Fisioterapi UMM, Pilar Utama Kualitas Riset di Panggung Nasional

Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 Program Studi Fisioterapi

Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukir prestasi gemilang. Program studi ini berhasil meraih peringkat pertama dalam kategori skor Afiliasi SINTA (Science and Technology Index) dalam kategori tiga tahun, Senin (20/01/2025). Tidak hanya itu, Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM juga turut menorehkan prestasi dengan meraih peringkat kedua di kategori yang sama. Pencapaian ini mencerminkan kualitas akademik dan penelitian yang dihasilkan oleh kedua program studi tersebut, yang terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu fisioterapi di Indonesia. Keberhasilan ini didukung oleh atmosfer penelitian dan pengabdian yang kondusif di lingkungan FIKes UMM. Selain itu, kontribusi mahasiswa dalam melahirkan karya tulis ilmiah yang apik turut menjadi salah satu faktor pendukung utama. Dengan bimbingan dosen yang kompeten, mahasiswa tidak hanya didorong untuk menghasilkan publikasi berkualitas tetapi juga untuk berkolaborasi dalam berbagai proyek penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Menurut Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom, keberhasilan ini tidak lepas dari komitmen seluruh sivitas akademika dalam menghasilkan penelitian yang relevan dan berkualitas. “Kami bangga atas pencapaian ini. Ini adalah hasil kerja keras para dosen dan mahasiswa yang terus berupaya memberikan yang terbaik dalam bidang fisioterapi,” ujarnya. Kepala Program Studi Fisioterapi, Dimas Sondang Irawan, Ph.D, menekankan bahwa indikator SINTA memiliki peran strategis dalam menilai kinerja akademik di level program studi. “Indikator ini membantu kami mengevaluasi sejauh mana program studi mampu bersaing secara nasional dan internasional dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat. Dengan pencapaian ini, kami semakin percaya diri untuk memperkuat posisi kami sebagai program studi unggul yang mampu menghasilkan lulusan kompeten dan berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan,” jelasnya. Prestasi ini menegaskan posisi fisioterapi UMM sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi yang unggul dalam menghasilkan lulusan dan penelitian berkualitas. Dengan prestasi yang telah diraih, program studi ini berkomitmen untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Fisioterapis UMM Edukasi Penanganan Cedera Olahraga di Dua Sekolah Jember

Foto Bersama dengan Siswa SMAN 1 Kalisat, Jember

SUARAJATIMPOS: Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan edukasi tentang penanganan cedera olahraga bagi siswa di dua sekolah, yakni SMK 4 Muhammadiyah Kalisat dan SMAN 1 Kalisat. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan dasar tentang teknik pertolongan pertama pada cedera olahraga. Dalam sesi tersebut, Wakil Dekan 3 Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM, Rakhmad Rosadi, memaparkan teknik-teknik dasar seperti penanganan ankle sprain dan muscle strain atau biasanya disebut dengan istilah kesleo. Para siswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga langsung mempraktikkannya, sehingga mereka aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran. “Edukasi ini merupakan salah satu program unggulan. Selain itu, kami juga memiliki program Perawat dan Fisioterapis ke Jerman atau Jepang, yang membuka peluang berkarier internasional bagi mahasiswa,” jelas Rakhmad. FIKes terus berupaya mendukung mahasiswa dan lulusannya untuk bersaing di tingkat global melalui berbagai program, seperti Kredit Transfer ke Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia dan Mahidol University Thailand. Program ini juga menyediakan beragam beasiswa, mulai dari beasiswa akademik, beasiswa prestasi, hingga beasiswa jalur khusus. Rakhmad menyampaikan kegembiraannya karena bisa berbagi ilmu sekaligus memperkenalkan program unggulan kepada para siswa di Kalisat. Ia melihat antusiasme siswa menunjukkan potensi besar generasi muda untuk berkembang, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional. Kepala Sekolah SMK 4 Muhammadiyah Kalisat, Alex Dwi Hermawan, turut mengapresiasi kegiatan ini. Ia berharap kolaborasi antara sekolah dan FIKES UMM dapat terus berlanjut. Menurutnya, edukasi ini tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga memotivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Melalui berbagai program roadshow dan edukasi seperti ini, FIKes berkomitmen memberikan inspirasi kepada siswa dan guru. Kegiatan ini diharapkan mampu membuka peluang lebih besar bagi siswa untuk mewujudkan cita-cita melalui pendidikan tinggi berkualitas di Universitas Muhammadiyah Malang. Editor Rizqi Ardian

Tiga Dosen Fisioterapi UMM Raih Peringkat 10 Besar SINTA Nasional

Foto Bersama Dosen Fisioterapi dengan Tim LPPI UMM

SERU.CO.ID: Tiga dosen Program Studi (Prodi) Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menorehkan prestasi gemilang. Tiga dosen FIKes UMM ini berhasil menembus 10 besar nasional pemeringkatan SINTA Score 3Yr Author untuk subjek Physiotherapy, Senin (20/01/2025). Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo MKep SpKom menyatakan, kebanggaannya atas pencapaian ini. Keberhasilan ini mencerminkan komitmen UMM dalam mendukung penelitian bermutu tinggi. “Dosen-dosen kami tidak hanya produktif, tetapi juga memiliki dampak yang nyata dalam pengembangan ilmu fisioterapi di Indonesia,” seru Prof Yoyok, sapaannya. Dirinya berharap, prestasi ini menjadi inspirasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus berkontribusi dalam penelitian dan inovasi yang berdampak luas. Sebagai wujud dedikasi dan produktivitasnya dalam penelitian dan inovasi fisioterapi. Tiga dosen FIKes UMM ini, di antaranya adalah Rakhmad Rosadi SST.Ft Ftr MSc PhD (PT), mencatatkan peringkat pertama dengan skor tertinggi 592. Kedua, Nungki Marlian Yuliadarwati SST.Ft Ftr MKes, meraih posisi keempat dengan skor 544. Ketiga, Bayu Prastowo SFt Ftr MSi, berada di peringkat kesembilan dengan skor 486. Sebagai informasi, SINTA (Science and Technology Index) merupakan platform nasional oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia. Platform ini bertujuan mengukur performa peneliti dan institusi berdasarkan kontribusi ilmiah. SINTA Score 3Yr Author ini menghitung produktivitas dan dampak karya ilmiah seorang peneliti dalam tiga tahun terakhir. Dalam subjek Physiotherapy, skor ini diakumulasikan dari jumlah publikasi ilmiah yang terindeks (nasional dan internasional), sitasi, serta keterlibatan dalam penelitian kolaboratif. Skor tinggi menandakan kualitas, relevansi, dan pengaruh penelitian yang signifikan terhadap perkembangan ilmu fisioterapi. Penulis Bayu Prastowo dan Editor Rahadi

Mengawal Kebugaran Pelari: Peran Mahasiswa Fisioterapi UMM di Ajang Lari Trenggalek

Foto Bersama Tim Medis Trenggalek Economic Run 2024

Danang Wasis Medika Putra, mahasiswa Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menunjukkan semangat Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dengan terpilih menjadi bagian dari tim fisioterapis dalam ajang Trenggalek Economic Run 2024. Acara yang berlangsung di Kabupaten Trenggalek ini tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga simbol pemberdayaan ekonomi lokal dengan memadukan olahraga, kreativitas, dan pengembangan ekonomi masyarakat. Pendiri UMKM Perempuan Perintis Indonesia (UPRINTIS) menjelaskan bahwa acara ini menjadi wadah strategis untuk mendorong ekonomi kreatif sekaligus menanamkan nilai-nilai kesetaraan dan inklusivitas. “Trenggalek Economic Run 2024 hadir sebagai kegiatan kreatif yang mampu menjadi motor penggerak ekonomi. Acara ini juga menjunjung tinggi nilai kesetaraan dengan melibatkan berbagai komunitas, termasuk penyandang disabilitas, sehingga memberikan hak dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan berkarya,” tuturnya. Sebagai bagian dari semangat MBKM, Danang memanfaatkan kesempatan ini untuk memperoleh pengalaman lapangan yang relevan dengan bidang ilmunya. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya membantunya meningkatkan kompetensi profesional, tetapi juga memperluas jaringan relasi yang penting untuk masa depan kariernya. “Saya mengikuti kegiatan ini karena ingin mencari pengalaman langsung dan menjalin networking. Relasi dan pengalaman adalah kunci penting untuk menjadi seorang fisioterapis profesional,” ungkapnya. Meski sempat merasa ragu untuk menangani pelari karena kurang percaya diri, Danang mengaku bahwa teori yang ia pelajari di kampus sangat membantunya di lapangan. “Interaksi langsung dengan pasien memberikan pengalaman baru yang melatih kemampuan komunikasi saya sebagai terapis. Kendala awal terkait kepercayaan diri dapat teratasi berkat teori dari kampus yang memberikan panduan teknik penanganan pasien,” tambahnya. Keterlibatan Danang di ajang ini juga sejalan dengan salah satu tujuan utama MBKM, yaitu memberikan mahasiswa kebebasan belajar di luar kelas untuk mengembangkan kompetensi melalui pengalaman nyata. Dalam acara ini, tim fisioterapis berperan penting tidak hanya dalam menangani cedera peserta, tetapi juga memastikan kebugaran mereka sebelum dan sesudah lomba. Partisipasi Danang di Trenggalek Economic Run 2024 menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk memanfaatkan peluang belajar di luar kampus. Program MBKM memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah ke dunia nyata, sekaligus membekali mereka dengan kemampuan yang relevan untuk menghadapi tantangan global. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Prestasi Membanggakan! Mahasiswi Fisioterapi UMM Buktikan Kuliah Tak Halangi Juara MTQH

Dhiyaa Zalfa Ramadhani

WARTA PTM: Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Program Studi Fisioterapi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dhiyaa Zalfa Ramadhani yang merupakan mahasiswi angkatan tahun 2023 berhasil meraih Juara 2 dalam kategori Hafizah pada gelaran Musabaqah Tilawatil Quran dan Hadist (MTQH) tingkat Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2024 (13/12/2024). Perjalanan Dhiyaa menuju kemenangan ini tidaklah mudah. Dalam wawancara, Dhiyaa mengungkapkan bahwa persiapan yang ia lakukan memerlukan dedikasi dan pengorbanan besar. “Saya harus membagi waktu antara kuliah, tugas, dan mengulang hafalan di sela-sela waktu istirahat kuliah. Namun, dengan tekad yang kuat dan dukungan dari orang-orang di sekitar saya, saya ingin membuktikan bahwa kuliah tidak menghalangi saya untuk meraih prestasi,” ujarnya. Dhiyaa juga mengungkapkan rasa syukur atas raihan ini. “Saya sangat bersyukur dengan capaian saya. Terima kasih kepada Program Studi Fisioterapi UMM yang telah memberikan apresiasi luar biasa terhadap setiap bentuk prestasi mahasiswa. Dukungan tersebut sangat berarti bagi saya.” Selain menjadi pengalaman yang mengesankan, perjalanan ini juga membawa dampak positif bagi pengembangan dirinya. “Persiapan yang melelahkan ini membantu saya mengembangkan kemampuan konsentrasi dan ketahanan mental. Walaupun perjalanan ini berat, saya percaya bahwa prestasi di bidang keagamaan dapat menjadi inspirasi, baik bagi diri saya sendiri maupun orang lain. Hal ini juga menjadi pengingat bahwa belajar dan berkontribusi untuk agama dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab sebagai mahasiswa,” tambahnya. Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, PhD, menyampaikan apresiasinya terhadap capaian Dhiyaa. “Kami sangat terbuka dan mendukung potensi setiap mahasiswa. Prestasi Dhiyaa menunjukkan bahwa mahasiswa dapat berkembang secara akademik maupun non-akademik. Kami berterima kasih kepada segenap mahasiswa yang telah meluangkan waktunya untuk berjuang dalam pengembangan dirinya.” Dengan pencapaian ini, Dhiyaa telah membuktikan bahwa kesibukan kuliah tidak menjadi halangan untuk berprestasi di bidang keagamaan. Semoga prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berjuang dan mengharumkan nama Universitas Muhammadiyah Malang. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Apakah Warisan Genetik Menentukan Nasib Lutut Anda ?

Cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) merupakan salah satu masalah yang umum terjadi pada atlet dengan prevalensi yang terus meningkat setiap tahun. Faktor keluarga memainkan peran signifikan dalam meningkatkan risiko cedera ACL. Individu dengan riwayat keluarga pernah mengalami cedera ACL memiliki kemungkinan 20% lebih tinggi. Risiko ini meningkat hingga 69% jika riwayat cedera terjadi pada saudara kembar. Pewarisan genetik yang berisiko pada cedera ACL meliputi hipermobilitas sendi, profil kolagen dan hiperekstensi lutut. Kondisi ini menyebabkan lemahnya stabilitas sendi lutut dan mengganggu kontrol neuromuskular. Hal ini mengurangi kemampuan sendi untuk menahan tekanan tinggi saat melakukan gerakan mendadak. Warisan genetik bentuk anatomi lutut, seperti kemiringan tibia posterior dapat meningkatkan gaya geser pada ligamen ACL. Hiperekstensi lutut juga memperburuk kondisi anatomis karena menempatkan ligamen pada posisi yang sangat rentan terhadap robekan. Meskipun genetik keluarga memiliki pengaruh besar terhadap cedera ACL, tetapi bukanlah takdir yang tidak dapat dicegah ! Pelatihan neuromuskular dan proprioseptif secara teratur dan terukur dapat meningkatkan stabilitas lutut dan memperbaiki kontrol gerakan. Selain itu, menjaga berat badan yang ideal mengurangi beban tambahan pada lutut selama berolahraga. Dengan memahami mekanisme cedera ACL juga menjadi pengetahuan dasar dalam pencegahan terjadinya cedera tersebut. Penulis Bagus Prasetyo Pamungkas  

Revitalisasi Pendidikan: Langkah Fisioterapi UMM Menuju Generasi Emas

Foto Bersama dengan Pemateri

Program Studi S1 Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar kuliah tamu bertajuk Revitalisasi Pendidikan Fisioterapi Indonesia di Auditorium Kampus 1 UMM. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Umi Budi Rahayu, Ftr., M.Sc, Koordinator Studi Ilmiah, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat dari Asosiasi Pendidikan Tinggi Fisioterapi Indonesia (APTIFI), sebagai narasumber utama. Kuliah tamu ini diikuti oleh 300 peserta yang terdiri dari mahasiswa angkatan 2023 dan 2024. Dalam paparannya, Dr. Umi Budi Rahayu menekankan pentingnya persiapan yang matang untuk mencetak praktisi fisioterapi masa depan yang kompeten, inovatif, dan adaptif terhadap tantangan global. Ia juga menjelaskan bagaimana fisioterapi memiliki peran strategis dalam mendukung program pemerintah terkait pembangunan Generasi Emas 2045. “Revitalisasi pendidikan bukan sekadar pembaruan kurikulum, tetapi juga membangun pola pikir mahasiswa agar mampu bersaing di dunia kerja. Tenaga fisioterapi harus siap menghadapi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang,” ujar Dr. Umi. Selain itu, Dr. Umi mengajak peserta untuk lebih memahami perkembangan peluang kerja dan tantangan dalam profesi fisioterapi di era digitalisasi dan globalisasi. Ia memotivasi para mahasiswa untuk terus belajar dan mengembangkan diri agar mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional. Mahasiswa yang hadir dalam acara ini mengaku mendapatkan wawasan berharga mengenai prospek profesi fisioterapi di masa depan. Dengan penjelasan yang komprehensif, mereka merasa lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan karier di bidang fisioterapi. “Kami jadi lebih paham tentang apa yang harus dipersiapkan untuk menjadi fisioterapis yang kompeten. Narasumber juga memberikan gambaran jelas tentang peluang kerja, sehingga kami tidak lagi khawatir dengan daya saing ke depan,” ungkap salah satu mahasiswa peserta kuliah tamu. Selain mahasiswa, Dimas Sondang Irawan selaku Ketua Program Studi turut menyatakan apresiasinya terhadap materi yang disampaikan. Menurutnya, acara ini sejalan dengan visi UMM untuk menghasilkan lulusan yang unggul dan berdaya saing tinggi. “Melalui kuliah tamu ini, kami berharap mahasiswa dapat memahami pentingnya peran mereka sebagai bagian dari solusi kesehatan masyarakat. Ini juga menjadi langkah konkret kami mendukung upaya pemerintah dalam menciptakan generasi emas,” ujar Ketua Prodi. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Physiotherapy Study Club (PSC) Perkuat Peran Edukasi Fisioterapi di Brawijaya Smart School (BSS) Malang

Foto Bersama Siswi BSS Malang

Program Studi Fisioterapi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki Physiotherapy Study Club (PSC), sebuah komunitas yang menjadi wadah mahasiswa untuk berkreasi dalam bidang akademik. Komunitas ini tidak hanya fokus pada kegiatan internal, tetapi juga aktif menjalin kerja sama dengan pihak eksternal untuk memperluas jangkauannya. Salah satu langkah terbaru PSC adalah penandatanganan kesepakatan kerja sama dengan Brawijaya Smart School (BSS) Malang. Kerja sama ini difokuskan pada edukasi dan simulasi seputar berbagai permasalahan kesehatan yang sering dialami oleh siswa putri. Program ini dirancang sebagai kegiatan rutin mingguan, mencakup siswa kelas X hingga XII dengan total peserta sebanyak 324 siswa. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar tambahan bagi mahasiswa Fisioterapi di luar program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), tetapi juga mengenalkan Profesi Fisioterapis kepada masyarakat, khususnya di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Dengan melibatkan siswa SMA, program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan serta memberikan manfaat nyata kepada komunitas sekolah. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi melalui interaksi langsung dengan pihak eksternal. “Program ini bukan hanya tentang memberikan edukasi, tetapi juga membangun hubungan antara dunia akademik dan masyarakat. Kami ingin menjadikan fisioterapi lebih dikenal, terutama di kalangan generasi muda,” ungkap Ketua PSC dalam pernyataannya. Melalui kolaborasi dengan BSS Malang, PSC berharap dapat terus menginspirasi dan mendukung generasi muda dalam meningkatkan pemahaman mereka terhadap kesehatan sekaligus menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi mahasiswa fisioterapi. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Mahasiswa Fisioterapi UMM Dibekali Skill Menulis Manuskrip hingga Raih HKI

Mahasiswa Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM Menunjukkan HKI

Program Studi Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan perkembangan pesat dengan berbagai gebrakan inovatif. Salah satu terobosan utamanya adalah memberikan pengalaman studi yang mencakup kemampuan menulis manuskrip pengabdian dan penelitian, yang diambil langsung dari permasalahan mitra. Langkah ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan akademis dan praktik yang mendalam. Selain itu, mahasiswa juga dipacu untuk meraih Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Menurut Ketua Program Studi, Safun Rahmanto, M.Fis, langkah ini memberikan kontribusi signifikan pada portofolio mahasiswa, sekaligus memperkaya literatur fisioterapi di Indonesia. “Ini adalah upaya kami untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa. Harapannya, lulusan kami tidak hanya menjadi klinisi yang andal, tetapi juga mampu membuat manuskrip yang relevan untuk menambah khazanah keilmuan fisioterapi di tanah air,” ujar Safun. Sebagai program yang berorientasi pada praktik, Program Studi Profesi Fisioterapis UMM memiliki tiga belas stase dengan wahana praktik tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah, hingga Bali. Pada tahap awal pendidikan, mahasiswa difokuskan pada kompetensi promotif dan preventif di Puskesmas yang tersebar di kawasan Malang Raya. Pada stase awal inilah mahasiswa mendapatkan bimbingan intensif dalam penulisan manuskrip dan pembuatan karya inovatif sebagai metode promotif dan preventif. Dukungan masyarakat terhadap program ini cukup besar, terlihat dari antusiasme mereka terhadap layanan fisioterapi pada tingkat pertama. Bahkan, masyarakat berharap layanan ini dapat terus berlangsung di Puskesmas untuk membantu menjaga kesehatan mereka. Salah satu mahasiswa mengungkapkan bahwa fokus pada tingkat promotif dan preventif menghadirkan tantangan unik. “Kami harus lebih mengedepankan komunikasi terapeutik daripada hanya berfokus pada metode intervensi spesifik,” ujarnya. Dengan kombinasi antara kompetensi akademis, klinis, dan praktik di lapangan, Program Studi Profesi Fisioterapis UMM berkomitmen mencetak lulusan berdayasaing sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar. Gebrakan ini menunjukkan bagaimana pendidikan fisioterapi dapat menjadi motor perubahan di dunia kesehatan Indonesia. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Fisioterapi UMM dan RSBN Malang Gelar Kuliah Pakar Clinical Massage Technique

Praktik Teknik Pijat dari RSBN

Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalin kerja sama strategis dengan UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra (RSBN) Malang. Sinergi ini bertujuan untuk saling meningkatkan keterampilan peserta didik di kedua institusi, salah satunya melalui Kuliah Pakar Clinical Massage Technique yang digelar di Auditorium Kampus 1 UMM, Senin (18/11/2024). Kegiatan ini menghadirkan tim pakar dari RSBN Malang, yakni Hadi, Moedji Widodo, dan Aris Sudarmanto, yang memiliki keahlian dalam teknik massage dan siatsu. Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, menyampaikan rasa terima kasih atas terjalinnya kerja sama ini. Ia menegaskan bahwa kolaborasi tersebut merupakan langkah strategis dalam mendukung pengembangan program Fisioterapi Inklusi di masa mendatang. “Kerja sama ini sangat mendukung visi kami untuk memajukan fisioterapi inklusif. Dengan menghadirkan pakar-pakar terbaik, kami berharap mahasiswa mendapatkan pembelajaran yang aplikatif dan profesional,” ujar Dimas. Selama kuliah berlangsung, para pakar tidak hanya memaparkan teori, tetapi juga berbagi pengalaman langsung tentang penerapan teknik massage dan siatsu, terutama ketika menangani penyandang disabilitas. “Metode massage itu tidak berubah, tetapi kita harus menyesuaikan cara penyampaiannya sesuai kebutuhan individu,” ujar salah satu pemateri. Teknik massage yang diajarkan melibatkan gerakan seperti tekanan, gosokan, atau peregangan pada jaringan tubuh, khususnya otot dan kulit. Teknik ini memberikan manfaat seperti relaksasi, pereda nyeri, dan peningkatan sirkulasi darah. Sementara itu, siatsu, yang juga diperkenalkan dalam kuliah ini, bertujuan untuk mendorong penyembuhan alami tubuh dan mendukung pencegahan berbagai gangguan kesehatan. Kedua teknik ini memiliki peran penting dalam mempercepat proses pemulihan jika diterapkan dengan benar dan sistematis. Kuliah kepakaran ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa Fisioterapi UMM. Dengan bimbingan langsung dari profesional tersertifikasi, para mahasiswa diharapkan mampu menguasai teknik-teknik tersebut dengan baik sehingga dapat memberikan manfaat yang optimal kepada masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo