PEACE 3: Ajang Pembelajaran Global dan Penguatan Soft Skill Mahasiswa Fisioterapi UMM

Program Physiotherapy Education and Cultural Exchange (PEACE) ke-3 sukses diselenggarakan pada 15–16 Februari 2025. Mengusung tema “Post-Operative Rehabilitation for Tendon and Ligament in the Lower Extremity”, kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi internasional antara mahasiswa fisioterapi dari Indonesia, Jepang, dan Taiwan. PEACE 3 merupakan inisiatif dari Asia Physical Therapy Student Association (APTSA) Indonesia dan diselenggarakan bersama Indonesia Physiotherapy Student Association (IPSA) sebagai tuan rumah. Dalam pelaksanaannya, IPSA bekerja sama dengan Japan Physical Therapy Student Association (JPTSA) serta I-Shou University Physical Therapy Student Association (ISUPTSA) dari Taiwan. “Kegiatan PEACE tahun ini sangat spesial karena berkolaborasi dengan dua negara sekaligus. Ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya melibatkan satu negara,” ujar Erick Gilbert Christian Bunga, Head Chief Committee PEACE 3. Ia menambahkan bahwa kolaborasi tiga negara ini memperluas wawasan, jaringan, serta pemahaman budaya peserta secara signifikan. Dua mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang, Dia Rafidya Tamimi dan Nurul Intan Fadhilah, turut berkontribusi sebagai bagian dari panitia pelaksana dalam kegiatan ini. Rangkaian acara dimulai pada 15 Februari 2025 dengan sesi PT Class, yang menghadirkan tiga narasumber dari masing-masing negara. Mereka adalah Aufa Miftah Firdausy, S.Ft., Ftr., M.Sc (Indonesia), Dr. Chih-Chun Lin, PT, PhD (Taiwan), dan Dr. Kazuna Ichikawa, MSc, PT, PhD (Jepang). Para pemateri menyampaikan materi terkait rehabilitasi pasca-operasi tendon dan ligamen ekstremitas bawah dari perspektif akademik dan praktik klinis di negara masing-masing. Pada hari kedua, peserta mengikuti sesi Case Study yang dirancang untuk mendorong diskusi dan kolaborasi. Peserta dibagi dalam kelompok lintas negara untuk membahas dan mempresentasikan solusi dari kasus klinis yang telah disiapkan oleh panitia. Kegiatan ini mendapat respons positif dari para peserta. “PEACE 3 sangat bermanfaat karena memberikan banyak ilmu baru. Diskusi dengan teman-teman internasional jelas meningkatkan kemampuan public speaking dan kepercayaan diri saya,” ujar Haruto, peserta asal Jepang. PEACE 3 menjadi bukti nyata pentingnya kolaborasi internasional dalam pendidikan fisioterapi. Selain memperkaya wawasan teknis, kegiatan ini juga memperkuat pemahaman lintas budaya dan memperluas perspektif global mahasiswa dalam menghadapi tantangan dunia kesehatan masa depan. Penulis Dia Rafidya Tamimi
PEACE 3 Tumbuhkan Kompetensi Global Mahasiswa Fisioterapi Lewat Pertukaran Ilmu dan Budaya

Program Physiotherapy Education and Cultural Exchange (PEACE) edisi ketiga sukses digelar pada 15–16 Februari 2025. Kegiatan bertaraf internasional ini mengusung tema “Post-Operative Rehabilitation for Tendon and Ligament in the Lower Extremity” dan mempertemukan mahasiswa fisioterapi dari Indonesia, Jepang, dan Taiwan dalam sebuah kolaborasi lintas negara yang penuh makna. PEACE 3 merupakan hasil inisiasi Asia Physical Therapy Student Association (APTSA) Indonesia yang kemudian diwujudkan bersama Indonesia Physiotherapy Student Association (IPSA) sebagai tuan rumah. Dalam penyelenggaraannya, APTSA Indonesia memainkan peran strategis sebagai penghubung antarorganisasi mahasiswa fisioterapi Asia, menjalin kerja sama dengan Japan Physical Therapy Student Association (JPTSA) dan I-Shou University Physical Therapy Student Association (ISUPTSA) dari Taiwan. Menariknya, tahun ini PEACE bertransformasi menjadi lebih besar. “Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang hanya melibatkan satu negara, PEACE 3 menghadirkan kolaborasi dari dua negara sekaligus. Ini menjadi pengalaman yang jauh lebih kaya dan beragam,” ujar Erick Gilbert Christian Bunga selaku ketua panitia. Indonesia diwakili oleh dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Dia Rafidya Tamimi dan Nurul Intan Fadhilah, yang berperan sebagai bagian dari tim panitia internasional. Kontribusi mereka menambah kuat posisi Indonesia sebagai motor penggerak kolaborasi mahasiswa fisioterapi di Asia. Agenda PEACE 3 terbagi dalam beberapa sesi utama. Salah satunya adalah Education Sharing Session (ESS), yang menjadi ruang berbagi pengetahuan seputar sistem pendidikan fisioterapi dari ketiga negara. Sesi ini menghadirkan narasumber terpilih seperti Syi’ar Aprilla Tanazza, S.Kes., Ftr dari Indonesia, Kentaro Nagata dari Jepang, dan Ka-Yuen Hau, PT, MPT dari Taiwan. Selain itu, para peserta juga diajak mengikuti kegiatan cultural games yang memperkenalkan budaya masing-masing negara melalui permainan yang interaktif dan menyenangkan. Aktivitas ini menjadi ajang saling mengenal, mempererat hubungan, dan menumbuhkan semangat toleransi antarbudaya. PEACE 3 mendapat apresiasi positif dari peserta. Melody, nama panggilan dari Syuan Ting Wang asal Taiwan, mengungkapkan kesannya, “Saya sangat senang bisa ikut serta. Banyak informasi menarik tentang pendidikan fisioterapi dari negara lain dan juga tentang beasiswa.” Lebih dari sekadar ajang ilmiah, PEACE 3 menjadi ruang tumbuh bersama bagi mahasiswa fisioterapi di Asia. Tak hanya memperluas wawasan akademik, kegiatan ini juga memperkaya pengalaman budaya dan memperkuat jaringan profesional lintas negara. Ini sebuah langkah kecil menuju kolaborasi global yang lebih besar di masa depan. Penulis Dia Rafidya Tamimi
Dari Kampus untuk Lansia: Aksi Nyata Mahasiswa Fisioterapi UMM di Masyarakat

Mahasiswa Program Studi Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKS-LU) Panti Werdha Pangesti. Kegiatan ini melibatkan lebih dari 29 orang lansia yang tinggal di panti tersebut, dengan tujuan utama meningkatkan pemahaman dan keterampilan lansia dalam menjaga kesehatan melalui pendekatan fisioterapi geriatri. Kegiatan ini tidak hanya berupa penyuluhan kesehatan umum, tetapi juga mencakup pemberian materi dan praktik langsung yang berkaitan dengan sindrom metabolik dan intervensi fisioterapi yang tepat. Para mahasiswa membimbing lansia dalam memahami dan mengelola kondisi kesehatan yang umum dialami di usia lanjut, seperti diabetes melitus, dislipidemia, dan hipertensi. Materi ini memberikan pemahaman kepada lansia mengenai sindrom metabolik kepada kelompok faktor risiko yang mencakup peningkatan tekanan darah, kadar gula darah tinggi, kelebihan lemak di perut, dan kadar kolesterol abnormal. Penyuluhan ini bertujuan agar lansia mampu mengenali gejala dini dan memahami pentingnya gaya hidup sehat sebagai langkah pencegahan. Lansia juga diberikan pemahaman bagaimana fisioterapi dapat membantu dalam mencegah dan menangani gangguan metabolik, dengan menitikberatkan pada peningkatan aktivitas fisik, latihan terstruktur, dan penguatan fungsi tubuh. Untuk mendukung teori yang diberikan, mahasiswa membimbing para lansia dalam melakukan serangkaian latihan fisik yang disesuaikan dengan kondisi tubuh lansia. Latihan ini meliputi aerobic exercise yang bertujuan meningkatkan kapasitas jantung dan paru-paru, membantu mengontrol berat badan, serta mengatur tekanan darah dan kadar gula darah. Selain itu ankle pumping exercise untuk melatih pergerakan pergelangan kaki untuk meningkatkan sirkulasi darah, mencegah pembekuan darah, dan mengurangi risiko edema (pembengkakan) pada tungkai bawah. Latihan ini dikombinasikan dengan teknik pernapasan untuk membantu meningkatkan relaksasi, mengurangi stres, serta menstabilkan tekanan darah. Lansia diajak menarik napas selama 4 detik, menahan selama 7 detik, dan menghembuskan selama 8 detik. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata implementasi ilmu fisioterapi geriatri di lapangan, sekaligus sebagai wujud kontribusi mahasiswa dalam mendukung kualitas hidup lansia secara holistik. Dosen pendamping dan pengelola panti memberikan apresiasi atas antusiasme para mahasiswa dan respon positif dari para lansia. Diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus dilanjutkan dan diperluas ke berbagai lembaga lansia lainnya sebagai upaya peningkatan kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
HIMATERA UMM Sukses Gelar Himatera Cup 2024–2025: Wadah Ekspresi dan Kolaborasi Mahasiswa Fisioterapi

Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HIMATERA) Universitas Muhammadiyah Malang kembali menorehkan prestasi melalui suksesnya penyelenggaraan Himatera Cup 2024–2025. Mengangkat tema “Luminous League: Cashing the Spotlight”, ajang ini berlangsung sejak 15 Desember 2024 hingga 27 Februari 2025, dengan melibatkan seluruh mahasiswa dari Program Studi Fisioterapi sebagai peserta aktif. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan, melainkan sebuah panggung besar yang dirancang untuk menyalurkan bakat, mengasah kreativitas, serta mempererat ikatan solidaritas antar mahasiswa. Melalui semangat “Cashing the Spotlight”, HIMATERA mengajak setiap individu untuk berani tampil, menunjukkan potensi terbaiknya, dan menjadi cahaya bagi lingkungan sekitarnya. Beragam cabang lomba dihadirkan untuk mewadahi minat dan bakat mahasiswa dari berbagai latar belakang. Di bidang e-sport, Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) dan PES menjadi daya tarik utama bagi para pecinta gim digital. Sementara itu, nuansa budaya dan seni turut meramaikan kompetisi melalui lomba tari tradisional dan penampilan akustik yang penuh pesona. Tak ketinggalan, cabang olahraga fisik seperti futsal dan badminton menyuguhkan semangat kompetisi yang sportif dan membangun. Di sisi lain, ranah intelektual pun mendapat porsi penting melalui lomba cerdas cermat, MC formal dan non-formal, catur, lomba poster, videografi, hingga kompetisi essay yang mendorong daya pikir kritis dan ekspresi kreatif mahasiswa. Ketua Pelaksana Himatera Cup 2024–2025 mengungkapkan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai bentuk nyata dari visi HIMATERA dalam membentuk karakter mahasiswa yang holistik, tidak hanya unggul secara akademis, namun juga aktif, inovatif, dan adaptif di berbagai bidang. “Kami ingin Himatera Cup menjadi ruang yang inklusif, tempat setiap mahasiswa bisa merasa dihargai, didengar, dan diberi ruang untuk berkembang,” ujarnya. Selain sebagai ajang kompetisi, Himatera Cup juga menjadi momentum penting dalam membangun budaya organisasi yang sehat dan kolaboratif. Keterlibatan aktif mahasiswa dalam perencanaan hingga pelaksanaan acara menjadi bagian integral dari proses pembelajaran di luar kelas yang kaya akan nilai-nilai kepemimpinan, tanggung jawab, dan kerja tim. Dengan berakhirnya Himatera Cup 2024–2025, HIMATERA berharap semangat positif yang tercipta selama kegiatan ini akan terus berlanjut dan menginspirasi lebih banyak mahasiswa untuk aktif berkontribusi dalam membangun atmosfer akademik dan non-akademik yang progresif. Lebih dari sekadar kompetisi, Himatera Cup adalah simbol semangat muda yang siap bersinar dan membawa perubahan. Penulis Rafla Adinta Syahdan dan Editor Bayu Prastowo
Mandarin Summer Camp Taiwan

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) membuka kesempatan besar bagi mahasiswa Sarjana dan Pendidikan Profesi untuk mengikuti Mandarin Summer Camp di Da Yeh University (DYU), Taiwan, yang akan dilaksanakan pada 21 Juli sampai 1 Agustus 2025. Program ini merupakan hasil kerja sama antara Da Yeh University (DYU), Kementerian Pendidikan Taiwan, Divisi Pendidikan TETO Jakarta, dan Taiwan Education Center (TEC) Indonesia. Mahasiswa akan mengikuti pembelajaran Bahasa Mandarin serta budaya Taiwan secara langsung di lingkungan kampus internasional. Tak hanya itu, program ini juga menyediakan pembiayaan parsial dan beasiswa “Living Cost” khusus untuk 3 mahasiswa terpilih dari FIKES UMM. Program ini tentunya mendapatkan ekuivalensi mata kuliah, pembiayaan parsial dari Kementrian Pendidikan Taiwan, Beasiswa Living Cost dari FIKES UMM sebesar 6000 NDT. Pendaftaran terdiri dari Program Reguler dan Program Beasiswa: Program Reguler Batas pendaftaran ke Fakultas: 28 April 2025 Pendaftaran ke sistem Universitas Taiwan: 5 Mei 2025 Pengajuan Visa: Awal Juni 2025 (Rp.750.000) Persiapan Teknis: Pertengahan Juli 2025 Keberangkatan: 21 Juli 2025 Kepulangan: 1 Agustus 2025 Program Beasiswa Batas pendaftaran ke Fakultas: 28 April 2025 Seleksi berkas: 29 April 2025 Wawancara & Pengumuman: 30 April 2025 Pendaftaran ke sistem Universitas Taiwan: 5 Mei 2025 Pengajuan Visa: Awal Juni 2025 (Rp. 750.000) Persiapan Teknis: Pertengahan Juli 2025 Keberangkatan: 21 Juli 2025 Kepulangan: 1 Agustus 2025
Produktif di Tengah Kesibukan, Dosen Fisioterapi UMM Terbitkan Buku Klinis Neurologis

Departemen Neuromuskular Program Studi Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan produktivitas akademiknya dengan menerbitkan buku berjudul Clinical Physiotherapy: Neuromuskular pada awal tahun 2025. Buku ini ditulis oleh tiga dosen, yakni Rakhmad Rosadi, Kurnia Putri Utami, dan Siti Ainun Marufa, yang tetap aktif berkontribusi di tengah kesibukan mereka. Rakhmad Rosadi, yang saat ini mengemban tugas sebagai Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) UMM, bersama dua koleganya, Kurnia Putri Utami dan Siti Ainun Marufa, yang tengah menempuh studi doktoral di London dan Taiwan, berhasil menyelesaikan buku ini sebagai referensi penting bagi mahasiswa fisioterapi dan praktisi di bidangnya. Buku Clinical Physiotherapy: Neuromuskular membahas manajemen fisioterapi klinis pada gangguan neuromuskular, mulai dari definisi, tinjauan patofisiologi, temuan asesmen, diagnosis, hingga intervensi fisioterapi. Buku ini juga dilengkapi dengan bagan diagnosis dan ilustrasi pemeriksaan serta tindakan fisioterapi untuk memudahkan pemahaman pembaca. Dalam buku ini, manajemen fisioterapi yang dibahas mencakup berbagai kondisi neuromuskular yang umum dijumpai dalam praktik klinis. Pembahasan dimulai dari carpal tunnel syndrome, sebuah kondisi yang menyebabkan nyeri dan kesemutan di pergelangan tangan akibat tekanan pada saraf median. Kemudian, ada Guillain-Barré Syndrome, gangguan autoimun yang menyerang sistem saraf perifer dan dapat menyebabkan kelumpuhan. Selain itu, stroke sebagai salah satu gangguan neurologis yang paling sering terjadi juga dikupas secara mendalam, termasuk strategi rehabilitasi yang dapat diterapkan oleh fisioterapis. Penyakit Parkinson, yang ditandai dengan gangguan gerak akibat degenerasi neuron dopaminergik, menjadi salah satu fokus utama dalam buku ini. Traumatic brain injury, yang sering dialami akibat benturan keras pada kepala, dijelaskan dengan pendekatan fisioterapi yang tepat untuk membantu pemulihan pasien. Buku ini juga membahas multiple sclerosis, penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf pusat, serta cedera pada plexus brachialis yang dapat menyebabkan gangguan fungsi pada lengan dan tangan. Selain itu, buku ini juga mengupas diabetic peripheral neuropathy, suatu komplikasi dari diabetes yang memengaruhi saraf tepi dan sering menyebabkan nyeri serta kelemahan otot. Spinal cord injury yang dapat menyebabkan kelumpuhan permanen dan membutuhkan rehabilitasi jangka panjang juga menjadi bagian dari pembahasan, diikuti dengan cedera saraf perifer lainnya seperti radial nerve injury dan ulnar nerve injury. Ischialgia, kondisi yang menyebabkan nyeri menjalar di sepanjang saraf skiatik, serta Alzheimer yang memengaruhi fungsi kognitif pasien juga dibahas secara komprehensif. Drop foot, suatu kondisi yang menyebabkan kesulitan dalam mengangkat bagian depan kaki saat berjalan, turut menjadi bagian dalam diskusi buku ini. Dengan berbagai kasus dan pendekatan yang sistematis, buku ini memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang strategi fisioterapi dalam menangani gangguan neuromuskular. Buku setebal 245 halaman ini diterbitkan oleh EGC, salah satu penerbit terkemuka di bidang kesehatan. Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, mengapresiasi pencapaian para dosen ini dan menyatakan bahwa kesibukan bukanlah hambatan dalam memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu fisioterapi. “Ini adalah contoh nyata bahwa akademisi dapat tetap produktif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, meskipun memiliki tanggung jawab yang besar dalam tugas akademik dan studi lanjut,” ujar Dimas. “Buku ini juga diharapkan dapat menjadi referensi utama bagi mahasiswa fisioterapi serta praktisi dalam memahami dan mengelola gangguan neuromuskular secara klinis dan sistematis,” tutupnya. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Pendampingan Prestasi Mahasiswa

Halo, Sobat PSC UMM! Gimana kabarnya? Semoga tetap semangat menyambut semester baru! Kami dari PSC UMM siap menemani perjalanan akademik kalian dengan berbagai informasi lomba dan webinar seputar dunia fisioterapi. Ini adalah kesempatan emas buat kalian yang ingin belajar, berkompetisi, dan mengembangkan diri! Dapatkan info lengkap mengenai: Syarat dan ketentuan lomba Cara pendaftaran webinar Kesempatan menambah wawasan dan pengalaman Jangan khawatir! Dalam lomba dan webinar ini, kalian akan mendapatkan pendampingan langsung dari para dosen dan expert di bidang fisioterapi. Dengan bimbingan mereka, kalian bisa mendapatkan arahan dan tips dalam menghadapi lomba, memahami konsep fisioterapi lebih dalam dengan studi kasus nyata, bertanya langsung kepada para ahli dan memperluas wawasan, dan meningkatkan keterampilan yang bisa diaplikasikan dalam dunia profesional. Kunjungi situs web kami untuk detail lebih lanjut: Jangan lewatkan kesempatan ini! Ajak teman-teman kalian untuk ikut serta dan raih pengalaman berharga bersama PSC UMM!
Tim PMB Fisioterapi UMM Hadir di PRIME UMM 2025, Kenalkan Manfaat Fisioterapi bagi Gen Z

Tim Perekrutan Mahasiswa Baru (PMB) Program Studi Fisioterapi turut hadir dalam ajang PRIME UMM (Proficiency and Mastery in English by Universitas Muhammadiyah Malang), sebuah kompetisi Bahasa Inggris tingkat nasional yang bergengsi. Acara ini diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan diikuti oleh 281 peserta dari 256 sekolah SMA/MA/SMK se-Indonesia. PRIME UMM bertujuan untuk mengasah keterampilan berbahasa Inggris di kalangan pelajar serta menginspirasi generasi muda dalam meningkatkan kemampuan mereka dalam bahasa internasional tersebut. Di tengah berlangsungnya kompetisi ini, Tim PMB Program Studi Fisioterapi turut serta dalam memberikan sosialisasi mengenai peran profesi fisioterapis kepada para peserta dan pengunjung. Selain memberikan informasi mengenai prospek karier di bidang fisioterapi, Tim PMB juga menawarkan layanan konsultasi serta intervensi manajemen nyeri menggunakan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS). Layanan ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta dan tamu undangan yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang manfaat fisioterapi dalam kehidupan sehari-hari. Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D(PT), mengungkapkan bahwa keterlibatan Tim PMB dalam PRIME UMM merupakan langkah strategis untuk memperkenalkan fisioterapi kepada generasi muda. “Melalui kegiatan ini, kami berharap para peserta tidak hanya semakin memahami pentingnya fisioterapi dalam dunia kesehatan, tetapi juga termotivasi untuk mempertimbangkan profesi fisioterapis sebagai pilihan karier masa depan,” ujarnya. Keikutsertaan Program Studi Fisioterapi dalam ajang PRIME UMM membuktikan komitmen UMM dalam memberikan wawasan akademik dan profesional yang luas bagi generasi muda. Dengan adanya interaksi langsung antara Tim PMB dan peserta, diharapkan semakin banyak siswa yang tertarik untuk mendalami bidang fisioterapi di Universitas Muhammadiyah Malang. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Standar AIK dan Etika Profesi, Kunci Sukses Mahasiswa Profesi Fisioterapis Raih Penghargaan di RS Radjiman Wediodiningrat

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih kategori Mahasiswa Terbaik dalam Praktik Kerja Lapang di RS Dr. Radjiman Wediodiningrat. Penghargaan ini diberikan berdasarkan penilaian yang dilakukan selama periode Desember 2024 hingga Februari 2025 dengan indikator utama meliputi sikap (attitude), penerapan konsep 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin), 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun), serta aspek inisiatif dan kreativitas. Pengumuman hasil penilaian disampaikan oleh dr. Tutik Nur Kasiani, SpKJ, selaku Ketua Tim Koordinasi Pendidikan RS Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang. Pencapaian ini menjadi bukti nyata keunggulan mahasiswa Fisioterapi UMM dalam mengaplikasikan kompetensi akademik dan profesionalisme di dunia kerja. Ketua Program Studi Fisioterapi UMM, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis., mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian ini. Menurutnya, keberhasilan ini tidak lepas dari penerapan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) dan standar etika profesi yang telah ditanamkan sejak dini kepada mahasiswa. “Penerapan AIK dan etika profesi merupakan standar mutlak dalam pendidikan di Fisioterapi UMM. Namun, mempertahankan prestasi ini menjadi tugas bersama seluruh civitas akademika,” ujar Safun Rahmanto. Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan kompetensi profesional, memperkuat nilai etika dalam praktik fisioterapi, serta menjaga standar pelayanan terbaik di dunia kesehatan. Dengan pencapaian ini, Fisioterapi UMM semakin mengukuhkan posisinya sebagai institusi pendidikan yang menghasilkan tenaga fisioterapis berkualitas dan berintegritas tinggi. Penulis dan Editor Bayu Prastowo
Mahasiswa Profesi Fisioterapi UMM Gelar Sumpah Fisioterapi Muda, Perkuat Komitmen Profesionalisme

Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Sumpah Fisioterapi Muda, atau lebih dikenal dengan istilah Capping Day. Acara ini merupakan upacara pelafalan janji bagi mahasiswa profesi fisioterapi sebelum mereka terjun ke wahana praktik. Angkat sumpah ini dilakukan pada Mahasiswa Pendidikan Profesi Fisioterapis Angkatan XI tahun 2025, di Auditorium Kampus 1 UMM, Jumat (28/02/2025). Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis, Safun Rahmanto, SST.Ft., Ftr., M.Fis, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah agenda wajib dan sakral bagi mahasiswa profesi fisioterapi di UMM. “Sumpah Fisioterapi Muda ini bukan sekadar seremoni, tetapi merupakan bentuk komitmen mahasiswa untuk menjunjung tinggi etika dan profesionalisme dalam dunia fisioterapi. Kami berharap, sumpah yang mereka ucapkan dapat menjadi pedoman dalam memberikan layanan yang aman, berkualitas, dan berorientasi pada kepentingan pasien,” ujar Safun Rahmanto. Acara ini turut dihadiri oleh Sekretaris Program Studi dan juga Ketua Uji Kompetensi Nasional Fisioterapi UMM, yang memberikan arahan terkait pentingnya kesiapan mahasiswa dalam menghadapi tantangan di dunia praktik profesional. Pelafalan sumpah ini terdiri dari 9 poin penting yang tersusun dari etika profesi fisioterapis dan Al-Islam Kemuhammadiyahan. Sumpah ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai profesionalisme, tanggung jawab, serta etika dalam pelayanan fisioterapi. Mahasiswa yang telah mengikuti prosesi ini diharapkan mampu menerapkan standar praktik fisioterapi dengan baik, serta menjaga integritas sebagai tenaga kesehatan yang kompeten. Sebagai salah satu bentuk persiapan memasuki dunia praktik, mahasiswa juga dibekali dengan berbagai materi terkait standar keselamatan pasien, etika pelayanan kesehatan, serta penguatan keterampilan klinis. Dengan terlaksananya Sumpah Fisioterapi Muda ini, mahasiswa Pendidikan Profesi Fisioterapis UMM kini semakin siap untuk memberikan layanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat, sesuai dengan prinsip keilmuan dan kode etik fisioterapi. Penulis dan Editor Bayu Prastowo