Fisioterapi UMM Jalin Kerjasama Internasional dengan University of Florence Italia

Pertemuan zoom meeting oleh Nicolo Persiani sebagai Koordinator Kerja Sama Internasional dan Kemitraan Akademik dengan Departemen Fisioterapi Universitas Muhamamdiyah Malang

Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring internasional melalui inisiasi kerja sama dengan University of Florence, Italia. Langkah strategis ini dibahas dalam pertemuan daring yang menghadirkan sejumlah tokoh penting dari kedua institusi serta perwakilan diplomatik Indonesia di Italia. Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Jacopo Cappucio selaku Konsul Kehormatan RI di Firenze, Nicolo Persiani sebagai Profesor sekaligus Koordinator Kerja Sama Internasional dan Kemitraan Akademik, serta Mateo Pacci yang mewakili Departemen Fisioterapi University of Florence. Dari pihak UMM, hadir Priyo Iswanto, Asisten Khusus Rektor Bidang Kerja Sama Internasional sekaligus mantan Duta Besar RI untuk Kolombia periode 2017–2021, bersama tim International Relations Office dan perwakilan Departemen Fisioterapi UMM. Dalam kesempatan tersebut, Nikmatur Rosidah mempresentasikan berbagai program international mobility yang telah dijalankan oleh Fisioterapi UMM bersama mitra institusi sebelumnya. Ia juga memaparkan kurikulum yang sedang berjalan, termasuk peluang mata kuliah yang dapat diambil oleh mahasiswa dalam skema pertukaran internasional. Paparan tersebut mendapatkan respons positif dari pihak University of Florence yang menilai adanya potensi besar untuk kolaborasi akademik, khususnya dalam bidang mobilitas mahasiswa dan penguatan kapasitas keilmuan fisioterapi. Dukungan terhadap inisiasi kerja sama ini juga disampaikan oleh Dimas Sondang Irawan. Ia menegaskan kesiapan institusi dalam menyambut kolaborasi internasional tersebut. “Kami sangat mendukung kerja sama baru ini agar bisa terealisasi dan menambah atmosfer internasional di lingkungan UMM. Selain itu, fisioterapi juga sudah memiliki SDM yang capable untuk menerima mahasiswa internasional,” ujarnya. Perwakilan University of Florence bahkan menyampaikan harapan agar kerja sama ini dapat segera direalisasikan, mengingat besarnya manfaat yang dapat diperoleh kedua belah pihak, baik dari sisi akademik, penelitian, maupun pengalaman internasional bagi mahasiswa dan dosen. Inisiasi kerja sama ini menjadi bukti nyata komitmen Fisioterapi UMM dalam mendukung visi universitas untuk meningkatkan rekognisi internasional. Langkah ini juga menjadi pijakan penting sebelum melangkah lebih jauh menuju akreditasi internasional, sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai institusi pendidikan tinggi yang adaptif dan berdaya saing global. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah

Perkuat Kompetensi, Dosen Fisioterapi UMM Dalami Metode DNS di Taiwan

Rakhmad bersama Instructor Julia Demekova, MPT - dari DNS prague rehabilitation school

PWMU.CO – Upaya penguatan keilmuan fisioterapi terus dilakukan oleh Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya melalui pendalaman metode Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS), yang kini menjadi salah satu pendekatan penting dalam praktik fisioterapi modern. Dosen fisioterapi UMM, Rakhmad Rosadi, menjadi satu-satunya dosen dari Indonesia yang mengikuti pelatihan “DNS in Neurological Patients” di Taichung, Taiwan. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengembangan kompetensi internasional di bidang fisioterapi. Pelatihan tersebut menekankan pemahaman mendalam terkait kontrol postural, stabilisasi inti, serta integrasi sistem neuromuskular dalam gerakan fungsional. DNS sendiri merupakan pendekatan terapi yang dikembangkan berdasarkan prinsip perkembangan motorik sejak masa bayi. Metode ini membantu tubuh kembali ke pola gerak ideal guna meningkatkan efisiensi gerakan sekaligus mencegah risiko cedera. Pelatihan DNS terdiri dari beberapa tahapan, mulai dari level dasar hingga lanjutan. Setiap level dirancang untuk memperdalam kemampuan analisis gerak serta intervensi klinis, khususnya bagi pasien dengan gangguan neurologi maupun performa gerak. Rakhmad menyampaikan bahwa pendekatan DNS memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia, terutama dalam meningkatkan kualitas layanan fisioterapi. “Pendekatan ini sangat relevan untuk meningkatkan kualitas intervensi klinis, baik pada kasus neurologi maupun muskuloskeletal. Ke depan, kami ingin mengembangkan keilmuan ini secara lebih luas di lingkungan akademik,” jelasnya. Sementara itu, Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, menilai bahwa penguasaan metode spesifik seperti DNS akan memperkuat posisi fisioterapi UMM dalam pengembangan keilmuannya di Indonesia. Ia menegaskan bahwa peningkatan kompetensi dosen harus dilakukan secara berkelanjutan guna menjawab tantangan perkembangan ilmu kesehatan yang semakin dinamis. Penulis Nikmatur Rosidah dan Editor Bayu Prastowo

Matahari Homecare Hadirkan Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan bagi Masyarakat

Penyaluran Donasi Peduli Kesehatan

Upaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat terus dilakukan melalui berbagai inovasi pelayanan. Salah satunya melalui Matahari Homecare, layanan kesehatan berbasis kunjungan rumah yang hadir untuk membantu masyarakat, terutama mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan. Matahari Homecare merupakan layanan perawatan kesehatan di rumah yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan, atau memulihkan kondisi kesehatan pasien serta memaksimalkan tingkat kemandirian pasien di lingkungan tempat tinggalnya. Layanan ini menjadi bagian dari rangkaian pelayanan kesehatan yang komprehensif bagi individu maupun keluarga yang membutuhkan perawatan jangka panjang di rumah. Program Matahari Homecare ini merupakan bentuk kolaborasi antara Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kolaborasi lintas fakultas ini menjadi wujud sinergi akademik dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang tidak hanya berbasis keilmuan, tetapi juga memiliki dampak langsung bagi masyarakat. Matahari Homecare juga menjalin kerja sama dengan Rumah Zakat untuk menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi. Kolaborasi ini memungkinkan pasien yang kurang mampu tetap memperoleh layanan kesehatan yang layak tanpa harus terbebani biaya yang besar. Salah satu layanan yang diberikan dalam program ini adalah fisioterapi, khususnya bagi pasien yang membutuhkan rehabilitasi fisik seperti pasien pascastroke, gangguan mobilitas, maupun kondisi lain yang memerlukan terapi berkelanjutan. Layanan fisioterapi dilakukan langsung di rumah pasien sehingga proses rehabilitasi dapat berlangsung lebih nyaman dan berkesinambungan. PIC Matahari Homecare, Rakhmad Rosadi, SST.Ft., Ftr., M.Sc.PT., Ph.D.(PT), menjelaskan bahwa program ini hadir sebagai bentuk komitmen untuk memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat. “Melalui Matahari Homecare, kami berupaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Tidak semua pasien memiliki kemampuan untuk datang langsung ke fasilitas kesehatan, baik karena keterbatasan mobilitas, kondisi penyakit, maupun faktor ekonomi. Dengan pelayanan di rumah, pasien tetap bisa mendapatkan layanan kesehatan secara optimal,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kerja sama dengan Rumah Zakat menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan. “Kolaborasi ini memungkinkan kami memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat yang kurang mampu. Matahari Homecare tidak hanya bergerak dalam layanan kesehatan, tetapi juga membawa misi kemanusiaan untuk membantu masyarakat mendapatkan perawatan yang layak,” tambahnya. Melalui pendekatan pelayanan kesehatan berbasis rumah yang humanis dan komprehensif, Matahari Homecare diharapkan mampu menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau. Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga pada nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial terhadap masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Cegah Gangguan Gerak Sejak Dini, Mahasiswa Fisioterapi UMM Skrining Flat Foot di SMP Kota Malang

Mahasiswa Fisioterapi UMM Ketika Melakukan Kegiatan Skrining Flat Foot

Mahasiswa Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan dan skrining kondisi kaki pada siswa sekolah menengah pertama (SMP). Kegiatan ini dilakukan bersama SMP Negeri 13 Kota Malang dengan fokus pada deteksi dini kondisi flat foot serta upaya pengendaliannya melalui latihan fisioterapi. Mahasiswa fisioterapi UMM, Azhar Ramadhan Sarita dan Hendra Irza Fahrezi, melakukan pemaparan mengenai peran profesi fisioterapis dalam menjaga kesehatan sistem gerak tubuh, khususnya pada anak usia sekolah. Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya menjaga kesehatan kaki sebagai penopang aktivitas sehari-hari. Selain penyampaian materi, kegiatan juga diisi dengan skrining kondisi flat foot pada siswa. Pemeriksaan dilakukan pada 50 siswa kelas VIII untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya kelainan lengkung kaki yang dapat memengaruhi postur tubuh dan aktivitas fisik mereka. Flat foot atau kaki datar merupakan kondisi ketika lengkungan alami pada telapak kaki tidak terbentuk dengan baik, sehingga hampir seluruh telapak kaki menyentuh permukaan saat berdiri atau berjalan. Kondisi ini cukup sering ditemukan pada anak dan remaja usia sekolah. Pada usia SMP, flat foot dapat terjadi karena beberapa faktor seperti kelemahan otot-otot penyangga lengkung kaki, kelenturan ligamen yang berlebihan, kebiasaan aktivitas tertentu, penggunaan alas kaki yang kurang mendukung, hingga faktor pertumbuhan dan berat badan. Apabila tidak dikendalikan sejak dini, kondisi ini berpotensi memengaruhi postur tubuh, pola berjalan, serta keseimbangan. Dalam jangka panjang, flat foot juga dapat menimbulkan keluhan seperti nyeri pada kaki, pergelangan kaki, lutut, hingga punggung bawah akibat distribusi beban tubuh yang tidak optimal. Selain melakukan skrining, para mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai cara mengendalikan dan mencegah kondisi flat foot melalui latihan sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri. Latihan yang diperkenalkan meliputi strengthening exercise untuk memperkuat otot-otot penyangga lengkung kaki serta proprioceptive training untuk meningkatkan keseimbangan dan kontrol gerak kaki. Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph.D.(PT), menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi pembelajaran mahasiswa sekaligus sarana edukasi kesehatan bagi siswa di lingkungan sekolah. “Ini merupakan bagian dari implementasi pembelajaran mahasiswa fisioterapi sekaligus bentuk edukasi dini kepada siswa mengenai pentingnya menjaga kesehatan sistem gerak. Melalui skrining dan latihan sederhana ini, diharapkan siswa dapat lebih memahami kondisi tubuhnya serta mengetahui langkah pencegahan sejak dini,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan secara langsung di lingkungan sekolah sekaligus memperkenalkan peran profesi fisioterapis dalam upaya menjaga kesehatan sistem gerak sejak usia dini. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Fisioterapi UMM Gelar Buka Bersama dan Tracer Study Guna Pererat Silaturahmi Ikatan Alumni

Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan buka bersama yang dirangkaikan dengan pelaksanaan tracer study alumni pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan perwakilan alumni dari berbagai angkatan, mulai dari angkatan pertama tahun 2013 hingga alumni terbaru atau fresh graduate angkatan 2022. Acara ini menjadi momentum untuk mempererat kembali hubungan antara institusi dan para alumni yang kini telah berkiprah di berbagai bidang pelayanan kesehatan. Dalam sambutannya, Kepala Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menyampaikan rasa bahagianya dapat kembali bertemu dengan para alumni, khususnya mereka yang berada di wilayah sekitar Kota Malang seperti Surabaya, Sidoarjo, dan daerah sekitarnya. Ia menuturkan bahwa tracer study merupakan agenda penting bagi program studi untuk mengetahui perkembangan karier alumni sekaligus sebagai bahan evaluasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan fisioterapi di UMM. Kegiatan tracer study Fisioterapi UMM telah dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di luar Pulau Jawa seperti Kalimantan dan Nusa Tenggara Barat. Pelaksanaannya sering kali disinergikan dengan agenda lain yang diselenggarakan oleh program studi, seperti kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Tahun ini, momentum bulan Ramadan dimanfaatkan untuk melaksanakan tracer study yang dikemas dalam suasana kebersamaan melalui kegiatan buka puasa bersama. Selain menjadi ajang temu alumni, kegiatan ini juga diisi dengan tausiyah yang disampaikan oleh Bapak Faqih Ruhyanuddin, S.Kep., M.Kep., Sp.KMB. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga dan mempererat tali silaturahmi serta menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama, terutama di bulan suci Ramadan. Pesan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh peserta bahwa hubungan antara almamater dan alumni bukan hanya sebatas akademik, tetapi juga sebagai keluarga besar yang saling mendukung dan menguatkan. Melalui kegiatan ini, Fisioterapi UMM berharap dapat terus memperkuat jejaring alumni sekaligus memperoleh masukan berharga dari para lulusan yang telah terjun langsung di dunia kerja. Dengan demikian, program studi dapat terus beradaptasi dan meningkatkan mutu pendidikan guna menghasilkan fisioterapis yang kompeten dan berdaya saing. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah

Dosen Fisioterapi UMM Tegaskan Exercise Bukan Sekadar Aktivitas Fisik

Dimas Sondang Irawan, Ph.D(PT), dosen Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kembali menegaskan pentingnya pemahaman ilmiah dalam praktik exercise di tengah masyarakat. Dimas, sapaan akrabnya, menjadi pemateri utama dalam Webinar Nasional bertema “Move to Heal: Exercise as Therapy for the Body and Mind” yang diselenggarakan dalam rangkaian ATHENA VI 2026 dan diikuti mahasiswa fisioterapi serta peserta umum. Dalam paparannya berjudul Exercise, Injury Prevention, and Movement for Better Health and Quality of Life, Dimas menyoroti kekeliruan umum di masyarakat yang kerap menyamakan physical activity dengan exercise. Menurutnya, dua istilah tersebut memiliki perbedaan konseptual dan fisiologis yang jelas. “Exercise dan physical activity itu berbeda. Banyak orang menganggap lari atau olahraga yang sedang tren sebagai exercise, padahal jika tidak memiliki dosis yang terukur dan tidak dirancang secara sistematis, itu baru sebatas physical activity,” tegasnya. Sebagai akademisi dengan kepakaran di bidang Biomechanics and Sport, Dimas menjelaskan bahwa exercise harus memenuhi prinsip FITT (Frequency, Intensity, Time, Type). Tanpa pengaturan dosis yang tepat, tubuh tidak akan mengalami adaptasi fisiologis yang optimal. Sebaliknya, dosis berlebihan tanpa kontrol justru meningkatkan risiko cedera. Ia memaparkan bahwa exercise yang terstruktur akan memicu respons sistemik pada tubuh. Pada sistem muskuloskeletal terjadi peningkatan rekrutmen motor unit, hipertrofi otot, stabilitas sendi, serta kontrol postural yang lebih baik. Dari sisi kardiovaskular dan respirasi, exercise meningkatkan kapasitas pompa jantung, ventilasi paru, dan ambang kelelahan. Sementara secara neurohormonal, pelepasan endorfin, serotonin, dan dopamin berperan dalam stabilitas emosi serta peningkatan fungsi kognitif. Dimas juga menggarisbawahi tantangan kesehatan modern akibat dominasi gaya hidup digital. Fenomena sitting disease, tech-neck, kurang tidur, dan stres kronis menyebabkan penurunan kapasitas fisik fungsional. “Banyak orang merasa lelah padahal aktivitas fisiknya rendah. Ini tanda bahwa kapasitas tubuhnya menurun. Pola hidup sedentari dan paparan digital berlebihan menjadi faktor utama,” jelasnya. Ia menilai fenomena FOMO olahraga sebenarnya merupakan momentum positif karena menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk bergerak. Namun, tanpa edukasi berbasis sains, tren tersebut berisiko menimbulkan miskonsepsi. “FOMO itu bagus sebagai pemicu. Tetapi kita perlu edukasi masif bahwa exercise harus evidence-based dan memiliki dosimetri yang jelas. Ini menjadi PR besar kita sebagai tenaga kesehatan, khususnya fisioterapis,” ujarnya. Melalui forum ilmiah ini, Dimas menegaskan bahwa exercise bukan sekadar aktivitas fisik spontan, melainkan intervensi terapeutik yang murah, aman, dan berbasis bukti. Ia juga menekankan peran strategis fisioterapis dalam aspek promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Preklinik Jadi Langkah Awal Mahasiswa Fisioterapi UMM Untuk Kenalkan Profesionalitas Profesi

Salah Satu Kegiatan Preklinik di Wahana Praktik Bebas Cedera

Sebanyak 110 mahasiswa angkatan 2023 Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti kegiatan preklinik yang berlangsung selama satu bulan di berbagai wahana praktik yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Program ini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran mahasiswa sebelum memasuki tahap pendidikan profesi fisioterapi. Preklinik merupakan program yang dirancang untuk mempersiapkan mahasiswa dalam menjalani praktik klinik secara nyata. Kegiatan ini diselenggarakan melalui kolaborasi antara program studi dengan berbagai wahana praktik seperti rumah sakit, klinik, maupun institusi layanan kesehatan lainnya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diperkenalkan sejak dini dengan suasana klinis (clinical atmosphere) sehingga mampu membangun kesiapan diri sebelum menjalani praktik klinik secara penuh pada jenjang profesi. Program preklinik juga bertujuan menjembatani mahasiswa dari pembelajaran akademik menuju praktik profesional. Dalam kegiatan ini mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai lingkungan kerja fisioterapi, sistem pelayanan kesehatan, serta interaksi dengan tenaga kesehatan di lapangan. Paparan awal terhadap dunia klinis tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa dalam menghadapi proses praktik klinik di masa mendatang. Selain memberikan gambaran suasana klinis, program preklinik juga menjadi sarana pengembangan berbagai keterampilan penting bagi calon fisioterapis. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai alur pelayanan fisioterapi, tetapi juga mengembangkan soft skills seperti kemampuan komunikasi, keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah, kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja, serta kemampuan bekerja dalam tim. PIC kegiatan preklinik, Arys Hasta Baruna, S.Ft., M.Kes., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi program studi dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan dunia profesional fisioterapi. “Program preklinik ini dirancang untuk memberikan pengalaman awal kepada mahasiswa tentang suasana dan sistem kerja di layanan kesehatan. Harapannya mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki gambaran nyata mengenai praktik fisioterapi di lapangan sehingga lebih siap ketika memasuki pendidikan profesi,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa perkembangan layanan kesehatan saat ini menuntut fisioterapis untuk memiliki kompetensi yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga mampu mengimplementasikan pengetahuan dalam praktik nyata secara profesional. Melalui kegiatan preklinik ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami dinamika pelayanan fisioterapi secara langsung sekaligus meningkatkan kesiapan akademik, mental, dan profesional sebelum melanjutkan ke tahap pendidikan profesi fisioterapi. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Fully Funded Student Exchange 2026 Program

Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuka kesempatan internasional bagi mahasiswa S1 Fisioterapi melalui Student Exchange Program 2026 ke Mahidol University, Thailand. Program ini bersifat fully funded, sehingga peserta terpilih akan memperoleh kesempatan belajar langsung di Mahidol University dengan biaya administrasi, pendidikan, dan tempat tinggal yang ditanggung oleh Program Studi Fisioterapi. Selain mendapatkan pengalaman akademik bertaraf internasional, mahasiswa juga akan merasakan atmosfer pendidikan fisioterapi berkualitas tinggi serta pertukaran budaya lintas negara. Persyaratan Peserta Mahasiswa aktif Program Sarjana Fisioterapi UMM Mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris Mahasiswa semester 5 atau 6 (tahun ketiga) Bersedia mengikuti seluruh rangkaian program hingga selesai Memiliki paspor aktif Melampirkan Curriculum Vitae (CV) / Resume Manfaat Program Program pertukaran fully funded Studi di Mahidol University, Thailand Paparan akademik internasional Pengalaman pendidikan fisioterapi berkualitas tinggi Pengalaman pertukaran budaya Pengembangan kemandirian dan pertumbuhan personal Peningkatan kualitas CV dan prospek karier Peningkatan kemampuan Bahasa Inggris dan komunikasi   Pendaftaran dibuka pada 1 Maret – 31 Maret 2026. Mahasiswa yang memenuhi kriteria diharapkan segera mendaftarkan diri melalui tautan berikut ini bit.ly/StudentExchangePhysioUMM, untuk narahubung dapat menghubungi kontak humas fisioterapi.

Mahasiswa Fisioterapi UMM Bekali Orang Tua dengan Literasi Pyramid of Learning Untuk Mendukung Tumbuh Kembang Anak

Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan peran promotif dan preventif dalam bidang fisioterapi pediatri berbasis komunitas melalui kegiatan edukasi kepada pendamping dan orang tua pasien. Edukasi ini mengangkat tiga topik penting dalam tumbuh kembang anak, yakni pengenalan duduk W (W-sitting) dan cara mengatasinya, pembatasan durasi layar (screen time) serta peningkatan aktivitas fisik, dan pemahaman konsep Pyramid of Learning sebagai fondasi perkembangan anak. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa Nur Maghfiroh Mulkam, Nurmaliana Yori Syahrani, Nazwa Restyara, Aviv Fahri Mardani, Ilma Shabhati Ibrahim, dan Louis Fauliaka Fitria. Kegiatan ini dilakukan di Marvel Kids Terapi Anak Surabaya di bawah pengawasan Perseptorship Nurul Aini Rahmawati, S.Ft., Ftr., M.Biomed serta Pembimbing Wahana Praktik Ardita Ramadhaningrum, SST., Ftr., selaku Co-Founder dan Fisioterapis Pediatri Rumah Terapi dan Belajar Marvel Kids. Dalam sesi pertama, mahasiswa menjelaskan mengenai kebiasaan duduk W yang kerap ditemukan pada anak usia dini. Posisi duduk dengan kedua lutut menekuk ke dalam dan kaki terbuka ke samping ini memang memberikan stabilitas instan. Namun, hal ini dapat mengurangi aktivasi otot inti dan kontrol postural. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kebiasaan ini berpotensi memengaruhi keseimbangan otot panggul, pola jalan, serta perkembangan koordinasi gerak. Orang tua diedukasi untuk melakukan koreksi secara persuasif dengan mengarahkan anak pada posisi duduk alternatif seperti bersila, long sitting, atau side sitting, serta memberikan latihan penguatan otot inti secara bertahap. Topik kedua menyoroti pentingnya mengurangi durasi layar dan meningkatkan aktivitas fisik anak. Paparan screen time berlebihan tidak hanya berdampak pada kesehatan mata dan pola tidur, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan motorik, bahasa, serta regulasi atensi. Mahasiswa menekankan pentingnya aktivitas fisik yang merangsang sistem vestibular dan proprioseptif melalui permainan aktif seperti melompat, merangkak, berlari, dan aktivitas luar ruang. Orang tua didorong untuk membangun rutinitas harian yang seimbang antara penggunaan teknologi dan stimulasi gerak. Selain itu, mahasiswa juga memperkenalkan konsep Pyramid of Learning, yaitu model hierarki perkembangan yang menempatkan sistem sensorik, taktil, vestibular, dan proprioseptif sebagai fondasi sebelum keterampilan akademik dan kognitif berkembang optimal. Dijelaskan bahwa kesiapan belajar tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membaca atau berhitung, melainkan juga oleh kematangan regulasi sensorimotor. Dengan fondasi sensorik yang kuat, anak akan lebih mudah mengembangkan fokus, koordinasi, serta kontrol perilaku. Pembimbing Wahana Praktik, Ardita Ramadhaningrum, SST., Ftr., menegaskan bahwa edukasi kepada orang tua merupakan komponen krusial dalam keberhasilan intervensi fisioterapi anak. “Terapi tidak berhenti di ruang praktik. Ketika orang tua memahami prinsip postur, aktivitas fisik, dan perkembangan sensorik, stimulasi dapat dilanjutkan secara konsisten di rumah. Inilah yang membuat hasil terapi menjadi lebih optimal dan berkelanjutan,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengasah kompetensi klinis, tetapi juga memperkuat peran fisioterapi sebagai profesi yang berkontribusi dalam peningkatan literasi kesehatan keluarga. Pendekatan edukatif yang komprehensif ini diharapkan mampu mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, sehat, dan sesuai tahapan perkembangannya. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Fisioterapi UMM Gelar Edukasi Kebugaran Fisik Dan PMB Pada Siswa/i SMA LAB UM

Program Studi S1 Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan edukasi kebugaran dan pemeriksaan fisik bagi siswa-siswi SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang (SMA LAB UM). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian sosialisasi peran profesi fisioterapis di Indonesia sekaligus agenda Promosi dan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tahun ajaran 2026/2027. Kegiatan ini melibatkan Tim PMB Program Studi dan mahasiswa Fisioterapi UMM yang memberikan materi mengenai pentingnya menjaga kebugaran fisik di tengah aktivitas akademik yang padat, khususnya bagi siswa kelas akhir yang tengah mempersiapkan kelulusan dan seleksi masuk perguruan tinggi. Edukasi tidak hanya disampaikan secara teoritis, tetapi juga melalui pemeriksaan fisik sederhana untuk mengenalkan aspek dasar asesmen dalam fisioterapi. Materi yang diberikan mencakup konsep kebugaran jasmani, pentingnya postur tubuh yang baik, pencegahan cedera, serta pemahaman awal mengenai peran fisioterapis dalam sistem pelayanan kesehatan. Melalui pendekatan ini, siswa memperoleh gambaran nyata bahwa fisioterapi tidak hanya berkaitan dengan rehabilitasi cedera, tetapi juga berperan dalam promotif dan preventif kesehatan. Person in Charge (PIC) PMB Program Studi Fisioterapi UMM, Nikmatur Rosidah, S.Ft., M.Sc., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memperluas pemahaman siswa mengenai profesi fisioterapi yang masih belum dikenal secara luas di masyarakat. “Kami ingin konsep dasar fisioterapi dan profesi ini lebih dikenal di lingkungan siswa di Indonesia. Masih banyak masyarakat yang belum memahami secara utuh prospek kerja dan peran fisioterapi dalam ilmu kesehatan. Melalui kegiatan ini, kami berharap siswa mendapatkan wawasan baru sekaligus mengenal peluang karier di bidang fisioterapi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sosialisasi ini tidak semata-mata bertujuan mengenalkan program studi, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi akademik dalam meningkatkan literasi kesehatan di kalangan pelajar. Dengan pemahaman yang baik mengenai kebugaran dan fungsi gerak tubuh, siswa diharapkan lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan sejak usia remaja. Melalui kegiatan ini, Program Studi S1 Fisioterapi UMM menegaskan komitmennya dalam mengedukasi masyarakat sekaligus memperkenalkan profesi fisioterapis sebagai bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan nasional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo