Referensi dalam Pengembangan Sumber Belajar dan Penulisan Karya Ilmiah. Pelatihan ini turut membahas Rekonstruksi Perencanaan Pembelajaran, peningkatan kualitas pembelajaran melalui lesson study, hingga rekonstruksi metode pembelajaran berbasis student-centered learning. Kegiatan ini menjadi langkah penting bagi dosen fisioterapi dalam menyesuaikan sistem pembelajaran dengan tantangan pendidikan kesehatan modern yang semakin dinamis. Terlebih, pendidikan fisioterapi tidak hanya menuntut penguasaan teori, tetapi juga kemampuan integrasi praktik klinis, clinical reasoning, dan pendekatan berbasis evidence-based practice. Dalam keterangannya, Bayu Prastowo menyampaikan bahwa transformasi pendidikan tinggi menuntut dosen untuk tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aktif, reflektif, dan aplikatif bagi mahasiswa. “Mahasiswa kesehatan saat ini membutuhkan metode pembelajaran yang lebih kontekstual dan berbasis kasus. Karena itu, dosen juga harus terus meningkatkan kapasitas pedagogiknya agar proses pembelajaran lebih efektif serta relevan dengan kebutuhan praktik klinis modern,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa pembelajaran fisioterapi saat ini harus mampu mengintegrasikan aspek akademik, praktik laboratorium, hingga pendekatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu ekosistem pembelajaran yang berkesinambungan. Pelatihan Applied Approach turut mendorong dosen untuk mengembangkan inovasi pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu, tetapi juga pada pembentukan kemampuan berpikir kritis, komunikasi profesional, kolaborasi interprofesional, serta penguatan etika akademik mahasiswa. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen institusi untuk menjaga mutu pendidikan dan meningkatkan kualitas lulusan. Melalui peningkatan kapasitas dosen secara berkelanjutan, diharapkan proses pembelajaran di lingkungan S1 Fisioterapi UMM semakin mampu menghasilkan tenaga fisioterapis yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global di bidang kesehatan. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Menuju Kelas Internasional, Fisioterapi UMM Siapkan Sistem Pembelajaran untuk Mahasiswa Italia dan Thailand

Program Studi S1 Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar rapat koordinasi persiapan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 UMM. Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis program studi dalam memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus mempersiapkan internasionalisasi pendidikan fisioterapi, Senin (25/5/2026). Rapat koordinasi tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., dan diikuti oleh seluruh dosen di lingkungan Program Studi Fisioterapi. Dalam koordinasi tersebut, sejumlah agenda penting menjadi fokus pembahasan, mulai dari evaluasi proses pembelajaran semester yang sedang berjalan, pemetaan beban mengajar dosen untuk Semester Ganjil 2026/2027, hingga persiapan penerimaan mahasiswa student exchange dari Università di Firenze, Italia. Kehadiran mahasiswa internasional tersebut menjadi salah satu langkah konkret Program Studi Fisioterapi UMM dalam memperluas jejaring akademik global sekaligus memperkuat atmosfer internasional di lingkungan pembelajaran. Karena itu, program studi mulai melakukan penyesuaian terhadap berbagai aspek akademik, termasuk penguatan bahan ajar dan penggunaan sistem pembelajaran berbasis kelas internasional. Dalam arahannya, Dimas Sondang Irawan menegaskan bahwa internasionalisasi tidak hanya dimaknai sebagai kerja sama antar universitas, tetapi juga kesiapan sistem pembelajaran, dosen, serta mahasiswa dalam menghadapi dinamika pendidikan global. “Kehadiran mahasiswa internasional harus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas akademik secara menyeluruh. Karena itu, bahan ajar, pendekatan pembelajaran, hingga atmosfer kelas perlu disiapkan,” ujarnya. Selain persiapan program student exchange dari Italia, dalam waktu dekat Program Studi Fisioterapi UMM juga akan menjadi wahana perkuliahan komunitas bagi mahasiswa program magister dari Mahidol University, Thailand. Program tersebut direncanakan berfokus pada penguatan pendekatan fisioterapi komunitas dan praktik berbasis masyarakat. Keterlibatan mahasiswa internasional dari dua negara berbeda tersebut menjadi indikator meningkatnya kepercayaan institusi luar negeri terhadap kualitas pendidikan dan sistem pembelajaran Fisioterapi di UMM. Tidak hanya sebagai tempat belajar akademik, Fisioterapi UMM juga mulai dipandang sebagai wahana praktik lapangan dengan keunggulan pendekatan komunitas dan pelayanan berbasis masyarakat. Selain membahas internasionalisasi, evaluasi proses pembelajaran juga menjadi perhatian utama dalam koordinasi tersebut. Program studi melakukan pemetaan terhadap efektivitas metode pembelajaran, capaian pembelajaran lulusan (learning outcomes), serta integrasi pembelajaran berbasis laboratorium dan praktik klinik. Koordinasi ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen Prodi Fisioterapi UMM dalam menjaga mutu pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan dunia kesehatan dan pendidikan tinggi. Dengan penguatan sistem akademik yang berkelanjutan, Fisioterapi UMM berharap mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara nasional, tetapi juga siap bersaing di tingkat internasional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
HIMATERA CUP 2026 Jadi Ajang Sportivitas dan Solidaritas Mahasiswa Fisioterapi UMM

Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMATERA) Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan ajang tahunan HIMATERA CUP 2026 sebagai wadah pengembangan potensi mahasiswa di bidang akademik maupun non-akademik. Kegiatan ini berlangsung pada 9–16 Mei 2026, bertempat di Ruangan GKB V Lantai 6 UMM, dan diikuti oleh sekitar 155 peserta dari mahasiswa Program Studi Fisioterapi lintas angkatan. HIMATERA CUP 2026 menghadirkan berbagai cabang perlombaan yang memadukan unsur akademik, olahraga, teknologi, dan kreativitas digital. Adapun perlombaan yang diselenggarakan meliputi cerdas cermat, Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), PES/eFootball, futsal putra dan putri, badminton tunggal putra dan putri, badminton ganda campuran, hingga videografi. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang penguatan hubungan antar mahasiswa fisioterapi melalui semangat sportivitas, solidaritas, dan kebersamaan. Selain sebagai sarana hiburan di tengah aktivitas akademik, HIMATERA CUP juga menjadi media untuk mengembangkan minat dan bakat mahasiswa dalam berbagai bidang. Pembina Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMATERA), Ali Multazam, S.Ft., Physio., M.Sc., menyampaikan bahwa kegiatan seperti HIMATERA CUP memiliki peran penting dalam membentuk karakter mahasiswa yang aktif, adaptif, dan mampu bekerja sama dalam tim. “Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki kemampuan komunikasi, kepemimpinan, sportivitas, dan kerja sama tim. HIMATERA CUP menjadi salah satu ruang pembelajaran nonformal yang sangat positif untuk mengembangkan hal tersebut,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kegiatan kemahasiswaan yang sehat dan produktif mampu menciptakan atmosfer organisasi yang lebih solid sekaligus memperkuat rasa kekeluargaan antar mahasiswa fisioterapi. Selama pelaksanaan kegiatan, para peserta juga dituntut untuk melakukan berbagai persiapan, mulai dari latihan sesuai cabang lomba, menjaga kondisi fisik dan mental, memahami sistem pertandingan, hingga membangun koordinasi tim yang baik. Hal tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan soft skill mahasiswa di luar ruang kelas. Melalui HIMATERA CUP 2026, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu berkompetisi secara sehat, tetapi juga membangun jejaring pertemanan, meningkatkan rasa percaya diri, serta menciptakan lingkungan kampus yang aktif dan penuh energi positif. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Cegah Nyeri Kerja, Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Lakukan Pengabdian Masyarakat di Pabrik Hasil Tembakau

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Angkatan Ke-13, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kembali melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat berbasis promotif dan preventif di bidang kesehatan kerja. Salah satu kegiatan tersebut adalah identifikasi risiko postur kerja dan edukasi peregangan bagi pekerja linting rokok di Pabrik Hasil Tembakau Gondanglegi. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Urek-Urek, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, dengan sasaran utama para pekerja linting rokok. Program tersebut dilatarbelakangi oleh tingginya risiko gangguan muskuloskeletal pada pekerja linting rokok yang sebagian besar bekerja dalam posisi duduk statis, membungkuk, serta menundukkan kepala dalam waktu lama disertai gerakan tangan berulang secara terus-menerus. Kondisi kerja seperti ini berpotensi menimbulkan Musculoskeletal Disorders (MSDs), seperti nyeri leher, bahu, punggung, hingga pergelangan tangan. Sebagai upaya preventif, mahasiswa profesi fisioterapis UMM melakukan observasi dan identifikasi postur kerja menggunakan metode Ovako Working Posture Analysis System (OWAS). Metode ini digunakan untuk menganalisis tingkat risiko ergonomi berdasarkan posisi kerja yang dilakukan pekerja selama aktivitas produksi berlangsung. Setelah proses identifikasi, kegiatan dilanjutkan dengan edukasi langsung mengenai pentingnya postur kerja ergonomis serta demonstrasi latihan peregangan sederhana yang dapat dilakukan pekerja di sela aktivitas maupun saat waktu istirahat. Edukasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pekerja akan pentingnya menjaga kesehatan sistem otot dan rangka selama bekerja. Selain penyuluhan secara langsung, tim juga membagikan leaflet dan buku panduan edukasi yang memuat informasi mengenai posisi kerja ergonomis serta panduan peregangan otot sederhana bagi pekerja linting rokok. Media edukasi ini diharapkan dapat menjadi panduan praktis yang mudah dipahami dan diterapkan secara mandiri oleh para pekerja. Kegiatan ini menjadi bentuk implementasi peran fisioterapi tidak hanya pada aspek rehabilitatif, tetapi juga promotif dan preventif di lingkungan kerja. Pendekatan ergonomi dan edukasi kesehatan kerja menjadi bagian penting dalam upaya menjaga produktivitas serta kualitas hidup pekerja. Melalui program pengabdian masyarakat ini, mahasiswa profesi fisioterapis UMM diharapkan mampu mengembangkan kemampuan pola pikir kritis, komunikasi kesehatan, serta pendekatan fisioterapi komunitas yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Turut Andil dalam Peresmian Omah Terapi-KU Jawa Timur

Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut ambil bagian dalam peresmian layanan rehabilitasi sosial berbasis inklusif “Omah Terapi Klien dan Umum (KU)” yang diluncurkan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, di Balai Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (PRS) Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Sidoarjo, Selasa (19/5/2026). Keterlibatan mahasiswa profesi fisioterapis UMM tidak hanya sebatas menghadiri kegiatan pembukaan, tetapi juga terjun langsung sebagai fisioterapis pendamping dalam layanan rehabilitasi yang diberikan kepada masyarakat. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan pengalaman praktik lapangan mahasiswa profesi dalam pendekatan rehabilitasi berbasis komunitas dan sosial. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menjelaskan bahwa pihaknya mengirimkan 4 mahasiswa profesi fisioterapis untuk terlibat langsung dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap program pelayanan kesehatan inklusif Pemerintah Provinsi Jawa Timur. “Kami mendukung penuh program Omah Terapi-KU karena ini menjadi ruang nyata bagi fisioterapi untuk hadir langsung di tengah masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan dan penyandang disabilitas. Mahasiswa profesi juga dapat belajar bagaimana pelayanan rehabilitasi dilakukan secara kolaboratif dan berbasis sosial,” ujarnya. Program Omah Terapi-KU sendiri merupakan inovasi layanan rehabilitasi sosial yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memperluas akses terapi bagi anak berkebutuhan khusus, penyandang disabilitas, lansia, hingga masyarakat kurang mampu. Layanan yang diberikan meliputi fisioterapi, terapi okupasi, terapi integrasi sensorik untuk anak autisme, hingga terapi wicara. Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa layanan ini menjadi bentuk keberpihakan pemerintah terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan rehabilitasi berkelanjutan dengan akses yang inklusif dan terjangkau. “Ini adalah bentuk keadilan sosial dan keberpihakan pemerintah kepada anak berkebutuhan khusus, penyandang disabilitas, lansia, dan masyarakat yang membutuhkan layanan terapi secara berkelanjutan,” ungkapnya. Menurutnya, Omah Terapi-KU dirancang tidak hanya sebagai fasilitas rehabilitasi fisik, tetapi juga sebagai pusat pemulihan yang mengedepankan pendekatan kemanusiaan, empati, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat. Keterlibatan mahasiswa profesi fisioterapis UMM dalam program ini juga menjadi bentuk implementasi pendekatan biopsikososial dalam fisioterapi modern. Tidak hanya berfokus pada pemulihan fungsi gerak, mahasiswa juga belajar memahami kondisi sosial, psikologis, dan lingkungan pasien sebagai bagian dari proses rehabilitasi. Melalui kolaborasi ini, Fisioterapi UMM kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung program pelayanan kesehatan berbasis masyarakat sekaligus memperluas wahana praktik profesi yang adaptif terhadap kebutuhan sosial serta perkembangan layanan rehabilitasi di Indonesia. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Fisioterapi UMM Kembali Perkuat Kapasitas Klinis Dosen melalui Sertifikasi Internasional

Upaya penguatan kompetensi klinis berbasis standar global terus dilakukan oleh Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, dua dosen fisioterapi UMM berhasil menuntaskan pelatihan sekaligus ujian kredensial Dry Needling Certification Program yang diselenggarakan oleh International Physical Therapy Academy (IPTA) Batch 9 di Malang pada 9–12 Mei 2026. Dua dosen yang mengikuti program tersebut ialah Atika Yulianti, SST.Ft., Ftr., M.Fis. dan Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph.D. Keduanya dinyatakan kompeten dan resmi memperoleh gelar nonformal CDNP (Certified Dry Needling Practitioner) setelah menyelesaikan seluruh tahapan pelatihan dan evaluasi praktik klinis. Pelatihan tersebut berfokus pada pengembangan pendekatan dry needling dalam penanganan kasus muskuloskeletal modern. Materi yang diberikan meliputi pemahaman anatomi klinis, clinical reasoning, hands-on application, safety protocol, hingga penerapan evidence-based physiotherapy dalam praktik sehari-hari. Sebagai lembaga pelatihan internasional, IPTA diketahui telah terakreditasi oleh lembaga pendidikan di Inggris dan tercatat sebagai Approved CPD Provider by CPD Group UK. Hal ini menjadikan program sertifikasi tersebut memiliki standar pengembangan profesional yang diakui secara internasional. Atika Yulianti menyoroti bahwa pelatihan tersebut tidak hanya menekankan keterampilan teknis, tetapi juga aspek keselamatan pasien dan ketepatan analisis klinis sebelum melakukan intervensi. “Seorang fisioterapis harus memahami kapan tindakan dilakukan, bagaimana prosedurnya, serta bagaimana mempertimbangkan risiko dan kondisi pasien secara menyeluruh. Karena itu clinical reasoning menjadi aspek yang sangat penting dalam praktik fisioterapi modern,” ujarnya. Melalui capaian ini, Fisioterapi UMM kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang adaptif terhadap perkembangan internasional, sekaligus memperkuat kualitas pendidikan dan pelayanan fisioterapi berbasis kompetensi profesional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Dosen Fisioterapi UMM Tingkatkan Kompetensi Melalui Program Internasional

Dosen Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ali Multazam, S.Ft., Physio., M.Sc., berhasil menyelesaikan pelatihan dan ujian kredensial Dry Needling Certification Program yang diselenggarakan oleh International Physical Therapy Academy (IPTA) Batch 8 di Bali. Melalui program tersebut, Ali Multazam resmi dinyatakan lulus dan memperoleh gelar nonformal CDNP (Certified Dry Needling Practitioner), sebagai bentuk pengakuan kompetensi profesional dalam penerapan dry needling pada praktik fisioterapi muskuloskeletal. Kegiatan sertifikasi ini menjadi bagian dari upaya pengembangan kompetensi dosen fisioterapi UMM dalam mengikuti perkembangan metode intervensi fisioterapi berbasis standar internasional. IPTA sendiri diketahui telah memperoleh akreditasi dari lembaga pendidikan di Inggris serta terdaftar sebagai Approved CPD Provider by CPD Group UK, sehingga sertifikasi yang diberikan memiliki pengakuan dalam pengembangan profesional berkelanjutan (continuing professional development). Program pelatihan tersebut secara umum membahas pendekatan dry needling untuk penanganan kasus muskuloskeletal, mulai dari teori dasar, clinical reasoning, safety protocol, hingga praktik aplikasi klinis berbasis evidence-based practice. Dry needling merupakan salah satu pendekatan fisioterapi modern yang digunakan untuk membantu mengurangi nyeri, meningkatkan fungsi gerak, serta menangani gangguan neuromuskular dan muskuloskeletal melalui stimulasi titik spesifik pada jaringan otot menggunakan jarum monofilamen. Ali Multazam menjelaskan bahwa perkembangan ilmu fisioterapi saat ini menuntut tenaga profesional untuk terus memperbarui kompetensi dan kemampuan klinis sesuai perkembangan global. “Fisioterapi berkembang sangat cepat. Karena itu, tenaga fisioterapi harus terus melakukan pembaruan kompetensi agar pelayanan yang diberikan tetap relevan, aman, dan berbasis evidence,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa penguasaan metode intervensi internasional seperti dry needling menjadi salah satu nilai tambah dalam meningkatkan kualitas layanan fisioterapi, khususnya pada kasus muskuloskeletal yang saat ini banyak ditemukan di masyarakat. Sementara itu, Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph.D, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, peningkatan kompetensi dosen menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pendidikan fisioterapi di UMM. “Kami terus mendorong dosen untuk aktif mengikuti sertifikasi maupun pelatihan internasional. Hal ini penting agar proses pembelajaran di kampus selalu selaras dengan perkembangan praktik fisioterapi global,” jelasnya. Melalui capaian ini, Fisioterapi UMM kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia dan pengembangan kompetensi profesional berbasis standar internasional, baik bagi dosen maupun mahasiswa. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
SPORTPHYSIO UMM Buktikan Pentingnya Peran Fisioterapi dalam Event Olahraga

Semangat sportivitas dan kolaborasi mahasiswa mewarnai pelaksanaan DEKAN CUP FIKES 2026 yang digelar pada 16–17 Mei 2026 di lingkungan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ajang olahraga tahunan tersebut diikuti oleh mahasiswa dari berbagai program studi di FIKES dan menjadi salah satu event internal paling bergengsi di tingkat fakultas. Dalam gelaran tersebut, komunitas SPORTPHYSIO UMM turut mengambil peran strategis dengan memberikan dukungan di bidang kesehatan dan penanganan cedera selama pertandingan berlangsung. Keterlibatan mahasiswa fisioterapi ini menjadi bentuk implementasi langsung kompetensi klinis di lapangan olahraga sekaligus penguatan pengalaman praktik berbasis sport physiotherapy. Ketua SPORTPHYSIO UMM, Muhamad Abdilah Ibdaul Hakiki, menjelaskan bahwa keterlibatan tim dalam DEKAN CUP bukan hanya sekadar membantu jalannya pertandingan, tetapi juga menjadi media pembelajaran nyata bagi mahasiswa fisioterapi. “Kegiatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami karena bisa terjun langsung dalam penanganan kondisi peserta di lapangan. Banyak hal yang kami pelajari, mulai dari penanganan awal cedera, pengambilan keputusan saat pertandingan berlangsung, hingga bagaimana bekerja cepat dan tepat dalam situasi tertentu,” ungkapnya. Selama dua hari pelaksanaan kegiatan, tim SPORTPHYSIO UMM menangani berbagai kondisi cedera ringan hingga sedang yang dialami peserta pertandingan, seperti luka lecet, benturan antarpemain, kram otot, hingga cedera pada beberapa bagian tubuh akibat aktivitas olahraga kompetitif. Selain memperkuat keterampilan teknis, kegiatan tersebut juga menjadi sarana pembelajaran dalam membangun komunikasi, koordinasi, dan kekompakan tim di lingkungan klinis lapangan olahraga. Menurut Abdilah, pengalaman seperti ini menjadi bagian penting dalam membentuk kesiapan mahasiswa fisioterapi sebelum memasuki dunia praktik profesional yang sesungguhnya. “Tidak hanya belajar secara teknis, kami juga dilatih untuk memiliki rasa tanggung jawab, komunikasi yang baik, dan solidaritas tim dalam menjalankan tugas bersama. Karena salah satu kunci utama keberhasilan tim adalah kekompakan dan kemampuan saling mendukung satu sama lain,” tambahnya. Selama jalannya pertandingan, seluruh proses pelayanan kesehatan dan penanganan cedera dapat berjalan dengan lancar. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari koordinasi yang baik antaranggota SPORTPHYSIO UMM serta dukungan berbagai pihak dalam pelaksanaan DEKAN CUP FIKES 2026. Keterlibatan SPORTPHYSIO UMM dalam event olahraga kampus juga menjadi bukti bahwa mahasiswa fisioterapi tidak hanya dibekali kompetensi akademik di ruang kelas, tetapi juga didorong aktif dalam atmosfer praktik klinis lapangan sejak dini, khususnya dalam bidang fisioterapi olahraga. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Fisioterapi UMM Gelar Guest Lecture Internasional, Bahas Standar Internasional Fisioterapi Muskuloskeletal

Program Studi S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan kegiatan akademik bertaraf internasional melalui International Guest Lecture yang diselenggarakan di Auditorium GKB 5 UMM, Rabu (13/5/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi sekaligus praktisi fisioterapi internasional, Dr. Ahmed Habeeb Alsiddig Mohamed, yang saat ini menjabat sebagai Dean of Physiotherapy, Al Neelain University, Sudan, sekaligus President of the Sudanese Physiotherapy Association. Dr. Ahmed membawakan materi bertajuk “Advanced Clinical Reasoning in Musculoskeletal Physiotherapy”. Kuliah tamu internasional ini diikuti secara antusias oleh mahasiswa dan dosen fisioterapi sebagai bagian dari upaya penguatan wawasan global serta peningkatan kualitas pelayanan fisioterapi berbasis evidence-based practice. Dalam pemaparannya, Dr. Ahmed menekankan bahwa seorang fisioterapis profesional harus memiliki karakter, kompetensi, dan nilai pembeda agar mampu berkembang di tengah dunia kesehatan yang semakin kompetitif. Menurutnya, peningkatan keterampilan klinis dan kemampuan komunikasi menjadi aspek fundamental yang wajib dimiliki oleh setiap fisioterapis. “Fisioterapis tidak hanya bekerja dengan teknik, tetapi juga membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan pasien,” ungkapnya dalam sesi kuliah tamu. Ia juga mengajak mahasiswa untuk menjadi seorang clinician, bukan sekadar technician. Menurutnya, fisioterapis yang hanya berperan sebagai teknisi cenderung bekerja berdasarkan protokol atau buku teks semata. Sementara seorang clinician dituntut mampu menggunakan clinical reasoning untuk menentukan intervensi terbaik berdasarkan kondisi pasien, keluhan, serta bukti ilmiah yang tersedia. Dr. Ahmed menegaskan bahwa setiap tindakan fisioterapi harus memiliki dasar pertimbangan klinis yang jelas agar terapi yang diberikan benar-benar efektif dan tepat sasaran. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya penerapan patient-centered care dalam praktik fisioterapi modern. Menurutnya, pasien harus menjadi fokus utama dalam setiap proses pelayanan kesehatan, sehingga seluruh intervensi perlu mempertimbangkan kebutuhan, tujuan, dan kondisi pasien secara menyeluruh. Tidak hanya membahas pendekatan klinis, Dr. Ahmed turut mengingatkan mahasiswa terkait berbagai cognitive biases in diagnosis yang dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan klinis. Beberapa bias yang disoroti di antaranya confirmation bias, anchoring bias, dan premature closure, yang sering menjadi penyebab kesalahan diagnosis maupun penentuan intervensi terapi. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah