Dosen Fisioterapi UMM Tingkatkan Kompetensi Melalui Program Internasional

Dosen Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ali Multazam, S.Ft., Physio., M.Sc., berhasil menyelesaikan pelatihan dan ujian kredensial Dry Needling Certification Program yang diselenggarakan oleh International Physical Therapy Academy (IPTA) Batch 8 di Bali. Melalui program tersebut, Ali Multazam resmi dinyatakan lulus dan memperoleh gelar nonformal CDNP (Certified Dry Needling Practitioner), sebagai bentuk pengakuan kompetensi profesional dalam penerapan dry needling pada praktik fisioterapi muskuloskeletal. Kegiatan sertifikasi ini menjadi bagian dari upaya pengembangan kompetensi dosen fisioterapi UMM dalam mengikuti perkembangan metode intervensi fisioterapi berbasis standar internasional. IPTA sendiri diketahui telah memperoleh akreditasi dari lembaga pendidikan di Inggris serta terdaftar sebagai Approved CPD Provider by CPD Group UK, sehingga sertifikasi yang diberikan memiliki pengakuan dalam pengembangan profesional berkelanjutan (continuing professional development). Program pelatihan tersebut secara umum membahas pendekatan dry needling untuk penanganan kasus muskuloskeletal, mulai dari teori dasar, clinical reasoning, safety protocol, hingga praktik aplikasi klinis berbasis evidence-based practice. Dry needling merupakan salah satu pendekatan fisioterapi modern yang digunakan untuk membantu mengurangi nyeri, meningkatkan fungsi gerak, serta menangani gangguan neuromuskular dan muskuloskeletal melalui stimulasi titik spesifik pada jaringan otot menggunakan jarum monofilamen. Ali Multazam menjelaskan bahwa perkembangan ilmu fisioterapi saat ini menuntut tenaga profesional untuk terus memperbarui kompetensi dan kemampuan klinis sesuai perkembangan global. “Fisioterapi berkembang sangat cepat. Karena itu, tenaga fisioterapi harus terus melakukan pembaruan kompetensi agar pelayanan yang diberikan tetap relevan, aman, dan berbasis evidence,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa penguasaan metode intervensi internasional seperti dry needling menjadi salah satu nilai tambah dalam meningkatkan kualitas layanan fisioterapi, khususnya pada kasus muskuloskeletal yang saat ini banyak ditemukan di masyarakat. Sementara itu, Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph.D, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, peningkatan kompetensi dosen menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pendidikan fisioterapi di UMM. “Kami terus mendorong dosen untuk aktif mengikuti sertifikasi maupun pelatihan internasional. Hal ini penting agar proses pembelajaran di kampus selalu selaras dengan perkembangan praktik fisioterapi global,” jelasnya. Melalui capaian ini, Fisioterapi UMM kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia dan pengembangan kompetensi profesional berbasis standar internasional, baik bagi dosen maupun mahasiswa. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
SPORTPHYSIO UMM Buktikan Pentingnya Peran Fisioterapi dalam Event Olahraga

Semangat sportivitas dan kolaborasi mahasiswa mewarnai pelaksanaan DEKAN CUP FIKES 2026 yang digelar pada 16–17 Mei 2026 di lingkungan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ajang olahraga tahunan tersebut diikuti oleh mahasiswa dari berbagai program studi di FIKES dan menjadi salah satu event internal paling bergengsi di tingkat fakultas. Dalam gelaran tersebut, komunitas SPORTPHYSIO UMM turut mengambil peran strategis dengan memberikan dukungan di bidang kesehatan dan penanganan cedera selama pertandingan berlangsung. Keterlibatan mahasiswa fisioterapi ini menjadi bentuk implementasi langsung kompetensi klinis di lapangan olahraga sekaligus penguatan pengalaman praktik berbasis sport physiotherapy. Ketua SPORTPHYSIO UMM, Muhamad Abdilah Ibdaul Hakiki, menjelaskan bahwa keterlibatan tim dalam DEKAN CUP bukan hanya sekadar membantu jalannya pertandingan, tetapi juga menjadi media pembelajaran nyata bagi mahasiswa fisioterapi. “Kegiatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami karena bisa terjun langsung dalam penanganan kondisi peserta di lapangan. Banyak hal yang kami pelajari, mulai dari penanganan awal cedera, pengambilan keputusan saat pertandingan berlangsung, hingga bagaimana bekerja cepat dan tepat dalam situasi tertentu,” ungkapnya. Selama dua hari pelaksanaan kegiatan, tim SPORTPHYSIO UMM menangani berbagai kondisi cedera ringan hingga sedang yang dialami peserta pertandingan, seperti luka lecet, benturan antarpemain, kram otot, hingga cedera pada beberapa bagian tubuh akibat aktivitas olahraga kompetitif. Selain memperkuat keterampilan teknis, kegiatan tersebut juga menjadi sarana pembelajaran dalam membangun komunikasi, koordinasi, dan kekompakan tim di lingkungan klinis lapangan olahraga. Menurut Abdilah, pengalaman seperti ini menjadi bagian penting dalam membentuk kesiapan mahasiswa fisioterapi sebelum memasuki dunia praktik profesional yang sesungguhnya. “Tidak hanya belajar secara teknis, kami juga dilatih untuk memiliki rasa tanggung jawab, komunikasi yang baik, dan solidaritas tim dalam menjalankan tugas bersama. Karena salah satu kunci utama keberhasilan tim adalah kekompakan dan kemampuan saling mendukung satu sama lain,” tambahnya. Selama jalannya pertandingan, seluruh proses pelayanan kesehatan dan penanganan cedera dapat berjalan dengan lancar. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari koordinasi yang baik antaranggota SPORTPHYSIO UMM serta dukungan berbagai pihak dalam pelaksanaan DEKAN CUP FIKES 2026. Keterlibatan SPORTPHYSIO UMM dalam event olahraga kampus juga menjadi bukti bahwa mahasiswa fisioterapi tidak hanya dibekali kompetensi akademik di ruang kelas, tetapi juga didorong aktif dalam atmosfer praktik klinis lapangan sejak dini, khususnya dalam bidang fisioterapi olahraga. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Fisioterapi UMM Gelar Guest Lecture Internasional, Bahas Standar Internasional Fisioterapi Muskuloskeletal

Program Studi S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan kegiatan akademik bertaraf internasional melalui International Guest Lecture yang diselenggarakan di Auditorium GKB 5 UMM, Rabu (13/5/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi sekaligus praktisi fisioterapi internasional, Dr. Ahmed Habeeb Alsiddig Mohamed, yang saat ini menjabat sebagai Dean of Physiotherapy, Al Neelain University, Sudan, sekaligus President of the Sudanese Physiotherapy Association. Dr. Ahmed membawakan materi bertajuk “Advanced Clinical Reasoning in Musculoskeletal Physiotherapy”. Kuliah tamu internasional ini diikuti secara antusias oleh mahasiswa dan dosen fisioterapi sebagai bagian dari upaya penguatan wawasan global serta peningkatan kualitas pelayanan fisioterapi berbasis evidence-based practice. Dalam pemaparannya, Dr. Ahmed menekankan bahwa seorang fisioterapis profesional harus memiliki karakter, kompetensi, dan nilai pembeda agar mampu berkembang di tengah dunia kesehatan yang semakin kompetitif. Menurutnya, peningkatan keterampilan klinis dan kemampuan komunikasi menjadi aspek fundamental yang wajib dimiliki oleh setiap fisioterapis. “Fisioterapis tidak hanya bekerja dengan teknik, tetapi juga membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan pasien,” ungkapnya dalam sesi kuliah tamu. Ia juga mengajak mahasiswa untuk menjadi seorang clinician, bukan sekadar technician. Menurutnya, fisioterapis yang hanya berperan sebagai teknisi cenderung bekerja berdasarkan protokol atau buku teks semata. Sementara seorang clinician dituntut mampu menggunakan clinical reasoning untuk menentukan intervensi terbaik berdasarkan kondisi pasien, keluhan, serta bukti ilmiah yang tersedia. Dr. Ahmed menegaskan bahwa setiap tindakan fisioterapi harus memiliki dasar pertimbangan klinis yang jelas agar terapi yang diberikan benar-benar efektif dan tepat sasaran. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya penerapan patient-centered care dalam praktik fisioterapi modern. Menurutnya, pasien harus menjadi fokus utama dalam setiap proses pelayanan kesehatan, sehingga seluruh intervensi perlu mempertimbangkan kebutuhan, tujuan, dan kondisi pasien secara menyeluruh. Tidak hanya membahas pendekatan klinis, Dr. Ahmed turut mengingatkan mahasiswa terkait berbagai cognitive biases in diagnosis yang dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan klinis. Beberapa bias yang disoroti di antaranya confirmation bias, anchoring bias, dan premature closure, yang sering menjadi penyebab kesalahan diagnosis maupun penentuan intervensi terapi. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
Fisioterapi UMM Hadirkan President Sudanese Physiotherapy Association dalam International Guest Lecturer

Program Studi S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat jejaring internasional melalui penyelenggaraan International Guest Lecturer yang digelar di Auditorium GKB 5 pada Rabu (13/5/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi sekaligus praktisi fisioterapi internasional, Dr. Ahmed Habeeb Alsiddig Mohamed dari Department of Physiotherapy, Al Neelain University, Sudan. Selain aktif sebagai dosen, Dr. Ahmed saat ini juga menjabat sebagai Dean of Physiotherapy Al Neelain University serta President of the Sudanese Physiotherapy Association. Kegiatan ini di hardiri oleh Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), apt. Sendi Lia Yunita, S.Farm., M.Sc. Kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa atmosfer internasional yang terus dibangun di UMM menjadi modal penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi persaingan global. “Patut kita syukuri bahwa UMM memiliki atmosfer internasional yang kuat. Fisioterapi juga merupakan profesi dengan standar kompetensi yang relatif seragam di berbagai negara, sehingga keilmuan dan praktiknya dapat diaplikasikan secara global. Ini yang menjadikan fisioterapi memiliki posisi yang sangat strategis,” ungkapnya. Menurut Muhamad Salis Yuniardi, penguatan kerja sama internasional bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi langkah konkret dalam memperluas akses mahasiswa dan dosen terhadap pengalaman akademik lintas negara. Dalam sesi diskusi akademik, Muhamad Salis Yuniardi bersama Dr. Ahmed juga membahas sejumlah peluang pengembangan kerja sama antara UMM dan Al Neelain University. Beberapa komitmen yang dibangun mencakup penguatan student mobility, pertukaran tenaga pengajar, hingga peluang joint research di bidang fisioterapi dan kesehatan. Dr. Ahmed menyampaikan bahwa pihaknya sangat terbuka untuk menjalin kolaborasi akademik secara lebih luas bersama Fisioterapi UMM. “Kami siap menerima berbagai aktivitas mahasiswa, baik dari UMM ke Al Neelain University maupun sebaliknya. Selain itu, peluang pertukaran dosen dan penelitian bersama juga sangat memungkinkan untuk dikembangkan ke depan,” ujarnya. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya internasionalisasi yang terus didorong oleh Fisioterapi UMM, khususnya dalam memperkuat kualitas pendidikan berbasis global serta membuka peluang kolaborasi akademik lintas negara. Melalui forum internasional seperti ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan keilmuan global, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai tantangan dan perkembangan fisioterapi di berbagai negara. Hal tersebut diharapkan mampu membentuk lulusan yang adaptif, kompetitif, dan siap bersaing dalam ekosistem kesehatan internasional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Fisioterapi UMM Gandeng IPTA Gelar Dry Needling Certification Bertaraf Internasional

Departemen Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat pengembangan kompetensi fisioterapis melalui kerja sama internasional bersama The International Physical Therapy Academic (IPTA) dalam penyelenggaraan Dry Needling Certification Program. Program sertifikasi tersebut berlangsung pada 8–12 April 2026 di Lantai 4 GKB 5 UMM dan diikuti secara terbatas oleh 30 peserta fisioterapis dari berbagai daerah di Indonesia. Pembatasan jumlah peserta dilakukan untuk memastikan efektivitas pembelajaran, khususnya pada sesi praktik klinis dan hands-on training. IPTA sendiri merupakan lembaga pelatihan internasional yang berdiri sejak 2019 dan telah memiliki akreditasi dari International Board of Dry Needling serta terdaftar sebagai Approved CPD Provider by CPD Group UK. Kolaborasi ini menjadi salah satu langkah strategis UMM dalam menghadirkan pelatihan fisioterapi berbasis standar internasional di Indonesia. Program sertifikasi ini memuat berbagai materi komprehensif terkait pendekatan dry needling, mulai dari Dry Needling Theory and Application, Practical Hands-On, Safety Protocol, Ethical Guideline, hingga Clinical Evidence dalam praktik fisioterapi modern. Peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga dibekali kemampuan praktik klinis secara langsung dengan pendekatan berbasis evidence-based practice. Di akhir pelatihan, peserta yang dinyatakan kompeten akan memperoleh gelar nonformal CDNP (Certified Dry Needling Practitioner). Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph.D, menjelaskan bahwa penguatan sertifikasi kompetensi internasional menjadi salah satu kebutuhan penting dalam perkembangan profesi fisioterapi saat ini. “Dunia fisioterapi berkembang sangat cepat. Saat ini kompetensi tambahan berbasis sertifikasi profesional menjadi nilai lebih bagi fisioterapis, khususnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan daya saing global,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa dry needling hanya menjadi salah satu bagian dari pengembangan kompetensi profesional fisioterapis ke depan. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan sertifikasi profesional nantinya akan berkembang pada berbagai pendekatan terapi lain di luar penanganan muskuloskeletal. “Ke depan sertifikasi profesional kemungkinan tidak hanya berfokus pada pendekatan muskuloskeletal melalui dry needling, tetapi juga berkembang pada berbagai bidang fisioterapi lain sesuai kebutuhan layanan kesehatan modern,” tambahnya. Melalui program ini, Fisioterapi UMM berharap mampu menjadi salah satu pusat pengembangan kompetensi fisioterapi berbasis internasional di Indonesia, sekaligus membuka akses bagi fisioterapis untuk memperoleh pelatihan profesional yang terstandar global tanpa harus mengikuti pelatihan di luar negeri. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Fisioterapi UMM Tunjukkan Rentetan Peluang Karir Fisioterapi di Hadapan Siswa SMK 4 Pancasila Jember

Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan kampus dari siswa/siswi SMK 4 Pancasila Ambulu Jember dalam rangka campus visit yang dilaksanakan di lingkungan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM. Kegiatan ini menjadi momentum pengenalan dunia perkuliahan sekaligus membuka wawasan siswa terkait peluang studi lanjutan di bidang kesehatan, Sabtu (9/5/2026). Kegiatan dibuka dengan sambutan hangat dari Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., yang menyampaikan apresiasi dan rasa senangnya dapat menerima kunjungan para siswa dari Jember. Dalam sambutannya, beliau berharap kegiatan campus visit ini dapat memberikan gambaran nyata mengenai lingkungan akademik dan peluang pengembangan diri di UMM. Sementara itu, Kepala SMK 4 Pancasila Ambulu Jember, Johan Budi Respati, S.Pd turut menyampaikan rasa bahagianya atas sambutan yang diberikan oleh pihak UMM. Ia mengungkapkan bahwa kunjungan ini menjadi pengalaman pertama dalam kurun waktu 10 tahun sekolahnya melaksanakan kunjungan kampus ke perguruan tinggi. “Kami sangat senang diterima dengan baik di UMM. Harapannya, kunjungan ini tidak hanya membuka horizon siswa untuk melanjutkan studi ke UMM, tetapi juga menjadi awal terjalinnya kerja sama yang baik dengan FIKES UMM,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut, Program Studi Fisioterapi UMM turut ambil bagian dengan memberikan pemaparan mengenai profil program studi kepada para siswa. Meski SMK 4 Pancasila Ambulu memiliki dua jurusan utama yakni Keperawatan dan Farmasi, hal tersebut tidak menutup kemungkinan bagi para siswa untuk melanjutkan pendidikan di bidang fisioterapi. Pemaparan profil Prodi Fisioterapi disampaikan oleh Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si yang mengenalkan berbagai keunggulan program studi, peluang karier lulusan, hingga kiprah alumni Fisioterapi UMM di tingkat nasional maupun internasional. Antusiasme siswa terlihat tinggi saat mendengar cerita keberhasilan alumni Fisioterapi UMM asal Jember. Salah satunya adalah Dian Erfianto yang kini sukses membuka layanan fisioterapi “Jember Fisio” di Kota Jember. Selain itu, terdapat pula Yosika Septi yang saat ini berkarier sebagai researcher di Taipei, Taiwan. Kisah para alumni tersebut menjadi inspirasi tersendiri bagi para siswa bahwa lulusan fisioterapi memiliki peluang karier yang luas, baik sebagai praktisi kesehatan, entrepreneur, maupun peneliti di tingkat internasional. Melalui kegiatan ini, Fisioterapi UMM berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk berkontribusi di bidang kesehatan melalui profesi fisioterapi. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
Fisioterapi UMM Dorong Pendekatan Biopsikososial dalam Layanan Rehabilitasi Sosial Dinsos Jatim

Program Pendidikan Profesi Fisioterapis bersama Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tengah menyiapkan kolaborasi lintas disiplin dalam mendukung program rehabilitasi sosial milik Dinas Sosial Jawa Timur melalui layanan “Omah Therapi-Ku” di Balai Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Sidoarjo. Program tersebut menjadi bagian dari penguatan layanan rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat yang diusung Dinas Sosial Jawa Timur pada 2026. Salah satu fokus utamanya ialah menghadirkan layanan terapi gratis berbasis pendekatan sosial dan kesehatan bagi masyarakat rentan. Layanan “Omah Therapi-Ku” sendiri dijadwalkan akan diresmikan pada 19 Mei 2026. Kolaborasi ini mengintegrasikan pendekatan fisioterapi dengan pendekatan sosial dalam proses rehabilitasi masyarakat. Tidak hanya berorientasi pada pemulihan fungsi fisik, program tersebut juga menempatkan aspek sosial sebagai bagian penting dalam proses pemulihan kualitas hidup masyarakat. Dalam koordinasi bersama jajaran Balai PMKS Sidoarjo, Wakil Kepala Dinas Sosial sekaligus perwakilan balai, Whiwhin Sri Wahyuningrum, S.Sos., menyampaikan apresiasinya terhadap sinergi yang dibangun bersama UMM. “Kami sangat berterima kasih atas silaturahmi yang terjalin antara universitas dengan Dinas Sosial. Hubungan ini memberikan dampak baik bagi masyarakat dan kami sangat senang dapat menjadi laboratorium terapan bagi Fisioterapi maupun Sosiologi. Ini merupakan langkah awal sehingga ke depan kami masih banyak belajar bersama tim fisioterapi, termasuk dalam pengembangan sarana dan prasarana layanan,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapi UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menegaskan bahwa keterlibatan fisioterapi dalam program sosial menjadi bentuk nyata dukungan kampus terhadap program pemerintah sekaligus penguatan pendidikan berbasis komunitas. “Kami siap mendukung program pemerintah. Ke depan, beberapa stase fisioterapi yang relevan akan kami tempatkan di Dinas Sosial sebagai upaya pemenuhan wahana praktik sekaligus memberikan gambaran kepada mahasiswa dan masyarakat bahwa fisioterapi mampu bersinergi dengan berbagai disiplin ilmu, termasuk sosiologi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa fisioterapi modern tidak hanya berorientasi pada aspek biologis dan fisik semata, tetapi juga mengedepankan pendekatan biopsikososial dalam proses intervensi. “Fisioterapi memiliki pendekatan berbasis biopsikososial. Artinya, aspek sosial menjadi salah satu parameter penting dalam menentukan keberhasilan intervensi fisioterapi,” tambahnya. Koordinasi lintas sektor tersebut diinisiasi oleh Kepala Laboratorium Sosiologi UMM, Ahmad Arrozy, M.Sos., yang juga menjadi penanggung jawab Centre of Excellence (CoE) Sosiologi bertema Professional Manager Berparadigma Sosiologis. Menurutnya, kolaborasi antara bidang kesehatan dan sosial menjadi kebutuhan penting dalam menjawab kompleksitas persoalan kesejahteraan masyarakat saat ini. Melalui program ini, UMM tidak hanya memperkuat peran perguruan tinggi dalam bidang pendidikan dan penelitian, tetapi juga mempertegas kontribusi nyata kampus dalam mendukung pembangunan kesehatan berbasis pemberdayaan sosial di masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Tak Sekadar Seremoni, Sumpah Profesi Fisioterapis UMM Tarik Perhatian Industri Kesehatan

Prosesi Sumpah Profesi Fisioterapis Angkatan ke-XI Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), tidak hanya menjadi momentum sakral bagi para lulusan, tetapi juga menarik perhatian berbagai instansi layanan kesehatan dan industri kesehatan nasional. Kegiatan yang berlangsung di Grand Mercure Malang Mirama pada Rabu (6/5/2026) tersebut turut dihadiri langsung oleh perwakilan dari Bio Healing Center sebagai bentuk ketertarikan industri terhadap kualitas lulusan fisioterapi UMM. Kehadiran berbagai mitra layanan kesehatan dalam prosesi sumpah profesi menjadi sinyal positif bahwa lulusan fisioterapi UMM semakin diperhitungkan di dunia kerja. Tidak hanya rumah sakit dan klinik, sektor industri kesehatan dan olahraga kini juga mulai membuka peluang yang lebih luas bagi profesi fisioterapis. Dalam beberapa tahun terakhir, lulusan Fisioterapi UMM dikenal memiliki daya saing yang baik dengan tren lulusan yang cepat terserap di dunia kerja. Penguatan kompetensi klinis, pengalaman praktik di berbagai wahana layanan kesehatan, hingga keterlibatan mahasiswa dalam penelitian dan pengabdian masyarakat menjadi faktor yang memperkuat kualitas lulusan. Momentum sumpah profesi ini sekaligus menjadi ruang bertemunya institusi pendidikan dengan dunia industri kesehatan. Selain sebagai seremoni akademik, kegiatan ini juga membuka peluang jejaring kerja sama, rekrutmen lulusan, hingga pengembangan kompetensi fisioterapi berbasis kebutuhan industri dan masyarakat. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menyampaikan bahwa keterlibatan berbagai instansi dalam prosesi sumpah profesi menunjukkan meningkatnya kepercayaan terhadap lulusan fisioterapi UMM. “Kehadiran berbagai mitra layanan kesehatan dan industri menjadi bukti bahwa lulusan fisioterapi UMM memiliki kualitas dan potensi yang dibutuhkan di dunia kerja. Ini juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan kompetensi lulusan,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, Profesi Fisioterapis UMM kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak fisioterapis profesional yang adaptif, kompetitif, serta mampu menjawab kebutuhan layanan kesehatan modern yang terus berkembang. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Lulusan Terbaik Profesi Fisioterapis UMM Langsung Direkrut Klub Profesional Futsal

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar prosesi Sumpah Profesi Fisioterapis Angkatan Ke-XI. Bertempat di Grand Mercure Malang Mirama, sebanyak 47 fisioterapis baru resmi disumpah dalam acara yang berlangsung khidmat, Rabu (6/5/2026). Sumpah profesi ini menjadi penegasan konsistensi Fisioterapi UMM dalam mencetak tenaga kesehatan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap terjun dan terserap di dunia kerja. Dalam beberapa tahun terakhir, lulusan Fisioterapi UMM dikenal memiliki daya saing tinggi dan cepat memperoleh peluang karier di berbagai sektor layanan kesehatan maupun olahraga profesional. Salah satu sosok yang menjadi perhatian dalam prosesi kali ini adalah Bagus Prasetyo Pamungkas, yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4.0. Tidak hanya mencatatkan prestasi akademik yang impresif, Bagus juga aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan diri sejak jenjang sarjana hingga profesi. Menariknya, tidak lama setelah dinyatakan lulus, Bagus langsung mendapatkan kesempatan berkarier sebagai fisioterapis di klub Maestro FC Solo yang berkompetisi di Professional Futsal League 2 Indonesia. Capaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa lulusan fisioterapi UMM mampu bersaing dan dipercaya di level profesional, termasuk pada bidang sport physiotherapy yang kini semakin berkembang di Indonesia. Selama menempuh pendidikan, Bagus dikenal aktif dalam kegiatan akademik maupun kemahasiswaan. Ia pernah memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), aktif dalam kegiatan berbasis komunitas, serta produktif menghasilkan publikasi ilmiah pada jurnal terindeks SINTA dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Pada jenjang profesi, ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat berbasis komunitas yang memperkuat kompetensi klinis dan sosialnya sebagai calon fisioterapis profesional. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, menyampaikan bahwa tren positif lulusan yang langsung terserap di dunia kerja terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. “Alhamdulillah, ini merupakan sumpah profesi yang ke-XI, dan hingga saat ini tren lulusan yang langsung bekerja tidak pernah terputus. Ini menjadi indikator bahwa lulusan Fisioterapi UMM memang dibutuhkan dan dipercaya oleh dunia kerja,” ujarnya. Menurutnya, keberhasilan lulusan tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik, tetapi juga kesiapan menghadapi dunia praktik, kemampuan komunikasi profesional, serta pengalaman klinis dan komunitas yang diperoleh selama pendidikan. Keberhasilan Bagus menjadi representasi nyata dari sistem pendidikan yang diterapkan di Fisioterapi UMM, yaitu mengintegrasikan keunggulan akademik, praktik klinis, penelitian, serta kontribusi nyata kepada masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai mampu menghasilkan lulusan yang adaptif, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan dunia kesehatan modern. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Angkatan Ke-XI Berikan Sumbangsih Karya Tulis Ilmiah dan Hak Kekayaan Intelektual

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar prosesi angkat sumpah bagi mahasiswa profesi fisioterapis Angkatan ke-XI. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat di Grand Mercure Malang Mirama pada Rabu (6/5/2026). Prosesi sumpah secara resmi dikukuhkan oleh Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp. FRS., serta disaksikan langsung oleh Ketua Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) Cabang Kabupaten Malang, Tugiyo, SST.Ft. Sebanyak 47 mahasiswa profesi fisioterapis mengikuti prosesi tersebut setelah menyelesaikan seluruh tahapan pendidikan profesi dan dinyatakan memenuhi kompetensi sebagai tenaga kesehatan fisioterapi profesional. Tidak hanya menunjukkan capaian akademik, lulusan profesi tahun ini juga mencatat kontribusi ilmiah yang cukup signifikan. Selama proses pendidikan, para mahasiswa berhasil menghasilkan 46 publikasi pada jurnal nasional serta 33 karya ilmiah inovatif yang tercatat dalam Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Capaian tersebut menjadi indikator penguatan budaya akademik dan riset di lingkungan pendidikan profesi fisioterapi UMM. Dalam sambutannya, Tugiyo menyampaikan apresiasi terhadap komitmen Fisioterapi UMM dalam menjaga kualitas pendidikan dan pengembangan keilmuan fisioterapi di tengah dinamika layanan kesehatan yang berkembang sangat cepat. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Fisioterapi UMM yang terus berkomitmen memberikan penyegaran keilmuan di tengah perkembangan dunia kesehatan yang sangat dinamis saat ini. Ini menjadi modal penting bagi lulusan untuk mampu bersaing dan beradaptasi di dunia kerja,” ujarnya. Ia juga berpesan agar para fisioterapis baru tidak berhenti pada capaian akademik semata, tetapi terus mengembangkan kompetensi dan karier profesional secara berkelanjutan. “Kami berharap lulusan tidak hanya berkembang pada level institusional, tetapi juga memiliki keberanian untuk mandiri, termasuk melalui pengembangan praktik fisioterapi mandiri sebagai bagian dari kontribusi profesi kepada masyarakat,” tambahnya. Prosesi sumpah profesi menjadi tahapan penting dalam perjalanan seorang fisioterapis, karena menandai perubahan status dari mahasiswa menjadi tenaga kesehatan profesional yang memiliki tanggung jawab etik, moral, dan kompetensi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo