Program Support Group Mahasiswa

Program Support Group Mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui layanan Bimbingan dan Konseling (BK UMM) membuka program Support Group bagi seluruh mahasiswa aktif UMM. Program ini menjadi wadah pendampingan dan dukungan bagi mahasiswa yang tengah menghadapi berbagai kendala selama proses perkuliahan maupun penyelesaian tugas akhir. Kegiatan Support Group dirancang sebagai ruang yang aman, nyaman, dan saling mendukung antarmahasiswa. Melalui program ini, peserta dapat berbagi pengalaman, memperoleh dukungan emosional, serta belajar menghadapi berbagai permasalahan akademik maupun pribadi dengan cara yang lebih sehat dan realistis. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk membantu mahasiswa meningkatkan motivasi, rasa percaya diri, serta membangun kemampuan coping dalam menghadapi tekanan selama masa studi. Peserta akan diajak untuk tumbuh dan menguatkan satu sama lain melalui suasana diskusi yang suportif dan penuh empati. Adapun syarat mengikuti kegiatan ini, yaitu: Mahasiswa aktif UMM Memiliki kendala yang menghambat proses perkuliahan, baik akademik, tugas akhir, maupun persoalan pribadi Bersedia mengikuti kegiatan dengan nyaman dan saling menghargai Menjaga kerahasiaan cerita dan privasi sesama peserta Memiliki komitmen untuk saling mendukung dan bertumbuh bersama Pendaftaran Support Group dibuka mulai 23 Mei hingga 6 Juni 2026 melalui tautan bit.ly/pendaftaransupportgroup. Informasi terkait jadwal dan tempat pelaksanaan kegiatan akan diumumkan secara berkala kepada peserta yang telah mendaftar.

Bergerak Bersama Disabilitas, Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Lakukan POSDILAN di Desa Turirejo

Foto Bersama Setelah Kegiatan POSDILAN

Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut ambil bagian dalam kegiatan Posyandu Disabilitas yang diselenggarakan di Desa Turirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Kegiatan ini merupakan program rutin Puskesmas Lawang dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup penyandang disabilitas di masyarakat. Keterlibatan mahasiswa profesi fisioterapis UMM tersebut menjadi bagian dari implementasi stase komunitas dan geriatri yang saat ini sedang dijalani. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya membantu pelayanan kesehatan, tetapi juga mendampingi peserta secara langsung melalui pendekatan promotif, preventif, hingga edukatif berbasis fisioterapi komunitas. Kegiatan ini berlangsung di bawah pendampingan langsung Clinical Educator Puskesmas Lawang, Nadya Setyarini Farizka, A.Md.Kep., serta dosen pembimbing profesi, Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si. Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan proses pelayanan berjalan optimal sekaligus memberikan pengalaman klinis yang nyata kepada mahasiswa profesi. Rangkaian kegiatan diawali dengan senam bersama yang dipandu oleh mahasiswa fisioterapi UMM. Melalui gerakan-gerakan sederhana dan adaptif, peserta diajak untuk tetap aktif bergerak guna menjaga fleksibilitas, kekuatan otot, keseimbangan, serta kemampuan fungsional tubuh. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme dari para peserta maupun keluarga pendamping. Selain aktivitas fisik bersama, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan berupa pengecekan tekanan darah, pemeriksaan kondisi fisik umum, serta skrining sederhana terkait keluhan gerak dan fungsi tubuh peserta. Pemeriksaan tersebut dilakukan sebagai langkah promotif dan preventif untuk mendeteksi risiko gangguan kesehatan sejak dini. Mahasiswa profesi fisioterapis UMM juga memberikan edukasi mengenai pentingnya aktivitas fisik rutin, latihan sederhana yang dapat dilakukan di rumah, hingga cara menjaga kesehatan dan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari bagi penyandang disabilitas maupun lansia. Edukasi diberikan dengan pendekatan komunikatif agar mudah dipahami oleh peserta dan keluarganya. Tidak hanya itu, kegiatan Posyandu Disabilitas juga dilengkapi dengan layanan konsultasi fisioterapi. Dalam sesi tersebut, peserta dapat menyampaikan berbagai keluhan seperti nyeri sendi dan otot, keterbatasan gerak, gangguan keseimbangan, hingga kesulitan melakukan aktivitas fungsional sehari-hari. Mahasiswa bersama tim pendamping memberikan arahan latihan sederhana serta edukasi penanganan awal sesuai dengan kondisi masing-masing peserta. Kegiatan ini menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa profesi fisioterapis UMM dalam memahami pelayanan kesehatan berbasis komunitas secara holistik. Fisioterapi tidak hanya berfokus pada terapi kuratif, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat, peningkatan kualitas hidup, serta pencegahan komplikasi melalui pendekatan yang aktif dan partisipatif. Melalui kegiatan Posyandu Disabilitas ini, diharapkan upaya peningkatan kesehatan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas dan lansia, dapat terus berjalan secara berkelanjutan serta memperkuat pelayanan kesehatan promotif dan preventif di tingkat masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Dosen Fisioterapi UMM Ikuti Pelatihan Applied Approach untuk Perkuat Inovasi Pembelajaran

Simulasi Microteaching Dosen Fisioterapi UMM pada Kegiatan Applied Approach (AA)

Dosen Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si., tengah mengikuti pelatihan Applied Approach (AA) yang berlangsung pada 19–26 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan penguatan kompetensi pedagogik dosen di lingkungan pendidikan tinggi. Pelatihan AA tersebut membahas berbagai materi strategis yang berkaitan dengan pengembangan sistem pembelajaran modern di perguruan tinggi. Beberapa topik yang dibahas meliputi Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan Tinggi, Manajemen Mutu Terpadu, Evaluasi Proses Pembelajaran, Pengembangan Pembelajaran Aktif dan Inovatif, hingga Penerapan Literasi dalam Pembelajaran. Selain itu, peserta juga mendapatkan penguatan terkait Pembelajaran Berbasis Laboratorium, Pembelajaran Berbasis Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Asesmen Alternatif, serta Pemanfaatan Manajemen Referensi dalam Pengembangan Sumber Belajar dan Penulisan Karya Ilmiah. Pelatihan ini turut membahas Rekonstruksi Perencanaan Pembelajaran, peningkatan kualitas pembelajaran melalui lesson study, hingga rekonstruksi metode pembelajaran berbasis student-centered learning. Kegiatan ini menjadi langkah penting bagi dosen fisioterapi dalam menyesuaikan sistem pembelajaran dengan tantangan pendidikan kesehatan modern yang semakin dinamis. Terlebih, pendidikan fisioterapi tidak hanya menuntut penguasaan teori, tetapi juga kemampuan integrasi praktik klinis, clinical reasoning, dan pendekatan berbasis evidence-based practice. Dalam keterangannya, Bayu Prastowo menyampaikan bahwa transformasi pendidikan tinggi menuntut dosen untuk tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aktif, reflektif, dan aplikatif bagi mahasiswa. “Mahasiswa kesehatan saat ini membutuhkan metode pembelajaran yang lebih kontekstual dan berbasis kasus. Karena itu, dosen juga harus terus meningkatkan kapasitas pedagogiknya agar proses pembelajaran lebih efektif serta relevan dengan kebutuhan praktik klinis modern,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa pembelajaran fisioterapi saat ini harus mampu mengintegrasikan aspek akademik, praktik laboratorium, hingga pendekatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu ekosistem pembelajaran yang berkesinambungan. Pelatihan Applied Approach turut mendorong dosen untuk mengembangkan inovasi pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu, tetapi juga pada pembentukan kemampuan berpikir kritis, komunikasi profesional, kolaborasi interprofesional, serta penguatan etika akademik mahasiswa. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen institusi untuk menjaga mutu pendidikan dan meningkatkan kualitas lulusan. Melalui peningkatan kapasitas dosen secara berkelanjutan, diharapkan proses pembelajaran di lingkungan S1 Fisioterapi UMM semakin mampu menghasilkan tenaga fisioterapis yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global di bidang kesehatan. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Menuju Kelas Internasional, Fisioterapi UMM Siapkan Sistem Pembelajaran untuk Mahasiswa Italia dan Thailand

Rapat Persiapan Semester Ganjil Tahun Ajaran 2026/2027

Program Studi S1 Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar rapat koordinasi persiapan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 UMM. Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis program studi dalam memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus mempersiapkan internasionalisasi pendidikan fisioterapi, Senin (25/5/2026). Rapat koordinasi tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., dan diikuti oleh seluruh dosen di lingkungan Program Studi Fisioterapi. Dalam koordinasi tersebut, sejumlah agenda penting menjadi fokus pembahasan, mulai dari evaluasi proses pembelajaran semester yang sedang berjalan, pemetaan beban mengajar dosen untuk Semester Ganjil 2026/2027, hingga persiapan penerimaan mahasiswa student exchange dari Università di Firenze, Italia. Kehadiran mahasiswa internasional tersebut menjadi salah satu langkah konkret Program Studi Fisioterapi UMM dalam memperluas jejaring akademik global sekaligus memperkuat atmosfer internasional di lingkungan pembelajaran. Karena itu, program studi mulai melakukan penyesuaian terhadap berbagai aspek akademik, termasuk penguatan bahan ajar dan penggunaan sistem pembelajaran berbasis kelas internasional. Dalam arahannya, Dimas Sondang Irawan menegaskan bahwa internasionalisasi tidak hanya dimaknai sebagai kerja sama antar universitas, tetapi juga kesiapan sistem pembelajaran, dosen, serta mahasiswa dalam menghadapi dinamika pendidikan global. “Kehadiran mahasiswa internasional harus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas akademik secara menyeluruh. Karena itu, bahan ajar, pendekatan pembelajaran, hingga atmosfer kelas perlu disiapkan,” ujarnya. Selain persiapan program student exchange dari Italia, dalam waktu dekat Program Studi Fisioterapi UMM juga akan menjadi wahana perkuliahan komunitas bagi mahasiswa program magister dari Mahidol University, Thailand. Program tersebut direncanakan berfokus pada penguatan pendekatan fisioterapi komunitas dan praktik berbasis masyarakat. Keterlibatan mahasiswa internasional dari dua negara berbeda tersebut menjadi indikator meningkatnya kepercayaan institusi luar negeri terhadap kualitas pendidikan dan sistem pembelajaran Fisioterapi di UMM. Tidak hanya sebagai tempat belajar akademik, Fisioterapi UMM juga mulai dipandang sebagai wahana praktik lapangan dengan keunggulan pendekatan komunitas dan pelayanan berbasis masyarakat. Selain membahas internasionalisasi, evaluasi proses pembelajaran juga menjadi perhatian utama dalam koordinasi tersebut. Program studi melakukan pemetaan terhadap efektivitas metode pembelajaran, capaian pembelajaran lulusan (learning outcomes), serta integrasi pembelajaran berbasis laboratorium dan praktik klinik. Koordinasi ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen Prodi Fisioterapi UMM dalam menjaga mutu pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan dunia kesehatan dan pendidikan tinggi. Dengan penguatan sistem akademik yang berkelanjutan, Fisioterapi UMM berharap mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara nasional, tetapi juga siap bersaing di tingkat internasional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

HIMATERA CUP 2026 Jadi Ajang Sportivitas dan Solidaritas Mahasiswa Fisioterapi UMM

Seremonial Penyerahan Reward HIMATERA CUP 2026

Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMATERA) Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan ajang tahunan HIMATERA CUP 2026 sebagai wadah pengembangan potensi mahasiswa di bidang akademik maupun non-akademik. Kegiatan ini berlangsung pada 9–16 Mei 2026, bertempat di Ruangan GKB V Lantai 6 UMM, dan diikuti oleh sekitar 155 peserta dari mahasiswa Program Studi Fisioterapi lintas angkatan. HIMATERA CUP 2026 menghadirkan berbagai cabang perlombaan yang memadukan unsur akademik, olahraga, teknologi, dan kreativitas digital. Adapun perlombaan yang diselenggarakan meliputi cerdas cermat, Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), PES/eFootball, futsal putra dan putri, badminton tunggal putra dan putri, badminton ganda campuran, hingga videografi. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang penguatan hubungan antar mahasiswa fisioterapi melalui semangat sportivitas, solidaritas, dan kebersamaan. Selain sebagai sarana hiburan di tengah aktivitas akademik, HIMATERA CUP juga menjadi media untuk mengembangkan minat dan bakat mahasiswa dalam berbagai bidang. Pembina Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMATERA), Ali Multazam, S.Ft., Physio., M.Sc., menyampaikan bahwa kegiatan seperti HIMATERA CUP memiliki peran penting dalam membentuk karakter mahasiswa yang aktif, adaptif, dan mampu bekerja sama dalam tim. “Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki kemampuan komunikasi, kepemimpinan, sportivitas, dan kerja sama tim. HIMATERA CUP menjadi salah satu ruang pembelajaran nonformal yang sangat positif untuk mengembangkan hal tersebut,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kegiatan kemahasiswaan yang sehat dan produktif mampu menciptakan atmosfer organisasi yang lebih solid sekaligus memperkuat rasa kekeluargaan antar mahasiswa fisioterapi. Selama pelaksanaan kegiatan, para peserta juga dituntut untuk melakukan berbagai persiapan, mulai dari latihan sesuai cabang lomba, menjaga kondisi fisik dan mental, memahami sistem pertandingan, hingga membangun koordinasi tim yang baik. Hal tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan soft skill mahasiswa di luar ruang kelas. Melalui HIMATERA CUP 2026, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu berkompetisi secara sehat, tetapi juga membangun jejaring pertemanan, meningkatkan rasa percaya diri, serta menciptakan lingkungan kampus yang aktif dan penuh energi positif. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Cegah Nyeri Kerja, Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Lakukan Pengabdian Masyarakat di Pabrik Hasil Tembakau

Fisioterapi Komunitas di Pabrik Hasil Tembakau Gondanglegi.

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Angkatan Ke-13, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kembali melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat berbasis promotif dan preventif di bidang kesehatan kerja. Salah satu kegiatan tersebut adalah identifikasi risiko postur kerja dan edukasi peregangan bagi pekerja linting rokok di Pabrik Hasil Tembakau Gondanglegi. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Urek-Urek, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, dengan sasaran utama para pekerja linting rokok. Program tersebut dilatarbelakangi oleh tingginya risiko gangguan muskuloskeletal pada pekerja linting rokok yang sebagian besar bekerja dalam posisi duduk statis, membungkuk, serta menundukkan kepala dalam waktu lama disertai gerakan tangan berulang secara terus-menerus. Kondisi kerja seperti ini berpotensi menimbulkan Musculoskeletal Disorders (MSDs), seperti nyeri leher, bahu, punggung, hingga pergelangan tangan. Sebagai upaya preventif, mahasiswa profesi fisioterapis UMM melakukan observasi dan identifikasi postur kerja menggunakan metode Ovako Working Posture Analysis System (OWAS). Metode ini digunakan untuk menganalisis tingkat risiko ergonomi berdasarkan posisi kerja yang dilakukan pekerja selama aktivitas produksi berlangsung. Setelah proses identifikasi, kegiatan dilanjutkan dengan edukasi langsung mengenai pentingnya postur kerja ergonomis serta demonstrasi latihan peregangan sederhana yang dapat dilakukan pekerja di sela aktivitas maupun saat waktu istirahat. Edukasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pekerja akan pentingnya menjaga kesehatan sistem otot dan rangka selama bekerja. Selain penyuluhan secara langsung, tim juga membagikan leaflet dan buku panduan edukasi yang memuat informasi mengenai posisi kerja ergonomis serta panduan peregangan otot sederhana bagi pekerja linting rokok. Media edukasi ini diharapkan dapat menjadi panduan praktis yang mudah dipahami dan diterapkan secara mandiri oleh para pekerja. Kegiatan ini menjadi bentuk implementasi peran fisioterapi tidak hanya pada aspek rehabilitatif, tetapi juga promotif dan preventif di lingkungan kerja. Pendekatan ergonomi dan edukasi kesehatan kerja menjadi bagian penting dalam upaya menjaga produktivitas serta kualitas hidup pekerja. Melalui program pengabdian masyarakat ini, mahasiswa profesi fisioterapis UMM diharapkan mampu mengembangkan kemampuan pola pikir kritis, komunikasi kesehatan, serta pendekatan fisioterapi komunitas yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Kongres Nasional IFI 2026

Kongres Nasional IFI 2026

Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) resmi memasuki hitung mundur pelaksanaan Kongres Nasional (KONAS) IFI dan TITAFI 2026 yang akan digelar pada 11–14 Juni 2026 di Malang, Jawa Timur. Mengusung tema besar “Transforming Into Experts in Human Movement to Build a Healthier Society Through Movement Optimization”. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi fisioterapis Indonesia untuk memperkuat kompetensi, kolaborasi, inovasi, dan pengembangan profesi dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan modern. KONAS IFI dan TITAFI 2026 tidak hanya menjadi agenda organisasi profesi, tetapi juga wadah strategis bagi akademisi, klinisi, peneliti, mahasiswa, serta praktisi fisioterapi dari seluruh Indonesia untuk saling bertukar gagasan dan pengalaman dalam pengembangan ilmu fisioterapi berbasis evidence dan optimalisasi gerak manusia. Berbagai agenda ilmiah dan organisasi akan mewarnai kegiatan ini, mulai dari seminar nasional dan internasional, oral presentation, poster presentation, workshop, hingga forum kongres organisasi profesi. Selain itu, kegiatan juga akan diramaikan melalui Indonesia Fisioterapi Expo (IFEX) 2026 yang menghadirkan inovasi, teknologi, serta perkembangan terbaru di bidang fisioterapi dan rehabilitasi kesehatan. Malang dipilih sebagai tuan rumah karena dikenal sebagai kota pendidikan dan destinasi yang mendukung atmosfer akademik sekaligus kolaboratif. Kehadiran peserta dari berbagai daerah diharapkan mampu memperkuat jejaring nasional fisioterapi Indonesia menuju pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas dan berdaya saing global. Melalui semangat Bergerak Lebih Baik, Hidup Lebih Sehat, Menjadi Lebih Expert, Bermanfaat Untuk Semua IFI mengajak seluruh fisioterapis Indonesia untuk turut menjadi bagian dari perjalanan besar profesi fisioterapi menuju masa depan yang lebih maju, adaptif, dan berdampak bagi masyarakat.

Poster & Presentation Competition TITAFI XXXVIII

Poster & Presentation Competition TITAFI XXXVIII

Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) kembali menyelenggarakan kegiatan ilmiah nasional melalui Oral Presentation and Poster Competition dalam rangka TITAFI XXXVIII tahun 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Transforming into Experts in Human Movement to Build a Healthier Society Through Movement Optimization” sebagai bentuk komitmen fisioterapis Indonesia dalam mengembangkan keilmuan, riset, dan inovasi pelayanan kesehatan berbasis gerak manusia. Kegiatan akan dilaksanakan pada 11 Juni 2026 di Harris Hotel Malang, Jawa Timur. Ajang ilmiah ini menjadi wadah bagi fisioterapis, akademisi, mahasiswa, maupun peneliti untuk mempresentasikan hasil penelitian dan inovasi terbaru dalam bidang fisioterapi melalui sesi oral presentation maupun poster presentation. Selain menjadi media diseminasi ilmiah, kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat budaya penelitian serta meningkatkan kualitas publikasi ilmiah fisioterapi Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat memperluas jejaring akademik, meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, serta berkontribusi dalam pengembangan evidence-based physiotherapy di Indonesia. Kontribusi tersebut dapat diakses melalui link berikut ini https://bit.ly/presenter-form-TITAFI.

Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Turut Andil dalam Peresmian Omah Terapi-KU Jawa Timur

Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Bersama Tim Dinsos Sidoarjo

Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut ambil bagian dalam peresmian layanan rehabilitasi sosial berbasis inklusif “Omah Terapi Klien dan Umum (KU)” yang diluncurkan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, di Balai Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (PRS) Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Sidoarjo, Selasa (19/5/2026). Keterlibatan mahasiswa profesi fisioterapis UMM tidak hanya sebatas menghadiri kegiatan pembukaan, tetapi juga terjun langsung sebagai fisioterapis pendamping dalam layanan rehabilitasi yang diberikan kepada masyarakat. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan pengalaman praktik lapangan mahasiswa profesi dalam pendekatan rehabilitasi berbasis komunitas dan sosial. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menjelaskan bahwa pihaknya mengirimkan 4 mahasiswa profesi fisioterapis untuk terlibat langsung dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap program pelayanan kesehatan inklusif Pemerintah Provinsi Jawa Timur. “Kami mendukung penuh program Omah Terapi-KU karena ini menjadi ruang nyata bagi fisioterapi untuk hadir langsung di tengah masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan dan penyandang disabilitas. Mahasiswa profesi juga dapat belajar bagaimana pelayanan rehabilitasi dilakukan secara kolaboratif dan berbasis sosial,” ujarnya. Program Omah Terapi-KU sendiri merupakan inovasi layanan rehabilitasi sosial yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memperluas akses terapi bagi anak berkebutuhan khusus, penyandang disabilitas, lansia, hingga masyarakat kurang mampu. Layanan yang diberikan meliputi fisioterapi, terapi okupasi, terapi integrasi sensorik untuk anak autisme, hingga terapi wicara. Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa layanan ini menjadi bentuk keberpihakan pemerintah terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan rehabilitasi berkelanjutan dengan akses yang inklusif dan terjangkau. “Ini adalah bentuk keadilan sosial dan keberpihakan pemerintah kepada anak berkebutuhan khusus, penyandang disabilitas, lansia, dan masyarakat yang membutuhkan layanan terapi secara berkelanjutan,” ungkapnya. Menurutnya, Omah Terapi-KU dirancang tidak hanya sebagai fasilitas rehabilitasi fisik, tetapi juga sebagai pusat pemulihan yang mengedepankan pendekatan kemanusiaan, empati, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat. Keterlibatan mahasiswa profesi fisioterapis UMM dalam program ini juga menjadi bentuk implementasi pendekatan biopsikososial dalam fisioterapi modern. Tidak hanya berfokus pada pemulihan fungsi gerak, mahasiswa juga belajar memahami kondisi sosial, psikologis, dan lingkungan pasien sebagai bagian dari proses rehabilitasi. Melalui kolaborasi ini, Fisioterapi UMM kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung program pelayanan kesehatan berbasis masyarakat sekaligus memperluas wahana praktik profesi yang adaptif terhadap kebutuhan sosial serta perkembangan layanan rehabilitasi di Indonesia. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Fisioterapi UMM Kembali Perkuat Kapasitas Klinis Dosen melalui Sertifikasi Internasional

Dosen Fisioterapi UMM (Dimas Sondang Irawan dan Atika Yulianti) Tersertifikasi Praktisi Dry Needling Internasional

Upaya penguatan kompetensi klinis berbasis standar global terus dilakukan oleh Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, dua dosen fisioterapi UMM berhasil menuntaskan pelatihan sekaligus ujian kredensial Dry Needling Certification Program yang diselenggarakan oleh International Physical Therapy Academy (IPTA) Batch 9 di Malang pada 9–12 Mei 2026. Dua dosen yang mengikuti program tersebut ialah Atika Yulianti, SST.Ft., Ftr., M.Fis. dan Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph.D. Keduanya dinyatakan kompeten dan resmi memperoleh gelar nonformal CDNP (Certified Dry Needling Practitioner) setelah menyelesaikan seluruh tahapan pelatihan dan evaluasi praktik klinis. Pelatihan tersebut berfokus pada pengembangan pendekatan dry needling dalam penanganan kasus muskuloskeletal modern. Materi yang diberikan meliputi pemahaman anatomi klinis, clinical reasoning, hands-on application, safety protocol, hingga penerapan evidence-based physiotherapy dalam praktik sehari-hari. Sebagai lembaga pelatihan internasional, IPTA diketahui telah terakreditasi oleh lembaga pendidikan di Inggris dan tercatat sebagai Approved CPD Provider by CPD Group UK. Hal ini menjadikan program sertifikasi tersebut memiliki standar pengembangan profesional yang diakui secara internasional. Atika Yulianti menyoroti bahwa pelatihan tersebut tidak hanya menekankan keterampilan teknis, tetapi juga aspek keselamatan pasien dan ketepatan analisis klinis sebelum melakukan intervensi. “Seorang fisioterapis harus memahami kapan tindakan dilakukan, bagaimana prosedurnya, serta bagaimana mempertimbangkan risiko dan kondisi pasien secara menyeluruh. Karena itu clinical reasoning menjadi aspek yang sangat penting dalam praktik fisioterapi modern,” ujarnya. Melalui capaian ini, Fisioterapi UMM kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang adaptif terhadap perkembangan internasional, sekaligus memperkuat kualitas pendidikan dan pelayanan fisioterapi berbasis kompetensi profesional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo