Mahasiswa Fisioterapi UMM Buktikan Jiwa Patriotik dalam Gelaran TGX Soekarno Run 2025

Semangat nasionalisme menggema di Kabupaten Trenggalek lewat gelaran TGX Soekarno Run 2025, Minggu (22/6/2025). Ajang olahraga bertema kebangsaan ini digagas oleh anggota DPR RI Dapil VII Jawa Timur, Novita Hardini, dan sukses menarik antusiasme lebih dari 2.500 peserta dari dalam dan luar daerah. Lomba lari sejauh 5 kilometer ini dimulai dan berakhir di kawasan Pasar Pon Trenggalek, yang sejak pagi sudah dipadati peserta dari berbagai usia. Tak hanya menjadi sarana olahraga massal, kegiatan ini juga digelar dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno, sebagai bentuk penghormatan terhadap sang Proklamator Republik Indonesia. “TGX Soekarno Run bukan sekadar olahraga, tetapi juga momentum untuk membumikan kembali semangat juang Bung Karno di tengah masyarakat, khususnya generasi muda,” ujar Novita dalam sambutannya. Ia menekankan pentingnya menjadikan olahraga sebagai wahana edukatif dan inspiratif, yang tidak hanya menyehatkan fisik, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai perjuangan dan nasionalisme. Tak hanya meriah secara partisipasi, gelaran ini juga diorganisasi dengan dukungan profesional. Salah satu yang menjadi perhatian adalah layanan pemulihan fisik yang disediakan oleh tim fisioterapi. Muhammad Hafizzurrahman dan Danang Wasis Medika Putra, mahasiswa dari Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang, hadir memberikan dukungan medis bagi peserta, mulai dari pencegahan cedera hingga pemulihan cepat pasca lari. Kehadiran tim fisioterapi ini menegaskan pentingnya sinergi antara dunia olahraga dan kesehatan, sekaligus menjadi ruang aktualisasi mahasiswa untuk mengabdi dan menerapkan keilmuannya secara langsung di masyarakat. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Fisioterapi UMM Bersama Pemkab Bojonegoro Satukan Langkah untuk Mendorong Kemandirian Lansia

MATAHATI: Dalam rangka menyukseskan peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2025 yang mengusung tema “Lansia Bahagia, Indonesia Sejahtera”, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalin kerja sama strategis dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (14/06/2025). Hadir dalam agenda koordinasi dan ramah-tamah yang berlangsung di Rumah Dinas Bupati Bojonegoro, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) UMM, Rakhmad Rosadi, SST.Ft., Ftr., M.Sc., Ph.D, mewakili Program Studi S1 Fisioterapi dan Profesi Fisioterapis, serta Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom, selaku Dekan FIKes UMM. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Dr. Hj. Sri Budi Cantika Yuli, atau yang akrab disapa Bu Cantika Wahono, selaku Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua Pembina Posyandu Kabupaten Bojonegoro. Dalam sambutannya, Bu Cantika menyampaikan apresiasi atas komitmen UMM dalam mendukung pelaksanaan HLUN 2025. Ia menegaskan bahwa momentum ini bukan hanya seremoni tahunan, namun upaya nyata meningkatkan kualitas hidup dan aktivitas fungsional para lansia. “Kami berharap HLUN bukan hanya menjadi gaung tahunan, melainkan gerakan yang berdampak langsung, menciptakan lansia yang aktif, sehat, dan mandiri,” ujar Bu Cantika Wahono. Dalam kesempatan yang sama, Rakhmad Rosadi menjelaskan bahwa fisioterapi berperan penting dalam menjaga dan meningkatkan kemandirian lansia. Ia menekankan pentingnya pendekatan inovatif dalam program-program kesehatan bagi lansia, yang tidak hanya menggunakan teknik konvensional tetapi juga mengintegrasikan aktivitas sehari-hari agar lebih menyenangkan dan berkelanjutan. “Latihan fisioterapi bersifat rutin dan jangka panjang. Jika disesuaikan dan dimodifikasi, maka lansia dapat menjalani latihan tanpa tekanan, bahkan secara tidak sadar. Ini menjadi kunci menjaga kualitas hidup mereka,” tuturnya. Rakhmad juga menambahkan bahwa program ini akan menjadi media pembelajaran klinis bagi mahasiswa fisioterapi UMM. Selain praktik langsung, mahasiswa juga akan melakukan observasi dan penelitian untuk memetakan permasalahan dan kebutuhan lansia di wilayah Bojonegoro secara lebih komprehensif. Prof. Yoyok Bekti Prasetyo turut menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan wujud kontribusi nyata perguruan tinggi bagi masyarakat. “Kampus harus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai penghasil lulusan berkualitas, tapi juga sebagai pusat solusi dari permasalahan sosial, ekonomi, hingga kesehatan. Ini adalah semangat pengabdian yang terus kami bangun,” tegasnya. Sinergi antara UMM dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi antara akademisi dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan lansia secara berkelanjutan. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Langkah Nyata UMM Menuju Kampus Bereputasi Global melalui Program Student Exchange

Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar program pertukaran mahasiswa internasional bekerja sama dengan Mahidol University, Thailand. Program ini telah memasuki pelaksanaan dan berlangsung selama satu bulan di Malang. Program pertukaran pelajar ini menjadi wujud nyata komitmen kedua institusi dalam menyiapkan lulusan fisioterapi yang unggul dan memiliki kompetensi pelayanan berbasis komunitas internasional. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dari Mahidol University mendapatkan pengalaman akademik dan klinis langsung di Indonesia melalui Program Studi Fisioterapi UMM. Rangkaian kegiatan yang dijalankan dalam program ini meliputi pembelajaran klinis di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan perkuliahan di kelas internasional bersama para dosen dari Program Studi Fisioterapi UMM. Pemilihan Puskesmas sebagai lokasi praktik bukan tanpa alasan. Perbedaan pendekatan layanan kesehatan komunitas antara Indonesia dan Thailand menjadi poin pembelajaran penting bagi mahasiswa internasional untuk memahami beragam model intervensi fisioterapi di tingkat masyarakat. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, S.Kep., M.Kep., secara langsung menyambut kedatangan mahasiswa asing tersebut. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kerja sama ini telah terjalin sejak beberapa tahun terakhir dan diharapkan terus berkembang. “Program ini menjadi bentuk kontribusi Fisioterapi UMM dalam memberikan referensi global terkait peran dan fungsi fisioterapi di komunitas. Harapannya, ini bisa menjadi model pembelajaran lintas negara yang saling menguatkan,” jelasnya. Senada dengan hal tersebut, Direktur International Relations Office (IRO) UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP., menambahkan bahwa program ini merupakan bagian dari strategi internasionalisasi kampus yang konsisten dijalankan UMM. “Kegiatan pertukaran ini adalah salah satu aktualisasi dari program internasionalisasi kampus. Selain memberikan pengalaman lintas budaya bagi mahasiswa asing, kegiatan ini juga memperluas jejaring akademik global UMM. Kami berharap ke depannya kerja sama seperti ini bisa diperluas tidak hanya di kawasan Asia Tenggara, tetapi juga menjangkau mitra di Eropa dan wilayah lainnya,” ungkapnya. Sebagai bagian dari penguatan mutu pendidikan tinggi, kegiatan seperti ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing lulusan UMM di level global, sekaligus memperkenalkan keunggulan layanan kesehatan berbasis komunitas di Indonesia kepada dunia internasional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
UMM dan Chulalongkorn University Jalin Kolaborasi Internasional, Angkat Isu Kesehatan Lansia dalam Seminar Fisioterapi

MATAHATI: Departemen Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang terdiri dari Program Sarjana Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis di bawah naungan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), menjalin kolaborasi strategis dengan Department of Physical Therapy, Faculty of Allied Health Sciences, Chulalongkorn University, Thailand, Malang (20/05/2025). Kerja sama ini diwujudkan dalam bentuk International Seminar on Community-Based Physiotherapy, yang diselenggarakan di kampus UMM dan dihadiri oleh 275 peserta dari berbagai kalangan. Mereka terdiri atas mahasiswa fisioterapi, praktisi klinis, serta tenaga kesehatan dari berbagai Puskesmas di wilayah Kota dan Kabupaten Malang. Mengangkat tema ” Enhancing Balance and Independence in the Elderly: The Role of Physiotherapy in Communities”, seminar ini menghadirkan pembicara internasional dan nasional yang kompeten di bidangnya. Associate Professor Akkradate Siriphorn, PT., Ph.D., D.PT dari Chulalongkorn University menjadi pembicara utama. Dalam sesinya, ia memaparkan pendekatan fisioterapi dalam meningkatkan keseimbangan dan kemandirian para lansia, berdasarkan studi dan praktik yang diterapkan di Thailand. Pemaparan tersebut diperkaya dengan perspektif nasional melalui kehadiran Alwan Bashori, SST.Ft., Ftr., AIFO, seorang praktisi klinis yang telah membawa profesi fisioterapi meraih penghargaan tingkat nasional. Ia menginspirasi peserta dengan praktik-praktik inovatif yang berdampak langsung pada komunitas. Selain itu, Nungki Marlian Yuliadarwati, SST.Ft., Ftr., M.Kes menyampaikan pentingnya aktivitas fisik rutin bagi lansia guna mempertahankan kebugaran dan kualitas hidup secara menyeluruh. Seminar ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor IV Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM, Dr. Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas terwujudnya kolaborasi internasional ini sebagai bagian dari strategi globalisasi pendidikan di UMM. “Kami mengapresiasi komitmen seluruh pihak dalam mewujudkan kerja sama lintas negara ini. Harapannya, kegiatan seperti ini dapat meningkatkan jumlah dan kualitas publikasi internasional, mendukung proses akreditasi internasional program studi, serta membuka peluang terbentuknya kelas internasional kedepannya,” ujar Dr. Salis. Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom turut menegaskan pentingnya akselerasi internasionalisasi program studi yang masih tergolong muda ini. “Kita tahu bahwa Program Studi Fisioterapi merupakan salah satu yang termuda di UMM. Namun dari sisi akselerasi di level internasional, sudah menunjukkan capaian yang patut dibanggakan. Dengan dukungan fasilitas baru di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5, kami optimistis kegiatan internasional seperti ini akan terus berkembang,” ungkapnya. Seminar ini tidak hanya menjadi ajang diskusi akademik, tetapi juga jembatan yang menghubungkan dunia pendidikan, layanan kesehatan primer, dan komunitas. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi transfer pengetahuan dan praktik dalam menangani permasalahan kesehatan lansia di Indonesia dan Asia Tenggara. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Fisioterapi UMM Gaungkan Layanan Kesehatan Komunitas ke Dunia Internasional

Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar program pertukaran mahasiswa internasional bekerja sama dengan Mahidol University, Thailand. Program ini telah memasuki pelaksanaan dan berlangsung selama satu bulan di Malang. Program pertukaran pelajar ini menjadi wujud nyata komitmen kedua institusi dalam menyiapkan lulusan fisioterapi yang unggul dan memiliki kompetensi pelayanan berbasis komunitas internasional. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dari Mahidol University mendapatkan pengalaman akademik dan klinis langsung di Indonesia melalui Program Studi Fisioterapi UMM. Rangkaian kegiatan yang dijalankan dalam program ini meliputi pembelajaran klinis di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan perkuliahan di kelas internasional bersama para dosen dari Program Studi Fisioterapi UMM. Pemilihan Puskesmas sebagai lokasi praktik bukan tanpa alasan. Perbedaan pendekatan layanan kesehatan komunitas antara Indonesia dan Thailand menjadi poin pembelajaran penting bagi mahasiswa internasional untuk memahami beragam model intervensi fisioterapi di tingkat masyarakat. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, S.Kep., M.Kep., secara langsung menyambut kedatangan mahasiswa asing tersebut. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kerja sama ini telah terjalin sejak beberapa tahun terakhir dan diharapkan terus berkembang. “Program ini menjadi bentuk kontribusi Fisioterapi UMM dalam memberikan referensi global terkait peran dan fungsi fisioterapi di komunitas. Harapannya, ini bisa menjadi model pembelajaran lintas negara yang saling menguatkan,” jelasnya. Senada dengan hal tersebut, Direktur International Relations Office (IRO) UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP., menambahkan bahwa program ini merupakan bagian dari strategi internasionalisasi kampus yang konsisten dijalankan UMM. “Kegiatan pertukaran ini adalah salah satu aktualisasi dari program internasionalisasi kampus. Selain memberikan pengalaman lintas budaya bagi mahasiswa asing, kegiatan ini juga memperluas jejaring akademik global UMM. Kami berharap ke depannya kerja sama seperti ini bisa diperluas tidak hanya di kawasan Asia Tenggara, tetapi juga menjangkau mitra di Eropa dan wilayah lainnya,” ungkapnya. Sebagai bagian dari penguatan mutu pendidikan tinggi, kegiatan seperti ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing lulusan UMM di level global, sekaligus memperkenalkan keunggulan layanan kesehatan berbasis komunitas di Indonesia kepada dunia internasional. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
PEACE 3: Ajang Pembelajaran Global dan Penguatan Soft Skill Mahasiswa Fisioterapi UMM

Program Physiotherapy Education and Cultural Exchange (PEACE) ke-3 sukses diselenggarakan pada 15–16 Februari 2025. Mengusung tema “Post-Operative Rehabilitation for Tendon and Ligament in the Lower Extremity”, kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi internasional antara mahasiswa fisioterapi dari Indonesia, Jepang, dan Taiwan. PEACE 3 merupakan inisiatif dari Asia Physical Therapy Student Association (APTSA) Indonesia dan diselenggarakan bersama Indonesia Physiotherapy Student Association (IPSA) sebagai tuan rumah. Dalam pelaksanaannya, IPSA bekerja sama dengan Japan Physical Therapy Student Association (JPTSA) serta I-Shou University Physical Therapy Student Association (ISUPTSA) dari Taiwan. “Kegiatan PEACE tahun ini sangat spesial karena berkolaborasi dengan dua negara sekaligus. Ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya melibatkan satu negara,” ujar Erick Gilbert Christian Bunga, Head Chief Committee PEACE 3. Ia menambahkan bahwa kolaborasi tiga negara ini memperluas wawasan, jaringan, serta pemahaman budaya peserta secara signifikan. Dua mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang, Dia Rafidya Tamimi dan Nurul Intan Fadhilah, turut berkontribusi sebagai bagian dari panitia pelaksana dalam kegiatan ini. Rangkaian acara dimulai pada 15 Februari 2025 dengan sesi PT Class, yang menghadirkan tiga narasumber dari masing-masing negara. Mereka adalah Aufa Miftah Firdausy, S.Ft., Ftr., M.Sc (Indonesia), Dr. Chih-Chun Lin, PT, PhD (Taiwan), dan Dr. Kazuna Ichikawa, MSc, PT, PhD (Jepang). Para pemateri menyampaikan materi terkait rehabilitasi pasca-operasi tendon dan ligamen ekstremitas bawah dari perspektif akademik dan praktik klinis di negara masing-masing. Pada hari kedua, peserta mengikuti sesi Case Study yang dirancang untuk mendorong diskusi dan kolaborasi. Peserta dibagi dalam kelompok lintas negara untuk membahas dan mempresentasikan solusi dari kasus klinis yang telah disiapkan oleh panitia. Kegiatan ini mendapat respons positif dari para peserta. “PEACE 3 sangat bermanfaat karena memberikan banyak ilmu baru. Diskusi dengan teman-teman internasional jelas meningkatkan kemampuan public speaking dan kepercayaan diri saya,” ujar Haruto, peserta asal Jepang. PEACE 3 menjadi bukti nyata pentingnya kolaborasi internasional dalam pendidikan fisioterapi. Selain memperkaya wawasan teknis, kegiatan ini juga memperkuat pemahaman lintas budaya dan memperluas perspektif global mahasiswa dalam menghadapi tantangan dunia kesehatan masa depan. Penulis Dia Rafidya Tamimi
PEACE 3 Tumbuhkan Kompetensi Global Mahasiswa Fisioterapi Lewat Pertukaran Ilmu dan Budaya

Program Physiotherapy Education and Cultural Exchange (PEACE) edisi ketiga sukses digelar pada 15–16 Februari 2025. Kegiatan bertaraf internasional ini mengusung tema “Post-Operative Rehabilitation for Tendon and Ligament in the Lower Extremity” dan mempertemukan mahasiswa fisioterapi dari Indonesia, Jepang, dan Taiwan dalam sebuah kolaborasi lintas negara yang penuh makna. PEACE 3 merupakan hasil inisiasi Asia Physical Therapy Student Association (APTSA) Indonesia yang kemudian diwujudkan bersama Indonesia Physiotherapy Student Association (IPSA) sebagai tuan rumah. Dalam penyelenggaraannya, APTSA Indonesia memainkan peran strategis sebagai penghubung antarorganisasi mahasiswa fisioterapi Asia, menjalin kerja sama dengan Japan Physical Therapy Student Association (JPTSA) dan I-Shou University Physical Therapy Student Association (ISUPTSA) dari Taiwan. Menariknya, tahun ini PEACE bertransformasi menjadi lebih besar. “Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang hanya melibatkan satu negara, PEACE 3 menghadirkan kolaborasi dari dua negara sekaligus. Ini menjadi pengalaman yang jauh lebih kaya dan beragam,” ujar Erick Gilbert Christian Bunga selaku ketua panitia. Indonesia diwakili oleh dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Dia Rafidya Tamimi dan Nurul Intan Fadhilah, yang berperan sebagai bagian dari tim panitia internasional. Kontribusi mereka menambah kuat posisi Indonesia sebagai motor penggerak kolaborasi mahasiswa fisioterapi di Asia. Agenda PEACE 3 terbagi dalam beberapa sesi utama. Salah satunya adalah Education Sharing Session (ESS), yang menjadi ruang berbagi pengetahuan seputar sistem pendidikan fisioterapi dari ketiga negara. Sesi ini menghadirkan narasumber terpilih seperti Syi’ar Aprilla Tanazza, S.Kes., Ftr dari Indonesia, Kentaro Nagata dari Jepang, dan Ka-Yuen Hau, PT, MPT dari Taiwan. Selain itu, para peserta juga diajak mengikuti kegiatan cultural games yang memperkenalkan budaya masing-masing negara melalui permainan yang interaktif dan menyenangkan. Aktivitas ini menjadi ajang saling mengenal, mempererat hubungan, dan menumbuhkan semangat toleransi antarbudaya. PEACE 3 mendapat apresiasi positif dari peserta. Melody, nama panggilan dari Syuan Ting Wang asal Taiwan, mengungkapkan kesannya, “Saya sangat senang bisa ikut serta. Banyak informasi menarik tentang pendidikan fisioterapi dari negara lain dan juga tentang beasiswa.” Lebih dari sekadar ajang ilmiah, PEACE 3 menjadi ruang tumbuh bersama bagi mahasiswa fisioterapi di Asia. Tak hanya memperluas wawasan akademik, kegiatan ini juga memperkaya pengalaman budaya dan memperkuat jaringan profesional lintas negara. Ini sebuah langkah kecil menuju kolaborasi global yang lebih besar di masa depan. Penulis Dia Rafidya Tamimi
Dari Kampus untuk Lansia: Aksi Nyata Mahasiswa Fisioterapi UMM di Masyarakat

Mahasiswa Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKS-LU) Panti Werdha Pangesti. Kegiatan ini melibatkan lebih dari 29 orang lansia yang tinggal di panti tersebut, dengan tujuan utama meningkatkan pemahaman dan keterampilan lansia dalam menjaga kesehatan melalui pendekatan fisioterapi geriatri. Kegiatan ini tidak hanya berupa penyuluhan kesehatan umum, tetapi juga mencakup pemberian materi dan praktik langsung yang berkaitan dengan sindrom metabolik dan intervensi fisioterapi yang tepat. Para mahasiswa membimbing lansia dalam memahami dan mengelola kondisi kesehatan yang umum dialami di usia lanjut, seperti diabetes melitus, dislipidemia, dan hipertensi. Materi ini memberikan pemahaman kepada lansia mengenai sindrom metabolik kepada kelompok faktor risiko yang mencakup peningkatan tekanan darah, kadar gula darah tinggi, kelebihan lemak di perut, dan kadar kolesterol abnormal. Penyuluhan ini bertujuan agar lansia mampu mengenali gejala dini dan memahami pentingnya gaya hidup sehat sebagai langkah pencegahan. Lansia juga diberikan pemahaman bagaimana fisioterapi dapat membantu dalam mencegah dan menangani gangguan metabolik, dengan menitikberatkan pada peningkatan aktivitas fisik, latihan terstruktur, dan penguatan fungsi tubuh. Untuk mendukung teori yang diberikan, mahasiswa membimbing para lansia dalam melakukan serangkaian latihan fisik yang disesuaikan dengan kondisi tubuh lansia. Latihan ini meliputi aerobic exercise yang bertujuan meningkatkan kapasitas jantung dan paru-paru, membantu mengontrol berat badan, serta mengatur tekanan darah dan kadar gula darah. Selain itu ankle pumping exercise untuk melatih pergerakan pergelangan kaki untuk meningkatkan sirkulasi darah, mencegah pembekuan darah, dan mengurangi risiko edema (pembengkakan) pada tungkai bawah. Latihan ini dikombinasikan dengan teknik pernapasan untuk membantu meningkatkan relaksasi, mengurangi stres, serta menstabilkan tekanan darah. Lansia diajak menarik napas selama 4 detik, menahan selama 7 detik, dan menghembuskan selama 8 detik. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata implementasi ilmu fisioterapi geriatri di lapangan, sekaligus sebagai wujud kontribusi mahasiswa dalam mendukung kualitas hidup lansia secara holistik. Dosen pendamping dan pengelola panti memberikan apresiasi atas antusiasme para mahasiswa dan respon positif dari para lansia. Diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus dilanjutkan dan diperluas ke berbagai lembaga lansia lainnya sebagai upaya peningkatan kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
HIMATERA UMM Sukses Gelar Himatera Cup 2024–2025: Wadah Ekspresi dan Kolaborasi Mahasiswa Fisioterapi

Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMATERA) Universitas Muhammadiyah Malang kembali menorehkan prestasi melalui suksesnya penyelenggaraan Himatera Cup 2024–2025. Mengangkat tema “Luminous League: Cashing the Spotlight”, ajang ini berlangsung sejak 15 Desember 2024 hingga 27 Februari 2025, dengan melibatkan seluruh mahasiswa dari Program Studi Fisioterapi sebagai peserta aktif. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan, melainkan sebuah panggung besar yang dirancang untuk menyalurkan bakat, mengasah kreativitas, serta mempererat ikatan solidaritas antar mahasiswa. Melalui semangat “Cashing the Spotlight”, HIMATERA mengajak setiap individu untuk berani tampil, menunjukkan potensi terbaiknya, dan menjadi cahaya bagi lingkungan sekitarnya. Beragam cabang lomba dihadirkan untuk mewadahi minat dan bakat mahasiswa dari berbagai latar belakang. Di bidang e-sport, Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) dan PES menjadi daya tarik utama bagi para pecinta gim digital. Sementara itu, nuansa budaya dan seni turut meramaikan kompetisi melalui lomba tari tradisional dan penampilan akustik yang penuh pesona. Tak ketinggalan, cabang olahraga fisik seperti futsal dan badminton menyuguhkan semangat kompetisi yang sportif dan membangun. Di sisi lain, ranah intelektual pun mendapat porsi penting melalui lomba cerdas cermat, MC formal dan non-formal, catur, lomba poster, videografi, hingga kompetisi essay yang mendorong daya pikir kritis dan ekspresi kreatif mahasiswa. Ketua Pelaksana Himatera Cup 2024–2025 mengungkapkan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai bentuk nyata dari visi HIMATERA dalam membentuk karakter mahasiswa yang holistik, tidak hanya unggul secara akademis, namun juga aktif, inovatif, dan adaptif di berbagai bidang. “Kami ingin Himatera Cup menjadi ruang yang inklusif, tempat setiap mahasiswa bisa merasa dihargai, didengar, dan diberi ruang untuk berkembang,” ujarnya. Selain sebagai ajang kompetisi, Himatera Cup juga menjadi momentum penting dalam membangun budaya organisasi yang sehat dan kolaboratif. Keterlibatan aktif mahasiswa dalam perencanaan hingga pelaksanaan acara menjadi bagian integral dari proses pembelajaran di luar kelas yang kaya akan nilai-nilai kepemimpinan, tanggung jawab, dan kerja tim. Dengan berakhirnya Himatera Cup 2024–2025, HIMATERA berharap semangat positif yang tercipta selama kegiatan ini akan terus berlanjut dan menginspirasi lebih banyak mahasiswa untuk aktif berkontribusi dalam membangun atmosfer akademik dan non-akademik yang progresif. Lebih dari sekadar kompetisi, Himatera Cup adalah simbol semangat muda yang siap bersinar dan membawa perubahan. Penulis Rafla Adinta Syahdan dan Editor Bayu Prastowo
Produktif di Tengah Kesibukan, Dosen Fisioterapi UMM Terbitkan Buku Klinis Neurologis

Departemen Neuromuskular Program Studi Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan produktivitas akademiknya dengan menerbitkan buku berjudul Clinical Physiotherapy: Neuromuskular pada awal tahun 2025. Buku ini ditulis oleh tiga dosen, yakni Rakhmad Rosadi, Kurnia Putri Utami, dan Siti Ainun Marufa, yang tetap aktif berkontribusi di tengah kesibukan mereka. Rakhmad Rosadi, yang saat ini mengemban tugas sebagai Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) UMM, bersama dua koleganya, Kurnia Putri Utami dan Siti Ainun Marufa, yang tengah menempuh studi doktoral di London dan Taiwan, berhasil menyelesaikan buku ini sebagai referensi penting bagi mahasiswa fisioterapi dan praktisi di bidangnya. Buku Clinical Physiotherapy: Neuromuskular membahas manajemen fisioterapi klinis pada gangguan neuromuskular, mulai dari definisi, tinjauan patofisiologi, temuan asesmen, diagnosis, hingga intervensi fisioterapi. Buku ini juga dilengkapi dengan bagan diagnosis dan ilustrasi pemeriksaan serta tindakan fisioterapi untuk memudahkan pemahaman pembaca. Dalam buku ini, manajemen fisioterapi yang dibahas mencakup berbagai kondisi neuromuskular yang umum dijumpai dalam praktik klinis. Pembahasan dimulai dari carpal tunnel syndrome, sebuah kondisi yang menyebabkan nyeri dan kesemutan di pergelangan tangan akibat tekanan pada saraf median. Kemudian, ada Guillain-Barré Syndrome, gangguan autoimun yang menyerang sistem saraf perifer dan dapat menyebabkan kelumpuhan. Selain itu, stroke sebagai salah satu gangguan neurologis yang paling sering terjadi juga dikupas secara mendalam, termasuk strategi rehabilitasi yang dapat diterapkan oleh fisioterapis. Penyakit Parkinson, yang ditandai dengan gangguan gerak akibat degenerasi neuron dopaminergik, menjadi salah satu fokus utama dalam buku ini. Traumatic brain injury, yang sering dialami akibat benturan keras pada kepala, dijelaskan dengan pendekatan fisioterapi yang tepat untuk membantu pemulihan pasien. Buku ini juga membahas multiple sclerosis, penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf pusat, serta cedera pada plexus brachialis yang dapat menyebabkan gangguan fungsi pada lengan dan tangan. Selain itu, buku ini juga mengupas diabetic peripheral neuropathy, suatu komplikasi dari diabetes yang memengaruhi saraf tepi dan sering menyebabkan nyeri serta kelemahan otot. Spinal cord injury yang dapat menyebabkan kelumpuhan permanen dan membutuhkan rehabilitasi jangka panjang juga menjadi bagian dari pembahasan, diikuti dengan cedera saraf perifer lainnya seperti radial nerve injury dan ulnar nerve injury. Ischialgia, kondisi yang menyebabkan nyeri menjalar di sepanjang saraf skiatik, serta Alzheimer yang memengaruhi fungsi kognitif pasien juga dibahas secara komprehensif. Drop foot, suatu kondisi yang menyebabkan kesulitan dalam mengangkat bagian depan kaki saat berjalan, turut menjadi bagian dalam diskusi buku ini. Dengan berbagai kasus dan pendekatan yang sistematis, buku ini memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang strategi fisioterapi dalam menangani gangguan neuromuskular. Buku setebal 245 halaman ini diterbitkan oleh EGC, salah satu penerbit terkemuka di bidang kesehatan. Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, mengapresiasi pencapaian para dosen ini dan menyatakan bahwa kesibukan bukanlah hambatan dalam memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu fisioterapi. “Ini adalah contoh nyata bahwa akademisi dapat tetap produktif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, meskipun memiliki tanggung jawab yang besar dalam tugas akademik dan studi lanjut,” ujar Dimas. “Buku ini juga diharapkan dapat menjadi referensi utama bagi mahasiswa fisioterapi serta praktisi dalam memahami dan mengelola gangguan neuromuskular secara klinis dan sistematis,” tutupnya. Penulis dan Editor Bayu Prastowo