Aktivitas Alam Jadi Media Terapi, Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Perkuat Stimulasi Sensoris Anak di ASYA Therapy Center Mojokerto

Mahasiswa Profesi Fisioterapis Tengah Mendampingi Terapi Sensoris di Alam

Pendekatan fisioterapi pediatrik tidak selalu dilakukan di ruang terapi. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah menjalani praktik lapangan di ASYA Therapy Center Mojokerto memperoleh pengalaman pembelajaran yang unik melalui kegiatan menanam padi bersama anak-anak sebagai bagian dari stimulasi sensoris berbasis aktivitas alam. Kegiatan yang diikuti oleh lima mahasiswa profesi fisioterapis tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman sensoris yang kaya dan bermakna bagi anak-anak. Melalui aktivitas menyentuh tanah, merasakan tekstur lumpur, memegang bibit padi, hingga berinteraksi langsung dengan lingkungan alam terbuka, anak-anak diajak untuk mengembangkan kemampuan sensorik, motorik, serta keterampilan sosial secara alami dan menyenangkan. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa tidak hanya mendampingi anak-anak, tetapi juga melakukan observasi terhadap berbagai respons sensoris yang muncul. Aktivitas ini menjadi salah satu bentuk implementasi pendekatan terapi berbasis aktivitas fungsional (functional activity-based therapy) yang saat ini banyak diterapkan dalam layanan fisioterapi pediatri modern. Owner sekaligus Clinical Instructor Klinik Asya Pediatri, menjelaskan bahwa pengalaman langsung di lingkungan alam memiliki manfaat yang sangat baik bagi perkembangan anak, terutama dalam mendukung proses integrasi sensoris. “Anak-anak belajar melalui pengalaman nyata. Saat mereka menyentuh tanah, merasakan tekstur lumpur, atau menanam bibit padi secara langsung, berbagai sistem sensoris bekerja secara bersamaan. Kegiatan seperti ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga menjadi media terapi yang efektif untuk mendukung perkembangan anak,” ujarnya. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa profesi fisioterapis dalam kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman berharga untuk memahami bahwa terapi dapat dikemas secara kreatif, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, S.ST.Ft., Ftr., M.Fis., menilai bahwa praktik lapangan merupakan kesempatan penting bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan kondisi nyata di lapangan. “Kami mendorong mahasiswa untuk mengembangkan pendekatan fisioterapi yang inovatif, berbasis bukti ilmiah (evidence-based), dan berpusat pada kebutuhan pasien. Kegiatan menanam padi ini menunjukkan bahwa terapi tidak selalu dilakukan dengan metode konvensional, tetapi dapat dikembangkan melalui aktivitas sehari-hari yang bermakna bagi anak,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa pengalaman praktik di bidang pediatri, seperti di Klinik Asya Pediatri, menjadi sarana penting bagi mahasiswa untuk memperkuat kompetensi profesional, kemampuan komunikasi terapeutik, serta kreativitas dalam merancang intervensi fisioterapi yang efektif dan menyenangkan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa profesi fisioterapis UMM memperoleh kesempatan untuk memahami secara langsung penerapan stimulasi sensoris berbasis aktivitas alam. Di sisi lain, anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermanfaat untuk mendukung perkembangan sensorik, motorik, dan kemampuan interaksi sosial mereka. Kolaborasi antara Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM dan Klinik Asya Pediatri menjadi contoh bagaimana pendidikan profesi kesehatan dapat menghadirkan pembelajaran yang aplikatif, inovatif, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Dengan memanfaatkan aktivitas sederhana seperti menanam padi, terapi dapat menjadi pengalaman yang lebih natural, bermakna, dan menyenangkan bagi anak-anak dalam mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah

Mahasiswa Student Exchange Mahidol University Eksplorasi Ekosistem dan Regulasi Praktik Fisioterapi Indonesia

Owner Rehab-In Malang Dwi Agung Prasetyo, S.Ft., Ftr., M.Biomed, Siwat Matro, dan Kattiya Promkhandee

Mahasiswa dari Department of Physical Therapy, Mahidol University, Thailand, yang tengah mengikuti Program International Student Exchange di Program Studi S1 Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kembali mendapatkan pengalaman pembelajaran lapangan melalui kunjungan akademik ke Rehab-In Malang, salah satu wahana mitra Fisioterapi UMM yang bergerak di bidang praktik fisioterapi mandiri. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Fisioterapi UMM untuk memperkenalkan berbagai model layanan fisioterapi di Indonesia, termasuk pengembangan praktik mandiri yang saat ini semakin berkembang sebagai salah satu bentuk pelayanan kesehatan profesional. Kunjungan tersebut diikuti oleh mahasiswa S1 Fisioterapi UMM serta mahasiswa Master of Physical Therapy dari Mahidol University, yakni Siwat Matro dan Kattiya Promkhandee yang sedang menjalani program mobility exchange di UMM. Mereka disambut langsung oleh Owner Rehab-In Malang, Agung Dwi Prasetyo, S.Ft., Ftr., M.Biomed. Dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif, para peserta memperoleh berbagai informasi mengenai perjalanan pendirian praktik fisioterapi mandiri, sistem regulasi profesi fisioterapi di Indonesia, strategi pengelolaan layanan kesehatan, hingga tantangan dan peluang pengembangan praktik fisioterapi di era modern. Mahasiswa internasional tampak antusias mengikuti sesi tanya jawab yang membahas perbedaan sistem pelayanan fisioterapi antara Indonesia dan Thailand. Siwat Matro dan Kattiya Promkhandee turut aktif berdiskusi serta mengajukan berbagai pertanyaan terkait mekanisme perizinan praktik, model bisnis layanan fisioterapi, pengelolaan sumber daya manusia, hingga strategi membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan fisioterapi mandiri. Agung Dwi Prasetyo menjelaskan bahwa keberhasilan praktik mandiri tidak hanya ditentukan oleh kompetensi klinis seorang fisioterapis, tetapi juga oleh kemampuan manajerial, komunikasi, serta pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat. “Seorang fisioterapis saat ini tidak hanya dituntut mampu memberikan pelayanan klinis yang baik, tetapi juga harus memahami aspek manajemen, pengembangan layanan, dan inovasi agar praktik yang dijalankan dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., menyampaikan bahwa kunjungan ke wahana mitra merupakan bagian penting dari program student exchange karena memberikan gambaran nyata tentang praktik fisioterapi di Indonesia. “Kami ingin mahasiswa internasional maupun mahasiswa UMM memperoleh pengalaman langsung mengenai berbagai model pelayanan fisioterapi yang berkembang di Indonesia. Melalui kunjungan ini, mereka dapat memahami aspek klinis, regulasi, hingga kewirausahaan dalam profesi fisioterapi,” jelasnya. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan perspektif antarnegara yang dapat memperkaya wawasan mahasiswa dalam menghadapi tantangan profesi fisioterapi di tingkat global, tegasnya. Melalui program International Student Exchange ini, Fisioterapi UMM terus berkomitmen untuk memperkuat internasionalisasi pendidikan sekaligus memperkenalkan praktik baik pelayanan fisioterapi Indonesia kepada mahasiswa dari berbagai negara. Kunjungan ke Rehab-In Malang menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang memberikan pengalaman akademik, profesional, dan budaya secara langsung kepada para peserta program pertukaran mahasiswa, termasuk Siwat Matro dan Kattiya Promkhandee dari Mahidol University. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Bangun Kolaborasi Global, Fisioterapi UMM Terus Kembangkan International Mobility

Penerimaan Mahasiswa Student Exchange oleh IRO UMM

Program internasionalisasi yang dijalankan Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapat perhatian positif dari International Relations Office (IRO) UMM. Mahasiswa student exchange dari Faculty of Physical Therapy, Mahidol University Thailand, Siwat Matro, turut melakukan kunjungan resmi ke kantor International Relations Office UMM sebagai bagian dari rangkaian kegiatan mobility exchange di lingkungan kampus UMM. Dalam kunjungan tersebut, Siwat Matro diterima langsung oleh Head of International Relations Office UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, M.P. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan tampak saat menyambut mahasiswa internasional yang tengah menjalani program pertukaran mahasiswa di Program Studi Fisioterapi UMM. Dr. Listiari menyampaikan apresiasinya atas konsistensi Program Studi Fisioterapi UMM dalam menjalankan berbagai program internasionalisasi bersama mitra dari luar negeri. Menurutnya, Fisioterapi UMM menjadi salah satu program studi yang aktif mengembangkan kerja sama global melalui student exchange, academic collaboration, hingga cultural exchange. “Fisioterapi UMM termasuk program studi yang sangat aktif dalam kegiatan internasionalisasi. Program exchange bersama Mahidol University telah berjalan secara rutin dan menunjukkan komitmen yang baik dalam membangun jejaring global bagi mahasiswa maupun dosen,” ujarnya. Tidak hanya itu, Dr. Listiari juga mengungkapkan bahwa saat ini Fisioterapi UMM tengah mempersiapkan program student exchange internasional lainnya bersama universitas mitra dari Eropa. Persiapan tersebut dilakukan dengan dukungan penuh dari International Relations Office UMM. “Selain menerima mahasiswa dari Mahidol University Thailand, saat ini Fisioterapi UMM juga sedang dalam proses persiapan untuk menyambut mahasiswa exchange dari Florence University, Italia. IRO UMM terus mendampingi dan membantu proses internasionalisasi ini agar dapat berjalan optimal,” jelasnya. Menurut Dr. Listiari, kesiapan Program Studi Fisioterapi UMM dalam menjalankan program pertukaran internasional dinilai sangat baik, baik dari sisi akademik, layanan mahasiswa internasional, maupun pengalaman dalam pengelolaan program mobility yang telah berjalan selama beberapa tahun terakhir. “Program Studi Fisioterapi UMM memiliki kesiapan yang sangat baik untuk menjalankan program pertukaran. Mulai dari sistem akademik, pendampingan mahasiswa internasional, hingga aktivitas pembelajaran berbasis komunitas dan praktik klinik telah disiapkan dengan matang. Ini menjadi modal penting untuk terus memperluas kerja sama internasional ke depannya,” tambahnya. Kehadiran mahasiswa internasional tersebut diharapkan dapat semakin memperkuat atmosfer global di lingkungan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM sekaligus mendukung visi UMM sebagai perguruan tinggi berdaya saing secara internasional. Program international mobility juga menjadi bagian dari komitmen Fisioterapi UMM dalam memberikan pengalaman akademik lintas budaya bagi mahasiswa serta memperluas jejaring kolaborasi pendidikan kesehatan di tingkat global. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah

Fisioterapi UMM Konsisten Jalankan Program Internasional Bersama Mahidol University Thailand

Mahasiswa Student Exchange Bersama Mahasiswa Profesi Fisioterapis dan Clinical Instructor di Puskesmas Pandanwangi, Kota Malang

Program Studi S1 Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring internasional melalui program student exchange mobility bersama Faculty of Physical Therapy, Mahidol University, Thailand. Pada tahun ini, Fisioterapi UMM menerima mahasiswa internasional asal Thailand, Siwat Matro, yang akan menjalani program pertukaran mahasiswa selama tiga minggu, mulai 16 Mei hingga 7 Juni 2026. Selama berada di UMM, Siwat Matro akan mengikuti berbagai kegiatan akademik dan praktik lapangan bersama mahasiswa Fisioterapi UMM. Kegiatan tersebut meliputi perkuliahan, diskusi akademik, praktik klinik di puskesmas, hingga cultural exchange untuk mengenal budaya Indonesia dan kehidupan mahasiswa di Kota Malang. Kaprodi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., menyampaikan bahwa program student exchange bersama Mahidol University merupakan bagian dari penguatan kerja sama internasional yang telah berjalan secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir. “Program student exchange bersama Mahidol University menjadi agenda tahunan yang terus kami kembangkan sebagai bentuk penguatan kolaborasi internasional. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman akademik dan klinis bagi mahasiswa internasional, tetapi juga memperkaya wawasan global mahasiswa Fisioterapi UMM,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa kerja sama antara Fisioterapi UMM dan Mahidol University telah berlangsung selama tiga tahun terakhir. Tahun 2026 ini juga menjadi batch ke-5 penerimaan mahasiswa Mahidol University di lingkungan Fisioterapi UMM melalui program mobility exchange. Dalam program tersebut, Siwat dijadwalkan mengikuti clinical practice bersama mahasiswa profesi fisioterapis UMM di sejumlah puskesmas wilayah Malang Raya. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa internasional dapat mempelajari pendekatan pelayanan fisioterapi berbasis komunitas yang diterapkan di Indonesia, khususnya pada layanan kesehatan primer. Menurut Dimas, keberadaan mahasiswa internasional di lingkungan kampus menjadi ruang pembelajaran yang sangat positif bagi mahasiswa maupun dosen. Interaksi lintas budaya dan perbedaan sistem pelayanan kesehatan dinilai mampu meningkatkan kemampuan komunikasi, adaptasi, serta kompetensi global mahasiswa fisioterapi. “Kami berharap mahasiswa dapat belajar memahami praktik fisioterapi dari perspektif internasional. Tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga bagaimana membangun kolaborasi, komunikasi lintas budaya, dan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat yang menjadi fokus kegiatan praktik di puskesmas,” tambahnya. Selain kegiatan akademik dan clinical practice, program exchange ini juga menjadi sarana cultural exchange antara mahasiswa Indonesia dan Thailand. Berbagai aktivitas bersama dirancang untuk memperkenalkan budaya lokal, kehidupan masyarakat, serta lingkungan pendidikan di Kota Malang kepada mahasiswa internasional. Melalui program ini, Fisioterapi UMM terus memperkuat langkah internasionalisasi pendidikan tinggi sekaligus membangun jejaring global dalam bidang fisioterapi dan kesehatan masyarakat. Program student exchange diharapkan menjadi ruang pertukaran ilmu, pengalaman, dan budaya yang memberikan manfaat bagi kedua institusi serta mempererat hubungan kerja sama antara UMM dan Mahidol University. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah

Mahasiswa Mahidol University Thailand Belajar Sistem Pelayanan Kesehatan di Fisioterapi UMM

Penerimaan Mahasiswa Student Exchange dari Mahidol University Thailand oleh Ketua Program Studi dan Dekan FIKES UMM

Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kedatangan mahasiswa student exchange dari Faculty of Physical Therapy, Mahidol University, Thailand, dalam rangka program international mobility yang rutin dilaksanakan bersama Program Studi Fisioterapi UMM. Mahasiswa exchange tersebut adalah Siwat Matro yang akan menjalani program pertukaran mahasiswa selama tiga minggu, mulai 16 Mei hingga 7 Juni 2026. Kedatangan Siwat Matro disambut langsung oleh Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., bersama Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D. Penyambutan berlangsung hangat sebagai bentuk komitmen FIKES UMM dalam mendukung internasionalisasi pendidikan serta memperkuat jejaring global di bidang kesehatan. Dalam sambutannya, Hidajah Rachmawati menyampaikan bahwa program student exchange menjadi kesempatan penting bagi mahasiswa untuk mempelajari sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan di negara lain. “Silakan ambil banyak pelajaran selama berada di Indonesia, khususnya di UMM. Thailand dan Indonesia tentu memiliki sistem pelayanan kesehatan yang berbeda, sehingga pengalaman ini dapat menjadi ruang belajar yang sangat baik untuk memahami berbagai pendekatan dalam dunia kesehatan dan fisioterapi,” ujarnya. Ia juga berharap kegiatan exchange ini mampu memperkuat hubungan akademik antara UMM dan Mahidol University sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional yang lebih luas di masa mendatang, baik dalam bidang pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat. Sementara itu, Henik Tri Rahayu menyampaikan bahwa program pertukaran mahasiswa tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun pengalaman budaya serta memperluas relasi internasional bagi mahasiswa. “Ambillah hal-hal baik dari kegiatan exchange ini, baik dari sisi akademik, budaya, maupun pengalaman sosial. Kami berharap pengalaman selama berada di UMM dapat menjadi kenangan dan pembelajaran yang berharga,” ungkapnya. Tidak hanya memberikan pesan akademik, pimpinan FIKES UMM juga mengajak mahasiswa exchange untuk menikmati suasana Kota Malang yang dikenal memiliki udara sejuk dan lingkungan pendidikan yang nyaman. “Kami berharap mahasiswa exchange dapat menikmati keindahan Kota Malang. Suhu di Malang tentu sedikit lebih dingin dibandingkan dengan Thailand, sehingga semoga dapat memberikan pengalaman baru yang menyenangkan selama tinggal di sini,” tambah Henik. Selama mengikuti program student exchange di UMM, Siwat Matro dijadwalkan mengikuti berbagai kegiatan akademik dan praktik lapangan, mulai dari perkuliahan bersama mahasiswa Fisioterapi UMM, praktik komunitas dan pelayanan fisioterapi di puskesmas, observasi pelayanan kesehatan, hingga cultural exchange untuk mengenal budaya Indonesia lebih dekat. Program kerja sama antara Program Studi Fisioterapi UMM dan Mahidol University telah berjalan selama tiga tahun terakhir dan menjadi salah satu bentuk nyata internasionalisasi pendidikan di lingkungan FIKES UMM. Tahun 2026 ini menjadi batch ke-5 penerimaan mahasiswa Mahidol University di UMM melalui program student exchange mobility. Melalui program ini, FIKES UMM berharap mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik internasional, tetapi juga mampu membangun perspektif global, kemampuan komunikasi lintas budaya, serta kolaborasi profesional di bidang fisioterapi dan pelayanan kesehatan masyarakat. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah

Peringati Hari Lansia Nasional, Fisioterapi UMM Hadirkan Program SIMBAH LENTUR di Panti Lansia

Foto Bersama Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fisioterapi UMM dengan Lansia di Griya Lansia Husnul Khatimah

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2026 yang diperingati setiap 29 Mei sebagai momentum untuk menghormati peran dan kontribusi lansia dalam perjalanan bangsa. Dalam peringatan tahun ini, tim Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM yang terdiri dari dosen dan mahasiswa melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Panti Jompo Yayasan Peduli Kasih “KNDJH” serta Griya Lansia Husnul Khatimah. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh dosen Fisioterapi UMM, Nungki Marlian Yuliadarwati, SST.Ft., Ftr., M.Kes., dengan menghadirkan berbagai layanan fisioterapi promotif dan preventif bagi para lansia. Tidak hanya pemeriksaan kondisi fisik dan latihan gerak sederhana, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga aktivitas fisik, keseimbangan tubuh, serta kualitas tidur pada usia lanjut. Dalam kesempatan tersebut, tim Fisioterapi UMM memperkenalkan inovasi latihan fisik bertajuk SIMBAH LENTUR. Program ini merupakan model latihan berbasis budaya Jawa yang dirancang khusus untuk lansia dengan pendekatan yang aman, sederhana, dan mudah diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. SIMBAH LENTUR merupakan akronim dari Simbah Nggolek Lungguh Njaga Angler. “Simbah” merujuk pada lansia, “Nggolek Lungguh” menggambarkan latihan berbasis kursi (base chair exercise), sedangkan “Njaga Angler” bermakna menjaga kualitas tidur agar tetap nyenyak dan berkualitas. Program latihan ini mengombinasikan berbagai pendekatan fisioterapi, seperti senam berbasis kursi, senam senior Triloka, latihan keseimbangan dinamis, hingga deep breathing exercise atau latihan pernapasan dalam. Seluruh rangkaian latihan dirancang untuk membantu meningkatkan keseimbangan tubuh, fleksibilitas, kebugaran fisik, serta kualitas tidur pada lansia. Menurut Nungki Marlian Yuliadarwati, inovasi SIMBAH LENTUR lahir dari kebutuhan lansia akan aktivitas fisik yang aman namun tetap efektif dalam meningkatkan kualitas hidup. “Banyak lansia mengalami penurunan keseimbangan, gangguan tidur, hingga keterbatasan aktivitas akibat penurunan fungsi fisik. Melalui SIMBAH LENTUR, kami mencoba menghadirkan model latihan yang sederhana, aman, berbasis budaya lokal, tetapi tetap memiliki dasar ilmiah fisioterapi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa penggunaan kursi sebagai alat bantu utama membuat latihan lebih ramah bagi lansia karena dapat meminimalkan risiko jatuh dan meningkatkan rasa aman saat bergerak. Selain itu, kombinasi latihan pernapasan dan postural juga membantu relaksasi tubuh sehingga kualitas tidur meningkat. Para lansia tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Tidak sedikit peserta yang mengaku merasa lebih segar, rileks, dan percaya diri untuk kembali aktif bergerak setelah mengikuti latihan bersama tersebut. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa profesi fisioterapis UMM. Selain memberikan pengalaman klinis langsung kepada mahasiswa, kegiatan ini juga memperkuat peran fisioterapi dalam mendukung penuaan sehat di masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Program Home Visit Jadi Ruang Kolaborasi Internasional Antara Fisioterapi UMM, Yemen Dan Thailand

Omar Salem, Mahasiswa Internasional Asal Republic of Yemen Tengah Melakukan Home Visite

Program home visit geriatri yang dilakukan mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di wilayah kerja Puskesmas Mojolangu tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi internasional dalam pelayanan kesehatan berbasis komunitas. Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa profesi fisioterapis UMM bersama mahasiswa internasional, yakni Omar Salem, mahasiswa asal Republic of Yemen yang tengah menempuh pendidikan melalui sistem bundling Sarjana dan Pendidikan Profesi Fisioterapis di UMM. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh Siwat Matro dari Thailand yang saat ini menjalani program Student Exchange hasil kolaborasi antara Fisioterapi UMM dan Faculty of Physical Therapy, Mahidol University, Thailand. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa internasional turut melakukan observasi dan pendampingan home visit bersama mahasiswa profesi fisioterapis UMM untuk melihat secara langsung implementasi pelayanan fisioterapi komunitas, khususnya pada pasien geriatri di Indonesia. Kehadiran mahasiswa lintas negara tersebut menjadi bagian dari penguatan internasionalisasi akademik sekaligus pertukaran wawasan mengenai pendekatan pelayanan kesehatan lintas negara. Dalam home visit tersebut, mahasiswa melakukan kunjungan ke sejumlah pasien lanjut usia dengan berbagai kondisi kesehatan seperti stroke, osteoarthritis, spondylosis lumbal, low back pain, post-operative total knee replacement, hingga gangguan kecemasan pada lansia. Mahasiswa membantu proses pemeriksaan fisioterapi, memberikan edukasi kesehatan, melakukan latihan terapeutik sederhana, serta mendampingi keluarga pasien dalam aktivitas yang dapat mendukung proses pemulihan dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menjelaskan bahwa kegiatan home visit menjadi bagian penting dalam mendukung pelayanan kesehatan berbasis komunitas sekaligus memperkuat pengalaman internasional bagi mahasiswa fisioterapi. “Kegiatan ini tidak hanya menjadi pengalaman belajar bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi nyata institusi pendidikan dalam membantu masyarakat. Dengan adanya mahasiswa internasional dan student exchange, mahasiswa dapat belajar mengenai perspektif pelayanan kesehatan global tanpa meninggalkan pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat lokal,” jelasnya. Menurutnya, pendekatan home visit memberikan pengalaman yang berbeda bagi mahasiswa karena pelayanan fisioterapi dilakukan langsung di rumah pasien. Hal tersebut membuat mahasiswa mampu memahami kondisi pasien secara lebih menyeluruh, termasuk faktor lingkungan, aktivitas sehari-hari, hingga dukungan keluarga yang memengaruhi proses rehabilitasi. Kehadiran mahasiswa internasional dalam kegiatan tersebut juga mendapat respons positif dari masyarakat. Pasien dan keluarga merasa terbantu dengan adanya pendampingan kesehatan secara langsung di rumah sekaligus mendapatkan pengalaman menarik karena dapat berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara. Melalui kegiatan ini, Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM berharap kolaborasi internasional dalam pelayanan kesehatan komunitas dapat terus ditingkatkan. Selain memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, program tersebut juga menjadi bagian dari upaya UMM dalam memperkuat internasionalisasi kampus serta mencetak fisioterapis yang adaptif terhadap perkembangan pelayanan kesehatan global. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah

Profesi Fisioterapis UMM Perluas Akses Layanan Kesehatan Melalui Puskesmas se-Malang Raya

Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Tengah Melakukan Home Visite

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan akses pelayanan kesehatan masyarakat melalui penyebaran mahasiswa profesi fisioterapis ke berbagai puskesmas di wilayah Malang Raya. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan fisioterapi yang lebih dekat, terjangkau, dan mudah diakses bagi seluruh lapisan masyarakat. Melalui program praktik profesi berbasis komunitas, mahasiswa profesi fisioterapis diterjunkan secara langsung ke sejumlah puskesmas untuk memberikan pelayanan fisioterapi kepada masyarakat. Program ini tidak hanya berorientasi pada penguatan kompetensi mahasiswa, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung pelayanan kesehatan primer di masyarakat. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menjelaskan bahwa pelayanan fisioterapi di tingkat puskesmas memiliki peran strategis dalam mendukung upaya promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif secara berkelanjutan. Menurutnya, kebutuhan layanan rehabilitasi saat ini terus meningkat, mulai dari kasus muskuloskeletal, stroke, gangguan gerak pada lansia, cedera olahraga, hingga gangguan aktivitas fungsional dalam kehidupan sehari-hari. “Melalui program ini, kami ingin layanan fisioterapi hadir lebih dekat dengan masyarakat. Selama ini fisioterapi masih sering dipandang hanya tersedia di rumah sakit besar, padahal pelayanan rehabilitasi juga sangat dibutuhkan di tingkat pelayanan dasar seperti puskesmas,” ujarnya. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa profesi fisioterapis UMM turut terlibat dalam berbagai bentuk pelayanan kesehatan masyarakat. Kegiatan tersebut meliputi asesmen fisioterapi, latihan terapi, edukasi kesehatan, home visit, pendampingan aktivitas fungsional pasien, hingga pelayanan fisioterapi komunitas berbasis promotif dan preventif. Selain memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat, program ini juga menjadi sarana pembelajaran nyata bagi mahasiswa profesi untuk memahami kondisi kesehatan masyarakat secara holistik. Mahasiswa dituntut mampu membangun komunikasi dengan pasien, keluarga, serta tenaga kesehatan lainnya dalam pendekatan interprofesional di fasilitas kesehatan primer. Safun menambahkan bahwa pengalaman praktik di puskesmas menjadi bagian penting dalam membentuk karakter fisioterapis yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Pendekatan komunitas dinilai mampu memperluas perspektif mahasiswa mengenai pelayanan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada terapi klinis, tetapi juga pada edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Keberadaan mahasiswa profesi fisioterapis UMM di berbagai puskesmas se-Malang Raya pun mendapat respons positif dari masyarakat maupun tenaga kesehatan setempat. Kehadiran layanan fisioterapi di tingkat pelayanan primer dinilai membantu masyarakat memperoleh penanganan lebih awal tanpa harus menunggu rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah

Program Support Group Mahasiswa

Program Support Group Mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui layanan Bimbingan dan Konseling (BK UMM) membuka program Support Group bagi seluruh mahasiswa aktif UMM. Program ini menjadi wadah pendampingan dan dukungan bagi mahasiswa yang tengah menghadapi berbagai kendala selama proses perkuliahan maupun penyelesaian tugas akhir. Kegiatan Support Group dirancang sebagai ruang yang aman, nyaman, dan saling mendukung antarmahasiswa. Melalui program ini, peserta dapat berbagi pengalaman, memperoleh dukungan emosional, serta belajar menghadapi berbagai permasalahan akademik maupun pribadi dengan cara yang lebih sehat dan realistis. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk membantu mahasiswa meningkatkan motivasi, rasa percaya diri, serta membangun kemampuan coping dalam menghadapi tekanan selama masa studi. Peserta akan diajak untuk tumbuh dan menguatkan satu sama lain melalui suasana diskusi yang suportif dan penuh empati. Adapun syarat mengikuti kegiatan ini, yaitu: Mahasiswa aktif UMM Memiliki kendala yang menghambat proses perkuliahan, baik akademik, tugas akhir, maupun persoalan pribadi Bersedia mengikuti kegiatan dengan nyaman dan saling menghargai Menjaga kerahasiaan cerita dan privasi sesama peserta Memiliki komitmen untuk saling mendukung dan bertumbuh bersama Pendaftaran Support Group dibuka mulai 23 Mei hingga 6 Juni 2026 melalui tautan bit.ly/pendaftaransupportgroup. Informasi terkait jadwal dan tempat pelaksanaan kegiatan akan diumumkan secara berkala kepada peserta yang telah mendaftar.

Bergerak Bersama Disabilitas, Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Lakukan POSDILAN di Desa Turirejo

Foto Bersama Setelah Kegiatan POSDILAN

Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut ambil bagian dalam kegiatan Posyandu Disabilitas yang diselenggarakan di Desa Turirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Kegiatan ini merupakan program rutin Puskesmas Lawang dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup penyandang disabilitas di masyarakat. Keterlibatan mahasiswa profesi fisioterapis UMM tersebut menjadi bagian dari implementasi stase komunitas dan geriatri yang saat ini sedang dijalani. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya membantu pelayanan kesehatan, tetapi juga mendampingi peserta secara langsung melalui pendekatan promotif, preventif, hingga edukatif berbasis fisioterapi komunitas. Kegiatan ini berlangsung di bawah pendampingan langsung Clinical Educator Puskesmas Lawang, Nadya Setyarini Farizka, A.Md.Kep., serta dosen pembimbing profesi, Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si. Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan proses pelayanan berjalan optimal sekaligus memberikan pengalaman klinis yang nyata kepada mahasiswa profesi. Rangkaian kegiatan diawali dengan senam bersama yang dipandu oleh mahasiswa fisioterapi UMM. Melalui gerakan-gerakan sederhana dan adaptif, peserta diajak untuk tetap aktif bergerak guna menjaga fleksibilitas, kekuatan otot, keseimbangan, serta kemampuan fungsional tubuh. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme dari para peserta maupun keluarga pendamping. Selain aktivitas fisik bersama, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan berupa pengecekan tekanan darah, pemeriksaan kondisi fisik umum, serta skrining sederhana terkait keluhan gerak dan fungsi tubuh peserta. Pemeriksaan tersebut dilakukan sebagai langkah promotif dan preventif untuk mendeteksi risiko gangguan kesehatan sejak dini. Mahasiswa profesi fisioterapis UMM juga memberikan edukasi mengenai pentingnya aktivitas fisik rutin, latihan sederhana yang dapat dilakukan di rumah, hingga cara menjaga kesehatan dan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari bagi penyandang disabilitas maupun lansia. Edukasi diberikan dengan pendekatan komunikatif agar mudah dipahami oleh peserta dan keluarganya. Tidak hanya itu, kegiatan Posyandu Disabilitas juga dilengkapi dengan layanan konsultasi fisioterapi. Dalam sesi tersebut, peserta dapat menyampaikan berbagai keluhan seperti nyeri sendi dan otot, keterbatasan gerak, gangguan keseimbangan, hingga kesulitan melakukan aktivitas fungsional sehari-hari. Mahasiswa bersama tim pendamping memberikan arahan latihan sederhana serta edukasi penanganan awal sesuai dengan kondisi masing-masing peserta. Kegiatan ini menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa profesi fisioterapis UMM dalam memahami pelayanan kesehatan berbasis komunitas secara holistik. Fisioterapi tidak hanya berfokus pada terapi kuratif, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat, peningkatan kualitas hidup, serta pencegahan komplikasi melalui pendekatan yang aktif dan partisipatif. Melalui kegiatan Posyandu Disabilitas ini, diharapkan upaya peningkatan kesehatan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas dan lansia, dapat terus berjalan secara berkelanjutan serta memperkuat pelayanan kesehatan promotif dan preventif di tingkat masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo