Profesi Fisioterapis UMM Resmi Kukuhkan 47 Fisioterapis Baru Yang Tersertifikasi Nasional

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan capaian membanggakan. Sebanyak 47 fisioterapis baru resmi mengucapkan sumpah profesi dalam prosesi yang berlangsung khidmat di Grand Mercure Malang Mirama, Rabu (6/5/2026). Prosesi sumpah profesi tersebut turut dihadiri Wakil Rektor I UMM, jajaran dekanat Fakultas Ilmu Kesehatan, serta para pembimbing lahan praktik (clinical instructor) dari berbagai rumah sakit dan puskesmas yang selama ini menjadi mitra pendidikan profesi fisioterapi UMM. Sumpah profesi menjadi penanda resmi perubahan status lulusan dari mahasiswa menjadi tenaga kesehatan profesional yang siap mengabdi kepada masyarakat. Sebelumnya, para lulusan telah menjalani pendidikan profesi selama dua semester dengan praktik klinik intensif di berbagai fasilitas layanan kesehatan, mulai dari rumah sakit, puskesmas, hingga layanan berbasis komunitas. Dalam laporan akademik yang disampaikan pada prosesi tersebut, capaian lulusan tahun ini menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sebanyak 98 persen peserta dinyatakan lulus Uji Kompetensi (UKOM), termasuk pada komponen CBT dan OSCE. Selain itu, para lulusan juga menghasilkan berbagai luaran akademik berupa publikasi jurnal ilmiah dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), yang memperkuat posisi lulusan sebagai fisioterapis berbasis evidence-based practice. Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih para lulusan. Menurutnya, kualitas lulusan fisioterapi UMM terus menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. “Capaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh civitas akademika, termasuk mahasiswa, dosen, serta para pembimbing klinik di lahan praktik. Tingkat kelulusan yang tinggi pada uji kompetensi menjadi indikator bahwa lulusan kita memiliki kompetensi yang baik dan siap bersaing di dunia kerja,” ujarnya. Ia juga menyoroti meningkatnya kebutuhan tenaga fisioterapi di berbagai sektor layanan kesehatan. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang besar bagi para lulusan untuk segera terserap di dunia kerja. “Kebutuhan fisioterapis di rumah sakit, klinik, hingga layanan kesehatan komunitas terus meningkat. Ini menjadi peluang besar bagi lulusan untuk langsung bekerja dan berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tambahnya. Tidak hanya berfokus pada kelulusan akademik, pendidikan profesi fisioterapi UMM juga menekankan pembentukan karakter profesional, kemampuan komunikasi klinis, serta penguatan clinical reasoning sebagai bekal menghadapi tantangan pelayanan kesehatan modern. Dengan disumpahnya 47 fisioterapis baru ini, UMM kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak tenaga kesehatan profesional yang unggul, adaptif, beretika, dan siap menghadapi tantangan global di bidang fisioterapi. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
Dosen Fisioterapi UMM Ikuti Dialog Strategis Guna Menyambut Transformasi Pendidikan Tinggi

Program Studi S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti kegiatan Dialog Pimpinan antara Fakultas Ilmu Kesehatan dengan pimpinan universitas yang berlangsung di lingkungan UMM. Dialog tersebut menjadi ruang strategis dalam membahas arah pengembangan perguruan tinggi, penguatan daya saing program studi, hingga transformasi pendidikan kesehatan menghadapi tantangan global, Senin (4/5/2026). Dalam pemaparannya, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menegaskan bahwa dunia pendidikan tinggi saat ini tengah menghadapi perubahan besar yang menuntut perguruan tinggi untuk terus bertransformasi secara dinamis. Menurutnya, perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menjadi penyelenggara pendidikan, tetapi harus mampu menjadi pusat solusi yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa perubahan lanskap pendidikan tinggi saat ini dipengaruhi oleh ketatnya kompetisi antar perguruan tinggi, meningkatnya ekspektasi industri terhadap lulusan, serta kebutuhan mahasiswa terhadap pengalaman belajar yang lebih aplikatif dan relevan dengan dunia kerja. Karena itu, UMM mendorong seluruh program studi untuk memperkuat pendekatan Outcome Based Education (OBE), Problem Based Learning (PBL), hingga penguatan Center of Excellence (CoE) sebagai bagian dari transformasi pendidikan modern. Dalam konteks Program Studi Fisioterapi, arah pengembangan tersebut dinilai sangat relevan dengan kebutuhan dunia kesehatan saat ini. Penguatan kompetensi klinis, internasionalisasi kurikulum, sertifikasi kompetensi, hingga keterlibatan mahasiswa dalam praktik berbasis industri kesehatan menjadi fokus penting yang terus dikembangkan oleh Fisioterapi UMM. Rektor juga menyoroti bahwa perguruan tinggi swasta saat ini telah berada pada posisi yang semakin kompetitif dan mandiri. Menurutnya, kualitas perguruan tinggi tidak lagi ditentukan oleh status negeri atau swasta, tetapi oleh kemampuan institusi dalam menghasilkan lulusan unggul, inovasi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Perguruan tinggi swasta hari ini lahir dalam kondisi yang mandiri dan kompetitif. Karena itu, kita harus percaya diri bahwa kualitas yang kita miliki mampu bersaing dengan perguruan tinggi lain,” ungkapnya. Selain membahas transformasi pendidikan tinggi, dialog ini juga menjadi upaya memperkuat kedekatan antara pimpinan universitas dengan warga fakultas. Forum tersebut dimanfaatkan untuk mendiskusikan berbagai tantangan aktual di dunia perguruan tinggi, termasuk penyesuaian indikator pendidikan tinggi terkini, dinamika akreditasi, penguatan reputasi internasional, hingga strategi peningkatan daya tarik mahasiswa baru. Melalui dialog tersebut, Program Studi Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM menegaskan komitmennya untuk terus beradaptasi dengan perkembangan global melalui penguatan kualitas akademik, internasionalisasi, riset, serta kolaborasi dengan dunia industri dan layanan kesehatan. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Mahasiswa Fisioterapi UMM Raih Medali Emas di Kejuaraan Pencak Silat IPSI Kota Malang 2026

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mahasiswa Program Studi Fisioterapi UMM Gen 25, St. Salsabila, berhasil meraih Medali Emas pada kategori Seni Tunggal Dewasa Putri dalam ajang Kejuaraan Pencak Silat IPSI Kota Malang 2026 yang berlangsung di GOR Ken Arok, Minggu (3/5/2026). Kejuaraan tersebut berlangsung meriah dengan diikuti oleh berbagai kontingen dari sejumlah daerah di Jawa Timur. Ajang ini berfokus pada pembinaan atlet muda, peningkatan sportivitas, serta persiapan atlet menuju kompetisi bergengsi seperti O2SN, POPDA, PORPROV, hingga POPNAS. Ketua Pelaksana, Muhammad Santosa, S.H., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam menjaring bibit atlet potensial untuk dipersiapkan pada berbagai kompetisi tingkat regional maupun nasional. “Kegiatan ini merupakan upaya mencari bibit atlet muda pencak silat guna diproyeksikan ke ajang-ajang besar seperti Porprov dan kejuaraan lainnya,” ujarnya. Keberhasilan St. Salsabila menjadi bukti bahwa mahasiswa fisioterapi tidak hanya mampu berkembang dalam bidang akademik, tetapi juga mampu menunjukkan prestasi di bidang olahraga dan seni bela diri. Raihan medali emas tersebut sekaligus memperlihatkan semangat disiplin, konsistensi latihan, serta kemampuan menjaga performa fisik dan mental di tengah aktivitas perkuliahan. Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., memberikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, mahasiswa perlu terus didorong untuk berkembang secara menyeluruh, baik dalam aspek akademik maupun non-akademik. “Mahasiswa harus terus berkembang, tidak hanya dalam potensi akademik tetapi juga non-akademik. Kegiatan seperti ini menjadi wadah positif dalam membentuk karakter, sportivitas, disiplin, dan mental kompetitif mahasiswa ke depan,” ungkapnya. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan potensi diri melalui berbagai bidang yang diminati. Selain sebagai ajang pencapaian prestasi, keterlibatan mahasiswa dalam kompetisi olahraga juga dinilai mampu membangun karakter tangguh, kerja keras, serta keseimbangan antara akademik dan pengembangan diri. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Sport Physio UMM Kawal Ribuan Atlet di UMM Open Karate Championship 2026

Ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia memadati Dome UMM dalam gelaran nasional UMM Open Karate Championship 2026 yang diselenggarakan oleh Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (2/5/2026). Kejuaraan ini mempertandingkan berbagai kategori, mulai dari kata perorangan, kumite, hingga kata beregu dengan peserta dari berbagai kelompok usia, mulai dari tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga kategori umum. Di balik semaraknya pelaksanaan event nasional tersebut, terdapat peran penting tim kesehatan yang turut memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan lancar. Salah satu tim yang terlibat aktif adalah tim kesehatan Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang yang berkolaborasi bersama komunitas Sport Physio UMM dalam penanganan medis dan cedera selama pertandingan berlangsung. Kolaborasi ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dan tim Sport Physio UMM, terutama dalam menghadapi berbagai kondisi cedera olahraga secara langsung di lapangan. Penanganan yang dilakukan mencakup cedera benturan, luka terbuka, hingga kasus patah tulang yang membutuhkan respons cepat dan koordinasi lintas profesi kesehatan. Kolaborasi langsung antara dokter, perawat, serta tenaga kesehatan lainnya dari RS UMM dengan fisioterapi dari Sport Physio membuat situasi tersebut menjadi ruang pembelajaran nyata mengenai penanganan kegawatdaruratan olahraga sekaligus memperkuat pemahaman klinis mahasiswa di lapangan. “Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi mahasiswa. Ketika menghadapi banyak kasus cedera, mahasiswa belajar langsung bersama dokter dan tenaga medis lainnya. Ada banyak hal di luar ranah yang sebelumnya belum mahasiswa pahami, tetapi di sinilah mahasiswa dibimbing, diarahkan, sekaligus belajar mengenai kerja sama tim dalam penanganan cedera olahraga,” ungkap Arys Hasta Baruna selaku Pembina Sport Physio UMM. Selama kejuaraan berlangsung, berbagai penanganan berhasil dilakukan dengan baik dan seluruh proses berjalan lancar. Keberhasilan tersebut dinilai tidak lepas dari kekompakan tim serta koordinasi yang solid antar tenaga kesehatan di lapangan. Keterlibatan Sport Physio UMM dalam event berskala nasional ini juga menjadi bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa fisioterapi, khususnya dalam bidang sport physiotherapy dan emergency response di arena olahraga. Selain memahami aspek teori, mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung mengenai bagaimana fisioterapis bekerja secara cepat, tepat, dan kolaboratif dalam mendukung performa dan keselamatan atlet. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Mahasiswa Fisioterapi UMM Borong Gelar di Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026

Mahasiswa Program Studi S1 Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026 yang berlangsung di Dome UMM, Jumat (2/5/2026). Dalam kejuaraan tersebut, mahasiswa Fisioterapi UMM berhasil memborong sejumlah gelar dari berbagai kategori kumite yang dipertandingkan. Prestasi gemilang diraih oleh Baihaqi Rahmatiga Soesanto, mahasiswa Gen 2022, yang sukses mendominasi beberapa kategori pertandingan. Ia berhasil meraih Juara 1 Kumite +84 Kg Mahasiswa Putera dan Juara 1 Kumite Beregu Mahasiswa Putera. Tidak hanya itu, Baihaqi juga berhasil menempati posisi Juara 2 pada kategori Kumite +84 Kg Senior Putera. Capaian tersebut menjadi bukti konsistensi, disiplin, serta semangat kompetitif mahasiswa fisioterapi dalam mengembangkan potensi diri di luar bidang akademik. Tak kalah membanggakan, mahasiswa Gen 2025, Setiawan Zuhdi Eriadmoko, turut mengharumkan nama program studi melalui sejumlah raihan prestasi. Ia berhasil menyabet Juara 1 Kumite Beregu Putera, sekaligus meraih Juara 2 pada kategori Kumite -67 Kg Mahasiswa Putera dan Kumite -67 Kg U-21 Putera. Keikutsertaan mahasiswa fisioterapi dalam ajang olahraga kompetitif seperti karate dinilai memiliki keterkaitan yang kuat dengan bidang keilmuan fisioterapi, terutama dalam aspek pemahaman gerak manusia, performa fisik, pencegahan cedera, hingga sport science. Selain menjadi ruang pengembangan minat dan bakat, kompetisi olahraga juga menjadi media pembentukan karakter, disiplin, mental kompetitif, serta kemampuan coping stress mahasiswa. Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D, menyampaikan apresiasi atas capaian para mahasiswa tersebut. Menurutnya, mahasiswa perlu terus didorong untuk berkembang secara seimbang, baik dalam aspek akademik maupun non-akademik. “Mahasiswa harus terus berkembang tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam potensi diri lainnya. Prestasi seperti ini menjadi bukti bahwa mahasiswa fisioterapi mampu bersaing, memiliki karakter disiplin, serta mental kompetitif yang baik. Program studi tentu akan terus mendukung pengembangan minat dan bakat mahasiswa agar dapat terus berprestasi di berbagai bidang,” ujarnya. Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus aktif mengembangkan potensi diri sekaligus membawa nama baik Program Studi S1 Fisioterapi dan UMM di tingkat regional maupun nasional. Prestasi ini sekaligus mempertegas komitmen Fisioterapi UMM dalam mendukung pengembangan mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif, kompetitif, dan berkarakter di berbagai bidang. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Perkuat Peran Promotif-Preventif di Kegiatan PKG Puskesmas Lawang

Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah menjalani stase komunitas di Puskesmas Lawang, Kabupaten Malang, berpartisipasi dalam kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) yang diselenggarakan oleh Puskesmas Lawang. Kegiatan ini berlangsung di Poltekkes Kemenkes Malang Kampus Lawang, Rabu (29/04/2026). Kegiatan ini menyasar mahasiswa dan dosen sebagai bagian dari upaya deteksi dini kondisi kesehatan pada kelompok usia produktif. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pengukuran tekanan darah, tinggi badan, berat badan, serta skrining postural dan potensi gangguan kesehatan yang umum terjadi pada remaja hingga pekerja kantoran. Dalam kegiatan ini, mahasiswa fisioterapi tidak hanya berperan dalam pelaksanaan pemeriksaan dasar, tetapi juga menjalankan fungsi promotif dan preventif melalui skrining postural. Pemeriksaan ini bertujuan mengidentifikasi risiko gangguan muskuloskeletal seperti forward head posture, nyeri punggung bawah, hingga ketidakseimbangan otot akibat pola aktivitas sedentari. Mahasiswa juga memberikan edukasi terkait ergonomi, aktivitas fisik, serta pola hidup sehat yang relevan dengan keseharian peserta. Pendekatan ini menjadi penting mengingat meningkatnya keluhan muskuloskeletal pada usia produktif yang dipicu oleh kebiasaan duduk lama dan penggunaan perangkat digital secara berlebihan. Kegiatan ini didampingi langsung oleh Clinical Educator Nadya Setyarini Farizka, A.Md.Kep, yang memastikan pelaksanaan pemeriksaan berjalan sesuai standar sekaligus menjadi sarana pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa. Peran fisioterapi dalam kegiatan PKG seperti ini menjadi semakin strategis, tidak hanya dalam aspek rehabilitatif, tetapi juga pada deteksi dini, pencegahan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Melalui skrining sederhana yang sistematis, potensi gangguan dapat diidentifikasi lebih awal sebelum berkembang menjadi kondisi kronis. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini juga mencerminkan implementasi community-based physiotherapy, di mana mahasiswa dilatih untuk memahami kondisi riil masyarakat, melakukan asesmen cepat, serta memberikan intervensi edukatif yang aplikatif. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
International Guest Lecture 2026

Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang dengan bangga menyelenggarakan kegiatan Guest International Lecture yang menghadirkan akademisi dan praktisi internasional. Kegiatan ini akan menghadirkan pembicara Ahmed Habeeb Alsiddig Mohamed dengan profil Dean of Physiotherapy, Al Neelain University, dan President of Sudanese Physiotherapy Association. Kegiatan ini bertajuk “Musculoskeletal Physiotherapy: Bridging Innovative Technique & Global Standards in Modern Practice” Detail Pelaksanaan 📅 Tanggal: 13 Mei 2026 ⏰ Waktu: 07.00 – 11.00 WIB 📍 Tempat: Auditorium GKB 5, Lantai 2 👥 Peserta Wajib: Mahasiswa Fisioterapi (Angkatan 2023 & 2024) dan Mahasiswa Pendidikan Profesi Fisioterapi Angkatan Ke-12 dan 13. Informasi Sertifikat Sertifikat diberikan kepada seluruh peserta yang telah mengisi daftar hadir (barcode), dan peserta dapat mengunduh langsung melalui tautan di sini
Mahasiswa Fisioterapi UMM Raih Prestasi Internasional di GCE 2026, Malaysia

Mahasiswa Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tania Momtaza, berhasil mengharumkan nama institusi dalam ajang The Global and Cultural Exposure (GCE) 2026 yang berlangsung pada 15 hingga 18 April 2026 di Penang, Malaysia. Kegiatan ini merupakan program internasional yang diinisiasi oleh Pusat Prestasi Mahasiswa PTMA yang mengombinasikan pertukaran budaya dengan kompetisi lintas negara. Program tersebut diikuti oleh mahasiswa terpilih dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, Tania menjadi salah satu delegasi UMM yang bergabung bersama peserta dari berbagai PTMA. Selama pelaksanaan program, peserta mengikuti rangkaian agenda strategis, mulai dari pertukaran budaya, diskusi internasional, hingga kompetisi yang mengasah kreativitas, komunikasi, serta kemampuan akademik dan nonakademik. Salah satu agenda utama berlangsung di Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) yang menjadi tuan rumah kegiatan akademik dan interaksi lintas budaya. Momentum ini dimanfaatkan peserta untuk memahami dinamika pendidikan global sekaligus memperluas jejaring internasional. Dalam ajang tersebut, Tania Momtaza berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Runner-up 2 pada Content Creation Making Competition. Melalui karyanya bertema “Perempuan Berani Bermimpi”, ia mengangkat narasi tentang keberanian perempuan dalam mengejar cita-cita dan melampaui berbagai batasan sosial. Tak hanya itu, Tania juga meraih Runner-up 1 pada Talent Show Contest melalui penampilan puisi bertema perempuan. Penampilannya dinilai mampu menyampaikan pesan yang kuat, emosional, serta merepresentasikan nilai keberanian, keteguhan, dan inspirasi perempuan di era modern. Capaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Fisioterapi UMM tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional melalui kreativitas dan ekspresi seni. Prestasi yang diraih diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk berani tampil dan berprestasi di kancah global. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
Tak Hanya Unggul, Fisioterapi UMM Jadi Rujukan Benchmarking Pendidikan Fisioterapi Nasional

Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan pendidikan fisioterapi di Indonesia melalui penerimaan kunjungan benchmarking dari STIKep PPNI Jawa Barat. Kunjungan ini menjadi momentum strategis untuk berbagi praktik baik sekaligus memperluas jejaring kolaborasi antar institusi pendidikan kesehatan, Selasa (28/04/2026). Kepercayaan yang diberikan oleh STIKep PPNI Jawa Barat merupakan bentuk apresiasi yang luar biasa. Hal tersebut bukan karena tanpa alasan, tentunya karena predikat akreditasi unggul, prestasi mahasiswa di berbagai ajang, serta tingkat serapan lulusan di dunia kerja menjadi indikator bahwa sistem pendidikan yang dibangun telah berjalan optimal dan berkelanjutan. Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menegaskan bahwa kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengalaman, tetapi juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. “Kami menyambut baik kunjungan ini sebagai bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan tenaga kesehatan. UMM sangat terbuka untuk kolaborasi dalam berbagai bidang, baik akademik maupun non-akademik,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., menekankan bahwa pengembangan program studi tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan ekosistem yang mendukung keberhasilan mahasiswa dan alumni. “Keberhasilan program studi tidak hanya diukur dari capaian akreditasi, tetapi juga dari dampak nyata lulusan di masyarakat. Karena itu, kami terus menghadirkan pendidikan yang relevan, adaptif, dan berorientasi global,” jelasnya. Sebagai bagian dari kegiatan, Prodi Fisioterapi UMM juga menampilkan profil alumni sebagai representasi nyata dari kualitas pendidikan yang diberikan. Keberhasilan alumni di berbagai sektor menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang diterapkan mampu menghasilkan fisioterapis yang kompeten dan siap bersaing di dunia kerja. Kunjungan ini dipandang sebagai langkah awal untuk membangun sinergi jangka panjang antar institusi. Tidak hanya berbagi pengalaman, kedua pihak juga membuka peluang kerja sama dalam pengembangan kurikulum, penelitian kolaboratif, hingga program pertukaran akademik. Melalui kegiatan ini, Prodi Fisioterapi UMM berharap dapat terus berkontribusi dalam penguatan pendidikan fisioterapi di Indonesia. Semangat kolaborasi dan pertukaran praktik baik diharapkan mampu mendorong lahirnya program studi fisioterapi yang berkualitas serta berdampak luas bagi masyarakat. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah
Mahasiswa Fisioterapi UMM Wakili Indonesia dalam Global and Cultural Exposure di Malaysia

Mahasiswa Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tania Momtaza, mencatatkan prestasi membanggakan dengan terpilih sebagai delegasi dalam kegiatan The Global and Cultural Exposure (GCE) yang diselenggarakan pada 15–18 April 2026 di Penang, Malaysia. Program internasional ini merupakan inisiatif dari Pusat Prestasi Mahasiswa PTMA yang menghadirkan mahasiswa terbaik dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang pengembangan kapasitas mahasiswa melalui kombinasi pertukaran budaya, penguatan jejaring global, serta kompetisi akademik dan nonakademik di tingkat internasional. Selama empat hari pelaksanaan, para delegasi mengikuti berbagai agenda strategis yang mencakup eksplorasi budaya lintas negara, diskusi akademik, hingga kompetisi yang menuntut kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan adaptasi dalam lingkungan global. Kegiatan ini menjadi ajang bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif serta meningkatkan kesiapan menghadapi tantangan internasional. Salah satu rangkaian utama kegiatan berlangsung di Universiti Muhammadiyah Malaysia, yang menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan sesi akademik dan pertukaran wawasan. Melalui interaksi langsung dengan mahasiswa dan lingkungan akademik internasional, peserta memperoleh pengalaman nyata terkait sistem pendidikan global serta dinamika pembelajaran lintas budaya. Keikutsertaan Tania Momtaza mencerminkan komitmen Program Studi Fisioterapi UMM dalam mendorong mahasiswa untuk berpartisipasi aktif di tingkat internasional. Tidak hanya sebagai representasi institusi, partisipasi ini juga menjadi bagian dari strategi penguatan kompetensi mahasiswa dalam menghadapi era globalisasi. Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., menegaskan bahwa mobilitas internasional merupakan salah satu fokus pengembangan program studi. “Kami secara konsisten memberikan kesempatan mobilisasi internasional, baik kepada mahasiswa maupun dosen. Hal ini penting agar mereka dapat mengakses perkembangan ilmu terbaru, membangun jejaring global, serta meningkatkan daya saing di tingkat internasional. Kesempatan ini tentu harus dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya. Melalui keterlibatan dalam program Global and Cultural Exposure, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga mampu mengembangkan wawasan global, sensitivitas budaya, serta kapasitas kepemimpinan. Dengan demikian, lulusan UMM diharapkan mampu tampil sebagai agen perubahan yang kompeten sesuai perkembangan global. Penulis dan Editor Nikmatur Rosidah