Adaptif di Era Digital, Fisioterapi UMM Optimalkan Sistem Tata Kelola Berbasis Teknologi

Foto Bersama Dekanat, Pemateri, dan Peserta Pelatihan

Program Studi Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti kegiatan Penguatan Tata Kelola Penggunaan Sarana Prasarana Kelas Berbasis Digital yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM pada Jumat, 20 Februari 2026 di Ruang ICMI. Kegiatan ini diikuti oleh tenaga kependidikan dan laboran sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas tata kelola administrasi berbasis teknologi. Mengusung tema “Memanfaatkan Peran Teknologi di Era Digitalisasi dalam Meningkatkan Pelayanan”, kegiatan tersebut menghadirkan Christian Sri Kusuma Aditya, S.Kom., M.Kom., sebagai narasumber dan Fitri Kurniawati sebagai moderator. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada optimalisasi sistem kerja digital guna meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan akuntabilitas pelayanan akademik. Pelatihan ini berfokus pada peserta untuk mendapatkan penguatan terkait optimalisasi Microsoft Office, termasuk teknik otomasi dokumen untuk mempercepat proses administrasi. Implementasi Autocrat juga diperkenalkan sebagai solusi dalam menghasilkan dokumen secara otomatis berbasis data, sehingga mampu meminimalkan kesalahan manual dan meningkatkan konsistensi output administrasi. Selain itu, dibahas pula penguatan sistem digitalisasi untuk mendukung implementasi one-day service (ODS) dalam pelayanan akademik. Seluruh aktivitas tenaga kependidikan dan laboran diarahkan agar terdokumentasi secara digital, sehingga setiap proses kerja memiliki rekam jejak yang jelas dan terintegrasi. Peserta juga memperoleh pembekalan mengenai pembuatan aplikasi sederhana sesuai kebutuhan unit kerja, teknik mail merge (merger email), serta standarisasi format dokumen dari tingkat program studi hingga universitas. Standarisasi ini menjadi langkah strategis dalam menjaga keseragaman tata kelola administrasi dan mendukung sistem pelaporan yang lebih tertib. Melalui partisipasi dalam kegiatan ini, Program Studi Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM memperkuat komitmennya untuk beradaptasi dengan sistem kerja berbasis digital, sekaligus meningkatkan kualitas layanan akademik yang profesional, responsif, dan terdokumentasi dengan baik. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Fisioterapi UMM dan Perum Jasa Tirta I Perkuat Bulan K3 Nasional Melalui Pemeriksaan Kesehatan Terpadu

Dalam rangka Bulan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Nasional, Perum Jasa Tirta I berkomitmen untuk membangun budaya K3 yang berkelanjutan. Mengusung tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif”, perusahaan terus mendorong penerapan K3 sebagai fondasi utama dalam setiap aktivitas kerja demi menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif. Sebagai implementasi konkret dari komitmen tersebut, Perum Jasa Tirta I menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan terpadu bagi seluruh karyawan melalui kolaborasi dengan Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan mencakup pemeriksaan tanda-tanda vital, pengecekan gula darah, kolesterol, asam urat, hingga pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) untuk memantau kondisi jantung karyawan. Selain itu, dilakukan pula pemeriksaan fisik yang berfokus pada kesehatan work-related musculoskeletal disorders (WRMDS), postur kerja, serta identifikasi risiko gangguan akibat aktivitas fisik berulang, baik pada pekerjaan administratif maupun lapangan. Mahasiswa Program Studi Fisioterapi UMM yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Hilda Nevia Arsyanti dan Selvera Pranata. Keduanya berperan aktif dalam proses skrining dan asesmen fisik di bawah pengawasan tim medis perusahaan serta dosen pembimbing dari Program Studi Fisioterapi UMM, Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si. Kegiatan ini turut melibatkan dr. Donny Septian Wibisono sebagai dokter penanggung jawab dan Novira Dinda Dhearisma, S.Tr.Kep sebagai perawat pendamping. Pemeriksaan dilaksanakan di sejumlah titik operasional Perum Jasa Tirta I di Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk wilayah Sungai Bengawan Solo, Bendungan Colo, Bendungan Wonogiri, serta kantor perusahaan di Bojonegoro. dr. Donny Septian Wibisono menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan berkala merupakan bagian strategis dalam sistem manajemen K3. “Deteksi dini adalah langkah preventif yang sangat penting untuk mencegah risiko penyakit kronis maupun gangguan akibat kerja. Dengan pemantauan rutin, kondisi kesehatan karyawan dapat terkontrol dan intervensi bisa dilakukan lebih cepat serta tepat sasaran,” ujarnya. Sementara itu, Bayu Prastowo menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini memberikan nilai akademik sekaligus kontribusi nyata bagi industri. “Kolaborasi ini memperkuat kompetensi mahasiswa dalam asesmen kesehatan kerja dan ergonomi. Fisioterapis memiliki peran penting dalam menjaga fungsi gerak, mencegah cedera kerja, dan mendukung produktivitas tenaga kerja secara berkelanjutan,” jelasnya. Antusiasme karyawan terlihat dari tingginya partisipasi sejak pagi hingga akhir kegiatan. Selain pemeriksaan, tim juga memberikan edukasi mengenai manajemen kelelahan, prinsip ergonomi, serta pencegahan gangguan muskuloskeletal. Melalui sinergi ini, Perum Jasa Tirta I menegaskan bahwa K3 adalah tanggung jawab bersama. Pulang dengan sehat dan selamat merupakan tujuan utama setiap aktivitas kerja. Kolaborasi antara dunia industri dan institusi pendidikan ini diharapkan menjadi model penguatan budaya K3 yang profesional, andal, dan kolaboratif secara berkelanjutan. Penulis Hilda Nevia Arsyanti dan Editor Bayu Prastowo

Reformulasi UKOM Nasional Tahun 2026, Fisioterapi UMM Pastikan Mahasiswa Siap Melalui Try Out Nasional

Ftr. Dominggus Ruku Yudit Pramono, SST.Ft., M.Kes selaku Pengawas Pusat Tim Ad-Hoc/Unsur Institusi Pendidikan

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Angkatan Ke-11, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Try Out Nasional berbasis Computer Based Test (CBT) sebagai persiapan menghadapi Uji Kompetensi Nasional Fisioterapi yang juga dilaksanakan dengan sistem CBT. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi akademik untuk membiasakan mahasiswa dengan atmosfer ujian berbasis komputer sebelum mengikuti ujian resmi tingkat nasional. Pelaksanaan Try Out Nasional tersebut tidak hanya bertujuan sebagai simulasi teknis, tetapi juga sebagai parameter untuk mengukur kesiapan akademik mahasiswa. Melalui evaluasi ini, program studi dapat memetakan sejauh mana penguasaan kompetensi pengetahuan fisioterapi mahasiswa profesi sebelum menghadapi Uji Kompetensi Nasional. Tahun ini, terdapat sejumlah perubahan signifikan dalam sistem Uji Kompetensi Nasional. Jika sebelumnya penyelenggaraan berada di bawah Kolegium Fisioterapi Indonesia, kini mekanisme ujian berada di bawah koordinasi Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Selain perubahan otoritas penyelenggara, jumlah soal juga mengalami penyesuaian dari 180 soal menjadi 120 soal. Tampilan antarmuka (interface) CBT yang digunakan pun mengalami pembaruan dibandingkan periode sebelumnya. Kegiatan Try Out Nasional di UMM dilaksanakan di bawah pengawasan Ftr. Dominggus Ruku Yudit Pramono, SST.Ft., M.Kes selaku Pengawas Pusat Tim Ad-Hoc/Unsur Institusi Pendidikan, guna memastikan proses berjalan sesuai standar dan prosedur yang ditetapkan. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menyampaikan bahwa penyelenggaraan Try Out Nasional ini merupakan bentuk komitmen institusi dalam menjaga mutu lulusan serta memastikan kesiapan mahasiswa secara akademik dan mental. “Try out nasional ini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran profesi. Kami ingin mahasiswa tidak hanya siap secara materi, tetapi juga terbiasa dengan sistem dan dinamika ujian berbasis CBT di tingkat nasional,” ujarnya. Sementara itu, PIC Uji Kompetensi Nasional, Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si., menegaskan bahwa perubahan sistem yang terjadi justru menjadi momentum bagi institusi untuk beradaptasi secara cepat. “Kami berkomitmen untuk responsif terhadap perubahan regulasi dan sistem. Adaptasi ini penting agar mahasiswa tetap mendapatkan pembekalan sesuai standar terbaru. Ke depan, tantangan kami adalah mengembangkan sistem Try Out Internal berdasarkan Try Out Nasional agar lebih terintegrasi dan menciptakan atmosfer yang serupa,” jelasnya. Melalui pelaksanaan Try Out Nasional CBT ini, Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM berharap mahasiswa dapat menghadapi Uji Kompetensi Nasional dengan lebih percaya diri, terukur, dan siap memenuhi standar kompetensi fisioterapis yang ditetapkan secara nasional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Open Recruitmen Asisten Laboratorium Fisioterapi 2026

Asisten Laboratorium Fisioterapi memiliki peran akademik dan teknis dalam mendukung pelaksanaan kegiatan praktikum serta pengelolaan laboratorium. Tugas dan tanggung jawab meliputi 1). Membantu dosen dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan praktikum sesuai standar operasional prosedur (SOP) laboratorium, 2). Menyiapkan, memeriksa, dan memastikan kelayakan alat serta bahan praktikum sebelum dan sesudah digunakan, 3). Mendampingi mahasiswa selama proses praktikum untuk memastikan prosedur dilakukan dengan benar dan aman, 4). Membantu proses demonstrasi teknik atau prosedur dasar sesuai arahan dosen pengampu, dan 5). Berpartisipasi dalam evaluasi kegiatan praktikum serta pengembangan mutu laboratorium. Asisten laboratorium juga diharapkan memiliki sikap profesional, kemampuan komunikasi yang baik, serta komitmen terhadap keselamatan kerja dan etika akademik. Departemen Asisten Laboratorium Fisioterapi Neuromuscular & Electrophysical Agent Fisioterapi Kardiopulmonal & Olahraga Fisioterapi Pediatri & Kesehatan Wanita Fisioterapi Musculoskeletal & Manual Terapi Fisioterapi Komunitas & Geriatri Syarat dan Ketentuan Mahasiswa aktif Fisioterapi UMM angkatan 2022 Tidak mengulang mata kuliah Rajin, bertanggung jawab, dan aktif Melampirkan seluruh berkas pendaftaran Berkas Pendaftaran Curriculum Vitae (CV) Surat Lamaran Pas foto menggunakan almamater UMM Scan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) Timeline Seleksi Registrasi: 11 – 20 Februari 2026 Tes Wawancara: 21 Februari 2026 Pengumuman Hasil: 22 Februari 2026 Pendaftaran dilakukan dengan klik Disini. Informasi selanjutnya dapat menghubungi narahubung WhatsApp  Benefit Mahasiswa yang terpilih sebagai asisten laboratorium akan memperoleh pengalaman akademik dan praktikum, pengembangan kompetensi profesional, jejaring akademik, serta insentif sesuai ketentuan yang berlaku.    

Mahasiswa Fisioterapi UMM Perkuat Advokasi Kesehatan di Sekolah Legislatif Nasional 2026

Mahasiswa Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang

Mahasiswa Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut ambil bagian dalam Sekolah Legislatif Nasional 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Jakarta pada 11–13 Februari 2026. Kegiatan bertema “Membangun Legislator Mahasiswa yang Kritis, Progresif, dan Berintegritas” ini berlangsung di Auditorium UMJ serta Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi DKI Jakarta – Nusantara V DPR/MPR Senayan. Forum nasional ini menghadirkan pemateri dari unsur pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta, anggota DPRD Provinsi Banten, pengamat politik nasional, serta pimpinan universitas. Peserta berasal dari lembaga intra UMJ, jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) seluruh Indonesia, serta kampus PTMA wilayah Jabodetabek. Bagi Danang Wasis Medika Putra sebagai mahasiswa Fisioterapi UMM, kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi politik, tetapi ruang strategis untuk memperkuat kapasitas advokasi kebijakan, khususnya di bidang kesehatan. Ia menilai bahwa keterlibatan mahasiswa kesehatan dalam ruang legislatif kampus maupun nasional merupakan bentuk tanggung jawab sosial untuk memastikan kebijakan yang dihasilkan berpihak pada kepentingan masyarakat. “Mahasiswa kesehatan dengan terlibat dalam kegiatan politik seperti ini tidak berarti meninggalkan keilmuan fisioterapinya. Justru melalui jalur inilah setidaknya dapat memperjuangkan kebijakan yang mendukung sistem layanan kesehatan yang lebih baik,” ungkap Medika. Selama tiga hari, peserta dibekali pemahaman mengenai fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran, sekaligus pelatihan advokasi kebijakan dan penguatan tata kelola organisasi mahasiswa yang demokratis serta transparan. Kegiatan ini juga membuka jejaring nasional antarmahasiswa PTMA untuk membangun kolaborasi lintas kampus. Partisipasi mahasiswa Fisioterapi UMM dalam Sekolah Legislatif Nasional 2026 diharapkan menjadi langkah konkret dalam membentuk calon legislator mahasiswa yang tidak hanya kritis dan progresif, tetapi juga berintegritas serta mampu membawa perspektif kesehatan dalam setiap proses pengambilan kebijakan. Penulis dan Editor Danang Wasis Medika Putra

Fisioterapi UMM Tegaskan Komitmen International Atmosphere Dalam RAKER FIKES 2026

Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah melaksanakan Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026 setelah sebelumnya menggelar Pra-Rapat Kerja pada 4 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi momentum strategis dalam merumuskan arah kebijakan dan program kerja FIKES UMM ke depan, Rabu (11/2/2026). Raker 2026 mengusung tema “Transformasi, Kolaborasi, Integrasi Keilmuan Menuju FIKES yang Berdampak.” Tema tersebut menegaskan komitmen FIKES UMM untuk terus beradaptasi dan memperkuat peran fakultas dalam menjawab tantangan global, khususnya di bidang pendidikan dan pengembangan ilmu kesehatan. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A.,  menekankan arah kebijakan pengelolaan sumber daya manusia (SDM), keuangan, dan sarana prasarana yang berorientasi pada peningkatan World University Ranking (WUR). Ia menyampaikan bahwa periode 2026–2028 merupakan fase penting dalam mencapai target internasionalisasi universitas. Menurutnya, internasionalisasi tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian akreditasi internasional, tetapi harus diawali dengan pembangunan ekosistem dan rekognisi internasional yang kuat sebagai fondasi kesiapan institusi. Sebagai contoh implementasi, Program Studi Fisioterapi dinilai telah memulai langkah strategis melalui pemeliharaan atmosfer internasionalisasi berbasis kolaborasi akademik berkelanjutan. Beberapa agenda yang rutin dilaksanakan meliputi student exchange ke Mahidol University dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, pelaksanaan visiting professor, serta kehadiran guest lecturer dari perguruan tinggi mitra luar negeri. Ketua Program Studi Fisioterapi sekaligus mewakili Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Dimas Sondang Irwan, Ph.D(PT), dalam paparannya menegaskan komitmen penguatan internasionalisasi dan pengembangan keilmuan fisioterapi berbasis peningkatan kapasitas SDM. Ia menyampaikan bahwa internasionalisasi bukan sekadar program mobilitas, tetapi strategi sistematis untuk meningkatkan kualitas akademik, penelitian, dan kompetensi lulusan agar memiliki daya saing global. Menurutnya, pengembangan jejaring internasional, kolaborasi riset, peningkatan publikasi bereputasi, serta penguatan kompetensi dosen dan mahasiswa menjadi prioritas dalam roadmap pengembangan Program Studi Fisioterapi ke depan. Langkah tersebut sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam mendukung visi internasionalisasi universitas secara menyeluruh. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah

Sumpah Fisioterapi Muda Tandai Kesiapan Mahasiswa Profesi UMM Melakukan Pendidikan Praktik Klinis

Prosesi Angkat Sumpah Fisioterapi Muda Oleh Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan prosesi pelafalan Sumpah Fisioterapi Muda bagi mahasiswa Angkatan ke-13 Tahun 2026 di Auditorium GKB 5. Prosesi ini diikuti oleh 86 mahasiswa yang sekaligus berakhirnya rangkaian matrikulasi dan menjadi penanda awal mahasiswa memasuki wahana praktik klinik. Upacara sumpah tersebut bukan hanya bagian dari tradisi akademik, melainkan momentum peneguhan tanggung jawab moral dan profesional calon fisioterapi muda. Dalam prosesi yang berlangsung khidmat, mahasiswa melafalkan sembilan butir komitmen yang berlandaskan etika profesi dan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan. Sumpah ini menegaskan mahasiswa menyatakan kesadaran bahwa kesempatan menempuh pendidikan profesi di wahana praktik merupakan bentuk pengabdian dan tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka juga berkomitmen untuk mematuhi standar praktik serta kode etik fisioterapis Indonesia, sekaligus melaksanakan kewajiban kepada masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama, suku, politik, maupun status sosial. Komitmen tersebut diperkuat dengan janji menjalankan tugas secara terhormat, menjaga martabat profesi, serta mengutamakan keselamatan dan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Mahasiswa juga menyatakan kesiapan menjaga kerahasiaan pasien, menghargai masyarakat sebagai sumber pembelajaran, serta menjunjung tinggi sikap profesional terhadap sesama sejawat. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menegaskan bahwa sumpah profesi merupakan fondasi integritas sebelum mahasiswa menjalani praktik klinik. “Sumpah ini menjadi pengingat bahwa kompetensi teknis harus berjalan bersama komitmen etika. Profesionalisme fisioterapis diukur tidak hanya dari keterampilan klinis, tetapi juga dari tanggung jawab moral terhadap pasien dan masyarakat,” ujarnya. Prosesi pelafalan sumpah turut disaksikan oleh Sekretaris Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Zidni Imanurrohmah Lubis, S.Ft., Ftr., M.Biomed., bersama PIC Uji Kompetensi Nasional. Kehadiran unsur pimpinan program studi ini menegaskan legitimasi akademik sekaligus pengawasan institusional terhadap kesiapan mahasiswa memasuki fase praktik. Sehingga diharapkan mahasiswa Angkatan ke-13  siap menjalankan praktik profesi dengan menjunjung tinggi standar keilmuan, etika, dan keselamatan pasien. Prosesi ini sekaligus mempertegas komitmen UMM dalam mencetak fisioterapis yang kompeten, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan kesehatan yang bermutu. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Matrikulasi Profesi Fisioterapis UMM Tekankan Clinical Reasoning dan Movement System

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan matrikulasi bagi mahasiswa Angkatan ke-13. Kegiatan ini menghadirkan Wahyu Kurniawan, Ftr., fisioterapis profesional yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI), sebagai pemateri utama, Senin (9/2/2026). Matrikulasi kali ini bertajuk assessment to decision, Wahyu Kurniawan, Ftr., menekankan bahwa fisioterapis merupakan human movement system expert yang memiliki kewenangan diagnosis berbasis sistem gerak. Ia menjelaskan bahwa landasan keilmuan fisioterapi mencakup pathoanatomy, pathokinesiology, dan kinesiopathology sebagai dasar memahami gangguan fungsi gerak pasien. Menurutnya, analisis gangguan gerak harus ditinjau dari empat komponen utama, yakni motion, force, motor control, dan energy. Motion berkaitan dengan kemampuan gerak pasif sendi atau jaringan, force dengan kapasitas otot dan struktur pendukung menghasilkan stabilitas dan pergerakan, motor control dengan kemampuan merencanakan serta mengoordinasikan gerakan secara efektif, dan energy dengan kapasitas mempertahankan aktivitas secara berkelanjutan. Keempat komponen tersebut menjadi dasar dalam membangun hipotesis klinis sebelum menentukan intervensi. Ia juga menjelaskan pentingnya movement examination yang sistematis melalui observasi aktivitas fungsional seperti sit to stand, walking, reaching, dan manipulating. Parameter pengamatan mencakup control, amount, speed, symmetry, dan symptoms (CASS), yang kemudian dikonfirmasi melalui tes dan pengukuran seperti goniometer, Manual Muscle Testing (MMT), Berg Balance Scale (BBS), dan 6 Minute Walk Test (6MWT). Pemeriksaan dilakukan untuk mengonfirmasi atau menolak hipotesis klinis serta mendukung penetapan diagnosis dan prognosis. Selain itu, ia juga turut mengingatkan agar mahasiswa menghindari tunnel view dalam pengambilan keputusan klinis. Seorang fisioterapis, ujarnya, minimal harus memiliki tiga hipotesis sebelum menetapkan diagnosis, dengan mempertimbangkan faktor patologi, movement system, functional neuroplasticity, serta faktor personal dan lingkungan pasien. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menyampaikan bahwa kegiatan matrikulasi ini menjadi tahap awal pembentukan pola pikir klinis mahasiswa profesi. Ia menegaskan bahwa penguatan clinical reasoning dan keterampilan praktik harus berjalan beriringan agar lulusan mampu mengambil keputusan klinis secara tepat dan berbasis evidensi. “Kami ingin mahasiswa memahami bahwa setiap intervensi harus didasarkan pada analisis sistem gerak yang komprehensif. Kompetensi tersebut menjadi identitas fisioterapis profesional,” ujarnya. Melalui matrikulasi ini, Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM menegaskan komitmennya dalam mencetak fisioterapis yang kompeten, analitis, dan sesuai standar profesi nasional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo  

Sumpah Fisioterapi Muda, Komitmen Awal Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Menjaga Marwah Profesi

Prosesi Angkat Sumpah Fisioterapi Muda Oleh Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis

Rangkaian kegiatan matrikulasi mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis ditutup dengan pelaksanaan Sumpah Fisioterapis Muda pada Senin, 9 Februari 2026, bertempat di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5. Kegiatan ini secara umum dikenal sebagai capping day, sebagaimana istilah yang umum digunakan dalam pendidikan profesi keperawatan. Sumpah Fisioterapis Muda merupakan prosesi yang wajib diikuti mahasiswa sebelum terjun ke berbagai wahana praktik profesi. Sebanyak 86 mahasiswa secara resmi disumpah dan diharapkan dapat menyelesaikan pendidikan profesi dengan baik serta menjadi fisioterapis profesional yang kompeten. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis, dalam sambutannya menyampaikan bahwa naskah sumpah mengandung komitmen moral dan profesional yang harus dipegang teguh oleh mahasiswa selama menjalani pendidikan profesi. “Naskah sumpah ini bukan sekadar seremonial, tetapi komitmen yang harus dijaga bersama, baik dalam menjaga marwah profesi fisioterapi, keselamatan pasien, hubungan dengan rekan sejawat, maupun nama baik institusi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pendidikan profesi fisioterapis merupakan simulasi dari kondisi kerja nyata di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, hingga praktik mandiri. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan mampu beradaptasi dengan baik dengan bekal kompetensi dan pembekalan yang telah diberikan oleh kampus. Prosesi sumpah tersebut disaksikan langsung oleh Sekretaris Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Zidni Imanurrohmah Lubis, S.Ft., Ftr., M.Biomed. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan naskah Sumpah Fisioterapis Muda oleh seluruh mahasiswa yang disumpah. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Lulus 3,5 Tahun, Mahasiswa Fisioterapi UMM Siap Menjawab Kebutuhan Fisioterapi di Indonesia

Foto Bersama Pimpinan Universitas, Fakultas Ilmu Kesehatan, dan Program Studi Fisioterapi

Program Studi S1 Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatatkan capaian akademik dengan meluluskan 64 mahasiswa tepat waktu dengan masa studi 3,5 tahun. Para lulusan tersebut dikukuhkan dalam Yudisium Periode I Fakultas Ilmu Kesehatan yang digelar di Auditorium GKB 5 UMM, Sabtu (07/02/2026). Seluruh lulusan S1 Fisioterapi UMM ini selanjutnya akan melanjutkan pendidikan ke jenjang Pendidikan Profesi Fisioterapis sebagai tahapan untuk menjadi fisioterapis profesional. Yudisium dibuka secara resmi oleh Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS. Dalam sambutannya, menyampaikan rasa bangga atas capaian mahasiswa yang mampu menyelesaikan studi lebih cepat dari masa studi reguler. “Saya mengapresiasi perjuangan mahasiswa yang mampu lulus dalam 3,5 tahun. Capaian ini tentu tidak terlepas dari dukungan orang tua dan keluarga. Jangan pernah lupa untuk berterima kasih kepada mereka,” ungkapnya. Dalam kesempatan tersebut, Dekan FIKES juga mengajak seluruh peserta yudisium untuk menguatkan semangat kebersamaan melalui jargon FIKES UMM, “Healthy Mind, Healthy Life, Healthy Spiritual. We Love UMM”, serta memotivasi mahasiswa agar siap melanjutkan pendidikan profesi sesuai dengan departemen masing-masing. “Yudisium ini bukan akhir, tetapi awal dari perjalanan profesional sebagai calon tenaga kesehatan,” tegasnya. Kegiatan yudisium juga dihadiri oleh Wakil Rektor III UMM Bidang Kemahasiswaan, Dr. Nur Subeki, S.T., M.T. Ia menekankan pentingnya kebanggaan sebagai lulusan UMM sekaligus tanggung jawab menjaga nama baik almamater. “Mahasiswa yang lulus tepat waktu, yakni 3,5 hingga 4 tahun, telah menunjukkan tanggung jawab atas amanah akademik yang diberikan universitas,” ujarnya. Dr. Nur Subeki mengaitkan peran lulusan FIKES dengan nilai Muhammadiyah sebagai Islam berkemajuan, serta peran tenaga kesehatan sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah ayat 30. Nilai tersebut tercermin melalui layanan yang berorientasi pada pemulihan fungsi gerak, peningkatan kualitas hidup, serta pendampingan pasien secara komprehensif dengan penuh tanggung jawab kemanusiaan. Dengan berlandaskan nilai al-islam kemuhammadiyahan dan kemanusiaan, diharapkan dapat menjawab kebutuhan layanan fisioterapi yang semakin kompleks di masyarakat. Penulis Holista Mila Yuniar dan Editor Bayu Prastowo