Dinkes Kota Malang Gandeng Fisioterapis UMM Dorong Peningkatan Gerakan Lansia Sehat

Foto Bersama Tim Fisioterapi UMM, Dinas Kota Malang, Kader Posyandu, Nakes, Volunter dan Masyarakat

Dinas Kesehatan Kota Malang kembali mengintensifkan pelayanan kesehatan bagi warga lanjut usia melalui program “Gerakan Lansia Sehat” yang digelar pada November 2025. Program ini menargetkan enam puskesmas dengan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) lansia terendah sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas layanan kesehatan dasar. Langkah tersebut diambil menyusul meningkatnya kompleksitas penyakit degeneratif yang dialami kelompok lansia. Data Riskesdas  menunjukkan hipertensi, masalah sendi, gangguan gigi dan mulut, serta penyakit jantung dan stroke menjadi kasus paling banyak ditemukan pada warga lanjut usia. Kondisi ini menuntut intervensi kesehatan yang lebih komprehensif dan terkoordinasi. Melalui program ini, posyandu menjadi pusat layanan terpadu dengan menghadirkan pemeriksaan antropometri, pengecekan gula darah sewaktu, kolesterol, kesehatan gigi, hingga edukasi kesehatan. Selain pemeriksaan klinis, peserta juga mengikuti senam lansia yang dirancang untuk menjaga mobilitas dan kebugaran fisik sesuai kebutuhan usia lanjut. Pelaksanaan kegiatan didampingi oleh Tim Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang, yakni Nikmatur Rosidah, S.Ft., M.Sc., dan An Nizar Hermawan Al Bisri, S.Kes., Ftr. Keduanya tidak hanya bertindak sebagai pendamping, tetapi juga memberikan edukasi medis, konsultasi gerak, serta panduan latihan aman bagi para lansia. Kehadiran tim akademisi ini membantu memastikan intervensi kesehatan berjalan sesuai kaidah fisioterapi. Program ini merupakan hasil kolaborasi lintas program di puskesmas, melibatkan Promosi Kesehatan, Program Lansia, Penyakit Tidak Menular, dan Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut. Masing-masing elemen bekerja sama memastikan kegiatan berjalan efektif dan mencakup seluruh aspek layanan yang dibutuhkan. Kolaborasi dengan Program Studi Fisioterapi UMM juga memperkuat kualitas edukasi yang diberikan. Dinas Kesehatan Kota Malang menyediakan dukungan logistik berupa konsumsi peserta dan doorprize untuk mendorong partisipasi warga. Sementara itu, puskesmas menyediakan alat medis habis pakai dan tenaga kesehatan yang bertugas melakukan pemeriksaan. Posyandu berperan menyiapkan lokasi dan fasilitas pendukung seperti kursi tunggu dan sistem pengeras suara agar kegiatan berjalan lancar. Melalui “Gerakan Lansia Sehat”, pemerintah berharap capaian SPM lansia pada tahun 2025 meningkat secara signifikan sekaligus memperkuat budaya hidup sehat di masyarakat. Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan, akademisi, dan kader posyandu, program ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam memastikan warga lanjut usia di Kota Malang dapat menua dengan lebih sehat, mandiri, dan berkualitas. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Mahasiswa Fisioterapi UMM Ungkap ‘Silent Signal’ Cedera di Physiotherapy Educational Talk

Foto Bersama Pemateri dan Ketua Pelaksana (Tengah)

Malanginspirasi.com: Mahasiswa Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2023 menyelenggarakan Physiotherapy Educational Talk bertema “Silent Signal: What Your Body Tells You Before Injury Happens.” Forum ini bertempat di Ruang 601, Lantai 5, GKB 5 UMM, pada Rabu (19/11/2025). Seminar ini fokus mengedukasi pelajar, mahasiswa, atlet, dan pegiat hobi olahraga mengenai pentingnya pencegahan dan penanganan dini cedera. Khususnya yang marak terjadi pada tren olahraga lari, pilates, tenis, dan padel. Acara yang berlangsung dari pukul 08.30 hingga 12.00 WIB ini merupakan implementasi nyata dari mata kuliah Project Based Learning (PjBL) mahasiswa Fisioterapi UMM. Kegiatan ini bertujuan mengasah kemampuan komunikasi dan penyusunan materi ilmiah. Selain itu juga untuk menegaskan peran krusial fisioterapi sebagai sumber informasi kesehatan gerak yang valid. ​”Tujuan utama kegiatan ini ganda. Pertama, ini adalah implementasi PjBL bagi kami mahasiswa Fisioterapi UMM angkatan 2023. Gunanya untuk memperkuat skill komunikasi dan edukasi ilmiah,” ujar Ketua Panitia, Ilma Shabhati. “Kedua, yang paling penting, adalah memberikan edukasi langsung kepada masyarakat dan pegiat olahraga mengenai betapa krusialnya memahami sinyal dini sebelum cedera terjadi. Juga menjaga fungsi gerak tubuh, sekaligus menegaskan bahwa fisioterapi adalah sumber informasi kesehatan gerak yang valid,” jelasnya. ​Minimnya pemahaman tentang penanganan cedera yang efektif di kalangan pelaku olahraga menjadi dasar kuat diselenggarakannya seminar ini. Materi disajikan langsung oleh empat mahasiswa Fisioterapi UMM angkatan 2023, diantaranya ​Janurian Radinsa Takorneba yang membawakan materi tentang Dismenore (nyeri haid). ​Resty Leisya Dewi yang memaparkan Konsep Cedera, ​Mohammad Na’im Firmasyah menyampaikan Mitos dan Fakta Massage Saat Cedera, dan ​Zyahra Auraliza Syahputri yang melakukan Simulasi Penanganan Awal Cedera. ​Seluruh rangkaian acara, termasuk sesi materi dan praktik berdurasi 20-30 menit, dirancang dan dilaksanakan sepenuhnya oleh mahasiswa. Menunjukkan kesiapan mereka sebagai calon agen perubahan yang kompeten. ​”Mengingat tren olahraga seperti lari, pilates, dan tenis sedang sangat digemari berbagai kelompok usia, pemahaman tentang pencegahan cedera masih minim,” katanya. “Seminar ini menjadi kesempatan krusial bagi kami untuk menyajikan edukasi yang didukung oleh dasar keilmuan yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan,” tambahnya. Menanggapi tingginya animo peserta dan pentingnya edukasi ini, pihak penyelenggara berencana menjadikan Physiotherapy Educational Talk sebagai agenda tahunan yang rutin. ​Sebagai tindak lanjut, Departemen Muskuloskeletal Fisioterapi UMM menargetkan perluasan cakupan acara di masa depan. Rencana ini termasuk pelibatan alumni dan profesional dari berbagai institusi. Juga serta menjalin kolaborasi dengan sekolah, pelaku industri olahraga, dan institusi kesehatan. Seluruh peserta yang hadir pada acara ini juga langsung menerima sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka. Penulis Hana Sajidah

Terungkap! Begini Cara PSC UMM Mencetak Mahasiswa Berprestasi Nasional di Bidang Fisioterapi

Foto Bersama PSC Gen 5 dan Panitia Upgrading

Physiotherapy Study Club (PSC) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan Upgrading untuk anggota PSC Generasi 5 sebagai langkah pembekalan awal dan penguatan kapasitas organisasi. Kegiatan berlangsung pada Sabtu, 15 November 2025, pukul 12.00-16.30 WIB di Laboratorium Muskuloskeletal, Gedung Kuliah Bersama V (GKB V) UMM. Physiotherapy Study Club atau PSC merupakan wadah bagi mahasiswa fisioterapi untuk berproses dan mengembangkan diri melalui pembelajaran akademik serta keorganisasian di luar jam perkuliahan. Selain itu, PSC berfungsi sebagai tempat belajar materi dasar fisioterapi maupun materi spesifik seperti muskuloskeletal, neuromuskular, pediatri, dan bidang fisioterapi lainnya. PSC juga menjadi ruang pembinaan bagi mahasiswa yang ingin berkompetisi dalam olimpiade nasional, lomba esai ilmiah, maupun lomba poster ilmiah tingkat regional hingga nasional. Kegiatan Upgrading yang diikuti oleh anggota baru PSC Gen 5 yang bertujuan memberikan pemahaman mendalam terkait struktur, tujuan, serta ruang lingkup kerja organisasi. Peserta juga dibekali materi mengenai manajemen stres, konsep keorganisasian, serta pengembangan soft skills seperti komunikasi dan kerja tim. “Upgrading ini bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi tahap penting untuk membentuk kesiapan anggota sebelum terjun dalam beragam aktivitas organisasi dan kompetisi,” ungkap Ketua Pelaksana. Pembekalan ini sekaligus mempersiapkan anggota PSC agar mampu menjalankan perannya sebagai ujung tombak pengembangan keilmuan fisioterapi di tingkat mahasiswa. Kegiatan ini harapannya memberikan dampak positif baik bagi anggota maupun bagi organisasi. Para anggota baru menjadi lebih percaya diri, memahami peran mereka, serta lebih siap mengikuti kegiatan akademik, organisasi, maupun kompetisi ilmiah. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kualitas internal organisasi melalui pembinaan sejak awal. Sementara bagi institusi, keberadaan PSC yang aktif turut mendukung pengembangan karakter, keilmuan, dan prestasi mahasiswa. “PSC adalah ruang pembelajaran penting bagi kami. Melalui Upgrading PSC Gen 5, kami semakin memahami bahwa organisasi dan keilmuan berjalan beriringan dalam membentuk kemampuan kami sebagai calon fisioterapis,” ungkap salah satu anggota baru PSC. Penulis dan Editor Aisyafirra Ramadhani

Fisioterapi UMM Bekali Mahasiswa Baru dengan Semangat Inovasi dan Kreativitas untuk Masyarakat

Tim Penalaran Fisioterapi

Mahasiswa Program Studi Fisioterapi Angkatan 2025, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengikuti rangkaian Student Day, sebuah kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap hari Sabtu bagi mahasiswa baru. Agenda ini dirancang untuk memberikan pembinaan karakter, pengembangan diri, serta eksplorasi minat dan bakat melalui kegiatan program studi maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Sabtu (15/11/2025). Pada pelaksanaan hari ini, kegiatan Student Day yang berlokasi di GKB 5 UMM berfokus pada pembinaan potensi akademik. Sesi ini dipandu oleh Tim Penalaran Fisioterapi, yang terdiri atas Zidni Imanurrohmah Lubis, S.Ft., Ftr., M.Biomed, Nikmatur Rosidah, S.Ft., M.Sc(PT), dan Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si. Materi yang disampaikan menekankan pentingnya kreativitas dan inovasi, terutama di tengah pesatnya perkembangan tren, teknologi, dan era kompetisi global. Para pemateri mendorong mahasiswa untuk mengasah kapasitas berpikir kritis, kemampuan problem solving, serta keberanian untuk mengembangkan ide-ide baru yang bermanfaat. Salah satu sorotan utama adalah ajakan kepada mahasiswa untuk berpartisipasi dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), sebuah ajang bergengsi tingkat nasional yang menjadi wadah aktualisasi diri dan kompetensi akademik mahasiswa. Melalui pemaparan yang diberikan, mahasiswa diharapkan mampu memetakan potensi diri, menggali peluang riset atau inovasi, dan membangun mental kompetitif sejak dini. Tim Penalaran Fisioterapi juga menekankan bahwa inovasi tidak selalu harus berkaitan dengan teknologi tinggi atau perangkat canggih. Justru, dalam banyak kasus, ide yang murah, sederhana, aplikatif, dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat memiliki nilai kebermanfaatan yang jauh lebih besar. Pendekatan inovasi yang membumi ini menjadi salah satu prinsip penting dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), di mana solusi yang efektif sering kali lahir dari pemahaman mendalam terhadap masalah sehari-hari serta kedekatan dengan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa didorong untuk menciptakan karya yang tidak hanya kreatif, tetapi juga relevan, terukur, dan memberikan dampak langsung bagi lingkungan sekitar. Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk memahami budaya akademik di UMM, memperkuat literasi ilmiah, serta menumbuhkan semangat kolaborasi. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, diharapkan mahasiswa Fisioterapi UMM mampu menjadi generasi ilmiah yang unggul, adaptif, dan siap bersaing dalam dunia profesional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Mahasiswa Fisioterapi UMM Gelar Physiotherapy Educational Talk Bertema Silent Signal Bagi Penggiat Hobi

Foto Bersama Pemateri dan Penerima Doorprize

Departemen Muskuloskeletal Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan Physiotherapy Educational Talk dengan tema “Silent Signal: What Your Body Tells You Before Injury Happens” sebagai bagian dari implementasi Project Based Learning (PjBL) untuk memperkuat capaian pembelajaran mahasiswa. Acara berlangsung di Ruang 601, Lantai 5, GKB 5 UMM dan dihadiri 186 peserta dari berbagai institusi pendidikan di Kota Malang dan sekitarnya. Peserta tidak hanya berasal dari internal UMM, tetapi juga mahasiswa dari Universitas Negeri Malang, ITSK dr. Soepraoen, STIKES Maharani Malang, Politeknik Negeri Malang, Institut Teknologi Nasional Malang, dan Universitas Brawijaya. Selain itu, sejumlah pelajar SMA di wilayah Kota Malang turut hadir sebagai bagian dari upaya memperluas edukasi kesehatan berbasis fisioterapi. Kegiatan dibuka oleh Perwakilan Departemen Muskuloskeletal, Bayu Prastowo, S.Ft., Ftr., M.Si dan Arys Hasta Baruna, S.Kes., M.Kes. Dalam sambutannya, menekankan bahwa kegiatan ini merupakan kali pertama diselenggarakan sebagai model pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan mahasiswa secara penuh. “Ke depan, kami ingin kegiatan ini berkembang lebih besar dengan melibatkan alumni dan para profesional dari berbagai institusi agar pembelajaran semakin relevan dengan kebutuhan audiens,” ujarnya. Seluruh rangkaian acara dirancang dan dilaksanakan oleh mahasiswa Fisioterapi angkatan 2023. Tujuannya adalah memberikan edukasi langsung kepada masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa, mengenai pentingnya menjaga fungsi gerak tubuh serta memahami sinyal dini sebelum terjadinya cedera. Mereka menekankan bahwa literasi kesehatan gerak sering kali terdistorsi oleh informasi di media sosial, sehingga kehadiran fisioterapis sebagai sumber informasi yang valid sangat dibutuhkan. Para pemateri kegiatan ini juga berasal dari mahasiswa, yaitu Janurian Radinsa Takorneba yang membawakan meteri tentang Dismenore, Resty Leisya Dewi memaparkan Konsep Cedera, Mohammad Na’im Firmasyah menyampaikan Mitos dan Fakta Massage Saat Cedera, dan Zyahra Auraliza Syahputri melakukan simulasi Penanganan Awal Cedera. Materi yang dibawakan disesuaikan dengan fenomena yang tengah berkembang, terutama maraknya budaya olahraga seperti lari, pilates, tenis, dan paddel yang digemari berbagai kelompok usia. Namun, banyak pelaku olahraga ini belum memiliki pengetahuan yang memadai terkait pencegahan dan penanganan cedera. Karena itu, kegiatan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa fisioterapi untuk hadir memberikan edukasi yang berbasis ilmu dan dapat dipertanggungjawabkan. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi sarana melatih kemampuan komunikasi, edukasi, dan penyusunan materi ilmiah bagi mahasiswa. Dengan keterlibatan langsung dalam kegiatan publik, mahasiswa belajar memahami kebutuhan masyarakat, sekaligus menegaskan peran fisioterapi sebagai profesi yang berorientasi pada pencegahan, pemulihan, dan peningkatan kualitas hidup. Departemen Muskuloskeletal menargetkan kegiatan ini menjadi agenda rutin setiap tahun dengan cakupan yang lebih luas, termasuk kolaborasi antarsekolah, pelaku industri olahraga, hingga institusi kesehatan. Harapannya kegiatan ini dapat memperkuat literasi kesehatan gerak sekaligus mendorong mahasiswa menjadi agen perubahan yang kompeten dan adaptif di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup aktif. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Profesi Fisioterapis UMM Gelar Try Out Internal CBT untuk Persiapan Uji Kompetensi Nasional

Suasana Mahasiswa Profesi Fisioterapis Mengikuti Try Out Internal I

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar Try Out internal berbasis Computer Based Test (CBT) sebagai bagian dari persiapan mahasiswa menghadapi Uji Kompetensi Nasional (UKOMNAS) yang diselenggarakan oleh Kolegium Fisioterapi Indonesia (KFI). Kegiatan yang dilaksanakan di Laboratorium CBT Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 UMM pada Selasa, 10 November 2025. Kegiatan ini merupakan salah satu dari rangkaian Try Out internal yang digelar secara berkala. Tujuannya adalah untuk membiasakan mahasiswa dengan format, atmosfer, dan sistem CBT sebelum mengikuti Try Out Nasional dan UKOM sesungguhnya. Koordinator kegiatan, Anita Faradilla Rahim, S.Fis., Ftr., M.Kes., menjelaskan bahwa penyelenggaraan try out ini merupakan wujud komitmen Program Studi Profesi Fisioterapi UMM dalam mempersiapkan serta memfasilitasi mahasiswa menghadapi ujian kompetensi nasional secara matang. “Sebelum pelaksanaan try out ini, kami juga telah melakukan pendampingan melalui sesi bedah soal UKOM di setiap departemen. Pendekatan bertahap ini membuat mahasiswa terbiasa menghadapi soal-soal dengan tingkat kesulitan yang bervariasi serta mengasah strategi pengerjaan yang efisien,” ungkap Anita. Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya melatih kemampuan akademik, tetapi juga ketahanan mental mahasiswa dalam menghadapi ujian berbasis CBT. “Menyelesaikan 180 soal dalam satu sesi membutuhkan konsentrasi dan daya tahan konsentrasi yang tinggi. Dengan pembiasaan melalui try out berkala ini, mahasiswa akan lebih siap secara emosional dan adaptif terhadap sistem CBT nasional,” jelasnya. Program Studi Profesi Fisioterapi UMM telah dilengkapi dengan laboratorium CBT dan OSCE berstandar nasional berkapasitas lebih dari 200 peserta, sehingga pelaksanaan simulasi dan try out dapat dilakukan secara optimal. Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen Fisioterapi UMM dalam menghasilkan lulusan yang kompeten, profesional, dan siap menghadapi UKOMNAS dengan hasil terbaik. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

UM Jember Lakukan Benchmarking ke Fisioterapi UMM untuk Penguatan Pendirian Program Studi Fisioterapi

Sesi Foto Bersama Universitas Muhammadiyah Jember dengan Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang

Program Studi S1 Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjadi tujuan benchmarking bagi perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya. Kali ini, Universitas Muhammadiyah Jember (UM Jember) melakukan kunjungan resmi ke Kampus Putih dalam rangka mempelajari sistem penyelenggaraan pendidikan fisioterapi di UMM yang telah terbukti unggul dan adaptif terhadap perubahan berbagai kebijakan dan generasi. Kunjungan tersebut dilaksanakan pada Senin, 3 November 2025 di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5. Rombongan UM Jember dipimpin oleh Ns. Sofia Rhosma Dewi, M.Kep. selaku Wakil Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, didampingi oleh Ns. Dwi Yunita Haryanti, M.Kes. dan Nikmatul Rohma, S.Kep. Dalam sambutannya, Ns. Sofia Rhosma Dewi, M.Kep menyampaikan bahwa kegiatan benchmarking ini merupakan langkah strategis dalam upaya UM Jember untuk mendirikan program studi fisioterapi. “Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari silaturahmi kami sebelumnya. Tahun lalu kami sudah melakukan kunjungan awal, namun kali ini kami ingin lebih fokus mempelajari mekanisme teknis penyelenggaraan pendidikan, mulai dari kurikulum hingga sistem praktik mahasiswa di Fisioterapi UMM,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa di tengah dinamika kebijakan pendidikan nasional dan dampak pasca pandemi, banyak institusi pendidikan tinggi kesehatan yang tengah berjuang mencari model adaptif agar tetap mampu menjaga mutu akademik. “Program Studi Fisioterapi UMM terbukti mampu bertahan dan beradaptasi dengan situasi yang kompleks. Ini menjadi hal yang perlu kami pelajari sebagai referensi untuk pengembangan fisioterapi di UM Jember,” imbuhnya. Sementara itu, Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph.D., bersama Sekretaris Prodi, Nurul Aini Rahmawati, S.Ft., Ftr., M.Biomed., dan Ketua Laboratorium, Anita Faradilla Rahim, S.Fis., Ftr., M.Kes., menyambut langsung rombongan UM Jember. Dalam sesi pemaparan, Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph.D menjelaskan sejarah berdirinya Program Studi Fisioterapi UMM yang kini telah terakreditasi Unggul oleh LAM-PTKes (Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia). Ia menuturkan bahwa pencapaian tersebut tidak terlepas dari konsistensi program studi dalam menjaga mutu akademik dan inovasi pembelajaran. “Fisioterapi UMM selalu berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan klinik, empati sosial, serta kemampuan berpikir kritis dan solutif. Pendekatan pembelajaran yang kami gunakan berbasis Outcome-Based Education (OBE) dengan luaran Problem-Based Learning (PBL) dan Project-Based Learning (PJBL), sehingga mahasiswa terbiasa berpikir analitis sekaligus aplikatif,” jelasnya. Lebih lanjut, Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph.D juga memaparkan bahwa sistem pembelajaran fisioterapi di UMM tidak hanya dilakukan di lingkungan laboratorium dan rumah sakit pendidikan, tetapi juga dikembangkan dalam bentuk praktik komunitas berbasis pengabdian masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa didorong untuk memahami peran fisioterapi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sekaligus membangun kepekaan sosial terhadap isu-isu kesehatan publik. Dalam kesempatan yang sama, Anita Faradilla Rahim, M.Kes., menjelaskan peran strategis laboratorium fisioterapi dalam menunjang proses belajar mahasiswa. “Laboratorium kami tidak hanya menjadi tempat praktik keterampilan dasar, tetapi juga laboratorium inovasi dan riset mahasiswa. Di sinilah mahasiswa belajar bagaimana teknologi, evidence-based practice, dan pendekatan klinik dapat diintegrasikan,” ungkapnya. Benchmarking ini tidak hanya berisi paparan materi, tetapi juga diisi dengan sesi diskusi dan kunjungan lapangan ke berbagai fasilitas penunjang pendidikan fisioterapi di UMM. Rombongan UM Jember diajak melihat langsung sarana laboratorium serta ruang pembelajaran komunitas. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan cinderamata antara kedua institusi. Benchmarking ini diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi akademik yang lebih luas antara Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Muhammadiyah Jember, khususnya dalam mencetak tenaga fisioterapis profesional yang berdaya saing global dan berjiwa kemanusiaan. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Bukan Sekadar Lari, Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Jadi Garda Terdepan di Napak Tilas Festival Magetan 2025

Mahasiswa Profesi Fisioterapis bersama Ikatan Fisioterapi Indonesia Cabang Magetan dan Clinical Educator

Semarak Hari Jadi Kabupaten Magetan ke-350 semakin terasa dengan suksesnya gelaran Napak Tilas Running Festival (NTRF) 2025 yang digelar pada Sabtu (18/10/2025). Acara yang diinisiasi oleh Komunitas Playon Magetan ini berhasil menarik lebih dari 500 pelari dari berbagai daerah untuk mengikuti lomba lari kategori 5 kilometer (5K). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mengangkat potensi olahraga dan pariwisata Magetan melalui semangat kebersamaan dan sportivitas. Ajang ini secara resmi diberangkatkan oleh Wakil Bupati Magetan, Kang Suyat, dari depan Pendapa Surya Graha Magetan. Para pelari menempuh rute sejauh 5 kilometer yang melintasi ruas-ruas utama kota, termasuk Jalan Kemasan, Imam Bonjol, Teuku Umar, Patimura, Monginsidi, Hasanudin, Timor, dan A. Yani, sebelum kembali ke titik finis di Pendapa Surya Graha. Di sepanjang rute, peserta disuguhi panorama kota yang berpadu dengan nuansa sejarah Magetan, menciptakan pengalaman berlari yang tidak hanya menantang secara fisik, tetapi juga menggugah rasa cinta terhadap daerah. Di tengah riuhnya pelari, pemandangan menarik terlihat di garis finis. Tim berseragam dari Ikatan Fisioterapis Indonesia (IFI) Cabang Magetan yang terdiri dari fisioterapis profesional serta mahasiswa Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampak sibuk memberikan layanan medis. Mereka menjadi garda terdepan dalam penanganan cedera dan pemulihan, memastikan seluruh peserta berada dalam kondisi aman dan bugar selama kegiatan berlangsung. Sejak pagi, tim IFI telah menyiapkan layanan pre-run stretching dan taping untuk mencegah cedera, serta area post-race recovery berupa sport massage dan ice bath yang ramai dikunjungi para pelari seusai lomba. “Kami tidak hanya standby untuk menangani cedera, tapi juga membawa misi edukasi dan pencegahan. Di Hari Jadi Magetan ke-350 ini, kami ingin menunjukkan bahwa kesehatan adalah pilar utama pembangunan. Fisioterapi hadir untuk memastikan masyarakat tetap aktif, bugar, dan produktif,” ujar M. Sufi Cahya Mahabatullah, salah satu pengurus IFI Magetan, di posko utama acara. Kolaborasi antara praktisi dan mahasiswa fisioterapi ini menjadi bukti nyata sinergi antara dunia akademik dan profesional dalam mendukung event berskala daerah. Dengan semangat kolaboratif antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat, NTRF 2025 bukan sekadar lomba lari, melainkan momentum yang menegaskan komitmen Magetan untuk menjadi destinasi sport tourism unggulan di Jawa Timur. Penulis dan Editor Bayu Prastowo

Kupas Tuntas Gangguan Leher dan Lengan, Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Belajar Langsung dari Pakarnya!

Foto bersama Mahasiswa, Clinical Educator dan Pemateri

Mahasiswa Pendidikan Profesi Fisioterapis, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah menjalani praktik klinis di RSO Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta turut berpartisipasi dalam workshop bertema “Physiotherapy Approaches for Neck and Arm Disorders” yang disampaikan oleh Ari Sudarsono, SST., Ftr., M.Fis. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam rangka peningkatan kompetensi klinis mahasiswa serta upaya memperkuat sinergi antara institusi pendidikan dan layanan kesehatan. Workshop tersebut berlangsung selama dua hari, pada Sabtu hingga Minggu, 11–12 Oktober 2025, bertempat di Ruang Gymnasium Fisioterapi lantai 2 Gedung Yandu RSO Soeharso Surakarta. Acara ini diikuti oleh sekitar 40 peserta, terdiri atas praktisi fisioterapi dari lingkungan rumah sakit dan mahasiswa profesi fisioterapi dari berbagai universitas, termasuk dari UMM. Suasana pelatihan berlangsung interaktif, di mana peserta aktif berdiskusi, berlatih, dan bertukar pengalaman dalam menangani berbagai kasus klinis. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam menangani gangguan pada leher dan ekstremitas atas, mulai dari proses asesmen, identifikasi masalah, hingga pemberian intervensi fisioterapi yang efektif. Selama dua hari pelaksanaan, peserta memperoleh pembelajaran mendalam melalui perpaduan antara sesi teori dan praktik. Materi yang diberikan meliputi berbagai pendekatan fisioterapi pada area leher, bahu, dan tangan, termasuk praktik langsung penanganan kasus yang disimulasikan di bawah bimbingan narasumber berpengalaman. Menurut penyelenggara, workshop ini tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga mendorong peserta untuk berpikir kritis dalam merancang intervensi fisioterapi berbasis bukti (evidence-based practice). Harapannya peserta mampu mengintegrasikan teori yang dipelajari dengan keterampilan fisioterapi di lapangan. Pendekatan seperti ini penting untuk memastikan pasien mendapatkan hasil terapi yang optimal. Melalui kegiatan ini, mahasiswa profesi fisioterapi UMM memperoleh kesempatan berharga untuk mengasah kemampuan klinis secara langsung di lingkungan rumah sakit rujukan nasional. Workshop ini juga menjadi media untuk mempererat kolaborasi antara dunia akademik dan profesional, serta menegaskan komitmen UMM dalam menyiapkan lulusan fisioterapis yang kompeten, adaptif, dan berdaya saing tinggi di dunia kerja. Penulis Najah Fadiya Humaira dan Editor Bayu Prastowo

Senam Sentul, Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMM Dampingi Lansia Tingkatkan Mobilitas Aktivitas Sehari-Hari

Empat mahasiswa Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan,  Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah menjalani praktik profesi di RSO Prof. Dr. Soeharso Surakarta ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan rutin Senam Sentul (Sendi dan Tulang). Kegiatan ini dipandu langsung oleh Clinical Educator Prihantoro Larasati Mustiko, SST.FT., Ftr., M.Si yang berlangsung di Jl. Apel, Kecamatan Lawean, Kota Surakarta dan diikuti oleh puluhan peserta lanjut usia yang antusias menjaga kesehatan tulang dan persendian mereka, Sabtu, (4/10/2025). Keempat mahasiswa, yakni Najah Fadiya Humaira, Nabila Randy Dhiyanisa, Diva Amanda Oliviyan, dan Agashi Al’Ainaa Almardyah, turut mendampingi peserta senam dengan memberikan arahan gerakan yang aman, efektif, dan sesuai dengan kondisi fisik lansia. Program ini bertujuan meningkatkan kebugaran, menjaga mobilitas tubuh, serta mencegah risiko cedera melalui latihan sederhana namun terstruktur. Tidak hanya terlibat dalam sesi senam, para mahasiswa profesi fisioterapis UMM juga menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat sekitar. Layanan tersebut mencakup pemeriksaan tekanan darah dan pengukuran saturasi oksigen. Upaya ini menjadi wujud nyata pengabdian sekaligus edukasi kesehatan, khususnya dalam mendorong kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini terhadap faktor risiko penyakit. Prihantoro Larasati Mustiko menuturkan, keberadaan mahasiswa profesi fisioterapis di kegiatan Senam Sentul memberikan nilai tambah, karena selain mendampingi gerakan, mereka juga dapat memberikan pengetahuan dasar mengenai pentingnya aktivitas fisik dan pemantauan kesehatan. “Keterlibatan mahasiswa membuat kegiatan ini semakin interaktif dan bermanfaat, baik bagi para lansia maupun masyarakat umum,” ujarnya. Kegiatan Senam Sentul sendiri merupakan agenda rutin yang digagas untuk membangun budaya hidup sehat bagi lansia. Dengan kolaborasi antara klinisi, mahasiswa, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat peran fisioterapi dalam menjaga kualitas hidup, terutama di kelompok usia lanjut. Penulis Najah Fadiya Humaira dan Editor Bayu Prastowo